NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Kencan Pertama

...“Kencan pertama kami tidak terasa seperti awal—lebih seperti kelanjutan dari sesuatu yang sudah lama berjalan.”...

Happy Reading!

...----------------...

Semua rencana itu bermula dari satu kalimat yang diucapkan tanpa pikir panjang.

Shaira sebenarnya tidak berniat membuatnya terdengar aneh. Ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana: apakah Raven punya waktu untuknya. Tapi entah kenapa, kalimat yang keluar justru terasa… terlalu formal untuk ukuran hubungan yang masih baru.

Mereka sedang duduk bersebelahan sore itu, obrolan ringan mengalir tanpa arah. Tidak ada topik penting. Tidak ada rencana apa pun.

Sampai Shaira tiba-tiba berkata, “Kamu kosong nggak hari Sabtu?”

Raven menoleh. Sedikit terkejut, tapi tidak curiga. “Kosong. Kenapa?”

Shaira terdiam beberapa detik, jari-jarinya memainkan lipatan lengan bajunya, menimbang apakah kalimat berikutnya layak diucapkan atau tidak. Lalu, tanpa banyak pikir, ia menambahkan, “Aku mau booking kamu.”

Raven tidak langsung menjawab. Ia menatap Shaira, alis naik sedikit, bahu condong ringan ke depan, sudut bibirnya bergerak tipis, menahan senyum yang hangat tapi tak mengejek.

“Booking buat apa?” tanyanya.

Nada suaranya datar. Tapi ekspresinya mengkhianati segalanya.

“Nonton bioskop,” jawab Shaira cepat, nyaris defensif.

Dan Raven akhirnya tertawa kecil. Bukan tawa yang mengejek. Bukan juga tawa keras. Hanya tawa pendek, hangat—yang terdengar seperti sedang menahan gemas.

“Cara kamu ngomong lucu,” katanya. “Kayak mau nyewa tempat.”

Pipi Shaira langsung terasa panas. “Pokoknya… kamu mau apa nggak?”

Raven mengangguk pelan, tanpa ragu. “Mau.”

Sesederhana itu.

Hari Sabtu datang lebih cepat dari yang Shaira bayangkan.

Ia berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Bukan karena ingin tampil berlebihan—justru sebaliknya. Ia bingung menentukan batas antara “biasa” dan “istimewa”. Akhirnya, ia memilih pakaian sederhana. Jeans, atasan nyaman, dan jaket tipis.

Ia belum selesai mengikat rambut ketika suara motor berhenti di depan rumah.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Raven.

Aku di depan.

Jantung Shaira langsung berdetak lebih cepat.

Ia mengambil tas kecilnya dan melangkah keluar. Raven sudah menunggu di atas motor, mengenakan jaket hitam, helm di tangan. Saat melihat Shaira, ia tersenyum—tenang, seperti biasa.

“Siap?” tanya Raven.

Shaira mengangguk.

Raven menyerahkan helm padanya, lalu menunggu sampai Shaira duduk dengan posisi nyaman. Mesin motor menyala, dan mereka mulai melaju menyusuri jalan.

Ini pertama kalinya mereka pergi berdua setelah resmi pacaran.

Hanya berdua. Tidak ada teman. Tidak ada alasan tugas. Tidak ada keramaian yang biasanya jadi tameng.

Awalnya, Shaira menjaga jarak. Tangannya ragu mencari pegangan. Beberapa menit kemudian, saat motor melewati jalan yang sedikit ramai, Shaira akhirnya memegang ujung jaket Raven.

Angin sore menyapu wajahnya, rambut sedikit berterbangan, tapi ia tidak melepaskan tangan itu. Raven menurunkan kecepatan pelan, membiarkan ritme mereka selaras dengan hembusan angin.

Mall sudah cukup ramai saat mereka tiba. Lampu-lampu terang, suara orang berlalu-lalang, dan papan jadwal film yang penuh judul.

Shaira berdiri di samping Raven, tangannya saling menggenggam sendiri.

