NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Syuting Pertama

Tekanan produksi layar lebar berpindah dari ruang editing ke lapangan, menguji komitmen Arlan dan Adelia pada batasan baru mereka.

​Hari pertama syuting “Detak Jakarta: The Movie” dimulai pukul empat pagi. Udara Jakarta masih dingin saat Arlan dan Adelia tiba di lokasi: sebuah pelabuhan peti kemas yang disulap menjadi tempat persembunyian karakter utama. Lampu-lampu sorot raksasa menerangi area set, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis.

​Arlan berada dalam elemennya. Ia berdiri di belakang monitor, memberikan arahan dengan presisi tinggi kepada kru kamera. Namun, ada yang berbeda kali ini. Ia tidak lagi berteriak. Suaranya tegas, namun terkontrol.

Saat terjadi kesalahan teknis pada crane kamera, Arlan menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan untuk marah, dan meminta teknisi memperbaikinya dengan tenang.

​Adelia mengamati dari samping, mencatat detail adegan dan memastikan efisiensi waktu. Ia melihat perubahan pada Arlan dan merasa lega.

​"Istirahat lima menit! Reihan, pastikan make-up kamu aman dari keringat!" seru Arlan.

​Adelia mendekati Arlan, menyodorkan botol air minum. "Bagus, Arlan. Tim bekerja lebih santai kalau kamu tenang."

​Arlan tersenyum kecil, menerima botol itu. "Aku berusaha, Adel. Tapi... ini lebih sulit daripada yang kukira. Tekanannya tinggi."

​"Kita berdua yang menanggungnya, bukan cuma kamu," jawab Adelia lembut.

​Konflik muncul saat adegan klimaks yang melibatkan banyak figuran mulai memakan waktu lebih lama dari jadwal. Matahari mulai tinggi, dan suhu di pelabuhan menjadi panas menyengat. Pak Surya mungkin sudah tidak ada, namun tekanan anggaran dari GlobalStream tetap terasa.

​"Arlan, kita butuh adegan ini selesai dalam tiga take lagi, atau kita akan lembur dan membayar biaya sewa lokasi tambahan," bisik Adelia, menunjuk jadwal di tabletnya.

​Arlan menatap monitor. Ia tahu adegan itu butuh waktu lebih. Ia menatap Adelia, lalu menatap kru yang kelelahan. Ego sutradaranya bertarung dengan janjinya pada Adelia.

​"Oke," ujar Arlan akhirnya. "Kita ubah pendekatan teknisnya. Kita pakai satu kamera saja untuk close-up Reihan, sisanya kita ambil dari wide shot yang sudah ada. Itu akan menghemat waktu."

​Keputusan itu berisiko artistik, namun masuk akal secara finansial. Tim bergerak cepat mengikuti arahan baru Arlan.

​Sore harinya, syuting berakhir sesuai jadwal. Arlan tampak lelah, namun tidak terlihat stres seperti dulu. Saat mereka berkemas untuk pulang, Adelia mendekatinya.

​"Tadi itu keputusan yang bagus, Arlan. Kamu belajar berkompromi," puji Adelia.

​Arlan menatap Adelia, matanya berbinar. "Tadi itu sulit, Adel. Tapi melihat kita tidak stres... itu sepadan. Dan aku ingat janji kita."

​Mereka masuk ke mobil, meninggalkan lokasi syuting. Arlan tidak menyalakan laptopnya untuk meninjau hasil syuting hari itu. Ia membiarkan Adelia memutar musik santai.

​"Besok adalah adegan emosional Reihan di ruang interogasi," ujar Arlan, bersandar di kursi.

​"Aku sudah menyiapkan mood board pencahayaannya," sahut Adelia. "Kita bahas besok pagi di studio, bukan malam ini."

​Arlan tertawa pelan. "Baik, Nyonya Besar. Malam ini... kita hanya pasangan yang lelah."

​Mereka tiba di apartemen, menikmati makan malam yang tenang, menyadari bahwa membangun karya besar tidak harus menghancurkan kehidupan pribadi mereka. Perjalanan syuting masih panjang, namun mereka merasa lebih siap menghadapi badai berikutnya.

Konflik Bintang Utama

​Lampu neon yang berkedip di ruang interogasi set buatan studio menciptakan atmosfer yang mencekam. Bau asap rokok dan kopi instan yang menyengat memenuhi udara. Ini adalah hari kedelapan belas syuting, dan semua orang—mulai dari penata cahaya hingga asisten produksi—menahan napas. Arlan duduk di depan monitor-monitor playback, matanya terpaku pada ekspresi Reihan Malik.

​"Cut!" seru Arlan, suaranya tidak tinggi, tapi mengandung kekecewaan yang nyata.

