Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman pertama
*
"Loh, Raya?" Pekik Romeo tidak percaya. Sorot matanya menatap intens Raya dari atas sampai bawah, memastikan tidak salah lihat.
Rambut di gerai, berponi, makeup tipis dengan bibir pink, tidak memakai kacamata terlihat sangat berbeda dari biasanya. Romeo masih sulit percaya tapi itu nyata, dia bahkan sampai membuka mulutnya lebar.
Raya melirik aneh, sedangkan Pipit menahan tawa "Tutup mulut lo pak ketos, entar ada lalat masuk."
Secepat kilat Romeo menutup mulut rapat, melirik Raya canggung "Lo sangat berbeda."
Raya hanya berdehem, malas menanggapi. Memilih melangkah ingin masuk gerbang yang menjulang tinggi. Tapi terhenti saat tangan seseorang menghalanginya.
"Lo sama Pipit udah terlambat, gak b9isa masuk seenaknya. Jadi kalian harus di hukum sama siswa lain." Tukas Romeo berkata tegas melirik beberapa siswa yang di hukum dengan jalan jongkok bolak balik.
Mulut Raya langsung ternganga lebar, mata tajamnya menyorot Romeo "Lo berani hukum gue?"
Romeo menelan ludah, ia baru melihat Raya yang melotot hingga matanya hampir keluar "Ya lo telat, ini konsekuensinya." Ucapnya mempertahankan diri.
"No." Tolak Raya keras kepala.
Pipit yang merasa situasi tidak aman langsung membuka suara "Romeo, kita tuh telat karna motor gue tiba tiba ngambek di tengah jalan. Jadi terpaksa harus dorong dulu ke bengkel. Lagian yaa udah untung kita cuma telat bukan bolos. Ingat kata pepatah, lebih baik telat daripada tidak sama sekali."
"Gak, gue gak ingat pepatah itu." Elak Romeo. Menurutnya alasan apapun tetap harus menerima konsekuensi, karena itu tugas dia sebagai ketua Osis untuk mendisiplinkan siswa. "
Meskipun Romeo mengenal Raya dan Pipit, tapi tetap harus di hukum jika melanggar peraturan. Raya juga merupakan salah satu anggota Osis dalam kepemimpinannya, jadi dia tidak ingin di katakan pilih kasih sedangkan murid lain yang terlambat harus di hukum.
"Jalan jongkok dari sini sampai sana sebanyak sepuluh kali." Titah Romeo penuh ketegasan.
"Gila lo!" Maki Raya.
"Oke, lima belas kali." Romeo dengan tampang tanpa dosa menambahkannya.
"Anj--..."
"Dua puluh kali. Masih nolak maka tambahin lagi." Romeo tersenyum kemenangan meski ia sempat sedikit terkejut mendengar umpatan Raya. Padahal yang dia tahu, Raya adalah gadis yang lugu, polos, lemah lembut dan gak pernah berkata kasar. Namun sekarang sangat berbeda, bukan hanya penampilan tapi sifatnya juga.
"Ray udah, jangan protes terus. Nanti bisa di tambahin lagi hukumannya." Pipit menengahi, ia bisa kena imbasnya nanti.
Raya mendengus, masih tidak terima. Melirik Romeo si ketua Osis dengan kesal.
"Cepat, dua puluh kali." Titah Romeo lagi.
"Kita mau di hukum, sepuluh kali aja." Pipit mencoba memasang wajah melasnya, sebelum Romeo protes, ia kembali bersuara "Rom, lo gak lihat apa kalo Raya baru keluar dari rumah sakit. Dia gak boleh terlalu capek."
Romeo memang mengetahui kabar kecelakaan Raya, namun dia belum sempat menjenguk di rumah sakit. Helaan nafas terdengar sedikit "Oke, Raya lima kali dan lo sepuluh kali."
"Loh loh loh... Kok gitu?" Pipit tidak terima, ingin protes.
"Lakukan atau tambah hukumannya!" Seru Romeo tersenyum tanpa perasaan "Cepat! Kalian bisa semakin terlambat masuk kelas."
Tidak ada bantahan lagi, mau tidak mau mereka harus menjalankan hukuman. Semua siswa yang di hukum sudah diperbolehkan masuk kelas setelah menyelesaikan hukuman. Tinggal Raya dan Pipit yang masih disana bersama Romeo serta beberapa anggota Osis lainnya dan satu guru BK yang ikut mengawasi.
Walaupun Raya hanya lima kali sedangkan Pipit sepuluh kali, tapi Pipit lebih dulu selesai. Raya bukannya lemas, tapi dia malas menjalankan hukuman.
"Ayo Ray, gue aja sepuluh putaran udah selesai. Lo cuma lima tapi lama banget, masa baru tiga." Pipit berseru di pinggir.
Raya tidak menanggapi, memilih mengumpat dalam hati 'Sialan. Seumur hidup baru kali ini ada yang berani hukum gue. Apes banget gue hari ini, tadi dorong motor, sekarang di hukum. Gue bakar juga nih bumi.'
Romeo yang sejak tadi mengawasi sedikit tidak tega. Ia mengira jika Raya terlalu lemas efek sakitnya, jadi dia cemas jika Raya tambah sakit "Udah, berhenti." Serunya.
Raya dan Pipit menoleh bersamaan, mereka tidak percaya.
Romeo mendekat "Masuk kelas. Hukuman selesai."
Pipit langsung sumringah. Raya berdiri menatapnya kesal "Dari tadi kek." Tidak ada kata terimakasih, Raya bergegas pergi sambil menyenggol bahu Romeo membuatnya tersentak.
Romeo terpaku, Raya seberani itu? Mustahil. Pipit menyengir tidak enak hati "Terimakasih." Ucapnya kemudian menyusul Raya.
Pandangan Romeo menatap kepergian Raya yang masih bersungut sungut seakan dua tanduknya keluar. Dia terkekeh dalam hati 'Kenapa dia jadi menggemaskan.'
Dalam ruang kelas, guru laki laki sedang menulis sesuatu di papan tulis. Disana ada yang memperhatikan dengan ikut menulis, ada yang sibuk sendiri, bahkan ada yang tidur.
Jessie fokus memperhatikan, ketiga temannya sibuk ngerumpi, Revan tidur di kelas, Satria dan Nathan fokus belajar. Meskipun Nathan tidak sepenuhnya fokus, dia masih membayangkan wajah Raya dan Pipit yang mendorong motor membuatnya cekikikan pelan. Satria yang melihat itu merasa aneh dan menceletuk.
"Kesambet lo?"
Pertanyaan frontal Satria membungkam Nathan, wajahnya langsung masam "Iya, puas lo?"
Satria menggidikkan bahu acuh, memilih diam.
"Permisi pak." Ucap seseorang mengalihkan semua perhatian siswa dan guru disana.
Pipit yang menyapa, Raya berjalan di pinggirnya. Semua mata tertuju pada Raya, tidak mengenal.
"Cantik banget gila."
"Waah calon mantu emak gue nih."
"Mubar kah? Kok gak ada kabar apapun."
Jessie and the geng ikut menatap. Kiara menceletuk sambil mengibaskan rambut "Halah, masih cantikan juga gue."
Jessie melirik Kiara dengan tatapan biasa saja, tapi salah diartikan Kiara yang kini takut "Ah maksudnya cantikan kita. Gue sama lo lebih cantik daripada dia."
Tidak menanggapi, namun Jessie menahan senyum 'Power Jessie gak main main, baru di lirik aja udah ciut. Bahkan temannya sendiri aja takut, memang si Jessie spek monster.'
Revan terbangun mendengar keributan itu, spontan menatap Raya penuh arti. Nathan menyenggol lengan Satria lalu berbisik "Dia cantik kan?"
