Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Gravitasi Berpindah
Setelah Presiden Komisaris menyampaikan kekhawatirannya kepada dewan mengenai stabilitas perusahaan akibat video yang beredar, rapat mendadak pun dijadwalkan sore itu.
Undangan resmi dikirimkan kepada CEO. Agenda: evaluasi dampak reputasi terhadap perusahaan.
Tidak ada kata “interogasi”. Tidak ada kata “klarifikasi”. Hanya evaluasi.
Dan di sinilah mereka berada sekarang. Di ruang dewan komisaris yang atmosfernya berbeda dari biasanya. Tidak santai. Tidak formal biasa. Ini rapat klarifikasi.
Zelia duduk di kursi CEO. Tegak. Tenang. Di sebelahnya, Are. Laptop terbuka. Ekspresi datar seperti biasa.
Di seberang meja panjang, para komisaris.
Dan di ujung meja, Atyasa. Presiden Komisaris. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Komisaris independen membuka rapat. “Kami meminta pertemuan ini untuk menjaga stabilitas perusahaan. Sentimen publik terhadap manajemen berdampak pada persepsi investor.”
Zelia mengangguk. “Saya memahami kekhawatiran itu.”
“Yang menjadi perhatian,” lanjut komisaris itu hati-hati, “adalah dugaan intervensi dalam pengelolaan warisan yang kemudian dikaitkan dengan kepemimpinan perusahaan.”
Semua mata berpindah ke Are. Namun ia tidak terlihat terganggu.
“Kami ingin klarifikasi langsung,” kata perwakilan pemegang saham.
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu Are berbicara. “Boleh saya memutar sesuatu sebelum kita masuk ke opini?”
Nada suaranya tenang. Tanpa defensif. Tanpa nada menyerang.
Atyasa tidak bereaksi. Ia hanya menatap lurus ke depan.
Are memutar layar laptopnya ke arah proyektor.
Video mulai berjalan. Sudut stabil. Audio jelas. Percakapan utuh.
Pasal 7 ayat 3.
Reaksi refleks Atyasa saat Zelia hampir menandatangani.
Kalimat: “Pengamanan atau pengambilalihan terselubung?”
Dan—
Jeda. Langkah setengah maju. Nada suara yang berubah.
Ruangan menjadi sunyi. Sangat sunyi.
Tidak ada potongan. Tidak ada framing. Hanya konteks penuh. Video berhenti.
"Bagaimana bisa?" batin Atyasa. Ia tak menyangka kalau Are juga merekam percakapan waktu itu. Bahkan lebih jelas.
Are menutup laptopnya perlahan. “Saya tidak pernah berniat mencampuri urusan keluarga,” katanya tenang. “Saya hanya membaca dokumen yang menyangkut posisi hukum CEO perusahaan ini.”
Beberapa komisaris saling bertukar pandang.
Seseorang berdeham pelan. “Pasal itu memang… ambigu.”
Semua mata beralih ke Atyasa. Pria itu diam sedikit lebih lama dari biasanya. Namun ketika ia berbicara, nadanya tetap stabil.
“Itu kesalahpahaman,” katanya tenang. “Revisi sudah dilakukan. Kami menyelesaikannya secara internal.”
Tidak ada emosi, tidak ada panik dalam nada suaranya. Hanya pernyataan formal.
Are menatapnya. “Jika memang itu kesalahpahaman,” katanya pelan, “mengapa tidak ada klarifikasi ketika narasi publik mulai memojokkan saya dan CEO?”
Pertanyaan itu tidak keras, tapi tepat, membuat ruangan terasa lebih berat.
Atyasa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. “Karena perusahaan tidak seharusnya menanggapi setiap rumor.”
“Namun rumor itu mempengaruhi nilai saham,” jawab Are. “Dan secara implisit menguntungkan satu pihak.”
Ruangan kembali hening.
Zelia tidak ikut bicara. Ia hanya mengamati. Ini bukan lagi pertengkaran keluarga. Ini adu legitimasi.
Salah satu komisaris akhirnya berbicara. “Presiden Komisaris, publik bisa menilai bahwa ada konflik kepentingan.”
Atyasa tersenyum tipis. “Saya tidak memiliki kepentingan selain menjaga stabilitas perusahaan.”
Kalimat itu sempurna. Tenang. Terukur. Sulit dipatahkan. Namun kali ini, seisi ruangan tidak sepenuhnya percaya. Dan itu sudah cukup. Karena dalam dunia dewan komisaris, keraguan kecil sering kali lebih berbahaya daripada tuduhan terbuka.
Beberapa detik berlalu.
Are akhirnya menutup laptopnya, lalu berbicara dengan nada yang sama stabilnya. “Kami tidak memberikan klarifikasi,” katanya, “bukan karena kami mengabaikan situasi.”
Semua mata beralih padanya.
“Klarifikasi tanpa bukti hanya akan menjadi opini baru di tengah opini lama. Itu tidak akan mengubah posisi kami di mata publik.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan jika kami merilis video lengkap yang barusan diputar di ruangan ini… publik mungkin memahami konteksnya.”
Ia melirik singkat ke arah Atyasa.
“Tapi pihak luar, terutama pesaing, mereka akan melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya.”
Beberapa komisaris menyipitkan mata.
“Retakan internal,” lanjut Are tenang. “Dan persepsi bahwa konflik keluarga mempengaruhi struktur pengelolaan perusahaan.”
Ia menyandarkan tubuhnya tipis.
“Stabilitas perusahaan ini menyangkut ribuan karyawan. Ribuan keluarga. Kami tidak ingin krisis personal berkembang menjadi krisis institusional.”
Kalimat itu bukan pembelaan diri. Itu positioning.
Zelia tidak berbicara. Ia membiarkan Are menyelesaikannya.
“Karena itu,” lanjut Are, “kami memilih diam. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk menjaga garis pemisah antara urusan keluarga dan perusahaan.”
Seseorang di ujung meja bertanya pelan, “Lalu apa solusi Anda?”
Are menatap lurus ke depan.
“Publik masih melihat Presiden Komisaris sebagai figur yang—” ia berhenti sepersekian detik, lalu menekankan satu kata, “—bersih.”
Kata itu terdengar jelas. Tidak tajam. Tapi jelas sengaja.
“Jika klarifikasi datang dari beliau,” lanjut Are, “narasi akan berhenti sebagai kesalahpahaman internal. Bukan konflik kepemimpinan.”
Sekarang ruangan benar-benar sunyi. Logika Are sulit dipatahkan.
Salah satu komisaris independen akhirnya berbicara. “Itu masuk akal.”
Yang lain mengangguk perlahan.
“Presiden Komisaris memiliki posisi paling netral di mata publik,” tambah yang lain.
Netral. Bersih. Stabil.
Kata-kata itu bergema tanpa perlu diulang. Semua mata kembali tertuju pada Atyasa.
Atyasa terdiam sedikit lebih lama, tidak nyaman, tapi wajahnya tetap terlihat tenang. Ia tahu pasti, Jika ia menolak, keraguan hari ini akan tumbuh. Dan di meja dewan, persepsi sama berharganya dengan fakta.
Ia tersenyum tipis.
“Jika itu yang dianggap terbaik bagi perusahaan,” katanya akhirnya, nada tetap terkendali, “saya akan memberikan pernyataan klarifikasi.”
Keputusan itu terdengar sukarela. Padahal semua orang di ruangan itu tahu, itu pilihan yang terpaksa.
Rapat tidak ditutup dengan tepuk tangan. Tidak ada kemenangan dramatis. Namun ketika semua berdiri, keseimbangan telah berubah.
Are merapikan laptopnya. Ia tidak menjatuhkan siapa pun. Ia hanya memindahkan pusat gravitasi kekuasaan.
Dan Atyasa menyadarinya. Pria yang ia anggap bayangan di belakang putrinya itu bukan sekadar ancaman emosional. Ia ancaman struktural.
Dan yang lebih berbahaya, ia selalu tampak seperti sedang menyelamatkan perusahaan.
***
Zelia dan Are meninggalkan ruang rapat. Langkah Zelia tetap tenang sampai mereka tiba di ruang CEO. Begitu pintu tertutup, bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya turun. Ia berbalik menatap Are yang sedang meletakkan laptop di meja dengan ekspresi setenang biasa.
“Barusan itu…” Zelia menggeleng pelan, lalu tersenyum. “Kamu hebat.”
Are mengangkat wajahnya sedikit. "Aku hanya memutar konteks penuh.”
“Bukan.” Zelia mendekat satu langkah. “Kamu tidak menjatuhkan Papa. Kamu tidak menyerangnya. Kamu hanya… memindahkan sorotan.”
Are terdiam.
“Kamu mengembalikan cahaya itu ke beliau,” lanjut Zelia pelan. “Tanpa terlihat seperti kamu sedang mendorong.”
