NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:94.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Gravitasi Berpindah

Setelah Presiden Komisaris menyampaikan kekhawatirannya kepada dewan mengenai stabilitas perusahaan akibat video yang beredar, rapat mendadak pun dijadwalkan sore itu.

Undangan resmi dikirimkan kepada CEO. Agenda: evaluasi dampak reputasi terhadap perusahaan.

Tidak ada kata “interogasi”. Tidak ada kata “klarifikasi”. Hanya evaluasi.

Dan di sinilah mereka berada sekarang. Di ruang dewan komisaris yang atmosfernya berbeda dari biasanya. Tidak santai. Tidak formal biasa. Ini rapat klarifikasi.

Zelia duduk di kursi CEO. Tegak. Tenang. Di sebelahnya, Are. Laptop terbuka. Ekspresi datar seperti biasa.

Di seberang meja panjang, para komisaris.

Dan di ujung meja, Atyasa. Presiden Komisaris. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Komisaris independen membuka rapat. “Kami meminta pertemuan ini untuk menjaga stabilitas perusahaan. Sentimen publik terhadap manajemen berdampak pada persepsi investor.”

Zelia mengangguk. “Saya memahami kekhawatiran itu.”

“Yang menjadi perhatian,” lanjut komisaris itu hati-hati, “adalah dugaan intervensi dalam pengelolaan warisan yang kemudian dikaitkan dengan kepemimpinan perusahaan.”

Semua mata berpindah ke Are. Namun ia tidak terlihat terganggu.

“Kami ingin klarifikasi langsung,” kata perwakilan pemegang saham.

Ruangan hening beberapa detik.

Lalu Are berbicara. “Boleh saya memutar sesuatu sebelum kita masuk ke opini?”

Nada suaranya tenang. Tanpa defensif. Tanpa nada menyerang.

Atyasa tidak bereaksi. Ia hanya menatap lurus ke depan.

Are memutar layar laptopnya ke arah proyektor.

Video mulai berjalan. Sudut stabil. Audio jelas. Percakapan utuh.

Pasal 7 ayat 3.

Reaksi refleks Atyasa saat Zelia hampir menandatangani.

Kalimat: “Pengamanan atau pengambilalihan terselubung?”

Dan—

Jeda. Langkah setengah maju. Nada suara yang berubah.

Ruangan menjadi sunyi. Sangat sunyi.

Tidak ada potongan. Tidak ada framing. Hanya konteks penuh. Video berhenti.

"Bagaimana bisa?" batin Atyasa. Ia tak menyangka kalau Are juga merekam percakapan waktu itu. Bahkan lebih jelas.

Are menutup laptopnya perlahan. “Saya tidak pernah berniat mencampuri urusan keluarga,” katanya tenang. “Saya hanya membaca dokumen yang menyangkut posisi hukum CEO perusahaan ini.”

Beberapa komisaris saling bertukar pandang.

Seseorang berdeham pelan. “Pasal itu memang… ambigu.”

Semua mata beralih ke Atyasa. Pria itu diam sedikit lebih lama dari biasanya. Namun ketika ia berbicara, nadanya tetap stabil.

“Itu kesalahpahaman,” katanya tenang. “Revisi sudah dilakukan. Kami menyelesaikannya secara internal.”

Tidak ada emosi, tidak ada panik dalam nada suaranya. Hanya pernyataan formal.

Are menatapnya. “Jika memang itu kesalahpahaman,” katanya pelan, “mengapa tidak ada klarifikasi ketika narasi publik mulai memojokkan saya dan CEO?”

Pertanyaan itu tidak keras, tapi tepat, membuat ruangan terasa lebih berat.

Atyasa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. “Karena perusahaan tidak seharusnya menanggapi setiap rumor.”

“Namun rumor itu mempengaruhi nilai saham,” jawab Are. “Dan secara implisit menguntungkan satu pihak.”

Ruangan kembali hening.

Zelia tidak ikut bicara. Ia hanya mengamati. Ini bukan lagi pertengkaran keluarga. Ini adu legitimasi.

Salah satu komisaris akhirnya berbicara. “Presiden Komisaris, publik bisa menilai bahwa ada konflik kepentingan.”

Atyasa tersenyum tipis. “Saya tidak memiliki kepentingan selain menjaga stabilitas perusahaan.”

Kalimat itu sempurna. Tenang. Terukur. Sulit dipatahkan. Namun kali ini, seisi ruangan tidak sepenuhnya percaya. Dan itu sudah cukup. Karena dalam dunia dewan komisaris, keraguan kecil sering kali lebih berbahaya daripada tuduhan terbuka.

Beberapa detik berlalu.

Are akhirnya menutup laptopnya, lalu berbicara dengan nada yang sama stabilnya. “Kami tidak memberikan klarifikasi,” katanya, “bukan karena kami mengabaikan situasi.”

