NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mbah Mijah korban Karno

​Matahari baru saja naik sepenggalah ketika jeritan histeris Lastri, istri Karno, memecah kesunyian ladang jagung di perbatasan desa. Sejak semalam, suaminya tidak pulang. Kabar burung menyebar cepat; warga berbisik-bisik bahwa Karno mungkin "diculik demit alas" atau disembunyikan oleh penunggu Hutan Weling karena nekat berkeliaran di batas desa saat malam Jumat Kliwon.

​"Karno! Mas Karno!" teriak Lastri dengan suara parau.

​Beberapa warga lelaki yang membawa parang dan pentungan menyisir rimbunnya batang jagung yang menjulang tinggi. Mereka menemukan Karno tergeletak telentang di titik yang paling angker bekas tempat "pesta pora" mereka dua tahun lalu. Tubuh Karno dingin, kulitnya pucat seolah darahnya telah diisap habis, namun napasnya masih ada.

​Saat diguncang oleh warga, Karno tersentak bangun dengan mata melotot. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap langit dengan pandangan kosong, lalu meraba selangkangannya berkali-kali dengan gerakan panik yang aneh.

​"Kamu kenapa, Mas? Dicuri wewe gombel?" tanya seorang warga dengan nada setengah bercanda.

​Karno tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan terseok-seok pulang, mengabaikan istrinya yang menangis sesenggukan. Sejak saat itu, Karno bukan lagi Karno yang dulu. Ia pulang membawa "oleh-oleh" kegilaan yang tak kasat mata.

​Tiga hari berlalu sejak kejadian di ladang, dan perilaku Karno semakin mengkhawatirkan. Ia sering duduk di depan rumah, menatap setiap wanita yang lewat dengan pandangan yang mengerikan campuran antara nafsu liar dan ketakutan yang mendalam. Di matanya, realita mulai bergeser. Setiap lekuk tubuh wanita, setiap helai rambut yang tergerai, dan setiap aroma wangi sabun yang tercium, berubah menjadi sosok Ratri dalam penglihatannya.

​Pikirannya terus-menerus memutar kejadian di gubuk itu. Rasa sakit yang tajam, rahang bergerigi yang mengunyah dagingnya, dan tawa Ratri yang sedingin es. Namun, syaraf-syaraf di otaknya yang sudah rusak oleh trauma ghaib justru menciptakan dorongan kompensasi yang gila. Ia merasa harus membuktikan bahwa dirinya masih laki-laki, bahwa ia belum "mati".

​Sore itu, hawa udara terasa gerah. Karno berjalan menuju kebun belakang rumahnya dengan tatapan nanar. Di sana, di balik rimbunnya pohon pisang, ia melihat sesosok wanita sedang membungkuk mencari rumput.

​Dalam pandangan Karno yang sudah terdistorsi, wanita itu mengenakan kebaya hitam tipis. Kulitnya putih bersinar dan aroma melati yang menusuk tiba-tiba memenuhi indra penciumannya. "Ratri..." bisik Karno dengan air liur yang nyaris menetes. Gairah liar yang gelap mendidih di kepalanya, menutupi kenyataan bahwa sosok yang sedang membelakanginya itu adalah Mbah Mijah, nenek tua renta berusia delapan puluh tahun yang tubuhnya sudah membungkuk seperti udang.

​Tanpa peringatan, Karno menerjang. Seperti binatang buas yang kelaparan, ia menanggalkan sarungnya di tengah kebun dan menyerang nenek tua itu. Mbah Mijah menjerit, namun suaranya lemah tertelan tenaga Karno yang sedang kerasukan.

​"Ratri... kamu milikku... kamu tidak bisa membunuhku!" racau Karno sambil melakukan tindakan asusila yang sangat tidak pantas di bawah sinar matahari sore yang mulai jingga.

​Petaka itu memuncak saat anak bungsu Karno, Adi, pulang bermain layangan melewati kebun. Bocah sepuluh tahun itu terpaku melihat pemandangan menjijikkan di depan matanya: bapaknya sendiri, telanjang bulat, sedang menindih Mbah Mijah yang meronta-ronta di atas tumpukan rumput.

​"IBUUUU! BAPAK GILA! BAPAK SAMA MBAH MIJAH!" jerit Adi sambil berlari kencang menuju rumah.

​Lastri yang sedang menggoreng tempe di dapur langsung melempar sodetnya. Ia berlari ke kebun diikuti oleh beberapa tetangga yang kebetulan lewat karena mendengar teriakan Adi. Saat mereka sampai di sana, pemandangan itu membuat semua orang mual sekaligus murka.

​"KARNO! KEPARAT KAMU!" teriak Lastri. Ia tidak peduli lagi pada rasa malu. Diambilnya sebilah bambu pagar, lalu dipukulkannya ke punggung telanjang suaminya berkali-kali. "SETAN APA YANG MASUK KE TUBUHMU, MAS!"

​Warga berdatangan. Bukannya menolong, banyak dari mereka yang justru tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk. "Oalah, Karno... Karno! Sudah tidak ada perawan di desa ini sampai nenek-nenek dicicipi juga?" ejek seorang warga.

​"Karno sudah miring otaknya! Pulang dari ladang jagung langsung jadi pemangsa nenek-nenek!" sahut yang lain diiringi tawa riuh.

