NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pecahnya Cermin Jiwa dan Altar Mata Tiga

Gua Cermin, Gunung Tengkorak.

Dahi Ye Chen menempel erat pada dahi Tiruan Bayangannya. Jarak mereka nol. Mata mereka saling bertatapan—satu pasang mata hitam pekat dengan pupil naga, satu lagi mata kosong yang terbuat dari kegelapan murni.

"Mutiara Penelan Surga... Makan Bayangan!"

Pusaran hitam di Dantian Ye Chen berputar dengan kecepatan yang menghasilkan suara dengung memekakkan telinga. Daya hisapnya tidak menargetkan daging atau tulang, melainkan Esensi Jiwa.

"LEPASKAN AKU!" Tiruan itu menjerit. Suaranya bukan lagi suara Ye Chen, melainkan gabungan ribuan suara hantu yang terperangkap di dalam cermin.

Tiruan itu mencoba menusuk perut Ye Chen dengan pedang bayangannya.

JLEB!

Pedang itu menembus perut Ye Chen. Darah mengalir.

Tapi Ye Chen tidak bergeming. Dia justru tersenyum, darah menetes dari sela giginya.

"Kau hanyalah pantulan," bisik Ye Chen. "Dan pantulan tidak bisa membunuh yang asli."

Ye Chen mengabaikan rasa sakit itu dan meningkatkan daya hisap mutiaranya.

WUUUUUUNG!

Wujud fisik tiruan itu mulai tidak stabil. Tangan, kaki, dan wajahnya mulai terurai menjadi asap hitam yang ditarik masuk ke dalam dahi Ye Chen, mengalir turun ke Mutiara.

Energi itu... dingin. Sangat dingin.

Itu adalah Energi Yin Murni yang terbentuk dari sisi gelap jiwanya sendiri.

Saat energi itu masuk, Ye Chen merasakan Lautan Kesadaran-nya meluas. Kekuatan mentalnya (Soul Power) melonjak drastis.

"TIDAK! AKU ADALAH KAU!"

"Kau hanyalah makanan," tutup Ye Chen.

Sluurp!

Sisa terakhir dari bayangan itu terhisap habis. Pedang bayangan yang menancap di perut Ye Chen lenyap menjadi asap.

Ye Chen jatuh berlutut, terengah-engah. Dia mencabut belati untuk menyayat lukanya sedikit agar darah kotor keluar, lalu membiarkan regenerasi Tubuh Naga Asura bekerja.

Dia berdiri dan menatap Cermin Jiwa Iblis raksasa di depannya. Permukaannya kini retak-retak karena "isinya" telah dicuri.

"Benda berbahaya," gumam Ye Chen. "Harus dihancurkan."

Ye Chen mengayunkan Pedang Naga Langit.

PRANGGG!

Cermin kuno itu hancur berkeping-keping.

Di balik pecahan cermin, dinding gua runtuh, memperlihatkan sebuah lorong rahasia yang terbuat dari tulang rusuk raksasa yang disusun rapi, mengarah lurus ke atas—ke bagian otak dari "Tengkorak" gunung ini.

Dari lorong itu, angin panas berbau belerang dan Qi yang sangat padat berhembus.

Dan juga... getaran resonansi yang sangat kuat.

Kunci Jangkar Emas (Pecahan Kunci Laut).

"Mo Luo ada di sana," Ye Chen menyeka darah di wajahnya. "Dan dia sedang sibuk."

Ye Chen melesat masuk ke lorong tulang itu.

Puncak Gunung Tengkorak: Altar Mata Tiga.

Ruangan ini adalah rongga kepala dari gunung tengkorak tersebut. Langit-langitnya terbuka, memperlihatkan tiga bulan merah yang bersinar tegak lurus di atas.

Di lantai ruangan, terdapat sebuah formasi sihir raksasa yang digambar menggunakan darah segar. Di tengah formasi, melayang Kunci Jangkar Emas yang patah.

Namun, kunci itu kini sedang disatukan kembali secara paksa oleh Mo Luo.

Mo Luo duduk bersila di udara. Mata ketiganya menembakkan sinar merah ke arah kunci itu, mencoba mengelas patahannya dengan energi iblis.

Di sekeliling altar, ratusan mayat budak tergeletak kering. Energi kehidupan mereka telah dikuras untuk bahan bakar ritual ini.

Lilith bersembunyi di balik pilar tulang di pinggir ruangan, napasnya tertahan. Dia tidak berani bergerak. Aura Mo Luo saat ini terlalu mengerikan.

Spirit Severing Tingkat 4 (Puncak)!

Mo Luo telah pulih sepenuhnya, bahkan lebih kuat daripada saat di Kunlun berkat energi Alam Iblis.