Satria mengernyit, tidak mengerti maksudnya. Dia memang memperhatikan gadis yang mungkin tidak ia kenal, tapi menebak jika temannya itu mengenal siapa gadis itu.
"Pipit, kenapa terlambat? Dan siapa dia?" Tanya Pak Bambang tegas, aura guru killernya keluar.
"Duh bapak murid sendiri gak kenal, perhatiin baik baik deh." Gerutu Pipit melirik Raya sekilas, lalu menatap gurunya kembali dan bergumam "Udah tua, pasti pikun."
"Saya mendengar." Cetus Pak Bambang mendengar makian murid tidak ada akhlaknya itu. Pipit hanya menyengir. Lalu Pak Bambang menatap Raya lebih intens, membenarkan kacamatanya "Raya?"
Raya berdehem, tatapannya lurus. Sementara semua siswa disana mulai berbisik bisik ikut terkejut. Satria melirik Nathan yang membalasnya dengan menaik turunkan alisnya bangga. Nathan berkata pelan "Cantik kan, sepupu gue."
Satria tidak menjawab, dia melirik Jessie yang fokus menatap Raya. Baginya, Jessie adalah yang paling cantik dan memikat. Entah kenapa dia bisa terpikat pada Ratu sekolah yang suka menjelma jadi Monster jika marah. Ia tidak tahu ada apa dengan perasaannya.
"Njir lah, si cupu ternyata."
"Kok bisa jadi cantik, dia nemu sepatu cinderella kah?"
"Gila. Dia beneran si cupu gaes." Celetuk Dira heboh pada temannya.
"Wahh Jes, dia mau nyaingin lo sebagai Ratu sekolah kayaknya." Selly ikut berkomentar menatap Jessie yang sejak tadi diam menyimak.
"Jes, jangan-jangan dia mau rebut Revan dari lo." Kiara mengompori.
Sontak saja Jessie melirik Kiara, beralih menatap Revan yang terpana melihat Raya "Biarkan saja."
Bagaimanapun juga dia ingat jika Raya sekarang sudah di tempati raga Jessie. Pacar dari Revan, jadi menurutnya wajar jika Revan menatapnya tidak berkedip. Tapi meskipun begitu, Jessie a.k.a Raya yang asli sudah tahu bagaimana sifat Revan. Lelaki itu sudah selingkuh dari Jessie, namun dia tidak mempunyai bukti.
Pipit sudah menjelaskan bagaimana mereka bisa terlambat, tapi pak Bambang tidak menerima alasan apapun.
"Jika kalian ingin duduk, salah satu dari kalian harus mengejarkan soal di papan tulis dengan benar. Jika tidak, maka keluar dari kelas saya." Titah Pak Bambang.
Semua siswa berbisik kembali, itu soal belum di jelaskan lebih detail. Tadi Pak Bambang hanya menjelaskan dasarnya saja, sedangkan soal di papan lebih sulit dari contoh.
'Bagaimana ini? Dia pasti tidak bisa mengerjakannya.' Batin Jessie sedikit cemas, ia menyadari jika soal itu sangat sulit. Bahkan jika dia mengerjakan, mungkin akan butuh waktu satu jam untuk menemukan jawabannya karena guru itu belum menjelaskan dengan detail.
"Dia pasti gak bisa." Gosip para siswa.
"Belum tentu juga, dia kan murid beasiswa. Pasti pintar dong."
"Tapi itu soal belum di jelaskan, pak Bambang pasti mengerjainya."
Pipit melihat soalnya. Baru melihat angka paling atas saja sudah membuat kepalanya pusing. Raya sendiri hanya diam, dia bosan.
"Cepat kerjakan atau kalian keluar!" Pak Bambang kembali memerintah.
"Oh." Raya ber- Oh ria lalu dengan santai melangkah keluar membuat semua menatap cengo.
"Hah?!"
...----------------...