​Reihan, yang duduk di kursi besi di tengah set, mengusap wajahnya dengan kasar.

Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, sesuai dengan karakternya yang sedang hancur. Namun, ada yang salah dengan aktingnya.

​"Reihan, kita sudah melakukan sepuluh take," ujar Arlan, berjalan mendekat ke area set. "Kamu terlalu teknis. Aku tidak butuh air mata yang jatuh tepat di detik ketiga. Aku butuh rasa putus asa yang membuat penonton merasa tercekik. Kamu aktor hebat, tapi di sini kamu terlihat seperti sedang menghafal naskah."

​Reihan menatap Arlan dengan tajam. Kelelahan fisik dan tekanan sebagai bintang utama mulai menggerogoti kesabarannya. "Aku sudah memberikan semua yang diminta naskah, Arlan! Kamu ingin aku hancur? Aku sudah hancur! Kita sudah syuting empat belas jam sehari!"

​"Tapi hasilnya tidak jujur!" balas Arlan, mulai terpancing.

​Adelia segera melangkah maju sebelum perdebatan itu memanas dan merusak moral seluruh kru. Ia membawa sebotol air dingin dan handuk kecil.

​"Semuanya, istirahat lima belas menit!" teriak Adelia lantang. Ia menarik Arlan menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi.

​"Arlan, tekanannya terlalu berat untuknya. Dia merasa terbebani oleh ekspektasi GlobalStream sama seperti kita," bisik Adelia. "Jangan ditekan dari luar. Dia butuh ruang untuk menemukan emosinya sendiri."

​"Tapi kita mengejar waktu, Adel! Kalau adegan ini tidak dapat, seluruh film ini akan terasa hambar," Arlan mengacak rambutnya frustrasi.

​"Biar aku yang bicara padanya. Sebagai teman, bukan sebagai produser," kata Adelia tegas.

​Adelia menghampiri Reihan yang masih terduduk di set. Ia memberikan air minum itu tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat.

​"Reihan," panggil Adelia lembut. "Ingat saat kita pertama kali bertemu di proyek iklan itu? Kamu bilang kamu benci karakter yang terlalu sempurna."

​Reihan mendongak, tersenyum kecut. "Iya. Tapi sekarang aku merasa tidak bisa menjadi 'tidak sempurna' dengan benar."

​"Karena kamu takut mengecewakan Arlan. Jangan pikirkan dia. Pikirkan karaktermu, Satria. Dia kehilangan segalanya bukan karena dia lemah, tapi karena dia terlalu mencintai. Kamu tahu rasanya mencintai sesuatu sampai rasanya sakit, kan?"

​Reihan terdiam. Ia melirik ke arah Arlan yang sedang berbicara dengan penata kamera di kejauhan. Ia mengangguk pelan. "Aku tahu."

​"Gunakan itu. Jangan akting. Rasakan saja," Adelia menepuk bahu Reihan dan kembali ke sisi Arlan.

​Lima belas menit kemudian, posisi kembali diambil. Suasana set menjadi sangat hening. Arlan memberikan aba-aba "Action" dengan suara hampir berbisik.

​Kali ini, Reihan tidak menangis. Ia hanya diam, menatap lampu neon yang berkedip, namun rahangnya mengeras dan tangannya gemetar hebat. Kesunyian itu jauh lebih mematikan daripada teriakan manapun. Di monitor, Arlan melihat apa yang ia cari selama ini: kejujuran yang mentah.

​"Cut. Print itu," ujar Arlan dengan nada kagum.

​Reihan berdiri, masih dalam emosinya, lalu berjalan menghampiri Arlan dan menjabat tangannya tanpa kata. Sebuah pengakuan bisu antara dua seniman.

​Saat kru mulai berkemas untuk pindah ke lokasi berikutnya, Arlan merangkul pinggang Adelia. "Terima kasih, Adel. Kamu benar-benar 'pembisik naga'. Tanpa kamu, aku mungkin sudah memecat aktor terbaikku hari ini."

​Adelia tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Itulah gunanya mitra, kan? Untuk mengingatkan bahwa terkadang, emosi tidak bisa dipaksa, hanya bisa dipancing."

​Malam itu, mereka pulang dengan perasaan menang. Namun, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Adelia saat mereka di dalam taksi. Pesan dari tim hukum di Paris mengenai sisa administrasi aset Ayah Arlan yang ternyata masih menyisakan satu "kejutan" terakhir yang belum tuntas.

​Adelia menutup ponselnya, memutuskan untuk tidak memberitahu Arlan malam ini. Ia ingin Arlan menikmati kemenangan kecilnya hari ini sebelum badai masa lalu kembali mengetuk pintu mereka.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!