Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. SEGEL YANG RETAK
Alun-alun ibu kota Aurelius berubah menjadi lautan cahaya.
Energi yang meledak dari tubuh Elara Ravens berdenyut seperti jantung raksasa tak kasat mata. Gelombang kejutnya merambat ke segala arah, menghantam batu, meretakkan ubin, membuat udara bergetar seolah ruang itu sendiri menjerit.
Monster raksasa itu meraung.
Suara aumannya pecah oleh cahaya putih keemasan yang menyambar dari tubuh gadis berambut hitam di pusat pusaran.
Retakan merah di kulit batunya menyala semakin terang, lalu redup ... lalu menyala lagi.
Elara berdiri dengan mata terbuka lebar, bercahaya, rambutnya terangkat oleh arus energi yang tak terlihat. Tubuhnya seperti wadah yang terlalu kecil untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
Warga yang berlindung di sudut-sudut alun-alun menutup wajah mereka dari terpaan angin panas.
"Tuan Putri ...." seseorang berbisik gemetar.
Namun Elara tidak mendengar. Ia hanya melihat satu hal; monster itu.
Makhluk yang baru saja menelan seorang warga di depan matanya.
Amarah gadis itu membakar.
Dan energi tersebut terus bertambah.
Tanah di bawah kaki sang gadis retak membentuk lingkaran.
Monster itu berusaha melangkah maju. Namun gelombang energi menghantamnya lagi. Aumannya berubah menjadi jeritan kesakitan.
Dan pada saat itu ... sebuah bayangan melintas cepat di antara pusaran cahaya.
Kilatan baja.
Satu tebasan.
Bersih.
Hening sejenak.
Lalu tubuh raksasa itu terbelah rapi dari atas kepala hingga ke pangkal kakinya. Garis lurus sempurna. Seperti dunia sendiri memutuskan untuk membaginya menjadi dua.
Kedua bagian tubuh monster itu terpisah perlahan, kemudian roboh dengan dentuman menggetarkan bumi.
Debu dan pecahan batu terbang.
Di antara reruntuhan dan sisa cahaya yang masih berputar, berdiri seorang pria tinggi dengan jubah hitam panjang berkibar. Pedang panjangnya masih terangkat. Mata abu-abunya tajam seperti musim dingin.
Duke Alaric Ravens. Ayah Elara.
Sang kesatria legendaris Kerajaan Aurelius.
Namun wajah Alaric bukan wajah dingin seorang jenderal perang kali ini.
Wajah itu panik.
"ELARA!" seru Alaric. Ia berlari ke arah putrinya.
Namun setiap langkah Alaric terasa berat. Gelombang energi yang masih berputar di sekitar Elara seperti dinding tak terlihat yang menahan siapa pun mendekat.
Alaric menggertakkan gigi. Ia melangkah lagi. Angin berdesing, jubahnya terhempas mundur.Tanah retak di bawah sepatu botnya.
"Elara?! Dengarkan Papa!" seru Alaric.
Elara tidak menjawab. Matanya masih menyala. Tubuhnya bergetar.
Energi itu tidak berhenti meski monster sudah tumbang. Justru semakin liar. Seperti api yang kehilangan kendali setelah kayu bakarnya habis.
Alaric tahu ekspresi itu. Ia pernah mendengar cerita tentangnya. Tentang ledakan energi saat Elara berusia tiga tahun.
Tentang bagaimana monster yang menyerang ibukota terbakar seketika oleh semburan kekuatan yang tidak dapat dikendalikan oleh Elara.
Namun saat itu Alaric tidak menyaksikannya langsung.
Hari ini ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan itu membuat darahnya membeku.
Dengan teriakan pendek, Alaric menerobos lebih dekat. Kulit lengannya terasa seperti terbakar oleh tekanan energi.
Sampai akhirnya ia berhasil mencapai jarak cukup dekat.
"Elara?!" panggil Alaric.
Gadis itu menoleh perlahan.
Untuk sepersekian detik, Alaric melihat bukan hanya putrinya. Ia melihat sesuatu yang jauh lebih purba.
Lebih besar.
Lebih berbahaya.
Tanpa ragu, Alaric mengayunkan tangannya.
BUGH!
Tengkuk Elara terkena pukulan presisi seorang kesatria terlatih.
Tubuh gadis itu langsung lemas. Matanya yang bercahaya meredup.
Dan pada detik yang sama gelombang energi itu berhenti. Seperti api yang mendadak dipadamkan.
Udara kembali sunyi.
Debu perlahan jatuh.
Alaric menangkap tubuh Elara sebelum jatuh ke tanah.
"Tidak ... tidak ...," gumam Alaric panik.
Ini pertama kalinya Alaric melihat ledakan itu. Dan ketakutan yang selama ini hanya berupa cerita, kini nyata di pelukannya.
"Elara," gumam Alaric.
Namun putrinya tak bergerak.
Tak jauh dari sana, pasukan Ravens tiba.
Seragam hitam dengan lambang serigala perak memenuhi alun-alun.
Evan Ravens berlari paling depan. Rambut hitam kusut tertiup angin.
"Papa?!" panggil Evan. Ia membeku ketika melihat tubuh raksasa monster terbelah dua.
Lalu pandangan Evan jatuh pada Elara yang terkulai di lengan Alaric.
Wajah Evan menegang. "Apa yang terjadi?"
"Evakuasi warga!" perintah Alaric tanpa menjawab. "Amankan area! Pastikan tidak ada monster lain!"
Evan mengangguk cepat. Meski hatinya ingin berlari ke sisi kembarannya, ia memaksa dirinya berbalik.
"Tutup jalur selatan! Bawa yang terluka ke balai pengobatan! Periksa sisa tubuh monster itu!" komando Evan dengan profesional.
Para kesatria bergerak cepat.
Sebagian mendekati bangkai monster.
Sebagian tubuhnya hangus, seolah terbakar dari dalam.
Retakan merah di kulitnya kini menghitam.
"Ini bukan hanya tebasan Duke," gumam salah satu kesatria. "Ada sesuatu yang membakarnya."
Evan mendengar itu. Rahangnya mengeras. Ia menoleh lagi pada Elara.
Namun tugas Evan belum selesai. Ia harus memastikan tak ada korban tambahan.
Sementara itu, Alaric mengangkat Elara ke dalam pelukannya.
Tubuh gadis itu ringan, terlalu ringan. Kulitnya pucat seperti mayat. Dan di bawah kulit itu urat-uratnya menonjol. Menghitam kemerahan. Seperti sesuatu yang terbakar dari dalam.
Tangan Alaric gemetar. "Elara, Papa di sini."
Alaric melangkah menuju kudanya.
Evan mendekat sebentar. "Papa, biar aku ikut-"
"Kau pimpin di sini gantikan Papa," potong Alaric tegas.
Evan menahan napas. Ia ingin membantah. Namun ia tahu ayahnya benar.
Evan mengangguk.
Alaric menaiki kudanya dengan susah payah, menahan tubuh Elara agar tidak terjatuh.
Lalu ia memacu kuda itu.
Berlari menembus jalan ibu kota. Wajahnya tak lagi seperti Duke yang ditakuti. Ia seperti seorang ayah yang ketakutan.
"Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja," gumam Alaric berulang kali.
Namun setiap kali ia menatap wajah Elara, ketakutan yang tak pernah ia rasakan di medan perang kini mencengkeram dadanya.
Alaric bisa menghadapi seribu pasukan musuh. Namun ia tak tahu bagaimana menghadapi ini.
Ia bukan pengguna sihir.
Ia tidak mengerti tentang sihir.
Ia hanya tahu bahwa putrinya tidak baik-baik saja.
Kuda itu berlari semakin cepat.
Debu beterbangan.
Akhirnya gerbang Kediaman Duke Ravens terlihat.
Begitu memasuki halaman, Alaric tertegun.
Di teras berdiri Liora Ravens. Gaun biru gelapnya berkibar oleh angin. Wajahnya tegang.
Di sampingnya berdiri Gideon, ajudan setia keluarga Ravens.
Seolah mereka sudah menunggu.
Liora melangkah maju ketika melihat Alaric turun dari kuda dengan tubuh Elara dalam pelukannya.
"Alaric?" Suara Liora pecah.
Ketika Liora melihat wajah putrinya yang terkulai ... ia berlari.
"Elara?!" serunya panik.
Gideon membantu menurunkan tubuh Elara.
Mereka segera membawanya masuk. Ke kamar gadis itu.
Alaric mengikuti, langkahnya berat.
"Ambil bola kristal dari Arram di ruang kerja," perintahnya pada Gideon.
Gideon mengangguk dan berlari.
Liora sudah duduk di sisi ranjang, menyentuh pipi Elara.
"Tubuhnya dingin," gumam Liora panik. "Sasa!" panggilnya.
Pelayan pribadi Liora segera datang.
"Ambil air hangat! Kain bersih! Bantu aku mengganti baju Elara!" seru Liora.
Sasa bergerak cepat.
Mereka membersihkan debu dan darah dari tubuh Elara. Mengganti pakaiannya. Mengompres dahinya.
Namun kulit Elara tetap dingin. Dan urat-urat gelap itu masih terlihat.
Alaric kembali masuk bersama Gideon. Bola kristal komunikasi kini telah digunakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Liora tanpa menoleh.
Alaric menatap putrinya. "Dia lepas kendali."
Liora membeku. "Apa maksudmu?"
"Energi sihirnya meledak," beritahu Alaric.
Wajah Liora memucat. "Tidak ... segelnya ..."
"Entah rusak atau retak," kata Alaric lirih. "Aku tidak tahu."
"Tapi bagaimana bisa?" Suara Liora hampir tak terdengar.
Alaric menggeleng. "Aku sudah menghubungi Arram."
Nama itu membuat Liora menoleh cepat.
Arram Oberyn. Sahabat lama mereka. Duke dari Kerajaan Oberyn. Dan penyihir terkuat yang mereka kenal. Orang yang memasang segel sihir di tubuh Elara ketika gadis itu masih kecil.
"Tapi jarak dari sini ke Oberyn sangat jauh," kata Liora.
"Dia bilang akan datang secepatnya. Arram akan meminta bantuan Menara Sihir untuk menggunakan teleportasi," beritahu Alaric dari hasil pembicaraannya dengan Arram melalui bola kristal.
Liora menggenggam tangan Elara.
Hening menyelimuti kamar.
Liora memandang wajah putrinya.
"Apa yang harus kita lakukan, Alaric?" tanya Liora.
Dan Duke Alaric Ravens tidak punya jawaban. Ia bisa menebas monster dengan satu ayunan. Ia bisa memimpin pasukan menembus garis musuh.
Namun di hadapan putrinya yang terbaring tak berdaya, Alaric hanyalah seorang ayah yang tak mengerti sihir.
Yang hanya tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Alaric duduk di sisi ranjang. Menggenggam tangan Elara. Tangannya besar dan hangat. Kontras dengan tangan putrinya yang dingin.
"Kau akan baik-baik saja, Papa janji," bisik Alaric pelan.
Namun di balik ketegasan suaranya, ada ketakutan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Karena jika segel itu benar-benar retak maka nyawa Elara yang terancam.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