Sudut bibir Are bergerak tipis. “Aku tidak melakukan apa-apa selain memberi pilihan yang logis.”
“Justru itu.” Zelia menatapnya dengan mata berbinar. “Kamu tidak pernah terlihat menyerang. Kamu selalu terlihat seperti sedang menyelamatkan semuanya.”
Are hendak menjawab sesuatu, tapi belum sempat—
“Are!”
Nada Zelia berubah spontan, penuh energi yang akhirnya bebas. “Aku makin suka padamu!”
Dan sebelum ia sempat memikirkan ulang tindakannya, Zelia melangkah cepat, melompat ringan, dan memeluk leher Are.
Refleks.
Are hampir kehilangan keseimbangan satu langkah ke belakang.
Tangannya otomatis menahan pinggang Zelia agar ia tidak jatuh. Zelia mengenakan celana panjang bahan lembut, tubuhnya ringan, dan ia hanya tertawa kecil, murni, tanpa beban. Kakinya tanpa sadar melingkar di pinggang Are agar tidak tergelincir.
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Are berdiri kaku.
Strategi bisa ia hitung. Detak jantungnya tidak.
Ruang rapat bisa ia kendalikan. Tapi bukan jarak sedekat ini.
...✨“Di meja dewan, tuduhan bisa dibantah. Keraguan tidak....
...Kebenaran bisa diperdebatkan. Persepsilah yang menentukan arah.”...
...“Ia tidak menjatuhkan siapa pun. Ia hanya memindahkan cahaya.”...
...“Harga diri yang terus dipertanyakan akan selalu mencari panggung untuk membuktikan diri.”...
...“Ia ingin tetap bersih. Tapi lupa bahwa cahaya paling terang juga menciptakan bayangan paling tajam.”...
...“Ia mengira sedang menyelamatkan dirinya. Tanpa sadar, ia sedang berjalan ke tengah panggung.”...
...“Yang paling berbahaya bukan musuh yang menyerang, tapi orang yang tampak menyelamatkan.”...
...“Strategi bisa ia hitung. Perasaan tidak.”✨...
.
To be continued
Zelia seperti biasa, kalau sudah merasa lega dalam menghadapi peliknya pekerjaan dengan bantuan Are, tanpa aba-aba ia meloncat ke tubuh Are.
Are sudah siap, sepertinya Are sudah hafal apa yang bakal terjadi. Are menangkap tubuh Zelia tanpa goyah.
Zelia semakin berani - mengecup pipi Are.
Presentasi yang sangat baik - begitu ucap salah satu direktur sambil bertepuk tangan pelan. Beberapa lainnya ikut mengangguk.
Komentar-komentar positif dibalas Zelia dengan menunduk ringan dengan mengucapkan teima kasih.
Are juga mendapat pujian dalam kemampuannya berbahasa Jepang.
Atyasa no comment. Hanya menatap putrinya lalu berpindah ke Are.
Zelia pamit, bersama Are keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Komentar-komentar positif untuk Zelia dan Are masih berlanjut.
Mereka saling melengkapi.
Bahkan semua setuju kecuali Atyasa - kalau duet seperti itu dipertahankan, target enam bulan bukan hal mustahil.
Penerjemah yang seharusnya mendampingi meeting tidak bisa datang.
Klien Jepang menolak menggunakan penerjemah daring.
Klien Jepang hanya ingin berdiskusi dalam bahasa Jepang.
Are menguasai bahasa Jepang.
Zelia tidak menyerahkan meja negoisasi pada Are, tapi menjalankan bersama.
Zelia mempertaruhkan reputasinya pada pria yang menikahinya tanpa cinta.
Zelia memilih percaya pada Are.
Are dan Zelia sudah duduk di ruang meeting.
Atyasa terlalu banyak bicara - sepertinya meragukan meeting berjalan tanpa kehadiran translator.
Semua perkataan Atyasa jelas ditujukan pada Zelia.
Wuiiiihhh Zelia makin berani mengecup bibir Are walaupun sekilas efeknya pasti luar biasa.
Zelia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan.
Are membeku.
Sepertinya Zelia memang menantang Are nih 😄.
Sebelum Zelia menyelesaikan kalimat yang terucap - bibirnya dibungkam Are. Tubuh Zelia menegang.
Are runtuh sudah tembok yang kau bangun. Cium bibir dulu.
Cium bibir terhenti - dering ponsel Zelia mengganggu 😄.