Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di luar pintu Presidential Suite, Sisil berdiri dengan napas memburu di balik masker hitamnya. Matanya merah, dipenuhi kegilaan dan dendam yang sudah mencapai puncak.
Di tangannya, sebuah botol kaca berisi cairan bening air keras yang mematikan
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, Akhsan, maka wanita ini tidak boleh memiliki wajah cantik itu sedikit pun!" desis Sisil rendah.
TOK... TOK... TOK...
Di dalam kamar mandi, Akhsan masih terpaku melayani Aruna, tidak mendengar ketukan pintu yang samar karena suara gemericik air. Namun, Aruna yang memiliki insting tajam segera bangkit dari posisinya.
Ia memakai kembali jubah mandi sutranya dengan cepat.
Baru saja Aruna melangkah menuju pintu, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar.
Sebuah pesan singkat dari Christian masuk,
"Jangan buka pintunya lebar-lebar, Sayang. Ada tikus di depan. Hati-hati."
Aruna tersenyum tipis. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
Ia tidak langsung membuka pintu, melainkan berdiri di balik daun pintu yang kokoh, mengatur posisinya agar terlindungi.
CEKLEK!
Begitu kunci terbuka, Sisil yang sudah gelap mata tidak menunggu pintu terbuka lebar.
Ia langsung menyiramkan botol itu dengan sekuat tenaga ke arah celah pintu yang baru terbuka sedikit.
"MATI KAU, WANITA MURAHAN!" teriak Sisil histeris.
Namun, Aruna dengan sigap membanting pintu itu kembali tepat saat cairan itu meluncur.
Air keras itu membentur kayu pintu yang keras dan memantul hebat, menyemprot balik ke arah wajah dan tubuh Sisil yang berdiri terlalu dekat.
"AAAAAAKKKKKKH!!!! PANAS!!! PANAS!!!"
Jeritan memilukan menggema di koridor hotel yang sunyi.
Sisil jatuh tersungkur, memegangi wajahnya yang mulai mengeluarkan asap putih dan bau terbakar yang menyengat.
Cairan itu merusak kulitnya dengan cepat, membakar masker dan jaringan wajahnya dalam hitungan detik.
Akhsan yang mendengar teriakan histeris itu langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup.
Ia terperangah melihat Sisil yang berguling-guling di lantai koridor dengan kondisi yang mengerikan.
"Sisil?!" Akhsan terpaku, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan horor di depan matanya.
Aruna berdiri di ambang pintu, menatap Sisil tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Ia melipat tangannya di dada, wajahnya yang tenang tampak sangat kontras dengan kekacauan di depannya.
"Tuan Akhsan, sepertinya asisten Anda benar-benar ingin membunuh saya," ucap Aruna dingin.
"Tapi sepertinya Tuhan lebih adil. Dia baru saja mencicipi neraka yang dia siapkan untuk orang lain."
Di balik pintu kamar rahasia, Christian tetap diam. Ia tidak keluar sedikit pun agar identitasnya sebagai "suami" Aruna tetap terjaga dalam bayang-bayang untuk sementara.
Ia hanya menatap layar monitor dengan tatapan puas.
Baginya, satu duri dalam hidup istrinya telah patah dengan sendirinya.
Akhsan menatap Aruna, lalu menatap Sisil yang tak lagi berbentuk. Ia merasa sangat mual.
Di saat yang sama, ia menyadari satu hal: wanita di depannya ini, Aruna Adrian, benar-benar dikelilingi oleh perlindungan yang tak terlihat, dan ia adalah maut bagi siapa saja yang mencoba menyentuhnya.
Kekacauan di koridor hotel itu berakhir dengan kedatangan ambulans.
Sisil dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, wajahnya ditutupi perban darurat untuk menahan kerusakan akibat cairan asam.
Akhsan tampak linglung, dunianya serasa berputar cepat dari momen intim di kamar mandi hingga pemandangan mengerikan di lantai koridor.
"Mari kita susul dia, Tuan Akhsan," ucap Aruna dengan suara yang tenang, seolah tidak baru saja terjadi percobaan pembunuhan terhadapnya.
"Anda, ingin ikut?" Akhsan menatapnya tak percaya.
"Tentu. Dia mencelakai dirinya sendiri saat mencoba menyerang saya. Saya harus memastikan laporan polisinya berjalan benar,"
Aruna tersenyum di balik topeng renda hitamnya yang kembali ia kenakan dengan sempurna.
Mereka tiba di rumah sakit pusat. Akhsan berjalan dengan langkah berat, sementara Aruna melangkah dengan keanggunan yang mencolok.
Jas mahal Akhsan yang berbercak air susu dan gaun mewah Aruna membuat mereka menjadi pusat perhatian di ruang tunggu unit gawat darurat.
Saat mereka duduk menunggu kabar dari dokter, suasana hening itu tiba-tiba pecah oleh bisik-bisik dari pengunjung rumah sakit lainnya.
Beberapa orang mulai menunjuk-nunjuk ke arah Aruna.
"Maaf, apakah Anda Nyonya Aruna Adrian?" tanya seorang wanita muda dengan mata berbinar, memegang ponselnya dengan gemetar.
"Sosialita dan investor dari Paris itu?"
Aruna menoleh perlahan, memberikan anggukan kecil yang sangat berkelas. "Benar. Saya Aruna."
"Oh Tuhan! Benar-benar Anda! Bolehkan kami meminta tanda tangan dan foto bersama? Kami sangat mengagumi gaya dan keberanian Anda di majalah Vogue bulan lalu!" tanya salah satu pengunjung lainnya yang ikut mendekat.
