NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Diusir dari Istana Kardus

​Langkah kaki Rio terasa berat, seberat beban hidupnya. Tiap kali kakinya menapak aspal gang yang becek, kepalanya berdenyut nyeri. Demamnya belum turun, malah makin menjadi karena stres pasca diputusin Siska.

​"Gue mau tidur... Gue cuma mau tidur..." racau Rio pelan.

​Dia membayangkan kasur busa tipis di kontrakannya. Biarpun bau apek, setidaknya itu kasur. Biarpun atapnya bocor, setidaknya ada atap.

​Namun, saat Rio berbelok ke gang kontrakannya, dia melihat pemandangan yang membuat darahnya—yang sedang panas karena demam—mendadak dingin.

​Di depan pintu kontrakannya, barang-barang berserakan.

Baju-baju Rio yang belum dicuci menumpuk di atas tanah. Kipas angin butut. Rice cooker yang pancinya gosong. Koper plastik Bu Ratna. Semuanya tergeletak di luar seperti sampah.

​Dan di tengah kekacauan itu, suara cempreng Bu Ratna terdengar melengking, beradu dengan suara berat seorang pria tua.

​"Eh Pak Haji! Jangan sembarangan ya main buang-buang barang orang! Bapak pikir kami gembel?! Kami ini orang terpandang!" Bu Ratna menunjuk-nunjuk wajah Pak Haji Solihin, pemilik kontrakan yang biasanya sabar tapi sore ini terlihat murka.

​Rio mempercepat langkahnya, setengah berlari. "Ibu? Pak Haji? Ada apa ini?"

​Pak Haji menoleh. Wajahnya merah padam. "Nah! Ini dia anaknya pulang! Bagus!"

​"Pak, kenapa barang saya dikeluarin semua?" tanya Rio bingung dan lemas.

​"Tanya sama kelakuanmu sendiri!" bentak Pak Haji. "Tadi siang, ada tiga orang preman badan gede gedor-gedor pager rumah saya! Teriak-teriak nyariin RIO PRATAMA! Katanya kamu utang pinjol puluhan juta!"

​Muka Rio pucat. Jadi debt collector itu beneran datang ke rumah?

​"Cucu saya yang lagi main di teras sampe nangis kejer, trauma liat preman itu!" lanjut Pak Haji berapi-api. "Saya nggak terima ya! Kampung sini kampung baik-baik. Jangan bawa masalah haram kamu ke sini!"

​"Tapi Pak... saya bakal bayar... tunggu gajian..." Rio memohon.

​"Halah! Bulan kemarin juga ngomong gitu! Nunggak dua bulan alesan macem-macem!" Pak Haji melambaikan tangan, memberi kode pada warga yang menonton. "Sekarang angkat kaki kalian! Detik ini juga! Saya nggak mau kontrakan saya didatengin preman lagi besok!"

​Bu Ratna tidak terima. "Heh! Bapak jangan kurang ajar ya! Bapak tau nggak siapa menantu saya?! Menantu saya itu Kara Anindita! Yang punya gedung-gedung tinggi di Jakarta! Kalau saya telepon dia, kontrakan butut Bapak ini bisa dibeli terus digusur!"

​Warga yang menonton malah tertawa.

"Hahaha! Bu Ratna halu lagi!"

"Menantu kaya kok mertuanya diusir kontrakan petak?"

"Sakit jiwa emang sekeluarga."

​Tawa warga itu lebih menyakitkan daripada tamparan.

​"Udah, Bu... Udah..." Rio menarik lengan ibunya yang masih mau mencakar Pak Haji. Rio sadar, kartu "Mertua Kara" sudah tidak laku di sini. Malah jadi bahan lelucon.

​"Ngapain kamu tarik-tarik Ibu?! Kita lawan si tua bangka ini!"

​"Kita yang salah, Bu! Kita ngutang!" bentak Rio, sisa tenaganya habis. "Ayo pergi. Aku malu. Malu banget."

