NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Fading Lines

Arkano, balita berusia tiga tahun itu, terbangun dengan polos. Ia mengucek matanya yang bulat dan menatap kakaknya dengan tatapan bingung. Di mata mungilnya, ia tidak mengerti mengapa suasana mansion begitu mencekam atau mengapa tangan Kenzhi begitu dingin saat menggenggamnya.

"Kak Kenzhi... kenapa pegang tangan Arka kencang sekali?" tanya Arkano dengan suara cadelnya yang khas.

Kenzhi tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap dengan ngeri saat melihat ujung jemari Arkano perlahan menjadi transparan, seolah tubuh adiknya itu terbuat dari asap yang tertiup angin. Kenzhi mempererat genggamannya, sekuat tenaga seolah-olah kekuatan fisiknya bisa menahan eksistensi Arkano di dunia ini.

"Arka tidak boleh ke mana-mana. Tetap di sini bersama Kakak," bisik Kenzhi dengan suara gemetar, namun matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan yang gelap.

Gangguan Realitas

Di ruang kerja, Jennie menjerit saat melihat pemandangan itu melalui monitor bayi. "Lim! Lihat! Arka mulai menghilang!"

Limario segera memukul meja, urat-urat di lehernya menonjol. "Reynard Senior... keparat itu benar-benar melakukannya." Ia menyambar koper perak itu dan menarik Jennie keluar. "Kita harus menemukan mesin pemancar itu sekarang. Hans! Lacak fluktuasi energi elektromagnetik di seluruh kota. Cari titik yang paling tidak stabil!"

"Tuan!" suara Hans terdengar dari intercom. "Titik koordinatnya baru saja muncul. Lokasinya... di gudang tua sektor Utara. Tempat yang sama dengan..."

Hans menggantung kalimatnya, tapi Jennie tahu. Gudang tua tempat ia mengembuskan napas terakhir di kehidupan pertamanya. Tempat di mana semua penderitaannya dimulai.

"Dia ingin menutup lingkaran itu di sana," desis Jennie. "Dia ingin aku mati di tempat yang sama, agar waktu kembali ke jalurnya."

Kemampuan Tersembunyi Kenzhi

Di dalam kamar, Kenzhi menyadari sesuatu yang aneh. Ia bisa melihat benang-benang cahaya tipis yang keluar dari tubuh Arkano menuju ke arah luar jendela. Benang itu seolah menarik jiwa adiknya pergi.

Anehnya, para pengawal yang berjaga di dalam ruangan tidak melihat apa pun. Mereka hanya melihat Arkano yang tampak pucat.

"Kalian tidak lihat?!" teriak Kenzhi pada para pengawal. "Ada tali yang menarik Arka!"

"Nona Kecil, tidak ada apa-apa di sana..." jawab salah satu pengawal dengan bingung.

Kenzhi menyadari bahwa hanya dia yang bisa melihatnya. Mungkin karena dia adalah anak yang lahir dari ibu yang melintasi waktu, Kenzhi memiliki kepekaan terhadap anomali ini. Tanpa ragu, Kenzhi mengambil tas kecilnya, memasukkan pisau peraknya, dan menarik tangan Arkano.

"Ayo, Arka. Kita harus mengikuti tali itu sebelum mereka menarikmu sepenuhnya."

"Tapi Daddy bilang jangan keluar..." Arkano ragu.

"Kakak yang akan menjagamu. Percaya pada Kakak?"

Arkano menatap mata Kenzhi yang berkilat penuh tekad, lalu mengangguk kecil. Dengan kecerdikan seorang bocah delapan tahun yang sudah mengenal seluk-beluk mansion, Kenzhi membawa adiknya menyelinap melalui jalur pembuangan binatu, menghindari pengawasan Hans yang sedang fokus pada serangan luar.

Pertemuan di Titik Nol

Jennie dan Limario tiba di gudang tua itu lebih cepat dari yang dibayangkan. Tempat itu sudah tidak sesepi dulu. Di tengah ruangan, berdiri sebuah mesin berbentuk cincin raksasa yang mendengung hebat, menciptakan kilatan listrik biru yang statis.

