Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Indah
Warih memanggil Aiza. Dengan langkah yang terasa seberat timah, Aiza keluar dari balik tirai, tirai yang menjadi saksi betapa ia mendengar setiap kalimat dari keluarga pesantren tadi saat meminta dirinya.
Aiza menunduk dalam, matanya yang besar tersembunyi di balik cadar dan bulu mata yang basah karena haru.
"Ini... tehnya, Mbah," suara Aiza hampir hilang, saking groginya.
Saat ia meletakkan gelas di depan Umi Khasanah, tiba-tiba tangan lembut Umi Khasanah memegang pergelangan tangan Aiza.
"Masya Allah... benar kata Qais. Binarnya saja sudah menenangkan. Nak Aiza, jangan takut ya. Umi kesini hanya ingin menjemput putri yang sudah lama kami cari dalam doa. Kamu, Nak."
Aiza refleks mendongak sedikit, dan saat itulah—di sana—ia mendapati Gus Qais sedang menatapnya dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan. Seolah Gus Qais ingin bilang: "Lihat, Aiza... seluruh duniaku sekarang sudah menerimamu.”
Cepat-cepat Aiza mengalihkan lagi pandangannya, tak sanggup berlama-lama beradu mata dengan pemilik mata teduh itu.
Umi Khasanah kembali menyentuh Aiza, kali ini sedikit menekan, seperti menuntun agar lebih mendekat. Aiza mengikutinya, duduk di samping Umi Khasanah dan semakin merunduk kian dalam karena malu.
“Cah ayu, tatap Umi, Nak!"
Suara lembut keibuan itu seperti magnet yang menuntun Aiza untuk menatapnya.
“Umi ke sini mewakili Qais untuk meminta Nak Aiza agar mau menjadi teman perjalanannya dalam ketaatan? Maukah Nak Aiza menjadi makmum yang menggenapi separuh agamanya, serta menjadi ibu bagi keturunan yang akan ia bimbing menuju Jannah?"
Remasan lembut di tangan Aiza terasa begitu hangat. Umi Khasanah tersenyum hangat di balik khimar coklatnya.
Aiza mengatur nafasnya yang hampir berantakan itu, sebelum akhirnya dengan suara bergetar dia menjawab.
"Bismillah... Jika Abah dan Umi melihat ada kebaikan di dalam diri Aiza yang penuh kekurangan ini... dan jika Mbah rida melepaskan Aiza untuk dibimbing oleh Gus Qais... maka Aiza tidak punya alasan lagi untuk menolak takdir yang seindah ini."
Aiza menjeda, suaranya hampir hilang karena menahan tangis.
"Aiza... Aiza menerima lamaran Gus Qais karena lillah. Tolong bimbing Aiza yang tidak punya apa-apa ini untuk menjadi makmum yang baik.”
"Alhamdulillah!”
Begitu kata "Bersedia" mengalir lirih dari bibir Aiza, ruang tamu yang tadinya tegang seketika dipenuhi gema "Alhamdulillah" yang begitu lega dari kedua belah pihak keluarga. Nenek Aiza tampak mengusap sudut matanya dengan ujung kerudung, sementara Umi Gus Qais langsung beranjak memeluk Aiza dengan penuh kasih sayang.
Namun, di antara keriuhan syukur itu, ada satu pasang mata yang tak sanggup menyembunyikan binar kebahagiaannya.
Gus Qais menunduk dalam, tangannya yang tadi saling bertaut kini mengusap wajahnya perlahan—tanda syukur yang tak terhingga. Di balik tundukannya, ia tersenyum tipis. Senyum yang hanya ia berikan untuk satu nama.
"Terima kasih, Aiza. Terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupmu. Insyaa Allah, saya akan menjaga kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya penjagaan.”
Umi Khasanah kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin emas putih dengan mata berlian yang sederhana namun elegan. Ia meraih tangan Aiza yang gemetar.
"Aiza sayang, cincin ini bukan sekadar pengikat, tapi tanda bahwa mulai hari ini, kamu adalah putri Umi juga," bisik Umi sambil menyematkan cincin itu di jari manis Aiza.
Aiza hanya bisa terisak pelan dengan bahu yang sedikit terguncang. Di saat itu, ia merasa dunianya begitu sempurna, seolah takdir berjalan sesuai keinginannya.
Usai menyematkan cincin di jari manis Aiza, Umi Khasanah menatap Aiza begitu dalam. Binar matanya memancarkan kebahagiaan sekaligus rasa haru. Detik berikutnya ia meraih pundak Aiza, membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Warih menatap penuh haru pada cucunya. Gadis kecil yang selama ini ia jaga kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sebentar lagi akan diperistri Gus Qais. Dia ingat betul bagaimana Aiza yang sering terbangun di sepertiga malam, bukan cuma buat tahajud, tapi kadang cuma buat menatap foto mendiang ibu dan ayahnya. Bagaimana dia melihat gadis itu menangis tersedu di atas sajadah hanya untuk meminta setitik kebahagiaan.
Namun, hari ini Warih bisa melihat binar bahagia itu di mata cucunya, meski bukan lewat kehadiran Gufron di tengah-tengah kebahagiaan ini.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Nduk," batin Warih, tulus.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