​Mbah Mijah, yang berhasil lepas, duduk sambil memperbaiki kainnya yang koyak dengan tangan gemetar. Wajahnya merah padam karena terhina. Sambil menunjuk ke arah selangkangan Karno dengan telunjuknya yang keriput, ia berteriak dengan suara melengking:

​"Dasar laki-laki bejat! barangmu itu tidak bangun daritadi, masih juga kamu paksa masuk ! dia mati seperti kayu kering! Dasar gendeng , sampai sakit punyaku di gesek gesek lawong punyamu itu udah layu !"

​Mendengar sumpah serapah itu, tawa warga semakin pecah. Karno yang tiba-tiba tersadar dari ilusinya, menatap sekeliling dengan wajah horor. Ia melihat Mbah Mijah yang asli bukan Ratri. Ia melihat istrinya yang mengamuk, dan warga yang menontonnya seolah ia adalah binatang sirkus yang menjijikkan.

​Dengan rasa malu yang memuncak, Karno menyambar sarungnya dan berlari masuk ke dalam rumah, mengunci diri di kamar.

​Malam harinya, rumah itu terasa seperti kuburan. Lastri hanya diam di ruang tengah, menangis meratapi nasibnya yang memiliki suami "sakit jiwa". Namun, di dalam kamar, Karno sedang bertarung dengan ketakutan yang luar biasa. Kalimat Mbah Mijah dan ucapan Ratri di dalam mimpinya terus bergema: Mati rasa seumur hidup.Dia mati seperti kayu kering.

​"Tidak mungkin... itu hanya kebetulan," gumam Karno.

​Ia ingin membuktikan bahwa sumpah itu tidak berlaku. Dengan wajah memelas, ia keluar kamar dan mendekati Lastri. Ia mencoba membujuk istrinya, memohon maaf dengan seribu janji, dan akhirnya menarik paksa istrinya ke dalam kamar. Lastri, yang meskipun benci tapi masih merasa itu adalah kewajibannya, hanya bisa pasrah.

​Namun, di atas ranjang itulah neraka yang sebenarnya dimulai.

​Karno mencoba segala cara. Ia menciumi istrinya dengan kasar, mencoba membangkitkan gairah yang ia harapkan masih tersisa. Satu menit, lima menit, hingga setengah jam berlalu. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Karno.

​"Barang" itu tetap diam. Dingin. Mati.

​Seolah-olah seluruh syaraf di sana telah dicabut. Tak peduli sekeras apa pun Karno mencoba, organ vitalnya tetap terkulai layu, pucat, dan tanpa gairah sedikit pun. Lastri yang awalnya hanya diam, mulai menatap suaminya dengan tatapan aneh.

​"Kenapa, Mas? Benar kata Mbah Mijah tadi?" tanya Lastri datar, ada nada ejekan dalam suaranya yang terluka.

​"Diam! Ini hanya karena aku capek!" bentak Karno. Ia mencoba lagi dengan lebih agresif, namun tiba-tiba, suhu di dalam kamar turun drastis.

​Lampu bohlam di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total.

​Dalam kegelapan itu, penglihatan Karno kembali berubah. Ia tidak lagi melihat istrinya. Di sudut kamar, ia melihat bayangan hitam besar berjongkok. Dua mata merah menyala menatapnya tajam. Bunyi geraman rendah terdengar, diikuti suara kunyahan yang sangat nyata: Krak... krak... slrupp...

​Karno melihat ke bawah, ke arah selangkangannya. Dalam ilusinya, ia melihat kemaluannya berlumuran darah, dan sosok anjing hitam itu sedang menarik urat-urat dari dalamnya. Rahang makhluk itu tampak haus akan sari pati kejantanannya.

​"TIDAAAKKK! JANGAN MAKAN PUNYAKU! AMPUN, ! AMPUN!"

​Karno menjerit histeris. Ia melompat dari ranjang, menendang-nendang udara kosong seolah sedang mengusir binatang buas. Ia meringkuk di pojok ruangan sambil menutupi kemaluannya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat.

​"Mas! Kamu kenapa, Mas?!" Lastri berteriak panik, meraba-raba dalam gelap mencari lampu senter.

​Begitu senter dinyalakan, Lastri melihat suaminya sedang menangis meraung-raung seperti anak kecil, kencing di celana karena ketakutan, sambil terus meracau tentang "anjing hitam" dan "permintaan ampun ".

​"Ampun, ... kembalikan punyaku... jangan dimakan... sakitttt!"

​Lastri bergidik ngeri. Mendengar kata " jangan dimakan " membuat jantungnya berdegup kencang. ​"Ini bukan gila biasa," bisik Lastri dalam hati.

​Ketakutan melihat suaminya yang nyaris kehilangan kewarasan, Lastri lari keluar rumah sambil berteriak memanggil bantuan. "TOLONG! PAK RT! TOLONG! MAS KARNO KESURUPAN!"

​Malam itu, warga kembali berkumpul di depan rumah Karno, mendengarkan jeritan seorang pria yang sedang dikuliti oleh dendam ghaib yang tak terlihat.

Jangan lupa support Thor ya... Like..like..komen nya jugaa ..menerima setiap masukan uang eehhh..kritik dan saran.

Jangan lupa follow juga.Terimakasih

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!