Di depan mesin itu, seorang pria tua dengan kursi roda elektrik dan tabung oksigen duduk menanti. Reynard Senior.

"Kau terlambat, Jennie," ucap Reynard Senior dengan tawa yang berakhir dengan batuk kering. "Arkano sudah mulai terhapus. Saat cincin ini berputar penuh, dia tidak akan pernah ada dalam ingatan siapa pun. Bahkan kau pun akan lupa pernah melahirkannya."

"Matikan mesin itu, Reynard!" teriak Limario, menodongkan senjatanya.

"Tembak saja aku, Limario. Jantungku terhubung dengan sistem detonasinya. Jika jantungku berhenti, mesin ini meledak dan akan menghapus radius sepuluh kilometer dari sejarah. Kau mau mengambil risiko itu?"

Jennie melangkah maju, membuka koper peraknya. "Kau ingin koper ini, kan? Ambil ini, tapi kembalikan anakku!"

"Koper itu bukan untuk barter, Jennie. Koper itu adalah bahan bakar terakhir untuk mesin ini agar jangkauannya menjadi permanen!"

Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Semua orang menoleh. Kenzhi berdiri di sana, terengah-engah, sambil menggandeng tangan Arkano yang kini sudah transparan hingga ke bahu.

"Hentikan!" teriak Kenzhi. "Aku bisa melihat apa yang kau lakukan, Kakek Tua Jahat!"

Reynard Senior terbelalak. "Bagaimana bisa seorang anak kecil menembus pelindung distorsi ini?"

Kenzhi melepaskan tangan Arkano sejenak dan berlari ke arah mesin. Ia melihat sebuah kabel bercahaya yang paling terang. Tanpa rasa takut, ia mengangkat pisau peraknya.

"Kenzhi, JANGAN!" teriak Jennie.

"Arka takut, Kak Kenzhi... tangan Arka dingin," isak Arkano pelan. Suaranya terdengar seperti gema yang menjauh, seolah ia berada di balik tembok kaca yang tebal. Tubuhnya kini hanya menyisakan siluet samar yang bergetar.

Kenzhi tidak memedulikan teriakan ibunya. Di mata bocah 8 tahun itu, dunia tidak lagi berbentuk benda padat. Ia melihat jutaan benang cahaya berwarna biru elektrik yang menghubungkan setiap inci ruangan itu ke jantung mesin milik Reynard Senior.

"Aku tidak takut padamu!" teriak Kenzhi pada Reynard Senior. Ia melompat ke atas panel kontrol mesin dengan kelincahan yang mengejutkan semua orang.

Insting Sang Pewaris

Reynard Senior tertawa sinis, meski matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Anak bodoh! Kau akan terpanggang oleh radiasi kronos sebelum sempat menyentuh kabel itu!"

"Lim, tembak kaki pengawalnya! Aku akan menjangkau Arka!" perintah Jennie. Ia tidak lagi menunggu. Jennie berlari ke arah Arkano, mencoba memeluk udara kosong yang dulunya adalah putranya. Saat tangannya menembus siluet Arkano, Jennie merasakan sengatan listrik yang menyakitkan, namun ia tidak melepaskannya. "Mummy di sini, Arka! Jangan pergi!"

Limario bergerak seperti badai. Ia melepaskan tembakan presisi yang melumpuhkan dua penjaga mesin tanpa membunuh mereka—ia tahu setiap tetes darah yang jatuh bisa mengacaukan frekuensi mesin tersebut.

"Kenzhi! Turun sekarang! Biarkan Daddy yang urus!" raung Limario.

"Tidak, Daddy! Hanya aku yang bisa melihat benang hitamnya!" balas Kenzhi.

Kenzhi melihat sebuah kabel besar yang tidak bersinar—kabel itu tampak seperti urat nadi yang berdenyut hitam, menyerap energi kehidupan dari Arkano. Dengan tangan yang gemetar namun tekad yang sekeras baja, Kenzhi mengangkat pisau perak pemberian Limario.

