Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Axel menatap Lusy dengan sorot mata yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya dalam hidupnya—sebuah kombinasi antara teror murni yang menusuk dan keputusasaan yang meluap seperti banjir yang tak terkendali, membuat wajahnya menunjukkan kegelapan yang mendalam.
"Axel? Kau sedang menakutiku." Ia mengusap perlahan sudut bibirnya yang masih terasa basah dan sedikit lengket karena sisa jus itu menggunakan punggung tangan kanannya, mata almondnya yang besar tetap terpaku pada wajah tunangannya yang tampak seperti sedang menghadapi akhir dunia.
"Astaga, aku tahu aku salah karena meminumnya tanpa meminta izin dulu. Aku sudah bilang maaf kan? Tapi jangan menatapku seolah-olah aku baru saja menelan bom waktu yang akan segera meledak. Itu hanya jus mangga biasa kan?"
"Bukan, Lusy... itu bukan sekadar jus seperti biasanya." Bisik Axel lirih. Ia menutup mata sejenak ingin menghilangkan gambar yang terus muncul di dalam pikirannya, kemudian meletakkan gelas itu perlahan di atas permukaan meja dengan tangan yang masih terus bergetar.
Tanpa berlama-lama, ia meraih kedua bahu Lusy dengan erat, jemarinya mencengkeram kain mantel kasmirnya sedikit kuat.
"Dengarkan aku dengan saksama, Sayang." Ia menarik napas dalam-dalam sebanyak mungkin. "Gelas itu... tadi saat aku sedang bekerja, ada percikan zat kimia eksperimental yang aku kerjakan pagi ini yang masuk ke dalamnya. Itu bukan zat biasa yang sudah diuji dan aman—itu racikan baru yang masih dalam tahap pengembangan awal. Zat itu belum pernah diuji coba pada makhluk hidup apapun, Lusy! Belum ada hewan percobaan yang pernah menyentuhnya, apalagi meminumnya, dan kamu..."
Axel tidak bisa melanjutkan kalimatnya sampai selesai. Kata-kata terhenti di tengah jalan karena rasa sakit dan bersalah yang begitu besar menguasai seluruh dirinya, membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hati dengan sangat dalam. Napasnya memburu dengan cepat, paru-parunya seolah menolak untuk menerima oksigen sehingga membuat dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Ia bisa merasakan bagaimana keringat dingin mengalir deras di bawah bajunya, membasahi punggung dan bagian belakang lehernya dengan cepat.
Lusy terdiam sejenak, seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku di bawah genggaman tangan Axel yang kuat. Matanya menunjukkan kebingungan yang mendalam, bahkan sedikit takut saat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Axel benar-benar berbeda dari biasanya.
Ia melihat bagaimana bibir Axel bergetar dengan sangat jelas, bagaimana peluh dingin mulai menetes di dahinya, dan bagaimana matanya menunjukkan rasa takut yang sungguhan, bahkan itu sesuatu yang jarang sekali muncul pada pria yang selalu tampak percaya diri dan mampu mengatasi segala masalah.
"Oh, ayolah, Dokter Bahng." Ia menggelengkan kepalanya perlahan, mata besarnya masih menatap wajah Axel dengan tatapan yang semakin bingung. "Kau sedang mengerjaiku kan? Karena aku datang tiba-tiba tanpa kabar dulu, jadi kau mau aku panik supaya kamu punya alasan untuk memberiku ceramah panjang tentang keselamatan di laboratorium? Ini lelucon yang sangat buruk, Axel. Aku tidak suka dengan lelucon seperti ini."
"Lusy, aku tidak sedang bercanda!" Axel berteriak dengan suara yang keras dan menusuk hati.
Ia melepaskan genggamannya pada bahu Lusy dengan cepat, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar dengan sangat hebat. "Demi Tuhan, Lusy! Bukankah kau melihat bagaimana aku bekerja? Aku meracik penawar toksin jenis baru pagi ini—sesuatu yang bisa mengubah segalanya jika berhasil. Tapi strukturnya tidak stabil sama sekali, mutasinya sangat agresif dan tidak terduga. Tadi saat aku sedang tergesa-gesa menyambutmu, tanganku menyenggol rak tempat tabung itu berada dan isinya memercik tepat ke dalam gelas jus itu. Aku baru mau membuangnya ketika kamu datang dan membangunkanku dari fokusku!"