"Sedikit lagi..." Mo Luo menyeringai, keringat ungu menetes di wajahnya. "Dengan kunci ini, aku tidak butuh gerbang di Kunlun. Aku bisa merobek dimensi langsung menuju Abyss (Jurang Tanpa Dasar) untuk memanggil Induk Iblis!"

BOOM!

Pintu masuk ruangan itu meledak.

Pecahan tulang beterbangan. Mo Luo tidak menoleh, konsentrasinya terpecah sedikit.

"Siapa yang berani?!"

Dari balik debu, Ye Chen berjalan masuk. Langkahnya tenang, pedang hitam di tangan kanannya menyeret lantai.

"Ritualmu jelek, Mo Luo," kata Ye Chen. "Terlalu banyak darah, kurang seni."

Mo Luo menoleh perlahan. Mata ketiganya berdenyut marah.

"Ye Chen... Kau lagi. Kau membunuh Raja Gagak, kau membunuh Mara, kau menghancurkan cerminku."

Mo Luo berdiri. Kunci Jangkar itu tetap melayang di belakangnya, masih dalam proses penyatuan yang belum stabil.

"Kau seperti kecoa. Susah mati."

"Dan kau seperti lalat. Selalu berdengung di telingaku," balas Ye Chen.

"Lilith!" teriak Ye Chen tiba-tiba. "Ambil kuncinya!"

Lilith yang bersembunyi tersentak. Dia tahu itu isyaratnya.

Lilith melesat dari bayangan, mencoba menyambar Kunci Jangkar yang melayang.

"Pelacur kecil," Mo Luo bahkan tidak melihat.

Sebuah tangan bayangan raksasa muncul dari punggung Mo Luo, menampar Lilith di udara.

BUAGH!

Lilith terlempar menabrak dinding. Tulang sayapnya patah. Dia jatuh pingsan.

"Jangan ganggu urusan laki-laki," kata Mo Luo dingin.

Dia kembali menatap Ye Chen.

"Kau menginginkan kunci ini? Atau kau menginginkan nyawaku?"

"Dua-duanya," jawab Ye Chen.

"Bagus. Aku juga menginginkan Mutiara-mu."

Mo Luo mengangkat tangannya.

Sebuah tombak muncul di genggamannya. Bukan tombak biasa. Tombak itu terbuat dari tulang belakang naga iblis, memancarkan aura hitam-merah yang menekan jiwa.

Tombak Raja Iblis (Demon King Spear). Senjata Tingkat Langit Bawah.

"Mati!"

Mo Luo menghilang.

Kecepatannya di luar nalar. Jauh lebih cepat daripada saat di Benua Timur.

Ye Chen bereaksi dengan insting Asura. Dia mengangkat pedangnya.

TRANG!

Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar di sekeliling altar.

Ye Chen terdorong mundur sepuluh meter. Kakinya membajak lantai batu.

"Berat!" batin Ye Chen. "Tenaganya pulih total!"

Mo Luo tidak memberi jeda. Dia menyerang bertubi-tubi. Tusukan, sabetan, hantaman. Setiap serangan mengandung Niat Iblis yang mencoba merusak pikiran Ye Chen.

Ye Chen dipaksa bertahan. Dia menggunakan Langkah Kilat Hantu untuk menghindari serangan fatal, tapi tubuhnya mulai tergores di sana-sini.

"Kenapa, Ye Chen?! Di mana kesombonganmu?!" Mo Luo tertawa, menekan Ye Chen ke pinggir jurang kawah. "Di Alam Iblis ini, akulah Rajanya!"

"Raja?"

Ye Chen menangkis serangan tombak Mo Luo, lalu melompat mundur.

Dia berdiri di tepi jurang.

Ye Chen menyarungkan pedangnya kembali ke punggung.

"Apa? Menyerah?" ejek Mo Luo.

"Tidak. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru."

Ye Chen merentangkan kedua tangannya.

Dia memejamkan mata.

Di dalam tubuhnya, Inti Emas barunya berputar.

Dia memanggil energi dari Jantung Iblis Langit yang pernah dia serap dari Li Feng (yang ternyata adalah pecahan kekuatan Mo Luo yang tertinggal di dunia manusia).

Dan dia menggabungkannya dengan Darah Naga Asura.

"Mo Luo, kau bilang ini Alam Iblis?"

Mata Ye Chen terbuka.

Sklera matanya menjadi hitam total. Iris matanya merah darah.

Tanduk naga di dahinya memanjang dan melengkung seperti tanduk iblis. Sisik di tubuhnya berubah dari emas menjadi Hitam-Ungu.

Sayap naga (bukan kelelawar, tapi naga) yang terbuat dari energi murni meledak dari punggungnya.

Mode Transformasi: Dewa Iblis Asura (Asura Demon God Form)!

