Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan nenek
Setelah kejadian itu, Hasya resmi dikeluarkan dari sekolah. Ia mengasingkan diri dari dunia, tidak mau lagi bergaul, apalagi hangout seperti sebelumnya. Tidak ada Hasya yang ceria, tidak ada Hasya yang penuh tawa. Yang ada hanya Hasya yang murung, menyendiri dan selalu ada di dalam kamar kosnya.
Yuna, Mega dan Lily kehilangan sosok sahabatnya yang ceria. Di sekolah, mereka lebih banyak diam. Seperti sebuah meja, yang salah satu kakinya menghilang. Mereka masih berdiri, tapi kapan saja bisa jatuh... bila salah memegang.
"Sepi banget gak ada Hasya! Gak semangat lagi mau ngapa-ngapain!" kata Lily, sedang duduk di bangku kantin dengan tangan yang menyangga dagu.
"Iya. Sepi banget gak ada dia!" sambung Mega.
Di meja mereka sudah ada makanan dan minuman. Tapi tidak ada satupun yang mereka sentuh. Ketiganya hanya menatap, mengaduk, dan membolak-balik saja, tanpa benar-benar berniat untuk menikmatinya.
"Kira-kira sekarang dia lagi apa ya di kosannya?" tanya Yuna dengan suara pelan.
Mereka sama-sama menghela nafas. Karena tidak ada yang tau jawabannya. Mereka ingin sekali menghubungi Hasya. Tapi gadis itu sudah menonaktifkan ponselnya.
Ting!
Ponsel Yuna berbunyi. Gadis itu dengan malas membuka ponselnya, dan melihat nama sang nenek yang muncul di layar.
["Yuna, nanti jemput nenek di terminal ya?"]
Sederet pesan yang di kirim oleh neneknya, membuat Yuna terkejut.
"Mampus!" ucapnya tiba-tiba menggebrak meja.
"Ada apa sih Yun? Bikin kaget aja tau gak?" tanya Mega.
"Nenek ku minta jemput di terminal. Gimana nih? Nenek kan gak tau aku gak tinggal sama Mama lagi?" jawab Yuna.
Belum Mega dan Lily bereaksi. Edo datang menghampiri mejanya.
"Yuna!"
Yuna memutar bola matanya dengan malas. "Please! aku lagi gak mau diganggu!"
"Aku bukan mau ganggu. Mama kamu bilang sama aku... minta kamu untuk jemput nenek kamu di terminal. Untuk sementara kamu tinggal di rumah lagi! Nanti setelah nenek kamu pulang, kamu bisa pergi lagi!" kata Edo, menyampaikan pesan dari Mala.
Ciih!
"Dasar nenek lampir! Hal kayak gini aja harus banget kamu yang sampaikan!" Yuna muak. Segalanya yang berhubungan dengan Edo, membuatnya sangat mual.
"Yun, kamu dengar aku kan?"
Hingga detik ini. Remaja itu masih belum bisa melupakan Yuna. Rasa cintanya untuk Yuna sangat dalam dan sungguhan. Tapi egonya sebagai seorang remaja yang baru saja menikmati hidup mewah... sama sekali tidak rela meninggalkan semua itu.
"Iya aku denger! Nanti aku jemput!" jawab Yuna ketus.
Edo masih menatapnya. Menatap dengan penuh rindu, teringat masa-masa indah mereka saat masih menjalin cinta.
"Udah kan? pergi sana!" usir Yuna. Bahkan hanya sekedar menatap saja ia enggan.
"Mau aku temenin gak? kita sama-sama jemput nenek?"
Edo sangat berharap, tawarannya akan di terima oleh Yuna. Tapi sayang, Yuna menolaknya.
"Gak perlu! Aku gak mau buat nenek lampir itu cemburu!"
Yuna beranjak, mengajak kedua sahabatnya untuk pergi meninggalkan kantin.
"Yun, kapan kita bisa balik kayak dulu!" batin Edo, masih dan masih terus menatap Yuna dengan penuh rindu. Tanpa benar-benar sadar akan kesalahannya.
---
Beberapa jam kemudian...
Yuna sudah menunggu di stasiun. Ia sedang menunggu datangnya kereta yang membawa neneknya. Ia duduk gelisah, menanti dengan penuh rindu... terhadap sosok wanita tua yang sangat menyayanginya.
Nenek Rasmi.
Wanita lansia berusia 70 tahun itu menjadi satu-satunya orang yang paling menyayangi Yuna di dunia ini. Sejak kecil, Yuna sangat dimanjakan. Dimata nenek Rasmi, Yuna segalanya untuk dirinya. Bahkan kasih sayang nenek Rasmi ke Mala, putri kandungnya sendiri... masih kalah jauh.