Tawa Lusy yang sudah mulai memudar kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi wajah yang penuh dengan kekhawatiran yang sesungguhnya. Ia menatap wajah Axel yang pucat pasi dengan mata yang semakin besar, bisa melihat dengan jelas bagaimana peluh dingin mulai membanjiri dahi tunangannya dan mengalir ke arah lehernya dengan cepat.
Ia menyadari bahwa ini bukanlah akting atau lelucon apa pun—semua yang terjadi sungguh nyata, dan jus yang baru saja ia minum benar-benar mengandung sesuatu yang sangat berbahaya. Keheningan yang dingin dan menusuk mulai merayap perlahan di antara mereka, merambat ke seluruh bagian tubuh Lusy dan membuat bulu kuduknya berdiri tegak karena rasa tidak nyaman yang luar biasa.
"Tapi... rasanya normal saja kok..." Gumam Lusy dengan suara yang mulai bergetar, ia mengangkat tangan kanannya dengan hati-hati untuk menyentuh lehernya sendiri. Jemarinya menyentuh kulit lehernya yang masih hangat, namun ia tidak merasakan sesuatu yang tidak biasa atau sakit apa pun. "Hanya sedikit pahit di ujung lidah saja, seperti ada sesuatu yang tidak terlalu pas dengan rasa mangganya. Axel, apa yang akan terjadi padaku? Apa zat itu benar-benar beracun?"
"Aku tidak tahu... itu masalahnya yang paling besar." Ia berjalan dengan cepat ke arah lemari obat kecil yang terletak di sudut ruangan yang jauh dari jendela, matanya sudah mulai mencari secara tidak sadar obat-obatan yang mungkin bisa membantu.
Ia membongkar isi lemari itu dengan gerakan yang sangat serampangan dan tergesa-gesa, menyebabkan botol-botol kaca yang ada di dalamnya saling bersentuhan dan menciptakan bunyi denting yang cukup keras dan mengganggu.
Pikiran Axel benar-benar kalut dan tidak bisa berpikir dengan jernih lagi—sebagai seorang ilmuwan yang selalu mengandalkan fakta dan data, ia tahu bahwa meminum zat yang belum teruji sama sekali adalah mimpi buruk medis paling fatal yang bisa terjadi pada seseorang.
Ia kembali menghampiri Lusy dengan langkah yang cepat, tangan kirinya memegang sebuah botol kecil berisi cairan bening yang jernih dan tangan kanannya memegang sebuah gelas kaca berisi air putih yang masih sangat dingin. Wajahnya yang pucat kini menunjukkan ekspresi yang penuh dengan tekad, meskipun ketakutan masih sangat jelas terlihat di matanya.
"Minum ini sekarang juga. Ini karbon aktif dalam bentuk cair dan penetral racun umum tingkat tinggi yang aku selalu siapkan di sini. Cepat!"
Lusy menerima gelas itu dengan kedua tangannya yang mulai ikut gemetar dengan sangat jelas. Ketegangan yang terasa begitu nyata di ruangan itu kini mulai menekan dadanya hingga membuatnya merasa sesak dan sulit bernapas, sama seperti yang sedang dialami Axel.
Ia melihat dengan cermat cairan bening yang ada di dalam gelas itu, kemudian menatap wajah Axel dengan tatapan yang penuh dengan rasa percaya dan sedikit takut sebelum akhirnya meminumnya dalam satu tegukan besar yang cepat. Rasa pahit yang sangat kuat menyebar ke seluruh mulutnya dan tenggorokannya, membuatnya sedikit menggigil dan ingin muntah karena rasanya yang tidak enak sama sekali.
Sementara itu, Axel berdiri tepat di depannya dengan pandangan yang penuh dengan doa dan ketakutan yang luar biasa, memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi wajah Lusy dengan sangat cermat.