Dalam sekejap, kerumunan kecil terbentuk. Aruna dengan sangat ramah, namun tetap menjaga jarak yang elegan,.melayani permintaan mereka.
Ia berpose dengan dagu terangkat, memperlihatkan topeng mahalnya yang ikonik di depan kamera ponsel para penggemar itu.
Akhsan yang duduk di sampingnya merasa seperti bayangan yang tak terlihat.
Ia melihat bagaimana dunia memuja Aruna, sementara ia sendiri terpuruk dalam kehinaan karena ulah mantan asistennya.
"Nona Aruna, siapa pria di samping Anda ini? Apakah dia asisten Anda?" tanya seorang wartawan amatir yang kebetulan ada di sana.
Aruna melirik Akhsan yang wajahnya pucat pasi dan bajunya berantakan.
Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti lonceng namun menyakitkan bagi telinga Akhsan.
"Bukan. Beliau adalah Tuan Akhsan Hermawan, CEO Hermawan Group. Beliau sedang mencoba meyakinkan saya untuk menyelamatkan perusahaannya yang sedang di ujung tanduk," jawab Aruna dengan nada meremehkan yang sangat halus.
Kamera-kamera ponsel beralih menyorot Akhsan. Pria yang biasanya dipuja sebagai pengusaha sukses itu kini tampak seperti pecundang di hadapan kemilau Aruna Adrian.
Akhsan hanya bisa menunduk, mengepalkan tangannya di bawah kursi.
Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, namun ia tidak bisa pergi.
Tepat saat itu, pintu ruang penanganan terbuka.
"Keluarga Nona Sisil?"
Akhsan berdiri dengan kaku, sementara Aruna tetap duduk dengan tenang, menatap Akhsan seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi yang menyedihkan.
Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lesu.
Ia melepas maskernya dan menatap Akhsan dengan gelengan kepala yang bermakna buruk.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan Akhsan. Namun, cairan kimia itu sudah merusak jaringan kulit wajah Nona Sisil hingga ke lapisan dalam. Wajahnya rusak permanen. Satu-satunya jalan adalah serangkaian operasi plastik rekonstruksi yang sangat rumit dan memakan biaya miliaran rupiah," ucap dokter tersebut.
Akhsan terhuyung mundur. Bayangan biaya miliaran rupiah di tengah krisis perusahaan membuatnya merasa tercekik.
Di saat itulah, Aruna berdiri dari kursi tunggunya. Langkah kakinya yang anggun mendekati Akhsan.
"Miliaran rupiah? Jumlah yang cukup besar untuk seseorang yang sudah tidak memiliki pekerjaan, bukan?" Aruna berucap dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Ia menoleh pada Akhsan.
"Tuan Akhsan, saya bisa membiayai semua operasi itu sampai dia pulih. Anggap saja ini bentuk kemurahan hati saya."
Mata Akhsan berbinar sesaat. "Benarkah, Nona Aruna?"
"Tentu. Tapi dengan satu syarat," Aruna menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam di balik topeng.
"Anda harus mengumumkan pembatalan pertunangan Anda dengan Sisil secara resmi di seluruh media nasional dan koran utama besok pagi. Saya tidak ingin investor saya berpikir saya bekerja sama dengan pria yang terikat dengan wanita kriminal."
"APA?!"
Sebuah teriakan melengking terdengar dari ujung koridor.
Ibu Sisil datang dengan terengah-engah, wajahnya merah padam mendengar syarat itu.
Ia langsung menghampiri Aruna dan mencoba mencengkeram bahunya, namun dengan sigap Akhsan menghalangi.
"Wanita ular! Kau ingin menghancurkan masa depan anakku setelah dia menderita seperti ini? Aku tidak terima! Akhsan, kau harus tetap menikahi Sisil! Ini tanggung jawabmu!" teriak ibu Sisil histeris.
Aruna melepaskan tawa dingin. Ia menarik kembali tawaran yang tadi ia berikan dengan gerakan tangan yang angkuh.
"Baiklah kalau begitu. Jika ibunya tidak terima, saya tarik tawaran saya. Aku tidak akan membiayai satu sen pun untuk operasi anak Ibu," ucap Aruna datar. Ia menatap Akhsan.
"Bagaimana, Tuan CEO? Apakah Anda punya uang tunai lima hingga sepuluh miliar untuk wanita yang mencoba membunuh investor Anda?"
Akhsan menunduk, wajahnya tampak kuyu dan frustrasi. Ia menatap ibu Sisil dengan tatapan kosong.
"Maaf, Bu Perusahaanku sedang mengalami masalah besar. Arus kas kami membeku karena audit investasi. Aku tidak bisa memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi seperti ini. Jika Nona Aruna tidak membantu, aku tidak punya pilihan lain," ucap Akhsan dengan suara rendah.
Ibu Sisil jatuh terduduk di lantai rumah sakit, menangis meratapi nasib anaknya yang kini tidak memiliki wajah dan tidak memiliki biaya.
Sementara itu, Aruna hanya merapikan sarung tangan sutranya, merasa puas melihat satu per satu orang yang dulu menindas Zahra kini merangkak dalam kemiskinan dan penderitaan.
"Pikirkan baik-baik, Akhsan," bisik Aruna tepat di telinga pria itu sebelum melangkah pergi.
"Ingat, jam berdetak. Semakin lama kau menunda pengumuman di media, semakin busuk luka di wajah mantan tunanganmu itu."