Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - KELUAR PERTAMA KALI
Selasa pagi, Lily bangun dengan satu keputusan yang sudah matang semalaman.
Dia perlu keluar, bukan ke warung kopi, bukan ke pasar, bukan ke tempat yang sudah jadi bagian dari rutinitas yang bisa dipantau dan diprediksi. Dia perlu pergi ke tempat yang tidak ada di pola pergerakannya selama ini. Tempat yang tidak akan dicari kalau tiba-tiba ada yang memeriksa alibinya.
Dan dia perlu melakukannya sendiri, tanpa Hendra, tanpa komunikasi yang bisa dilacak.
Tujuannya satu: kantor pertanahan.
Bukan untuk mengajukan klaim... terlalu dini, terlalu berisiko tanpa persiapan dokumen yang lengkap. Tapi untuk melihat sendiri, dengan matanya sendiri, bagaimana kondisi sengketa administratif tanah itu sekarang. Pak Syarif bilang statusnya masih tidak aktif, tapi tidak aktif dan aman adalah dua hal yang berbeda. Dan Lily sudah terlalu banyak belajar bahwa asumsi adalah kemewahan yang tidak bisa dia bayar.
Dia turun ke dapur jam lima pagi.
Bibi Rah sudah ada seperti biasa, seperti selalu. Perempuan itu sudah mencuci piring semalam yang entah bagaimana masih ada di bak meskipun Lily sudah membereskan semuanya sebelum tidur. Bibi Rah adalah jenis orang yang selalu menemukan sesuatu untuk dikerjakan bahkan ketika tidak ada yang perlu dikerjakan.
Mereka tidak bicara. Tapi waktu Lily mengambil gelas untuk air putih, Bibi Rah menggeser posisi badannya sedikit, gerakan kecil yang membuka jarak antara dia dan meja counter, memberi Lily ruang yang lebih luas dari perlu.
Lily mengerti. Bibi Rah sedang memastikan Lily bisa bergerak tanpa ada yang memperhatikan dari dekat.
Di bawah piring yang Lily ambil untuk menyiapkan sarapan, ada kertas kecil lagi.
Ibu Sari pulang malam tadi dari tempat yang tidak dia ceritakan. Wajahnya lain. Hati-hati hari ini.
Lily membaca, mengangguk sangat tipis, dan memulai sarapan.
Jam delapan pagi, Tante Sari turun dengan wajah yang Lily langsung perhatikan perubahannya.
Bukan wajah yang lebih lelah atau lebih tegang, justru sebaliknya. Ada semacam ketenangan yang berbeda di sana, jenis ketenangan yang datang bukan dari istirahat yang cukup tapi dari sesuatu yang sudah diselesaikan atau diputuskan. Orang yang habis membuat keputusan besar sering kelihatan seperti itu. Lebih ringan dari biasanya, tapi dengan kedalaman di mata yang tidak cocok dengan ekspresi santainya.
"Lily," katanya sambil duduk. "Hari ini kamu tidak usah ke pasar dulu. Ada keperluan lain yang lebih penting."
Lily menaruh piring sarapannya di meja. "Keperluan apa, Tante?"
"Nanti siang kita ke notaris. Ayahmu minta kamu tanda tangan beberapa dokumen."
Lily duduk di ujung kursi, posisinya yang biasa. "Dokumen apa?"
"Surat keterangan ahli waris dan beberapa administrasi rumah tangga." Tante Sari mengambil roti dengan gerakan yang terlalu kasual untuk topik yang dia bawa. "Hal-hal rutin."
Hal-hal rutin yang harus ditandatangani mendadak, hari Selasa pagi, setelah Reinaldo Mahendra berkunjung Minggu lalu dan berbicara soal deadline.
"Jam berapa?" tanya Lily.
"Jam dua belas."
"Baik."
Tante Sari menatapnya sebentar mencari reaksi, seperti biasanya. Tidak menemukan apa yang dia cari, seperti juga biasanya. Lalu kembali ke sarapannya.
Lily minum tehnya dengan tenang.
Di dalam kepalanya: dia punya empat jam.
Jam delapan empat puluh, Lily keluar dari rumah dengan alasan membeli sabun cuci yang hampir habis, barang yang memang hampir habis karena Lily sudah memastikan itu semalam.
Di jalan, setelah dua tikungan dari rumah, dia tidak belok ke toko yang biasa. Dia naik angkutan ke arah pusat kota.
Kantor pertanahan buka jam delapan. Lily sampai jam sembilan kurang.
Gedungnya tidak besar, bangunan pemerintah dengan cat krem yang sudah perlu diperbarui, lobi yang ramai dengan orang-orang yang membawa map dan menunggu di kursi plastik yang disusun rapi. Ada papan informasi di dekat pintu masuk yang mencantumkan jenis-jenis layanan dan nomor antriannya.
Lily tidak mengambil nomor antrian.