Semua mata beralih padanya.

“Klarifikasi tanpa bukti hanya akan menjadi opini baru di tengah opini lama. Itu tidak akan mengubah posisi kami di mata publik.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan jika kami merilis video lengkap yang barusan diputar di ruangan ini… publik mungkin memahami konteksnya.”

Ia melirik singkat ke arah Atyasa.

“Tapi pihak luar, terutama pesaing, mereka akan melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya.”

Beberapa komisaris menyipitkan mata.

“Retakan internal,” lanjut Are tenang. “Dan persepsi bahwa konflik keluarga mempengaruhi struktur pengelolaan perusahaan.”

Ia menyandarkan tubuhnya tipis.

“Stabilitas perusahaan ini menyangkut ribuan karyawan. Ribuan keluarga. Kami tidak ingin krisis personal berkembang menjadi krisis institusional.”

Kalimat itu bukan pembelaan diri. Itu positioning.

Zelia tidak berbicara. Ia membiarkan Are menyelesaikannya.

“Karena itu,” lanjut Are, “kami memilih diam. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk menjaga garis pemisah antara urusan keluarga dan perusahaan.”

Seseorang di ujung meja bertanya pelan, “Lalu apa solusi Anda?”

Are menatap lurus ke depan.

“Publik masih melihat Presiden Komisaris sebagai figur yang—” ia berhenti sepersekian detik, lalu menekankan satu kata, “—bersih.”

Kata itu terdengar jelas. Tidak tajam. Tapi jelas sengaja.

“Jika klarifikasi datang dari beliau,” lanjut Are, “narasi akan berhenti sebagai kesalahpahaman internal. Bukan konflik kepemimpinan.”

Sekarang ruangan benar-benar sunyi. Logika Are sulit dipatahkan.

Salah satu komisaris independen akhirnya berbicara. “Itu masuk akal.”

Yang lain mengangguk perlahan.

“Presiden Komisaris memiliki posisi paling netral di mata publik,” tambah yang lain.

Netral. Bersih. Stabil.

Kata-kata itu bergema tanpa perlu diulang. Semua mata kembali tertuju pada Atyasa.

Atyasa terdiam sedikit lebih lama, tidak nyaman, tapi wajahnya tetap terlihat tenang. Ia tahu pasti, Jika ia menolak, keraguan hari ini akan tumbuh. Dan di meja dewan, persepsi sama berharganya dengan fakta.

Ia tersenyum tipis.

“Jika itu yang dianggap terbaik bagi perusahaan,” katanya akhirnya, nada tetap terkendali, “saya akan memberikan pernyataan klarifikasi.”

Keputusan itu terdengar sukarela. Padahal semua orang di ruangan itu tahu, itu pilihan yang terpaksa.

Rapat tidak ditutup dengan tepuk tangan. Tidak ada kemenangan dramatis. Namun ketika semua berdiri, keseimbangan telah berubah.

Are merapikan laptopnya. Ia tidak menjatuhkan siapa pun. Ia hanya memindahkan pusat gravitasi kekuasaan.

Dan Atyasa menyadarinya. Pria yang ia anggap bayangan di belakang putrinya itu bukan sekadar ancaman emosional. Ia ancaman struktural.

Dan yang lebih berbahaya, ia selalu tampak seperti sedang menyelamatkan perusahaan.

***

Zelia dan Are meninggalkan ruang rapat. Langkah Zelia tetap tenang sampai mereka tiba di ruang CEO. Begitu pintu tertutup, bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya turun. Ia berbalik menatap Are yang sedang meletakkan laptop di meja dengan ekspresi setenang biasa.

“Barusan itu…” Zelia menggeleng pelan, lalu tersenyum. “Kamu hebat.”

Are mengangkat wajahnya sedikit. "Aku hanya memutar konteks penuh.”

“Bukan.” Zelia mendekat satu langkah. “Kamu tidak menjatuhkan Papa. Kamu tidak menyerangnya. Kamu hanya… memindahkan sorotan.”

Are terdiam.

“Kamu mengembalikan cahaya itu ke beliau,” lanjut Zelia pelan. “Tanpa terlihat seperti kamu sedang mendorong.”

Sudut bibir Are bergerak tipis. “Aku tidak melakukan apa-apa selain memberi pilihan yang logis.”

“Justru itu.” Zelia menatapnya dengan mata berbinar. “Kamu tidak pernah terlihat menyerang. Kamu selalu terlihat seperti sedang menyelamatkan semuanya.”

Are hendak menjawab sesuatu, tapi belum sempat—

“Are!”

Nada Zelia berubah spontan, penuh energi yang akhirnya bebas. “Aku makin suka padamu!”