Harga Sebuah Keberanian

Saat bilah pisau itu menyentuh kabel hitam, sebuah ledakan statis melemparkan Kenzhi ke udara. Tubuh kecilnya menghantam tumpukan peti kayu.

"KENZHI!" Jennie berteriak histeris.

Namun, pengorbanan Kenzhi tidak sia-sia. Kabel hitam itu terputus. Mesin cincin raksasa itu mulai berputar tidak stabil, mengeluarkan suara dengingan yang memekakkan telinga. Detik itu juga, tubuh Arkano kembali menjadi padat. Balita itu jatuh ke pelukan Jennie, menangis kencang dengan suara yang nyata.

"Arka! Oh Tuhan, Arka!" Jennie mendekap putranya, menciumi wajahnya yang kini terasa hangat kembali.

Reynard Senior meraung murka. "Kalian menghancurkannya! Kalian menghancurkan gerbang menuju keabadian!" Ia menekan tombol di kursi rodanya, memicu urutan self-destruct (penghancuran diri) pada mesin tersebut. "Jika aku tidak bisa menguasai waktu, maka tidak akan ada waktu bagi siapa pun!"

Keputusan Terakhir Limario

Gudang itu mulai bergetar hebat. Puing-puing langit-langit mulai berjatuhan. Limario berlari ke arah Kenzhi yang tergeletak lemas di antara peti kayu. Ia mengangkat tubuh putrinya, melihat luka bakar di tangan kecil Kenzhi yang masih menggenggam erat pisau peraknya.

"Kita harus keluar dari sini! Sekarang!" teriak Limario.

"Tapi koper itu, Lim! Datanya masih ada di sana!" Jennie menunjuk koper perak yang masih tertinggal di dekat mesin yang mulai berpijar merah.

"Biarkan koper itu! Nyawa kalian lebih berharga!" Limario menarik Jennie yang sedang menggendong Arkano, sementara ia sendiri memanggul Kenzhi yang pingsan.

Saat mereka berlari keluar, sebuah ledakan besar meratakan gudang tua itu dengan tanah. Cahaya putih menyilaukan menyapu area tersebut, menghapus segala jejak Proyek Chronos dan mengakhiri hidup Reynard Senior selamanya di tempat itu.

Luka yang Membekas

Malam itu, di rumah sakit pribadi Vincentius, keheningan kembali menyelimuti. Arkano sudah tertidur setelah mendapatkan perawatan karena dehidrasi kronis akibat efek distorsi. Namun, perhatian utama tertuju pada Kenzhi.

Bocah 8 tahun itu berbaring dengan tangan dibalut perban. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia cari bukan ibunya atau ayahnya.

"Arka... di mana?" suaranya parau.

Jennie, yang duduk di sampingnya, langsung menggenggam tangan Kenzhi yang tidak diperban. "Arka aman, Sayang. Dia ada di kamar sebelah. Kau menyelamatkannya."

Kenzhi tersenyum tipis, namun sorot matanya tampak lebih tua. Ia menatap telapak tangannya. Di sana, sebuah bekas luka berbentuk garis hitam tipis melingkar di pergelangan tangannya—tanda permanen bahwa ia pernah menyentuh benang waktu.

Limario berdiri di pintu, menatap kedua wanita paling berharga dalam hidupnya. Ia tahu, meskipun Reynard Senior sudah mati, dunia baru saja menyadari bahwa anak-anaknya bukanlah target biasa.

"Jennie," bisik Limario saat mereka keluar sebentar dari kamar. "Kenzhi tidak bisa lagi kembali ke sekolah balet. Dia baru saja membuktikan bahwa dia adalah senjata terhebat yang pernah dimiliki keluarga ini."

Jennie menatap suaminya dengan pedih. "Aku tahu, Lim. Dan itu adalah hal yang paling membuatku takut."

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!