Dia berdiri di depan papan informasi itu dan membaca dengan teliti. Ada satu loket di pojok kanan yang labelnya Informasi Sengketa dan Status Kepemilikan. Di depannya hanya ada dua orang.
Lily mengambil posisi di antrian.
Petugas di loket itu perempuan, usia tiga puluhan, dengan muka yang sudah terlatih menjadi netral terhadap semua jenis pertanyaan yang datang ke mejanya.
"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"
"Selamat pagi." Lily meletakkan KTP-nya di loket. "Saya mau cek status kepemilikan tanah atas nama Wulan Dewi Paramita. Saya ahli warisnya."
Petugas itu mengetikkan nama ke komputer. Menunggu. Mengetik lagi. Wajahnya tidak berubah, tapi ada jeda kecil sebelum dia merespons yang Lily perhatikan.
"Ada dua bidang tanah atas nama tersebut di sistem kami."
"Iya."
"Yang satu..." petugas itu mengetik lagi, "...dalam proses pengalihan aktif yang baru diajukan delapan hari lalu. Yang satu lagi masih dalam status sengketa administratif tidak aktif."
Lily mengencangkan genggamannya di tepi loket. "Pengalihan aktif... artinya?"
"Artinya ada pihak yang sedang mengajukan penyelesaian kepemilikan. Prosesnya sedang berjalan."
"Siapa yang mengajukan?"
Petugas itu menatap layarnya. "Saya tidak bisa memberikan nama pihak pemohon tanpa surat kuasa atau dokumen ahli waris yang terverifikasi, Bu."
"Berapa lama proses pengalihan itu?"
"Standarnya tiga puluh hari kerja kalau tidak ada keberatan."
Tiga puluh hari kerja. Enam minggu kalender.
Deadline Reinaldo.
"Kalau ada keberatan yang diajukan dari pihak ahli waris, prosesnya berhenti?"
"Keberatan resmi bisa menghentikan proses sementara sampai ada klarifikasi."
"Keberatan itu bisa diajukan oleh siapa?"
"Pihak yang bisa membuktikan hubungan dengan pemilik aset, ahli waris sah dengan dokumen yang mendukung."
Lily menarik KTP-nya kembali. "Terima kasih."
Dia keluar dari kantor pertanahan jam sembilan lewat dua puluh dan langsung menghubungi Hendra dari angkutan.
"Tanah yang di kota ini, ada yang baru mengajukan pengalihan delapan hari lalu. Tiga puluh hari kerja. Kita punya enam minggu sebelum prosesnya selesai kalau tidak ada keberatan."
Hendra tidak langsung menjawab. Hening di ujung telepon selama tiga detik.
"Enam minggu," katanya akhirnya. Suaranya berbeda dari biasanya... lebih padat, lebih berat. "Pak Syarif perlu tahu ini sekarang. Aku telepon beliau."
"Ada satu hal lagi," kata Lily. "Hari ini aku dipaksa ke notaris. Jam dua belas. Dokumen yang katanya rutin tapi tidak ada pengumuman sebelumnya."
"Jangan tanda tangan apa pun."
"Aku tahu."
"Kalau dipaksa, minta waktu baca dulu. Kalau tidak diberi waktu, berdiri dan keluar."
"Aku mengerti."
"Lily." Suara Hendra turun sedikit. "Hati-hati. Mereka mulai bergerak lebih cepat dari yang kita antisipasi."
Lily menutup telepon dan menatap keluar jendela angkutan.
Toko-toko di pinggir jalan berlalu satu per satu, toko sembako, bengkel motor, warung makan yang baru buka dengan kursi-kursi yang masih dibalik di atas meja.
Enam minggu.
Pak Syarif perlu menyiapkan keberatan resmi. Kesaksian mantan petugas pertanahan perlu diamankan. Dokumen forensik perlu dimulai. Dan semua itu perlu biaya yang Lily belum punya akses ke sana.
Dan jam dua belas dia harus duduk di depan notaris dengan dokumen yang kemungkinan besar dirancang untuk menutup satu jalur lagi dari haknya.
Terlalu banyak yang bergerak sekaligus. Tapi Lily sudah belajar bahwa banyak yang bergerak sekaligus bukan alasan untuk berhenti. Itu alasan untuk bergerak lebih efisien.
Angkutan berhenti di ujung jalan kompleks.
Lily turun, membeli sabun cuci di toko yang biasa, dan berjalan pulang dengan langkah yang sama seperti setiap kali dia pulang belanja.
Tapi di kantong kiri celemeknya, di sebelah uang kembalian, ada satu lembar kertas kecil yang dia tulis sendiri tadi di angkutan. Nomor loket, nama petugas, dan kalimat yang dia ingat dari komputer yang sebentar terlihat dari sisinya ketika petugas mengetikkan nama Mama:
Pemohon: PT Langit Nusantara Properti. Status: Dalam Proses.
Reinaldo sudah bergerak.
Sekarang Lily juga harus.
Bersambung ke Bab 22...