Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-27
Hajeera pun menghela nafasnya seraya tersenyum manis untuk menenangkan sopir taksi.
"Its okey pak! Kita tidak terluka, apakah bapak ada yang terluka?" tanya Hajeera lembut yang membuat sang sopir merasakan lega karena biasanya saat siswa siswi elit menaiki tumpangan nya, mereka akan sedikit rewel, pelan salah, cepat salah, sedang tetap di omel, namun Hajeera berbeda yang membuatnya bernafas lega karena hari ini bertemu dengan anak yang tidak seperti yang lainnya.
"Enggak non, apakah nona terluka?.."
"Enggak kok, saya gak papa, kalo tadi bapak gak banting setir mungkin sekarang kita berdua berada di rumah sakit atau kalo tidak di alam kubur..." ucap Hajeera asal cengengesan hingga suasana yang canggung menjadi sedikit mencair.
"Bisa kita lanjutkan nona perjalanan nya?" tanya sang sopir dengan senyum sumringah menatap Hajeera dari balik kaca mobil yang berada di dekat kepalanya.
"Jika bapak sudah merasa lebih baik, alangkah baiknya kita berangkat sekarang..." jawab Hajeera ramah yang membuat sopir tersebut bermood bagus, sungguh bertemu Hajeera dapat mengembalikan mood nya menjadi bagus.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang hingga berhenti di depan sebuah gedung bangunan yang terlihat seperti ruko, setelah membayar ongkos nya ia pun masuk ke dalam gedung tersebut.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di tempat seseorang yang baru saja menerima sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Kegirangan memancar dari dalam dirinya seperti ledakan kembang api di malam hari yang penuh warna warni, wajahnya berseri-seri dengan mata berkilau dan bibir yang tersenyum lebar. Hingga tanpa sadar, tubuhnya berjalan dengan sedikit melompat lompat, menari nari dan mengangkat tangan ke udara.
Shittt...
Demian terperanjat kaget, saat menyadari Haris berada di dalam ruangannya tepat dibelakang tempatnya berdiri memandang ke arah luar bangunan.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Demian meletakkan ponselnya ke atas meja lalu kembali duduk di kursi kebesaran nya.
"Maaf tuan, sedari tadi saya sudah masuk dan sudah mengetuk pintu dahulu berkali kali..." jawab Haris menyerahkan sebuah berkas di dalam map biru pada sang atasannya.
"Apakah kamu melihat ku tadi?" tanya Demian tanpa menatap ke arah Haris.
"Ee-emm, tidak tuan saya tidak melihat tuan melompat lompat..."
Brakkk..
Meja di gebrak begitu saja oleh Demian setelah mendengar jawaban dari asisten nya, matanya menatap tajam ke arah Haris yang membeku tak berkutik sedikitpun.
"Ti--tidak tuan, mungkin saya salah melihat..."
"Jika begitu, saya mohon undur diri dahulu karena masih ada beberapa berkas yang harus saya tinjau lagi ...."
Haris berbalik, melangkah pergi meninggalkan atasannya yang tengah menahan amarah hingga wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Sial! Harusnya bibirku ini tidak salah ucap..." ujar Haris menampar nampar bibirnya sendiri menyesali ucapannya yang terlalu jujur.
Sedangkan di dalam ruangan Demian membuang nafasnya lega setelah Haris menutup pintu ruangannya, punggung nya ia senderkan ke arah backrest kursi, dengan tangan mengusap kasar wajahnya.
"Sial! Bisa bisanya kepergok bawahan..." ucapnya merasa malu menggaruk kepalanya, dengan wajah yang memerah.
Tangannya meraih kembali ponsel ditangan nya menjawab pesan yang dikirim oleh Hadriana dan menyetujui ajakannya untuk bertemu nanti malam.
"Datanglah ke restoran yang berada di hotel LN pukul 20 malam, aku ada di sana nanti malam..." pesannya yang kemudian langsung terkirim pada Hajeera.
Malam harinya Hajeera pamitan kepada orang tuanya untuk pergi makan bersama salah satu temannya.
"Apakah dia pria sayang?" goda Bu Selyn karena ini pertama kalinya Hajeera berpamitan akan keluar malam hari untuk makan bersama teman.
"Dia memang pria mah, tadi itu hanya kenalan biasa bukan pria luar biasa..." ujar Hajeera malas meladeni godaan dari mamahnya.
"Ah masa sih? Terus pria mu yang mana?" tanya Bu Selyn sedikit cemberut.
"Udahlah mah, anaknya jadi di tanyain terus begituan, dia malu..." ucap pak Benedict mencoba menghentikan sikap istri nya yang terus terusan seperti wartawan.
"Akhhh--- papah, kan mamah juga penasaran.." gerutunya tak terima sang suami malah membela putrinya.
"Sudah sudah, cepat berangkat jangan terlalu malam pulangnya, Aaron sedang dalam perjalanan kemari.." ucap pak Benedict mengingatkan putri bungsunya.
"Baik pah, kalo gitu aku berangkat dulu ya mah pah, bye bye, Assalamualaikum...." pamitnya lalu masuk ke dalam mobil yang dikendarai pak Darso.
"Jika putri kita berangkat lewat balkon, dia naik apa ke tempat tujuannya?" tanya Bu Selyn, karena ini kali pertama ia melihat putrinya berpamitan untuk bermain di malam hari.
"Entahlah, mungkin seseorang sudah menunggu nya di bawah, kita hanya perlu berdoa dan mengawasi nya dengan baik saja..." jawab pak Benedict bijak, menarik bahu sang istri hingga tangannya memeluk bahu sang istri dari samping.