Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 27
Seharian ini Gavin malah membuat Ayana bekerja di dalam ruangannya. Entahlah semenjak mereka bertemu dengan Reiner dan juga Cakra yang selalu membela Ayana membuatnya sedikit kesal.
"Ini, saya sudah selesai mengerjakannya, Pak!" Ayana memberikan berkas yang di minta untuk di susun rapi.
"Mau kemana?" tanya Gavin saat Ayana berjalan menuju pintu.
"Mau kembali ke meja saya, Pak! Saya juga banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Dari pagi saya mengerjakan pekerjaan yang aneh-aneh dari anda!" jawab Ayana.
"Bawa semua pekerjaan kamu dan kerjakan di sini!" jawab Gavin.
"Hah? Maksudnya saya kerja di ruangan anda? Bersama anda di sini, Pak Gavin?" tanya Ayana sudah menahan asal dari tadi kepada Gavin. Karena ada saja perintah dia yang membuat ayah anak kesal. Bahkan perkara membersihkan meja kerjanya harus oleh dia.
"Kenapa? Kamu membantah perintah atasan?" tanya Gavin menarik sebelah alisnya.
"Baik Pak Gavin!" kesal Ayana merengut dan menuju meja kerjanya mengambil semua berkat dan laptop miliknya.
Sedangkan Gavin tersenyum lebar saat melihat Ayana kesal tapi dia tetap tidak bisa menolak permintaannya. Karena di kantor dialah yang berkuasa dan bisa membuat Ayana tak bisa membantah setiap ucapannya. Gavin benar-benar memanfaatkan kekuasaannya kali ini untuk membuat Ayana tak bisa bebas kemana-mana.
"Apa masih ad lagi Bu Ayana?" tanya Cakra yang membantu Ayana membawa berkas yang akan dia kerjakan dan meletakkannya di meja sofa ruangan Gavin.
"Semuanya sudah Pak Cakra. Terima kasih karena sudah membantu saya," jawab Ayana sambil tersenyum, senyum manis membaut Gavin kesal melihatnya.
"Lagian untuk apa ada meja kerja, kalau anda malah bekerja di sini Bu Ayana? Sepertinya atasan kita sedang gabut sehingga mengisengi anda seperti ini!" ujar Cakra yang tentunya bisa di dengar oleh Gavin.
"Aku mendengarnya Cakra! silahkan keluar dan kembali bekerja jangan kegatelan kepada istri orang!" kesal Gavin.
"Cie istri katanya! Tapi malah membuat dia kerepotan! Suami macam apa anda ini!" jawab Cakra tak ada takutnya.
"Pergi atau saya lempar kamu pakai ini!" Gavin mengangkat buku besar di tangannya.
"ck! Bilang saja mau berduaan sama istri! Eh tapi apa kabar pacarnya ya? Sepertinya sudah dapat mangsa baru deh!" teriak Cakra sambil keluar dari ruangan Gavin.
"Kurang ajar kau asisten lucnut!" umpat Gavin kesal.
Ayana yang ada di sana tak terganggu sama sekali dengan keributan antara Gavin dan Cakra. Dia bahkan sudah memulai bekerja, pekerjaannya banyak dan dia sudah membuang banyak waktu sampai berjam-jam karena keisengan dari Gavin. Gavin melirik ke arah Ayana yang sedang sibuk dengan keyboard dan juga berkas di tangannya. Beberapa saat Gavin malah menatap ke arah Ayana. Entahlah dia suka sekali saat Ayana ada di dekatnya seperti ini sekarang.
"Apa anda tak ada pekerjaaan sampai bengong seperti itu? Jangan sampai anda langsung di tegur oleh pemilik perusahaan ini!" celetuk Ayana tanpa menoleh ke arah Gavin.
Namun dia tahu sedari tadi Gavin hanya diam menatap ke arahnya. Mungkin sedang memperhatikan pekerjaan dia, pikir Ayana. Berada dalam satu ruangan seperti ini dengan Gavin membaut Ayana merasa tidak bebas saja, suasananya juga tak nyaman.
"Iya Reiner?" jawab Ayana saat ada yang menghubunginya, Ayana menjauh sedikit agar tak menganggu Gavin. Namun ternyata Gavin masih bisa mendengarnya.
"Tidak, aku tak ada janji untuk makan siang dengan siapapun. Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan? Apa tidak bisa bicara di sini saja?" tanya Ayana kembali. Ternyata Reiner mengajaknya makan siang.
"Baiklah nanti aku kabari lagi! Maaf aku sedang bekerja," jawab Ayana dan menutup panggilannya.
Sebenarnya percakapan Antara Ayana dan Reiner tak ada yang istimewa. Hanya janjian makan siang itupun belum Ayana setujui karena memang dia sedang banyak pekerjaan. Dia berniat hanya akan membeli di kantin saja sehingga tak perlu menghabiskan banyak waktu. Namun tidak bagi Gavin yang terlihat sedikit kesal apalagi mendengar nama Reiner di sebut. Pria itu gencar sekali mendekati istrinya. Seolah dia terang-terangan ingin merebut Ayana dari dirinya.
"Mami dan papi mengajak kita makan siang bersama!" ujar Gavin saat Ayana sudah kembali bekerja.
Sedari tadi dia memutar otak agar bisa membuat Ayana tidak pergi dengan Reiner. Akhirnya dia menemukan ide. Dia mengirim pesan kepada kedua orang tuanya untuk makan siang bersama. Sedangkan kepada Ayana dia mengatakan kalau kedua orang tuanya yang meminta makan siang bersama. Tak apa lah berbohong dari pada Ayana harus makan siang dengan calon semut rangrang dalam ruang tangganya. Karena pria itu pasti bukan hanya sekedar mengajak makan siang.
"Kenapa mendadak?" tanya Ayana.
"Loh kenapa memangnya? Apa harus janjian dulu kalau mau makan siang atau pergi dengan orang tua?" tanya Gavin.
"Ya bukan begitu sih! Ya sudah kalau begitu," jawab Ayana mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Reiner.
Gavin tersenyum penuh kemenangan. Hari ini dia bisa membuat Ayana tak berkutik dari pagi. Suruh siapa pagi-pagi sekali dia bahas 'istri idamanmu' bahkan setelah tahu siapa Vania sebenarnya. Memang Aruna fikir dia mau kembali kepada wanita itu? Tentu tidak lah! Memang dia pernah melakukan kebodohan. Tapi dia tak kan mengulang lagi untuk kedua kalinya. Namun entah kenapa dia juga tak suka saat Ayana mengatakan akan pergi, pergi dan membahas pembatalan pernikahan.