NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: tamat
Genre:CEO / Romantis / Berondong / Tamat
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Setelah beristirahat sejenak di rumah baru mereka, Luna dan Pratama bersiap menuju ke sekolah TK tempat Luna selama ini mengabdi.

Di garasi, Luna menyodorkan kunci mobil SUV hitam yang gagah kepada suaminya.

"Mas bisa nyetir mobil ini?" tanya Luna lembut.

Pratama tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.

"Waktu kerja serabutan dulu, Mas pernah jadi supir pribadi beberapa bulan, Dik. Jangan khawatir."

Pratama melajukan mobilnya dengan tenang membelah jalanan kota menuju ke gedung TK yang mungil dan penuh warna itu.

Sesampainya di sana, suasana haru langsung menyelimuti begitu Luna melangkah masuk ke halaman sekolah.

Kabar mengenai pengunduran diri Luna ternyata sudah tersebar.

Murid-murid kecilnya berlarian menghampiri Luna, mereka memeluk kaki Luna sambil menangis sesenggukan.

"Ibu Guru Luna jangan pergi. Siapa yang nanti membacakan dongeng?" tangis seorang murid kecil bernama Baim.

Luna berlutut, memeluk anak-anak itu satu per satu dengan mata yang berkaca-kaca.

Hatinya terasa berat karena ia benar-benar menyayangi anak-anak ini.

Di saat itulah, Ibu Kepala Sekolah mendekat dengan wajah penuh harap.

"Ibu Luna, kami semua sangat kehilangan. Jika memang tugas di Jati Grup sangat padat, bolehkah saya meminta satu hal? Jangan berhenti sepenuhnya. Mengajar lah di hari Jumat dan Sabtu saja. Anak-anak ini sangat terikat dengan Anda," pinta Kepala Sekolah dengan tulus.

Luna menoleh ke arah Pratama, mencari persetujuan suaminya.

Pratama memberikan anggukan kecil sambil tersenyum, seolah memberi izin istrinya untuk tetap menjalankan hobinya yang mulia itu.

"Baik, Bu. Saya akan tetap mengajar di hari Jumat dan Sabtu," jawab Luna yang disambut sorak sorai gembira dari anak-anak.

Dari jarak yang cukup jauh, di balik pohon besar di seberang jalan, Tim keamanan memperhatikan pemandangan itu.

Mereka berdiri dengan waspada, memastikan keamanan pimpinannya dari ancaman Noah dan Dirga yang masih buron.

Arini melaporkan kondisi melalui earpiece-nya.

"Lapor, kondisi aman. Nyonya Luna sedang berpamitan. Pak Pratama ada di sampingnya. Area sekitar terpantau kondusif," ucap Arini setelah menerima laporan dari Tim keamanan.

Ia tidak ingin kejadian buruk di gudang tua itu terulang kembali.Baginya, kebahagiaan Luna saat ini adalah prioritas utamanya, meskipun ia harus mengawasi dari bayang-bayang.

Kemudian Pratama dan Luna berpamitan dengan Kepala sekolah.

"Kita langsung pulang, Sayang?" tanya Pratama lembut sambil memutar kemudi, meninggalkan area sekolah TK yang masih riuh dengan suara anak-anak.

Luna menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum manis terukir di wajahnya.

"Jangan dulu, Mas. Aku ingin merayakan kebersamaan kita tanpa ada rahasia lagi. Kita nonton bioskop ya? Sudah lama sekali aku tidak ke sana sejak kita menikah."

Pratama tersenyum dan mengangguk. Ia fokus menyetir, sesekali melirik istrinya yang terlihat sangat bahagia.

Sesampainya di parkiran sebuah mal mewah, mereka berjalan beriringan menuju lobi utama.

Namun, langkah Pratama terhenti saat ia melihat sepasang turis asing yang tampak sangat kebingungan di depan papan informasi.

Mereka memegang peta dan ponsel dengan wajah frustrasi, sementara orang-orang di sekitar hanya lewat tanpa memedulikan mereka.

Tanpa ragu, Pratama melepaskan genggaman tangan Luna sejenak.

"Sebentar ya, Dik. Kasihan mereka."

Pratama turun dari area tangga lobi dan menghampiri turis tersebut.

Luna memperhatikannya dari belakang dengan rasa penasaran.

Ternyata, mereka adalah turis dari Paris yang sedang mencari alamat sebuah hotel butik tersembunyi yang tidak terdeteksi dengan akurat oleh GPS mereka.

" Excusez-moi, est-ce que vous avez besoin d'aide? " (Permisi, apakah Anda butuh bantuan?) tanya Pratama dengan tenang.

Kedua turis itu terbelalak kaget mendengar pria dengan pakaian sederhana ini menyapa mereka dalam bahasa mereka.

" Ah, oui! Nous cherchons cet hôtel... " (Ah, ya! Kami sedang mencari hotel ini...) jawab sang turis pria dengan penuh semangat.