“Kita nonton apa?” tanya Raven.

“Yang itu,” jawab Shaira cepat, menunjuk salah satu judul. “Yang jamnya paling dekat.”

Raven mengangguk. “Oke.”

Mereka membeli tiket, lalu berjalan menuju area tunggu. Shaira masih terlihat canggung. Raven menyadarinya—tapi tidak berkomentar. Ia hanya berjalan di sisi Shaira, menjaga jarak yang nyaman.

Sampai akhirnya, di depan studio, Raven mengulurkan tangannya.

Tidak mendadak. Tidak memaksa. Shaira menatap tangan itu sebentar. Lalu, dengan ragu-ragu, ia menyambutnya.

Jari mereka saling bertaut. Dan dunia terasa sedikit mengecil.

Di dalam studio, lampu meredup. Layar mulai menyala. Mereka duduk berdampingan, bahu nyaris bersentuhan. Tangan mereka masih saling menggenggam—kaku di awal, lalu perlahan mengendur, menemukan ritmenya sendiri.

Di dalam studio, bahu mereka nyaris bersentuhan. Ibu jari Raven bergerak pelan di punggung tangan Shaira, dan ia tersentak sebentar, menoleh sekilas tapi tidak melepaskan genggaman.

Shaira tidak sepenuhnya fokus pada film. Setiap kali Raven menggeser posisi, atau ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangan Shaira, jantungnya kembali berulah.

Ini baru pegangan tangan. Tapi rasanya… besar.

Saat film selesai, mereka keluar bersama kerumunan. Shaira menarik napas panjang, seperti baru sadar ia lupa bernapas selama dua jam terakhir.

“Kamu lapar?” tanya Raven.

Shaira mengangguk kecil. “Lapar.”

Mereka makan di salah satu tempat sederhana di dalam mall. Duduk berhadapan, memesan menu yang mereka suka.

Suasananya santai. Tidak canggung. Tidak terlalu romantis. Tapi justru itu yang membuat Shaira merasa nyaman.

Saat makanan datang, Raven mendorong piringnya sedikit ke tengah meja. “Cobain.” Jari-jarinya masih menyentuh tepi piring, tapi matanya menatap Shaira dengan tenang, seolah memberi pilihan.

Shaira mengambil sendoknya sendiri, tapi terhenti saat melihat Raven justru mengambil sendok dan menaruh sedikit makanan ke arahnya. Tangannya membeku setengah jalan.

“Raven—” Suaranya terhenti, mata berkedip cepat. Refleks menghentikan gerakannya.

“Kenapa?” tanya Raven, menahan sendok di udara, jari-jarinya menempel di piring tanpa menggenggam terlalu kuat. Sudut bibirnya sedikit menekuk, menunggu.

“Kamu nyuapin aku?” Shaira menatap sendok itu, lalu menatap mata Raven, dagunya sedikit naik, ragu tapi penasaran.

“Iya.” Suara Raven rendah, nyaman. Ia tidak mendekatkan wajahnya, hanya menunggu reaksi Shaira.

Shaira terdiam beberapa detik, jantungnya berdegup keras. Ia menunduk sebentar, menatap sendok di hadapannya, lalu perlahan membuka mulut.

Raven menyuapinya dengan gerakan sederhana, lembut tapi pasti. Sendok menyentuh bibir Shaira sebentar, dan ia menelan. Tidak ada drama, hanya perhatian kecil yang terasa besar.

Shaira tertawa kecil setelahnya, menutup mulutnya dengan satu tangan, pipinya memerah. “Kaget.”

“Giliran aku,” kata Raven sambil mendorong piring Shaira ke arahnya. Tubuhnya condong sedikit ke depan, mata menatapnya penuh harap tapi santai.

“Kamu serius?” Shaira menatapnya, jari-jarinya masih gemetar sedikit, tapi mulai merasa nyaman.

Raven mengangguk, menahan senyum tipis, matanya tetap fokus padanya.

