Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak oli di lantai putih
Suasana sekolah pagi itu terasa jauh lebih panas dari biasanya. Elara datang dengan wajah yang sangat masam, tanpa kalung kebanggaannya. Ia berkali-kali memaki siapa pun yang menghalangi jalannya di koridor. Di sampingnya, Zidane tampak tertekan, ia merasa harga dirinya sebagai pembalap jatuh karena hampir tersungkur di dermaga oleh "anak baru".
Cassia masuk ke kelas dengan tenang. Wig panjangnya terpasang rapi, senyum tipisnya kembali, meski di balik jaket seragamnya, bahunya terasa pegal luar biasa.
"Cassie!" Talishia menghampirinya, berpura-pura membicarakan tugas sekolah, padahal ia sedang membisikkan sesuatu. "Oracle sudah mengamankan data di flashdisk itu. Isinya benar-benar rute pengiriman suku cadang Acheron. Elara benar-benar ular."
Cassia mengangguk pelan. "Simpan dulu. Kita akan kembalikan pada Kak Lingga lewat Galaksi. Biar dia yang urus."
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka kasar. Elara masuk dan langsung menggebrak meja Cassia.
"Heh, manekin!" bentak Elara. "Kamu lihat ada orang asing masuk ke area rumahmu semalam? Atau ada orang mencurigakan yang lewat?"
Cassia mendongak, matanya yang tenang menatap Elara dengan polos. "Maksudmu apa, Ra? Aku semalam di rumah, tidur awal karena kepalaku pusing. Ada apa?"
Elara mendengus, matanya menyipit curiga. "Jangan bohong. Semalam ada pembalap berengsek yang mencuri barangku. Dan aku tahu dia pasti punya koneksi dengan anak-anak sini."
Zelene yang duduk tidak jauh dari sana menimpali tanpa menoleh dari bukunya. "Kenapa tanya ke Cassie? Bukannya kamu yang lebih tahu soal jalanan sekarang, Ra? Kan kamu sudah jadi bagian dari... Vipers?"
Wajah Elara memerah. Ia merasa disindir. "Tutup mulutmu, Zelene! Urusi saja buku-bukumu itu!"
Sore harinya, Cassia pulang dengan perasaan lega. Namun, kelegaan itu sirna saat ia masuk ke dalam rumah. Kalingga sudah berdiri di ruang tamu dengan wajah yang sangat gelap. Di tangannya, ia memegang sebuah benda: Sepatu sekolah Cassia.
"Kak? Kenapa pegang sepatuku?" tanya Cassia, jantungnya mulai berdegup kencang.
Kalingga melemparkan sepatu itu ke lantai. Di bagian sol dan sampingnya, terdapat noda oli hitam yang sangat pekat—oli yang hanya digunakan untuk motor balap berperforma tinggi.
"Sejak kapan kamu suka main ke bengkel, Cassia?" suara Kalingga rendah, penuh tekanan. "Atau jangan-jangan... kamu main ke dermaga semalam?"
Cassia menelan ludah. "Aku... aku nggak sengaja injak tumpahan oli di parkiran sekolah, Kak."
"Jangan bohong!" Kalingga membentak, membuat Cassia tersentak. "Oli ini tipenya Castrol A747. Oli khusus balap. Nggak ada motor di sekolah yang pakai oli semahal ini kecuali motor-motor di sirkuit liar."
Kalingga melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah wig Cassia. Ia merasa ada yang aneh dengan volume rambut adiknya. Tepat saat tangan Kalingga terangkat untuk menyentuh kepala Cassia, suara klakson motor besar terdengar dari luar.
Arsheq Zhafran Galaksi muncul di ambang pintu tanpa permisi.
"Ling, itu oli dari motor gue," ucap Galaksi tenang, bersandar di pintu sambil mengantongi tangannya.
Kalingga menoleh cepat. "Maksud lo?"
"Semalam gue mampir ke sini pas lo nggak ada. Motor gue bocor dikit, dan gue nggak sengaja numpahin oli di depan teras. Mungkin adik lo injak pas mau masuk rumah," bohong Galaksi dengan wajah yang sangat meyakinkan. "Gue ke sini mau minta maaf soal itu, sekalian mau ajak lo ke markas. Ada urusan darurat soal Vipers."
Kalingga menatap Galaksi, lalu menatap Cassia lagi. Kecurigaannya sedikit mereda, meski belum sepenuhnya hilang. "Lain kali hati-hati, Sheq. Gue nggak mau Cassie kena kotoran motor lo."
"Iya, tenang aja," sahut Galaksi datar. Ia menatap Cassia sekilas, memberikan kode lewat tatapan matanya agar Cassia lebih berhati-hati.
Setelah Kalingga dan Galaksi pergi, Cassia terduduk lemas di sofa. Ia menyadari satu hal: penyamarannya semakin terancam. Ia segera menghubungi Talishia dan Zelene lewat grup rahasia mereka.
Cassia: Hampir ketahuan. Kita butuh tempat persembunyian motor yang lebih aman. Kak Lingga mulai curiga.
Zelene: Aku punya ide. Gudang di belakang sekolah yang sudah lama nggak dipakai. Aku sudah meretas kuncinya. Kita bisa simpan Nyx dan Vesta di sana.
Talishia: Setuju. Malam ini kita pindahkan.
Namun, saat Cassia hendak bersiap-siap, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor tidak dikenal.
Pesan: "Aku tahu apa yang ada di balik wig itu, Phantom. Kalau kamu nggak mau rahasiamu terbongkar, temui aku di dermaga 4 sekarang. Sendirian."
Cassia membeku. Bukan Galaksi yang mengirim pesan itu. Bukan pula Kalingga.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...