Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Tanpa Suara
Detik jam dinding di ruang makan mewah itu terdengar seperti dentum martil di telinga Arabella. Di atas meja kayu mahoni yang panjang, lilin aroma terapi hampir habis terbakar, menyisakan lelehan lilin yang membeku—persis seperti hubungan mereka selama lima tahun terakhir.
Ara melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 23.45. Lima belas menit lagi, ulang tahun pernikahan mereka yang kelima akan berakhir.
Ceklek.
Suara pintu depan terbuka. Ara segera berdiri, merapikan dress sutra merah marunnya yang mulai terasa sesak oleh kecemasan. Langkah kaki yang tegas dan berirama menyusul masuk. Itu dia. Devano Altair Wren, masih dengan jas dokter yang tersampir di lengannya dan aroma rumah sakit yang melekat kuat.
"Kau belum tidur?" Suara Devan rendah, datar, tanpa intonasi kerinduan sedikit pun.
Ara memaksakan senyum kecil. "Aku menunggumu. Aku memasak Beef Wellington kesukaanmu. Sedikit dingin, tapi bisa kupanaskan—"
"Aku sudah makan di kantin rumah sakit," potong Devan sambil meletakkan tas kerjanya di sofa. Ia bahkan tidak menoleh ke arah meja makan yang tertata cantik dengan bunga lili putih kegemarannya.
"Tapi hari ini hari jadi kita yang kelima, Devan. Aku sudah mengatakannya di pesan singkat tadi pagi."
Devan berhenti melangkah. Ia memijat pangkal hidungnya, tampak jengah. "Aku ada operasi darurat, Ara. Lalu ada otopsi untuk kasus pembunuhan berantai di pinggiran kota. Kau tahu jadwalku tidak bisa diganggu oleh hal-hal... sentimental seperti ini."
Sentimental. Hati Ara seperti dicubit. Bagi Devan, lima tahun pengabdiannya hanya dianggap sebagai beban emosional yang tidak logis.
"Lima tahun, Devan. Dan kita bahkan masih seperti dua orang asing yang tidak sengaja tinggal di bawah atap yang sama," gumam Ara, suaranya mulai bergetar.
Devan akhirnya berbalik. Matanya yang tajam dan dingin menatap Ara, seolah-olah sedang mengobservasi mayat di meja forensik. "Bukankah dari awal kita sepakat? Pernikahan ini untuk kakek. Untuk warisan. Aku memberimu status, keamanan finansial, dan kebebasan untuk tetap bekerja sebagai pengacara. Apa lagi yang kurang?"
"Sentuhanmu!" Ara meledak. "Lima tahun, Devan. Kau bahkan tidak pernah menyentuhku sebagai seorang suami. Apa aku sebegitu menjijikkannya di matamu?"
Hening. Devan tidak menjawab. Dia hanya diam dengan wajah kaku seperti patung porselen.
"Atau ini semua karena Liliana?" Ara mengecilkan suaranya, menyebut nama yang menjadi hantu dalam rumah tangga mereka. "Karena dia pergi, jadi kau menghukumku dengan keheningan ini?"
Mendengar nama itu, rahang Devan mengeras. "Jangan bawa-bawa masa lalu yang tidak kau pahami, Arabella. Mandilah dan tidurlah. Aku harus ke ruang kerja, ada berkas forensik yang harus kuselesaikan sebelum subuh."
Devan melangkah pergi, namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruang makan. Ia menoleh sedikit, matanya tertuju pada kue tart kecil bertuliskan 'Happy 5th Anniversary' di atas meja.
"Besok buang kue itu. Aku tidak suka makanan manis. Itu hanya akan merusak gigimu," ucapnya dingin sebelum menghilang di balik pintu kayu ruang kerjanya.
Ara terduduk lemas. Ia mengambil sepotong kecil kue dengan jarinya, memasukkannya ke mulut. Manis, namun terasa sepahit empedu di lidahnya.
Tiba-tiba, ponsel Ara di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Merry, sahabatnya.
Merry: "Ara, tolong bilang padaku kalau ini bukan Devan. Aku sedang di Hotel Grand Hyatt, dan aku baru saja melihatnya masuk ke lift dengan seorang wanita yang mirip sekali dengan Liliana Lyne."
Di bawah pesan itu, sebuah video terlampir.
Jantung Ara serasa berhenti berdetak. Ia baru saja melihat Devan masuk ke rumah dengan baju yang sama. Namun, di video itu, Devan tampak merangkul pinggang seorang wanita berambut pirang panjang di depan lift hotel.
Baru saja Ara ingin membanting ponselnya, sebuah panggilan masuk memutus video tersebut. Nama ayahnya muncul di layar.
"Halo, Ayah?" suara Ara serak.
"Halo, dengan Ibu Arabella Reese? Kami dari kepolisian sektor pusat. Ingin mengabarkan bahwa kendaraan yang ditumpangi Tuan dan Nyonya Reese mengalami kecelakaan beruntun di tol km 14. Saat ini korban sedang dilarikan ke ruang darurat..."
Ponsel di tangan Ara jatuh ke lantai, layar kacanya retak seribu.
Di lantai atas, suara pintu ruang kerja Devan terkunci rapat. Di lantai bawah, dunia Arabella runtuh dalam satu detik yang sama.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/