Shaira akhirnya menyuapi Raven. Tangan kanannya gemetar sedikit saat memegang sendok, tapi gerakannya perlahan dan mantap. Raven menunduk sedikit, membuka mulut, dan menerima makanan itu. Ia tersenyum setelahnya, bahu rileks, seperti sedang menikmati momen kecil itu.

“Makanan kamu enak,” katanya. Nada suaranya ringan, santai, tapi menempel di telinga Shaira seperti pujian sederhana yang hangat.

Sore itu berlalu tanpa agenda besar. Mereka berjalan-jalan sebentar, berbagi cerita kecil, lalu kembali ke motor.

Dalam perjalanan pulang, Shaira memegang jaket Raven lebih erat dari sebelumnya.

Bukan karena takut jatuh.

Tapi karena ia ingin.

Saat Raven berhenti di depan rumah Shaira, mesin motor dimatikan. Mereka duduk diam sebentar, tubuh masih agak condong ke depan dari posisi di motor. Angin sore menyinggung rambut Shaira, membuat beberapa helai menempel di pipinya.

“Makasih ya,” kata Shaira pelan, matanya menatap setapak jalan di depan mereka. Jarinya bermain di ujung jaket Raven, refleks tapi lembut.

“Buat?” tanya Raven, matanya menoleh ke arah Shaira. Bahunya rileks, tangan masih menempel ringan di stang motor.

“Buat hari ini.” Suara Shaira hampir seperti bisikan, bibirnya menegang sebentar sebelum tersenyum tipis. Ia memutar sedikit tubuhnya, menghadapkan kaki ke tanah, bersiap turun.

Raven menoleh, mata mereka bertemu. “Sama-sama.” Ia mengangguk pelan, bibirnya menekuk membentuk senyum yang sederhana tapi hangat. Tangannya tetap di stang motor, tapi jemari satu tangan seolah ingin menahan momen itu lebih lama—tanpa bergerak, hanya menunggu.

Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata berlebihan.

Hanya senyum kecil yang tertinggal, menempel di mata Shaira, di bibirnya, dan di dadanya. Rasa hangat itu tetap menyertai langkahnya saat ia membuka pintu, memasuki rumah, dan menutupnya perlahan, membawa serta momen itu masuk ke dalam hatinya.

Shaira memegang gagang pintu sebentar, tangan masih terasa hangat. Ia menutup mata, menarik napas panjang, lalu tersenyum sambil melepaskan genggaman terakhir—tapi hangat itu tetap terasa, tersisa di telapak tangannya.

Hari itu, Shaira sadar satu hal: hal-hal pertama tidak selalu harus besar untuk jadi berkesan.

Kadang, cukup dengan satu ajakan sederhana, satu genggaman tangan, dan satu kata lucu bernama booking—yang tanpa disadari, menjadi kenangan.

Hari itu tidak ditutup dengan janji apa pun. Tidak ada rencana untuk besok, atau kalimat besar tentang masa depan.

Raven hanya memastikan Shaira masuk ke rumah dengan aman, menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya menyalakan motor dan pergi.

Di dalam kamar, Shaira menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit dengan senyum yang tak kunjung hilang.

Tangannya masih terasa hangat, seolah genggaman itu belum benar-benar lepas. Ia mengulang setiap detik di kepalanya—cara Raven menunggunya, tawa kecil saat kata booking terlontar, sentuhan sederhana yang terasa begitu berarti.

Ia baru sadar, bukan bioskopnya yang membuat hari itu spesial. Bukan filmnya, bukan mall-nya, bukan juga hal-hal besar yang sering dibayangkan orang tentang kencan pertama.

Yang membuatnya tinggal adalah rasa aman. Cara Raven hadir tanpa memaksa. Cara semuanya berjalan perlahan, tapi pasti.

Dan untuk pertama kalinya, Shaira tidak merasa perlu berlari atau menebak-nebak. Ia hanya menikmati—karena ternyata, beberapa kenangan terbaik memang lahir dari hal-hal paling sederhana.

...----------------...

...Raven – hadir tanpa memaksa...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!