Dan sebelum ia sempat memikirkan ulang tindakannya, Zelia melangkah cepat, melompat ringan, dan memeluk leher Are.

Refleks.

Are hampir kehilangan keseimbangan satu langkah ke belakang.

Tangannya otomatis menahan pinggang Zelia agar ia tidak jatuh. Zelia mengenakan celana panjang bahan lembut, tubuhnya ringan, dan ia hanya tertawa kecil, murni, tanpa beban. Kakinya tanpa sadar melingkar di pinggang Are agar tidak tergelincir.

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Are berdiri kaku.

Strategi bisa ia hitung. Detak jantungnya tidak.

Ruang rapat bisa ia kendalikan. Tapi bukan jarak sedekat ini.

 

...✨“Di meja dewan, tuduhan bisa dibantah. Keraguan tidak....

...Kebenaran bisa diperdebatkan. Persepsilah yang menentukan arah.”...

...“Ia tidak menjatuhkan siapa pun. Ia hanya memindahkan cahaya.”...

...“Harga diri yang terus dipertanyakan akan selalu mencari panggung untuk membuktikan diri.”...

...“Ia ingin tetap bersih. Tapi lupa bahwa cahaya paling terang juga menciptakan bayangan paling tajam.”...

...“Ia mengira sedang menyelamatkan dirinya. Tanpa sadar, ia sedang berjalan ke tengah panggung.”...

...“Yang paling berbahaya bukan musuh yang menyerang, tapi orang yang tampak menyelamatkan.”...

...“Strategi bisa ia hitung. Perasaan tidak.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Zelia ganti yang memeluk Are. Are diam, tapi bahunya menegang.

Zelia bicara jujur, ada rasa takut - tahu Are bukan orang biasa. Zelia tidak mau Are jadi menyesal mendapatkannya.

Are berbalik menghadap Zelia. Are tidak menyesal telah memilih Zelia. Are memeluk Zelia.

Are sudah bilang pada Zelia untuk berhenti memikirkan siapa yang pantas atau tidak.

Zelia masih bicara - merasa tidak yakin cukup pantas untuk berdiri di samping Are.
anonim
Zelia ketahuan belum tidur - dikecup Are lehernya, nambah lagi kecupannya.

Nah lo diajak latihan malam pertama wkwkwk.

Dah langsung praktek saja Are - ini kan yang Zelia mau - dulu...

Zelia jantungnya berdebar kuat pastinya.

Are tahu yang Zelia mau.

Zelia malah diam, ragu - merasa tidak pantas berdiri di sisi Are yang Zelia tahu ia bukan orang biasa.

Are jadi kecewa dengan Zelia yang cuma diam saja.

Tembok yang di bangun Are sudah runtuh, ia merasa Zelia tidak serius dengannya yang seorang tukang parkir.

Are kecewa dengan Zelia. Iya melepas pelukannya. Tidur membelakangi Zelia.
Yunita Sophi
Zel klo menjauh berarti si kutu kupret menang... jgn biarkan dia bahagia krn merasa bisa mengalah kan kamu Zel... maaf kan Are, manusia itu kan ada salah nya... Are terlambat tp Are sdh berusaha
Wardi's
tidak usah bingung harus apa., hanya cukup bersama.,
Dek Sri
lanjut
abimasta
begitulah ibu hamil susah dipahami
Dew666
💜💜💜
phity
zelia maafkan are jgn egois coba dengar alasan are knp dia dtngnya terlambat, are sdh berusaha cepat tp keadaan yg buat dia terlambat bukan keinginannya. klo kmu ad di posisi are bgmna???
Kyky ANi
semoga saja
Anitha Ramto
Maafkanlah Are Zelia...ia sudah mengaku salah
Anitha Ramto
Bayinya biar pengen deket terus sama Papa Are😄
Kyky ANi
sabar ya Are,, Zelia belum siap MP,,
Kyky ANi
semoga rencana Are,, tidak diketahui oleh Atyasa,,,
Kyky ANi
ayo,, Are,, selamatkan Zelia,,
Ina Yulfiana
penjagaan buat Zelia lebih d perketat dan ksih liht jgn pernah main² cm kesayngn Are...

next semngt sukses selalu
Ina Yulfiana
keras hati sekali kau Zelia penyesalan dong terakhir loh jgn sampai nyesel nantinya ...Are mungkin slh krn tk mempublis hbungnya langsung tp kau jgn egois Zelia jgn Bikin muak deh...
love_me🧡
bundir itu namanya kalian 😂
Yunita Sophi
maka nya Re datang nya klo malam aja biar sll dekat 🤭😂
asih
malam pelukan pagi berantem lagi😄😄😄
abimasta
are tetap jaga zelya dari viona
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!