Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 debar jantung yang berkhianat
Suasana kelas pagi itu terasa sangat tegang, jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Meski bel masuk baru saja berbunyi, udara di sekitar meja mereka bertiga terasa berat dan menyesakkan. Brian duduk dengan punggung tegak, matanya menatap kosong ke arah papan tulis dengan raut wajah yang keras.
Bara yang sejak tadi memperhatikan perubahan sikap sahabatnya itu mulai merasa tidak nyaman. Ia mencoba mencairkan suasana dengan nada bicara yang biasa, meski hatinya sendiri diliputi kecemasan.
"Hay, Bri, Lo. Kenapa kok muka Lo ditekuk gitu sih," tegur Bara sambil menoleh ke arah Brian.
Brian tidak menoleh sedikit pun. Suaranya terdengar dingin saat menjawab singkat, "Gapapa kok bar."
Bara menghela napas, mencoba mencari alasan logis atas sikap dingin Brian. "Makanya Lo kalo malam gak usah begadang, jadinya ngantuk kan sekarang."
"Nggak juga, gue gak ngantuk kok," sahut Brian ketus. Jawabannya pendek dan tajam, memotong pembicaraan seolah tidak ingin diganggu lebih jauh.
Bara mulai merasa ada yang tidak beres. Ia merasa serangan dingin Brian kali ini sangat pribadi. "Lo kenapa sih Brian, gue tanya baik-baik tapi Lo jawabnya ketus gitu."
Brian diam tak menjawab. Ia lebih memilih memainkan pulpennya, mengabaikan kehadiran Bara di sampingnya. Keheningan itu membuat jantung Aluna, yang duduk tak jauh dari mereka, berdegup tidak keruan. Ia merasa setiap kata-kata Brian adalah sindiran yang ditujukan untuk menyindir rahasia mereka.
Merasa tidak mendapat jawaban dari Brian, Bara akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Aluna. Ia berharap gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Lun, Brian kenapa kok kayak orang lagi marah, kalian berantem ya," tanya Bara dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara khawatir dan ingin tahu.
Aluna tersentak. Ia meremas jemarinya di bawah meja, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Saat ia menatap Bara, debar jantungnya seolah berkhianat, berdetak kencang hanya karena tatapan pria itu.
"Aku juga gak tau bar," jawab Aluna pelan, suaranya nyaris berbisik.
Bara tidak tahan lagi dengan sikap diam Brian yang menghunus. Baginya, persahabatan mereka terlalu berharga untuk hancur karena aksi tutup mulut seperti ini. Ia mencoba meraih bahu Brian, berusaha mengembalikan kehangatan hubungan mereka.
"Brian, Lo kalau ada masalah ngomong sama gue, jangan Lo pendam sendiri, kita ini sahabat," ucap Bara dengan nada tulus, namun ada sedikit getaran kecemasan di dalamnya.
Brian memalingkan wajahnya dengan kasar, melepaskan tangan Bara seolah sentuhan itu adalah racun. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Lo bisa ya ngomong sahabat, tapi Lo coba nikung gue, Bar," desis Brian tajam.
Darah seolah tersedot dari wajah Bara. Ia mematung, dunianya seakan berhenti berputar. "Maksud Lo apa, Bri?"
"Gak usah pura-pura, Bar! Gue udah tau semua!" suara Brian mulai meninggi, mengabaikan beberapa pasang mata teman sekelas yang mulai menoleh. "Tadi malam pas gue tidur di rumah Lo, gue nemuin gelang yang mirip kaya punya Aluna. Dan ternyata itu benar, Aluna juga pakai gelang yang mirip kayak punya kamu, Bar! Sebenarnya kalian berdua ada hubungan apa?"
Bara terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kaku untuk mengatakan sepatah kata pun. Kebenaran itu kini terpampang nyata di depan matanya, dan ia tidak punya alibi yang cukup kuat untuk membela diri.
Melihat situasi yang semakin kacau, Aluna memberanikan diri mendekati Brian. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, ia berusaha menggapai tangan Brian untuk meredam kemarahannya.
"Brian, kamu salah faham. Aku sama Bara gak ada apa-apa, gelang ini cuma mirip," isak Aluna, mencoba melakukan pembelaan terakhir yang sia-sia.
Brian menepis tangan Aluna dengan raut wajah penuh kekecewaan. Ia menatap Aluna dan Bara bergantian dengan sorot mata yang terluka dalam. "Gak mungkin, Lun! Gak mungkin gelang itu cuma sekedar mirip! Pasti kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari aku!".
Suasana kelas semakin memanas. Brian berdiri dengan napas memburu, sementara Bara mencoba tetap tegar meski hatinya hancur melihat sahabatnya semurka itu. Tuduhan Brian yang telak membuat harga diri Bara terusik.
"Brian, jadi Lo nuduh gue?" tanya Bara dengan suara yang ditekan, mencoba menjaga wibawanya di depan teman-teman sekelas yang mulai berbisik.
"Gue gak nuduh, Bar! Tapi gue cuma mau kalian jujur sama gue! Jangan bohongi gue terus-terusan!" balas Brian dengan suara bergetar karena emosi yang meluap.
Bara memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam. Ia tahu kebohongan ini tidak bisa ditarik ulur lagi. Jika Brian ingin kebenaran, maka ia akan memberikannya, tapi tidak di sini.
"Oke kalau itu mau kamu, Bri. Nanti sore setelah pulang sekolah kita ketemu, dan kita bakal jelasin semua ke kamu," ujar Bara dengan nada final yang dingin.
"Kenapa harus nanti sore? Kenapa gak sekarang, Bar? Kenapa!" teriak Brian, emosinya sudah tidak terbendung lagi. Ia ingin jawaban detik ini juga.
Bara melangkah maju, menatap mata Brian dengan tajam untuk menenangkan sahabatnya itu. "Karena ini di sekolah, Brian! Gak mungkin kita buat keributan cuma gara-gara kecemburuan kamu yang gak penting itu!"
"Apa... kamu bilang gak penting?" Brian tertegun. Kata-kata itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Baginya, ini adalah masalah hidup dan mati, tapi bagi Bara, itu disebut 'tidak penting'.
"Iya! Jadi aku minta stop untuk bahas masalah ini. Kita selesaikan nanti sore, oke?" tegas Bara sekali lagi.
Brian akhirnya mengalah. Ia menyadari tatapan mata, teman-teman mereka sudah tertuju pada bangku mereka. Dengan sisa kemarahan yang masih membara, Brian menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi. Ia membuang muka ke arah jendela, enggan melihat siapa pun.
Melihat situasi sedikit mereda, Bara menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Suara Bara melunak saat berbicara kepada gadis itu.
"Lun, kamu jangan takut ya. Sekarang kamu duduk di kursi kamu lagi ya," ujar Bara lembut, mencoba memberikan sedikit ketenangan di tengah badai.
"Iya, Bar," jawab Aluna lirih. Ia berjalan pelan menuju kursinya, merasa seolah seluruh beban dunia ada di pundaknya.
Bersambung........