Pratama dengan sangat fasih dan lancar menjelaskan arah jalan, belokan yang harus diambil, bahkan memberikan saran transportasi tercepat dalam bahasa Prancis yang sempurna.

Kejelasan dan keramahan Pratama membuat kedua turis itu berkali-kali membungkuk hormat dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pergi dengan wajah lega.

Luna terpaku di tempatnya berdiri. Ia tahu suaminya cerdas, tapi ia tidak pernah menyangka

Pratama menguasai bahasa Prancis sefasih itu.

Saat Pratama kembali ke sampingnya, Luna menatap suaminya dengan mata berbinar-binar.

"Mas, kamu bisa bahasa Prancis? Sejak kapan? Dan sefasih itu?"

Pratama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit malu.

"Dulu waktu kerja di kedutaan sebagai tenaga serabutan, Mas sering curi-curi dengar dan belajar dari kamus tua di perpustakaan mereka, Dik. Mas pikir tidak akan berguna, ternyata tadi kepakai juga."

Luna memeluk lengan suaminya dengan bangga.

"Mas selalu penuh kejutan. CEO Jati Grup saja kalah saing kalau begini caranya."

Pratama tertawa kecil. "Sudah, ayo masuk. Nanti filmnya keburu mulai, Bu CEO."

Setelah membeli satu ember besar popcorn karamel dan dua minuman dingin, mereka melangkah masuk ke dalam bioskop yang sejuk.

Lampu mulai meredup saat film drama romantis mulai diputar di layar raksasa.

Di tengah suasana yang sunyi dan syahdu, Luna menyandarkan kepalanya di bahu Pratama.

Pikirannya masih tertuju pada kejadian di lobi tadi—betapa hebatnya sang suami dalam berkomunikasi dan membantu orang lain dengan kecerdasannya.

"Mas," bisik Luna pelan, tangannya meraih beberapa butir popcorn.

"Dalem, Sayang?" jawab Pratama sambil tetap menatap layar.

"Mas mau tidak kerja di perusahaanku? Aku benar-benar butuh seseorang yang cerdas dan punya kemampuan komunikasi seperti Mas. Posisi strategis, Mas bisa bantu aku mengelola relasi internasional. Aku serius, Mas punya potensi besar," tawar Luna dengan nada penuh harap.

Pratama terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Ia menggenggam tangan Luna dan mengusapnya lembut dengan ibu jari.

"Dik... bukannya Mas menolak niat baikmu," ucap Pratama dengan nada suara yang rendah namun sangat tenang.

"Tapi Mas rasa, Mas cukup jualan soto saja."

Luna mendongak, sedikit terkejut.

"Tapi Mas, dengan kemampuan bahasa dan kecerdasan Mas, itu sayang sekali kalau hanya di warung soto."

Pratama tersenyum tipis, lalu menoleh menatap mata istrinya di tengah kegelapan bioskop.

"Di warung soto itu, Mas adalah bos untuk diri Mas sendiri. Mas bahagia melihat orang kenyang dan tersenyum karena masakan Mas. Lagipula, kalau Mas kerja di kantor, siapa yang nanti menjemputmu pulang? Siapa yang menyiapkan soto hangat saat kamu lelah jadi CEO?"

Ia mengecup dahi Luna dengan lembut. "Mas lebih suka jadi pendukungmu dari balik layar, Dik. Biar kamu yang bersinar di gedung tinggi, Mas yang jaga 'rumah' kita tetap hangat dengan aroma soto."

Luna tertegun. Ia menyadari bahwa ambisi dan status sosial tidak pernah bisa mengubah prinsip kesederhanaan suaminya.

Justru kerendahan hati itulah yang membuat Pratama begitu istimewa di matanya.

"Ya sudah," bisik Luna sambil mengeratkan pelukannya di lengan Pratama.

"Tapi kalau sotonya sudah sukses besar, Mas harus janji tetap jadi supir pribadiku ya?"

"Siap, Nyonya Besar," sahut Pratama dengan tawa kecil tertahan agar tidak mengganggu penonton lain.

Lampu mal yang terang benderang menyambut mereka saat keluar dari teater bioskop.

Luna masih tersenyum manja sambil merangkul lengan Pratama, sisa-sisa kebahagiaan dari film romantis tadi masih membekas. Namun, langkah mereka mendadak terkunci saat melihat dua sosok yang sangat mereka kenal sedang berdiri mesra di depan sebuah kedai kopi premium.

Papa Jati sedang tertawa lebar sambil menggandeng tangan Arini, yang wajahnya tampak merona bahagia.

Mereka terlihat sangat serasi, jauh dari kesan atasan dan asisten.

"Papa? Arini? Kalian...?" suara Luna tercekat di tenggorokan.

Matanya beralih dari tangan Papa Jati yang menggenggam erat tangan Arini, lalu ke arah wajah Arini yang tampak kikuk, dan kembali ke arah Papanya.