Ini adalah wujud sejati dari warisan Asura yang beradaptasi dengan lingkungan Alam Iblis.

Aura Ye Chen melonjak dari Spirit Severing Tingkat 1... menembus ke Tingkat 3 secara paksa.

"Kau..." Mo Luo mundur selangkah, wajahnya pucat. "Aura itu... Itu aura Leluhur Asura?!"

"Sekarang," suara Ye Chen menjadi ganda, berat dan mengerikan. "Mari kita lihat siapa Iblis yang sebenarnya."

Ye Chen mengulurkan tangannya.

Pedang Naga Langit terbang ke genggamannya. Pedang itu berubah warna menjadi merah darah sepenuhnya.

Ye Chen menghilang.

BOOM!

Dia muncul di depan Mo Luo. Kecepatannya dua kali lipat dari sebelumnya.

"Tebasan Neraka!"

Ye Chen menebas.

Mo Luo menangkis dengan tombaknya.

KRAK!

Tombak Raja Iblis itu... retak.

Mo Luo terpental, menabrak altar formasi.

Ye Chen mengejarnya. Dia tidak memberi ampun. Dia memukul, menendang, dan menebas dengan kebrutalan murni.

Mo Luo, Jenderal Besar yang ditakuti, kini menjadi bulan-bulanan.

"Mustahil! Aku Jenderal Besar!" Mo Luo meraung, membakar jiwanya untuk melawan balik.

"Sinar Mata Ketiga: Pemusnah Segala!"

Mo Luo menembakkan sinar merah raksasa dari jarak dekat.

Ye Chen tidak menghindar. Dia membuka mulutnya.

"Mutiara Penelan Surga... Telan!"

Ye Chen memakan sinar laser itu.

"Apa?!" Mo Luo putus asa.

Ye Chen sudah ada di depannya. Tangan kirinya yang bersisik mencengkeram wajah Mo Luo, menutupi mata ketiganya.

"Mata ini... mengganggu."

Ye Chen meremas.

SPLAT!

Mata ketiga Mo Luo hancur di tangan Ye Chen.

"AAAAAAARGHHH!"

Mo Luo menjerit, kehilangan sumber kekuatan utamanya.

Ye Chen menusukkan pedangnya ke dada Mo Luo, memaku tubuhnya ke lantai altar.

Mo Luo terbatuk darah hitam. Dia menatap Ye Chen dengan kebencian dan ketakutan.

"Bunuh aku... Tapi kau tidak akan pernah membuka gerbang itu... Kunci itu rusak..."

Ye Chen menatap Kunci Jangkar Emas yang melayang di belakang Mo Luo. Kunci itu memang retak parah.

"Rusak bisa diperbaiki," kata Ye Chen.

Dia menatap Mo Luo.

"Dengan bahan yang tepat."

Ye Chen menempelkan tangannya ke dada Mo Luo.

"Terima kasih atas kontribusimu, Jenderal."

WUUUUUUNG!

Mutiara Penelan Surga aktif.

Ye Chen tidak hanya menyerap energi Mo Luo. Dia menyerap Esensi Jiwa Logam dari tubuh Mo Luo (karena iblis ini memiliki elemen logam yang kuat dari senjatanya) dan menggunakannya untuk menambal Kunci Jangkar itu secara langsung.

"JANGAN! JANGAAAN!"

Tubuh Mo Luo hancur menjadi partikel cahaya emas dan hitam, lalu meresap masuk ke dalam Kunci Jangkar yang patah.

Kunci itu bersinar terang. Retakannya menutup. Ia kembali utuh sempurna.

Mo Luo tewas. Dijadikan bahan tambalan kunci.

Ye Chen mengambil Kunci Jangkar itu.

Empat Kunci sudah di tangan (Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan). Plus Kunci Bintang di cincin.

Ye Chen kembali ke wujud manusianya, terengah-engah. Transformasi Asura menguras banyak tenaga.

Dia berjalan ke arah Lilith yang pingsan, memberinya pil penyembuh.

Lilith sadar, melihat sekeliling yang hancur dan tidak ada Mo Luo.

"Kau... menang?"

"Ayo pergi," kata Ye Chen, membantunya berdiri. "Kita punya kapal untuk dikejar."

"Ke mana?"

Ye Chen melihat ke langit, ke arah rasi bintang tertentu.

"Ke Benua Tengah Alam Roh. Ke Menara Babel yang asli."

"Tapi... bukankah kau sudah menghancurkannya?"

"Itu di dunia bawah. Di Alam Roh Sejati, Menara Babel adalah jembatan menuju Alam Dewa."

Ye Chen menggenggam kunci-kunci di tangannya.

"Semua kunci sudah terkumpul. Waktunya membuka pintu terakhir."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!