"Ini akan mengikat zat kimia apa pun yang belum terserap di lambungmu." Ia mengambil gelas kosong dari tangan Lusy dengan hati-hati, kemudian menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya yang masih bergetar.
Ia menatap lekat-lekat ke dalam pupil mata wanita itu, mencari dengan cermat tanda-tanda dilatasi atau reaksi anomali apa pun yang mungkin muncul sebagai efek awal dari zat yang ia minum. "Kamu merasa pusing tidak? Atau mungkin merasa mual? Atau ada rasa panas yang tidak biasa di dada?"
Lusy menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, matanya yang besar itu mulai berkaca-kaca karena melihat dengan jelas bagaimana ketakutan yang begitu hebat menguasai seluruh wajah pria yang biasanya selalu tampak tenang dan memiliki jawaban atas segala hal di dunia ini. Ia bisa melihat bagaimana garis-garis lelah di sekitar mata Axel semakin jelas terlihat, bagaimana bibirnya yang biasanya tegas kini hanya menunjukkan kelemahan yang mendalam.
"Belum ada yang terasa tidak biasa kok. Aku merasa baik-baik saja. Sungguh aku tidak merasakan apa-apa yang aneh."
Axel menarik Lusy dengan cepat ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah-olah kekuatan pelukannya saja bisa menahan zat asing yang telah masuk ke dalam tubuh Lusy agar tidak menyebar lebih jauh ke dalam sel-sel tubuhnya yang lembut.
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu yang selalu wangi dengan parfum peony kesukaannya, menghirup aroma tubuhnya yang sangat ia kenal dengan harapan bisa menemukan ketenangan di tengah kekacauan yang terjadi saat ini.
Di dalam batinnya, suara-suara yang terus merutuki kecerobohannya tidak pernah berhenti—mengulang-ulang kata-kata yang penuh dengan rasa bersalah yang tak ada batasnya.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘧𝘰𝘬𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.
"Maafkan aku, Lusy. Maafkan aku yang sangat bodoh dan ceroboh ini." Ia meremas tubuh Lusy dengan semakin erat, seolah ingin menyatu dengan dirinya agar bisa mengambil semua bahaya yang mengancamnya ke dalam dirinya sendiri.
"Aku tidak sengaja membuatmu dalam bahaya seperti ini. Aku hanya ingin membuat sesuatu yang bisa menyelamatkan orang banyak, tapi malah membahayakan orang yang paling aku cintai di dunia ini."
Lusy mengusap punggung Axel dengan lembut menggunakan kedua tangannya, gerakan melingkar yang ia lakukan diharapkan bisa memberikan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri sangat butuhkan saat ini. Ia mencium bagian atas kepala Axel dengan lembut, kemudian menyandarkan wajahnya pada bahu tunangannya yang kuat meskipun sedang gemetar.
"Sshh... tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantuku kan? Kamu sudah memberiku penetralnya dengan cepat. Aku pasti akan baik-baik saja kok. Mungkin saja racikanmu itu memang gagal seperti yang kamu katakan tadi dan tidak bereaksi apa-apa terhadap tubuhku, kan? Banyak zat kimia kan yang tidak bereaksi dengan tubuh manusia jika dalam jumlah tertentu?"
Axel tidak bisa menjawab apa-apa terhadap kata-kata penghiburan itu. Ia ingin sekali mempercayai setiap kata yang keluar dari bibir Lusy, ingin percaya bahwa racikan gagalnya itu benar-benar tidak akan memberikan efek apapun pada tubuh wanita yang dicintainya.
Namun nurani dokternya yang selalu bekerja dengan sangat hati-hati dan penuh tanggung jawab membisikkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan mengerikan dan membuatnya merasa seperti sedang berdiri di ambang jurang yang sangat dalam tanpa ada yang bisa menyelamatkannya.
Ia hanya bisa berharap dengan sepenuh hati bahwa obat penetral umum yang telah ia berikan cukup untuk menghentikan apa pun yang baru saja masuk ke dalam tubuh tunangannya, sebelum struktur molekul yang ia sebut sebagai "hidup" itu mulai bekerja dan melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi diubah oleh siapa pun.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