​Dengan sisa harga diri yang sudah minus, Rio mulai memunguti baju-bajunya yang berserakan di tanah becek. Dia memasukkannya asal-asalan ke dalam kantong kresek hitam besar—kantong sampah.

​Sungguh ironis. Pagi tadi dia berangkat kerja pakai kemeja dan dasi, merasa sebagai manajer. Sore ini dia berjongkok memungut celana dalam di depan tetangga yang mencemooh.

​"Pergi sana! Jangan balik lagi!" teriak Pak Haji, lalu membanting pintu pagar dan menggemboknya.

​Pukul tujuh malam.

​Rio dan Bu Ratna duduk di emperan sebuah ruko yang sudah tutup, di pinggir jalan raya yang ramai lancar.

​Di samping mereka ada dua koper plastik, satu kipas angin, dan tiga kantong kresek besar berisi baju. Seperti pengungsi korban banjir. Bedanya, tidak ada yang memberi sumbangan.

​Angin malam menusuk tulang. Rio memeluk lututnya, menggigil hebat. Giginya gemeretuk.

​"Dingin..." rintih Rio.

​Bu Ratna duduk di sebelahnya dengan wajah masam. Dia lapar. "Kamu sih! Kenapa pake pinjol segala?! Kalau nggak ada preman dateng, kita masih bisa tidur di dalem!"

​"Ibu yang minta duit terus!" balas Rio lemah. "Ibu minta tas baru, Ibu minta uang arisan... Gaji Rio nggak cukup, Bu! Terus Ibu nyuruh Rio pinjem!"

​"Kok nyalahin Ibu?! Kamu yang nggak becus cari duit!" Bu Ratna tidak mau kalah. "Coba kalau kamu pinter jaga hati si Kara, kita sekarang lagi makan steak di meja makan marmer! Bukan di emperan toko begini!"

​Rio diam. Dia lelah berdebat.

Perutnya perih.

​Sebuah mobil mewah lewat di depan mereka. Bukan Rolls-Royce. Cuma mobil sedan biasa. Tapi bagi Rio yang sekarang, mobil itu terlihat seperti surga. Orang di dalamnya pasti hangat, kering, dan kenyang.

​Rio teringat malam-malam di kontrakan dulu.

Kalau hujan begini, Kara biasanya bikin mie rebus pakai telur dan cabe rawit. Terus mereka makan berdua sambil nonton TV. Sederhana. Murah. Tapi hangat.

​"Mas, makan yuk. Mumpung anget," suara Kara terngiang di kepalanya.

​Sekarang, yang ada cuma suara klakson truk dan omelan ibunya.

​"Bu..." panggil Rio lirih.

​"Apa?!"

​"Aku laper..."

​Bu Ratna mendengus, merogoh tasnya. "Duit Ibu tinggal dua puluh ribu. Cuma cukup buat beli nasi bungkus satu. Itu juga lauknya tempe orek."

​"Beli aja, Bu. Bagi dua. Rio lemes banget..."

​Bu Ratna berdiri dengan ogah-ogahan untuk beli makan di warteg seberang jalan. Meninggalkan Rio sendirian menjaga tumpukan "harta benda" mereka yang tak berharga.

​Rio menyandarkan kepalanya ke rolling door besi ruko yang dingin. Air matanya menetes lagi, bercampur ingus.

​"Kara..." bisiknya pada angin malam. "Tolong aku..."

​Tapi tidak ada jawaban.

Kara sedang tidur nyenyak di kasur King Koil-nya, mungkin sedang bermimpi indah tentang masa depan tanpa parasit bernama Rio.

​Dan Rio? Dia harus menerima kenyataan bahwa malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya, langit-langit kamarnya bukanlah plafon bocor, melainkan langit gelap tanpa bintang.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Night Watcher
terasa loncat ya thor.. tau2 mamanya kabur krn malu (kenapa?), tau2 nikah gak rencana & berunding..🤭🤭💪👌
kanjooot..
Night Watcher
loo clarisa blm ketangkep polisi too?
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!