Otak Luna seolah berhenti mencoba memproses kenyataan bahwa sahabat sekaligus asisten kepercayaannya ternyata menjalin hubungan asmara dengan ayahnya sendiri.

Dunia Luna terasa berputar. Syok yang luar biasa setelah rentetan kejadian beberapa hari ini membuat pertahanannya runtuh.

Detik berikutnya, pandangannya menggelap dan tubuhnya luruh.

"Luna!" seru Pratama sigap menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam lantai.

"Waduh, malah pingsan anakku!" Papa Jati panik, langsung melepaskan tangan Arini dan berlari menghampiri. Arini pun tak kalah pucat, ia menutup mulutnya dengan tangan, merasa sangat bersalah.

"Mas Jati, bagaimana ini?" Arini gemetar.

"Cepat panggil keamanan!" perintah Papa Jati.

Namun, Pratama tidak menunggu bantuan datang.

Dengan sigap dan penuh perlindungan, ia membopong tubuh Luna dalam dekapannya. Otot lengannya menegang, menunjukkan kekuatannya yang selama ini tersembunyi di balik kaos oblongnya.

"Papa, Arini, tolong bantu bukakan jalan! Saya bawa Luna ke ruang kesehatan sekarang!" ucap Pratama tegas, suaranya penuh wibawa yang membuat Papa Jati dan Arini menurut seketika.

Mereka bergegas menuju ruang kesehatan mal. Pratama berjalan cepat tanpa terlihat kelelahan sedikit pun meski membopong tubuh dewasa Luna.

Di dalam ruang kesehatan, Pratama membaringkan Luna di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.

Papa Jati berdiri di pojokan dengan wajah menyesal, sementara Arini sibuk mencari minyak kayu putih.

"Mas Jati, ini semua karena kita terlalu lama sembunyi," bisik Arini lirih.

Papa Jati hanya terdiam, ia menatap menantunya yang kini sedang sibuk mengusap kening Luna dengan wajah cemas.

Ia baru sadar, Pratama bukan hanya pintar bahasa asing dan jago masak soto, tapi juga seorang suami yang sangat bisa diandalkan dalam keadaan darurat.

1
Yuli Yulianti
cerita nya bagus 👍👍
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Ellya Muchdiana
kenapa ga talak 3 aja sekalian, biar Pratama ga bisa balikan lagi sama si Juwita
🇮🇹 25
❤️❤️❤️❤️❤️
Murni Binti sulaiman
cerita yg menyentuh serta menginspirasi
👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
tiara
terima kasih karyanya thor sehat selalu semangat berkarya
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
awesome moment
marathon y, thor. but...thx a lot. udh nukis cerita bgitu indah. menghurakan
my name is pho: terima kasih sudah menjadi pembaca setia 🥰🥰
total 1 replies
awesome moment
2 bulan yg menguji kesabaran
awesome moment
hangatnya mrk
tiara
bahagianya Pratama dan Luna,apakah papa Jati punya anak dari mama baru🤭🤭
awesome moment
jd pengusaha soto yg dri hilir smp akhir
tiara
wah Pratama mau jadi bos soto nih,lanjuut thor semangat upnya
awesome moment
knpnisinya hnya terhuar mulu c smp😭 kn jd.nya
tiara
akhirnya Pratama ditemukan
tiara
wah bener-bener pa Wandi samaJuwita ga punya hati nurani.semoga mereka lekas tertangkap dan Pratama cepat ditemukan
awesome moment
luna serius dgn keinginan bhw anaknya lahir hrs di lingk yg baik
awesome moment
msh brp chapter lg utk edisi terhura, thor. smg pahala g berkurang n gegara terhura mulu. es moci kek diblender. /Grimace/
awesome moment
bacanya sambil 😭😭😭betapa kuat ikatan batin luna dan pratama. betapa hebat cara papa jati menghargai pertolongan org. betapa sopannya ucapan terima kaish yg diberikan
awesome moment
smg sgra ktemu. jgn diisengi lg y, thor. ikutan gempa n
Erna Wati
akhirnya mrka bisa brkumpul kmbali. prtama pasti senang kalo tau Luna hamil.
awesome moment
gmn klo juwita dan wandi dihukim mati dicelupin dlu ke sungai smp megap2 butuh oksigen, angkat, biar napas dlu 60 dtk, lalu ulangi lagi. smp juwita dan wandi pilih meninggoy drpd hidup. jd dia bisa ngerasain kesakitan pratama. alternatif lain, seblm smp saatnya dihukum mokat, biarkan mrk mengalami p yg dialami pratama dri napi lain. setiap hari. jgn smp mokat. ckp dihajar. udh hmp mokat, tinggal, biar shat, abis tu layak dihajar, hajar lg. jgn napi yg sama tp napi yg ganti2. biar mrk milih sgra meninggoy drpd diprodeo. gmn? keyen kn?😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!