Suara keras peluit kereta api, menandakan datangnya kereta. Yuna langsung berdiri, siap menyambut sang nenek yang paling dirindukannya.
Saat pintu kreta api terbuka. Satu persatu penumpang turun. Yuna membuka mata lebar-lebar, melihat dengan teliti, satu persatu penumpang yang turun. Ketika seluruh penumpang hampir habis, akhirnya Yuna melihat sosok neneknya. Seorang wanita tua dengan gamis biru muda dan songkok putih di kepala, membuat air mata Yuna berkumpul di pelupuk mata.
"Nenek!" Yuna berteriak, berlari dan menghampiri nenek Rasmi yang seketika langsung menyadari keberadaannya. "nenek... aku kangen!" Yuna memeluk nenek Rasmi dengan erat.
"Nenek juga kengen sekali sama kamu!" nenek Rasmi balik memeluk.
Hampir setahun lamanya mereka tidak bertemu. Membuat rasa rindu terus bertambah setiap hari. Sekarang mereka sudah bertemu, kini saatnya rasa rindu itu diungkapkan dengan bebas.
"Sini Nek, aku bawain tasnya!" mereka bergandengan, berjalan menuju ke arah luar stasiun.
"Kamu makin besar aja sekarang!" kata Nenek Rasmi, memperhatikan tubuh cucunya yang menurutnya berbeda saat terakhir kali mereka bertemu.
"Apanya yang besar sih Nek? Ini aja timbangan aku sudah turun 5 kg loh!" Yuna tertawa. Menganggap ucapan neneknya hanya sekedar candaan.
"Nenek serius Yuna! Tubuh kamu bagian depan ini, makin besar aja!" Nenek Rasmi menunjuk gunung kembar Yuna dengan dagunya..
Degh!
Yuna mematung. Ia tentu takut. Takut jika neneknya sadar jika dirinya bukan lagi gadis perawan.
"Aah! Mungkin ini gak faktor busa dari bra nya yang ketebelan Nek!" jawab Yuna, mencari jawaban yang semasuk akal mungkin.
"Oh gitu! Lain kali jangan pakai yang busanya tebel-tebel. Bahaya, bisa mengundang niat jahat orang lain!" ucap Nek Rasmi mengingatkan.
Yuna mengangguk. Ia sudah sangat terbiasa dengan segala nasehat, dan petuah-petuah dari neneknya. Jika Nenek Rasmi ada, Yuna tidak akan pernah diperbolehkan memakai baju yang terlalu ketat dan terlalu memperlihatkan lekuk tubuh. Serta yang paling penting adalah... Yuna tidak pernah diperbolehkan berpacaran.
Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya. baru sekedar begini saja, sudah membuatnya ketakutan setengah mati. Bagaimana jika neneknya tahu, jika dirinya sudah menjadi sugar baby. Yang hampir setiap malam melayani nafsu seorang pria dewasa yang membayar tubuhnya dengan uang.
"Maafin aku Nek?"
Yuna merasa sangat bersalah karena sudah menyembunyikan semua ini dari neneknya. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Karena nenek Rasmi memiliki riwayat penyakit jantung, yang tidak diperbolehkan menerima atau mendengar berita yang mengejutkan. Maka dari itu, saat ia kabur dari rumah. Yuna tidak kepikiran untuk menghubungi neneknya. karena selain takut penyakit jantungnya akan kumat. Kondisi ekonomi neneknya juga tidak sebaik ibunya. Karena neneknya hanya mengandalkan gaji pensiunan almarhum kakeknya yang dulu berprofesi sebagai polisi.
Ketika mereka sampai di parkiran. Yuna memasukkan tas pakaian neneknya ke dalam bagasi.
"Ibu kamu beli mobil baru lagi?" tanya nenek Rasmi. yang masih sangat ingat jika mobil milik putrinya bukan yang ini.
Yuna melotot. Ia benar-benar lupa, jika neneknya pasti sadar jika mobil yang ia bawa bukan milik ibunya.
"ini mobil ke temen aku Nek. Aku tadi minjem untuk jemput nenek ke stasiun!" jawab Yuna sambil membuka pintu mobil untuk neneknya.
"Oh gitu! setelah ini langsung kamu kembalikan mobilnya. Jangan kebiasaan minjem minjem barang orang lain!" peringat nenek Rasmi
Yuna mengangguk. Di hadapan neneknya, ia sama sekali tidak berani untuk membantah.
"Gawat! gimana ini?"
Yuna jadi bingung sendiri. Bagaimana caranya ia menghadapi situasi ini... tanpa membuat Bastian marah dan tanpa membuat neneknya curiga. jika cucunya yang dulu dan yang sekarang sudah jauh berbeda.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya