“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
...Yuhuuu malem jumat nih. Spesial malem ini, mas Hanan mau nemenin buka puasa. selamat buka puasa semuanyaaa 🥳🥳...
...____...
“Lepasin! Lepasin gue, anjing! Lepassss!” Kayla menendang, memberontak sekuat tenaga. Ia menendang udara, menendang tangan itu, mencoba bebas. Tapi cengkeraman itu kuat.
“Kak, jangan pelit-pelit. Cuma nyicip sedikit aja.”
“Kurang ajar! Lepas! Lepasinnn gue!” teriaknya dengan suara serak.
Tiba-tiba—
Plaakkk!
Suara tamparan menggema di kamar itu. Wajah Kayla terlempar ke samping. Pipi kirinya terasa panas menyengat. Pandangannya berkunang-kunang sesaat.
“Gue udah minta baik-baik loh, Kak,” gumam laki-laki itu dengan senyum menyeringai. “Gue juga masih sopan. Kenapa lo malah berisik? Tangan gue gatel kan jadinya.”
Tubuh Kayla bergetar hebat. Tangannya gemetar. Nafasnya memburu tak teratur. Seketika otaknya seperti kosong.
Takut.Ia Benar-benar takut.
“Kamu tahu gak sih, Kak… aku udah lama suka sama Kak Kayla loh,” bisiknya, suaranya kini pelan tapi menyeramkan.
Tangannya mulai menyentuh wajah Kayla. Dari pipi yang baru saja ditampar.
Turun ke rahang. Ke leher. lalu Ke tangan Kayla yang berusaha menepis. Kayla memejamkan mata sejenak, bukan karena pasrah, tapi karena ia memaksa dirinya berpikir.
Kayla menggigit bibirnya sampai terasa perih dan asin darah memenuhi ujung lidahnya. Ia memaksa dirinya membuka mata.
Tepat saat itu, wajah laki-laki itu sudah sangat dekat. Nafasnya berbau alkohol dan obat-obatan. Bibirnya hendak menyentuh wajah Kayla.
Dukk!
Tanpa berpikir panjang, Kayla menghentakkan lututnya sekuat tenaga ke alat vital laki-laki itu.
“Bangsaaattt!” pekiknya penuh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.
Laki-laki itu terhuyung ke belakang, wajahnya memucat menahan nyeri. Kayla tidak menunggu sedetik pun. Ia segera bangkit, berlari sekuat tenaga menuju tangga.
Namun langkahnya belum jauh. Tangannya kembali ditarik kasar.
“Lepasin gue! Lepasss!” jerit Kayla, suaranya pecah. “Tolonggg! Tolonggg! Arfinnn bangunnn!”
Ia berteriak sekencang mungkin, berharap adik tirinya mendengar. Laki-laki itu malah tertawa keras.
“Hahahaha! Mau sampai berbusa mulut Kak Kayla, dia gak akan bangun!” Jantung Kayla seperti berhenti sesaat.
“Lo apain adek gue, hah?! Lo apain setaaannn!” sentaknya, air matanya sudah mengalir tanpa bisa ia tahan.
“Dia udah minum obat. Paling cepet dia bangun besok siang,” jawabnya enteng, seolah itu hal biasa.
“Sialan… bajingaaannn!”
“Hahaha… bukankah kita sama?”
“Jangan samain gue sama lo!”
“Hahaha, gak usah munafik, Kak. Gue tahu lo juga suka ke klub.”
“Ke klub bukan berarti gue bajingan kaya lo!”
“Gimana kalau kita buktiin?”
“Gak mau! Lepasss! Lepasinnn gue!”
Ia kembali memberontak. Kuku-kukunya mencakar tangan laki-laki itu, kakinya menendang tak tentu arah. Dalam satu celah kecil, Kayla berhasil melepaskan diri dan berlari menuruni tangga.
Anak tangga terasa licin oleh air mata dan ketakutan. Ia hampir mencapai pintu depan, Namun lagi-lagi rambutnya dijambak. Tubuhnya terhentak mundur.
“Jangan kabur, Kak. Aku mau main sama Kakak.”
“Lepasin gue! Lepasss! Gue gak mau!”
“Ayolah, Kak. Kakak nurut aja. Nanti enak kok.”
“LEPASS!”
Plaakkk!
Tamparan itu kembali mendarat. Wajah Kayla terlempar ke samping. Pandangannya bergetar.
Srekkk!
Suara kain robek terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi. Bajunya disobek paksa. Kini mereka bergulat di lantai ruang tamu. Lampu menyala terang, membuat semuanya terasa lebih nyata dan mengerikan.
“Kakak beneran cantik banget… sampai dalam…”
“Brengsek! Bajingan! Anjing lo, bangsaaattt!” Kayla menjerit, memukul, menendang sambil menangis.
Tangannya meraba-raba lantai di sekelilingnya. Meja. Karpet. Kaki sofa. Tiba-tiba jemarinya menyentuh benda keras di bawah kaki meja.
Asbak beling. dan tanpa ragu.
Pyarrrr!
Ia menghantamkan asbak itu ke kepala laki-laki yang menindihnya.
“Aaarrkkkk!” teriaknya begitu melengking.
Asbak pecah. Darah langsung mengucur dari pelipisnya. Kayla mendorong tubuh itu dan berusaha bangkit. Ia berlari beberapa langkah, tapi pergelangan kakinya kembali dicengkeram.
“Lo beneran nguji kesabaran gue?” geramnya. Sorot matanya berubah. Tajam. Penuh amarah yang menahan sakit.
‘’Lepasin gue, lepasinnn!’’ Kayla terengah-engah. Di tangannya masih ada pecahan beling dari asbak tadi.
Tanpa berpikir panjang lagi, karena kalau ia berpikir, mungkin ia akan membeku Kayla mengayunkan pecahan itu ke arah leher laki-laki itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
‘’Aarrkkhhhh!!’’ Sampai jeritannya berubah menjadi rintihan lemah. Darah mengalir deras membasahi lantai. Tubuh laki-laki itu akhirnya terkulai.
Brukkk!
Nafas Kayla tersengal-sengal. Tangannya gemetar hebat. Pecahan beling itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di lantai.
Ia mundur perlahan, menatap tubuh tak bergerak di hadapannya. Air mata masih mengalir. Pipinya perih. Bibirnya berdarah. Bajunya koyak.
...**...
Tak lama, suara mobil memasuki halaman rumah Kayla. Mesin mobil berhenti tepat di depan pagar yang masih terbuka setengah. Lampu teras menyala terang, namun suasana terasa ganjil.
“Mas, kok pintunya masih dibuka jam segini ya?” tanya Fatim heran. Ia melongok dari balik kaca mobil, melihat pintu utama yang tidak tertutup rapat.
“Sepertinya dia ada tamu,” jawab Hanan datar. Matanya menangkap sebuah motor sport merah yang terparkir miring di halaman.
Motor itu terlihat asing. Dan cara parkirnya pun tidak rapi. Fatim mengangguk pelan, mencoba berpikir positif. “Ya udah ayo buruan masuk, Mas.”
Keduanya turun dari mobil. Malam itu angin berhembus cukup kencang. Suasana komplek sepi, hanya terdengar suara daun-daun bergesekan.
Fatim melangkah lebih dulu.
“Assalamualaikum, Mbak! Mbak Kayla?” panggilnya lembut dari depan pintu.
Sunyi. Tak ada jawaban. Hanya suara angin dan detak jam dinding yang samar terdengar dari dalam rumah.
“Kok sepi, Mas?” bisik Fatim.
Hanan mengerutkan kening. “Gak tahu.”
Pintu utama memang terbuka. Lampu ruang tamu menyala. Namun tak ada tanda-tanda penghuni rumah menyambut.
“Kita taruh ke meja tamu aja, Mas,” kata Fatim, berusaha tetap tenang.
Hanan mengangguk. “Cepat ya.”
Fatim melangkah masuk perlahan. Jantungnya entah kenapa berdegup lebih cepat. Ia memegang ponsel Kayla erat-erat di tangannya.
“Maaf ya Mbak, gak sopan. Kami asal masuk… kami mau balikin HP Mbak Kayla…” ujarnya pelan, setengah berbisik, sambil berjalan menuju meja tamu.
Sementara Hanan tetap berdiri di ambang pintu, memperhatikan sekitar dengan waspada. Baru saja Fatim hendak meletakkan ponsel itu di atas meja kakinya seperti terpeleset sesuatu.
Dan saat ia menunduk. ia melihat Cairan merah. Matanya mengikuti jejak cairan itu.
Ke bawah meja. hingga ia menemukan sosok tubuh tergeletak di dekat sofa. Wajahnya pucat.
“Allahuakbar… astaghfirullah al adzim mas Hanannnnn!” jerit Fatim histeris.
Ponsel di tangannya jatuh begitu saja.
Tubuh Fatim luruh ke lantai, tangan gemetar menunjuk ke arah sosok laki-laki yang terbaring dengan kepala bersimbah darah.
Hanan yang mendengar suara jeritan adiknya, sontak segera berlari masuk.
“Fatim!” Ia meraih bahu adiknya, lalu menoleh ke arah yang ditunjuk. Seketika napasnya tertahan.
“Astaghfirullah al-‘adzim…”
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj