Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Besar
Malam itu, Arman duduk di teras kosannya, memandangi langit Jakarta yang tak pernah menampakkan bintang.
Ponsel di tangannya terasa berat. Ia harus menelepon Rani, memberitahu tentang tawaran pekerjaan ini. Tentang Sarah. Tentang gaji 15 juta. Tentang mess di Cawang. Tentang jadwal yang hanya memberinya libur sebulan sekali.
Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol panggil.
"Halo?" suara Rani di seberang terdengar sibuk. Di latar belakang, terdengar suara Aldi bernyanyi lagu anak-anak.
"Ran, lagi sibuk?"
"Biasa, abis magrib. Aldi lagi nyanyi-nyanyi nggak jelas. Ada apa?"
Arman menghela napas. "Gue mau ngomong serius. Penting."
Keheningan sejenak. Lalu suara Rani berubah, lebih fokus. "Sebentar." Ia terdengar memanggil seseorang—mungkin ibunya—untuk menjaga Aldi. Lalu kembali ke telepon.
"Iya, sekarang gue dengerin. Ngomong."
Arman bercerita. Tentang pertemuan dengan Sarah di pinggir jalan, tentang tawaran pekerjaan, tentang gaji 15 juta, tentang mess di Cawang, tentang jadwal yang padat dan libur yang terbatas.
Ia bercerita dengan jujur, tanpa menyembunyikan apa pun. Termasuk bahwa bosnya adalah seorang wanita kaya dan cantik.
Rani mendengarkan tanpa menyela. Hanya suara napasnya yang terdengar di seberang.
Selesai bercerita, Arman menunggu.
Detik-detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan.
"Lo tanya pendapat gue?" suara Rani akhirnya terdengar, datar.
"Iya. Gue nggak akan ambil keputusan tanpa ngomong sama lo. Ini menyangkut kita. Menyangkut Aldi."
Rani diam lagi. Lalu, "Lo tahu, Arman, gue bisa aja curiga. Wanita kaya, CEO, gaji gede, mess perusahaan—kedengarannya seperti settingan film.
Tapi..." ia berhenti sejenak. "Tapi Aldi butuh biaya sekolah. Rumah itu cicilannya masih 10 tahun lagi. Dan lo sendiri tahu, dari hasil narik ojol, kita cuma bisa bertahan, bukan maju."
Arman menelan ludah.
"Jadi, menurut gue, lo ambil. Ambil kesempatan ini. Tapi ingat." Suara Rani mengeras.
"Gue tahu lo punya sejarah. Gue tahu lo gampang tergoda. Tapi kali ini, tolong, jangan hancurin lagi apa yang tersisa. Pikirkan Aldi. Kalau lo sampai salah lagi, gue nggak akan pernah maafin. Nggak akan pernah."
"Ran, gue janji..."
"Janji lo udah sering gue dengar. Buktikan." Potong Rani. "Buktikan dengan kerja keras. Buktikan dengan kirim uang tiap bulan. Buktikan dengan tetap ingat sama Aldi meskipun lo sibuk. Itu yang gue minta."
Arman terharu. Matanya sedikit basah.
"Makasih, Ran. Makasih udah percaya."
"Gue nggak percaya. Gue cuma nggak punya pilihan." Jawab Rani, jujur. "Sekarang, Aldi manggil. Gue tutup dulu. Kabarin kalau udah mulai kerja."
Telepon berakhir. Arman menatap ponselnya, lalu langit Jakarta yang gelap. Rani benar. Ini kesempatan yang tak boleh ia sia-siakan. Dan kali ini, ia akan membuktikan bahwa ia bisa berubah.
—
Keesokan harinya, Arman pamit pada teman-teman di tempat nongkrong. Juki, Bayu, Dimas, semuanya berkumpul di emperan toko besi yang sudah seperti rumah kedua.
"Lo serius mau ninggalin kita?" tanya Juki, setengah bercanda tapi matanya sedih.
"Iya, Ki. Dapet kerjaan tetap. Sopir pribadi. Gaji lumayan."
"Dimana? Siapa bosnya?" tanya Bayu penasaran.
"Di Sudirman. Perusahaan properti. Bosnya... ya, orang kaya."
Juki menatapnya tajam. "Cowok atau cewek?"
Arman tersenyum getir. Juki tahu betul sejarahnya. "Cewek. Tapi udah berumur, Ki. Dan ini murni kerja. Gue udah janji sama Rani."
Juki menghela napas, lalu menepuk pundak Arman. "Hati-hati, Man. Lo tahu sendiri, godaan itu nggak pandang bulu. Tapi kalau lo yakin, kita dukung. Yang penting lo sukses, bisa ngasih yang terbaik buat Aldi."
Mereka bersalaman, berpelukan. Arman pamit satu per satu, termasuk pada Bang Udin, penjaga warung langganan yang sering memberi utang. Setelah semua selesai, ia melajukan motornya ke arah Cawang, menuju mess perusahaan yang akan menjadi rumah barunya.
—
Sebelum benar-benar pindah, Arman mampir ke rumah Nadia. Bukan untuk kembali, tapi untuk pamit. Nadia membukakan pintu dengan wajah dingin, seperti biasa belakangan ini.
Ia mengenakan daster rumah sederhana, rambut diikat asal, tanpa riasan. Rumahnya masih sama, tapi terasa lebih kosong.
"Mau pamit," kata Arman singkat. "Aku dapet kerjaan baru. Jadi sopir pribadi di perusahaan properti. Gaji lumayan. Aku akan pindah ke mess karyawan."
Nadia mengangguk datar. "Oh. Baguslah."
Ada keheningan canggung di antara mereka. Arman ingin mengatakan sesuatu, ingin meminta maaf sekali lagi, tapi Nadia lebih dulu bicara.
"Nggak usah banyak omong, Arman. Kita sudah selesai. Aku sudah ikhlas. Kamu fokus aja sama kerjaan baru kamu. Dan sama Rani sama Aldi."
Nadia menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada kelembutan di matanya. "Aku doain yang terbaik buat kamu."
Arman terharu. "Makasih, Nad. Maaf... maaf untuk semuanya."
"Iya." Nadia tersenyum tipis. "Sekarang pergi. Nanti keburu maghrib."
Pintu tertutup. Arman berdiri sejenak di teras, mengenang semua yang pernah terjadi di rumah ini. Lalu ia berbalik, melangkah pergi. Babak dengan Nadia benar-benar telah usai.
—
Hari Senin, pukul 6.45 pagi, Arman sudah berdiri di lobi gedung pencakar langit itu. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang sudah disemir kinclong. Rambut disisir rapi, wajah segar meskipun semalam susah tidur karena gugup.
Asisten Sarah, seorang pria muda bernama Andi, menjemputnya di lobi dan mengajaknya ke lantai 28. Ia diperkenalkan dengan beberapa orang—kepala keamanan, manajer armada, dan beberapa sopir lain. Semua ramah, meskipun ada sedikit jarak karena Arman adalah "orang baru".
Pukul 8 tepat, Sarah keluar dari ruangannya. Hari ini ia mengenakan setelan pantsuit warna navy yang membuatnya terlihat sangat profesional. Rambut disasak rapi, riasan tipis, dan senyum tipis yang entah ramah atau sekadar basa-basi.
"Arman, ikut saya. Kita ada meeting ke proyek baru di BSD."
Hari pertama langsung dimulai dengan terjun ke lapangan. Arman mengemudikan Fortuner hitam yang dulu ia bantu ganti bannya. Sarah duduk di belakang, sibuk dengan laptop dan ponselnya, sesekali menelepon klien atau stafnya. Arman hanya fokus menyetir, berusaha memberikan perjalanan senyaman mungkin.
Sesampainya di BSD, Sarah turun dan langsung disambut oleh beberapa orang. Arman menunggu di mobil, seperti yang diinstruksikan. Satu jam, dua jam, ia hanya duduk, membaca buku panduan karyawan yang diberikan Andi, atau sekadar memandangi langit.
Sarah kembali menjelang zuhur. "Makan siang. Saya tahu tempat enak di sini. Kamu ikut."
Arman agak kaget. Biasanya sopir makan terpisah. Tapi ia nurut. Mereka makan di restoran sederhana di dekat proyek. Sarah memesan nasi goreng dan es teh, Arman juga. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman.
"Bagaimana hari pertama?" tanya Sarah tiba-tiba.
"Baik, Bu. Masih adaptasi."
"Kelihatan. Tapi setirannya bagus. Lembut." Sarah mengunyah pelan. "Saya suka."
Arman tersenyum canggung. "Terima kasih, Bu."
"Nggak usah gugup. Saya memang tegas, tapi saya adil. Kalau kerja bagus, saya hargai."
Sarah menatapnya. "Saya lihat kamu orang jujur. Itu kenapa saya pilih kamu."
Arman hanya bisa mengangguk.
—
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang sama. Sarah adalah bos yang demanding—ia bisa menelepon tengah malam untuk persiapan meeting besok, atau mengubah jadwal mendadak karena ada klien penting.
Tapi ia juga sangat menghargai kerja keras. Ketika Arman lembur tanpa mengeluh, ia memberi bonus di luar gaji. Ketika Arman berhasil mengantisipasi kemacetan dan membuatnya tiba tepat waktu, ia memuji di depan staf lain.
Arman mulai menemukan ritmenya. Pagi-pagi jemput Sarah di apartemennya, antar ke kantor, tunggu, antar meeting, antar pulang, kadang antar acara malam.
Malam harinya, ia kembali ke mess di Cawang, kamar sederhana dengan kasur, lemari, dan AC seadanya. Ia makan malam sendiri, lalu tidur untuk siap bangun esok hari.
Di sela kesibukan, ia selalu menyempatkan video call dengan Aldi. Melihat wajah anaknya yang ceria, mendengar cerita-cerita polos tentang sekolah dan teman-teman, membuat semua kelelahan terbayar.
Rani hanya muncul di layar sesekali, tersenyum tipis, lalu kembali sibuk. Tapi setidaknya, mereka masih berkomunikasi. Setidaknya, ada harapan bahwa suatu hari semuanya akan membaik.
Dua minggu pertama berlalu. Arman belum
sempat ke kampung. Tapi uang bulan pertama sudah ia kirim—cukup untuk biaya pendaftaran SD Aldi, plus sisanya untuk Rani. Rani membalas dengan satu kata: "Makasih."
Bagi Arman, itu sudah cukup. Untuk saat ini.
Dan di balik kemudi Fortuner hitam, di tengah kemacetan Jakarta yang tak pernah berubah, Arman mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: harga diri.
Bukan karena gaji besar atau mobil mewah yang ia kendarai. Tapi karena ia bekerja keras, jujur, dan mulai melihat masa depan yang lebih cerah. Untuk Aldi. Untuk keluarganya. Untuk dirinya sendiri.
udah 3 kali konfliknya,
mbok udah😌 aku ngeri bacanya 💃
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit