NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Panggilan Wawancara.

Keesokan harinya, Andrea bahkan tidak turun untuk membuat sarapan. Ia memilih tetap tinggal di kamar Audrey kecil, membantu sus Rini mengurus bayi itu.

Begitu pula dengan Arthur, semenjak ada sus Rini, pria itu memang sudah jarang mengajak Audrey berjemur. Namun, akan selalu menyempatkan diri untuk melihat bayi berumur satu bulan itu, sebelum ia berangkat ke kantor.

Tetapi, pagi ini Arthur tak menampakkan batang hidung mancungnya. Membuat Andrea bernafas lega. Setidaknya, ia tidak perlu besusah payah menghidari pria itu.

Jujur Andrea masih dongkol dengan pria tiga puluh tahun itu. Jika bisa, ingin rasanya ia menghujami pukulan bertubi-tubi pada Arthur, untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Namun, Andrea sadar, ia hanya makhluk lemah yang tak berdaya dan tak memiliki kuasa.

“Mbak Rea tidak membuat sarapan?” Tanya sus Rini sembari memakaikan baju pada tubuh Audrey.

Andrea tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Nona kecil lincah ya, sus?” Ucap Andrea kemudian saat melihat bayi mungil itu tak hentinya menggerakkan tangan dan kaki.

“Iya, dia sangat aktif. Mungkin mewarisi sifat papanya.” Jawab sus Rini sembari terkekeh.

“Papanya?”

“Iya, nona kecil lincah seperti tuan Arthur. Bukannya beliau papanya?”

Andrea menghela nafas pelan. Ia sengaja membahas tentang Audrey, untuk melupakan pria itu, sus Rini justru mengingatkan kembali.

Sementara itu, kini Arthur sedang menikmati sarapan bersama sang mama. Ia memang tak mampir ke kamar Audrey kecil. Sengaja, memberikan waktu untuk Andrea meredakan amarahnya.

‘Gadis itu? Apa begitu marah padaku sampai tidak membuat sarapan?’

Arthur dapat merasakan, jika makanan yang ia kunyah saat ini bukanlah buatan Andrea. Ia sangat akrab dengan rasa makanan ini. Kurang garam, adalah masakan andalan bibi Rosi. Sementara masakan Andrea rasanya pas di lidah pria itu.

“Kenapa?” Mama Daisy mengerutkan dahi, saat melihat sang putra yang menyudahi sarapannya, padahal makanan di piring belum habis, bahkan masih bisa di bilang utuh.

“Aku ada meeting.” Pria itu meraih tangan sang mama, kemudian mengecupnya.

Mama Daisy pun hanya mengedikan bahu, saat sang putra berjalan menuju ke arah pintu utama.

“Selamat pagi, nyonya.” Seperti biasa Thomas datang menyapa dari pintu belakang.

“Pagi. Loh, kamu kok disini?”

Alis mama Daisy bertaut mendapati asisten putranya datang dengan santai.

“Menunggu bos lah, nyonya.” Jawab Thomas sembari mengambil satu buah jeruk yang tersaji di tengah meja. Ia sudah sarapan di rumah belakang bersama sang ayah, yang bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Dinata.

“Bos mu sudah pergi. Lihat, dia bahkan meninggalkan sarapannya.” Tunjuk mama Daisy pada piring bekas Arthur.

“Katanya ada meeting.” Imbuh wanita paruh baya itu.

Mendengar ucapan sang nyonya, sontak membuat Thomas tersedak biji jeruk. Dengan cepat mama Daisy menyodorkan segelas air pada pria yang seusia dengan putranya itu.

“Meeting?” Tanya Thomas terheran. Perasaan tidak ada jadwal meeting hari ini.

“Iya, kamu kan asistennya. Masa tidak tau jadwal atasannya?”

Thomas pun pamit untuk menyusul Arthur. Dalam hati, kakak sepupu Andrea itu bertanya-tanya, meeting dengan siapakah atasannya?

“Pasti mau bertemu janda anak satu itu lagi.” Dengus Thomas kesal, saat melihat mobil kesayangan Arthur tak lagi ada di tempatnya.

Dan Thomas semakin yakin jika Arthur sedang menemui Celine, setelah ia sampai di kantor namun tak menemukan pria itu. Bahkan kata Dona, atasan mereka belum datang sejak tadi.

Padahal, Arthur kini tengah berada di hotelnya. Ia datang untuk memastikan jika ada posisi yang bisa diisi oleh Andrea, di The Royal Dinata Hotel.

“Kebetulan sekali, pak. Asisten koki di restoran hotel beberapa waktu lalu mengundurkan diri karena sedang hamil. Jadi, kita bisa menempatkan nona Andrea Cecilia di bagian itu.” Jelas sang General Manager. Mereka kini sedang berada di ruangan pria itu.

“Aku mau kamu memanggil dia secepatnya. Dan ingat, jangan katakan jika aku yang merekomendasikan. Lakukan prosedur seperti biasa. Wawancara, tes memasak, lalu terima dia.” Perintah Arthur dengan tegas.

General Manager itu mengangguk paham. Ia yang telah berpengalaman, mengambil kesimpulan dalam hati, jika ada sesuatu di antara pemilik hotel, dan gadis pelamar itu.

‘Ternyata selera bos biasa saja. Aku kira, dia memilih wanita dari kalangan atas, model atau artis papan atas. Taunya hanya seorang tukang masak.’

🍃🍃🍃

Menjelang siang, seperti biasa Andrea akan membantu sang bibi di dapur. Namun, kali ini hanya memasak untuk para pekerja. Di karenakan nyonya Dinata sedang keluar, memenuhi undangan makan siang dari kliennya.

Tengah asyik berkutat dengan peralatan dapur, ponsel Andrea yang berada di atas meja pun berdering. Gadis itu kemudian mematikan api kompor, lalu meraih ponselnya.

“Siapa?” Tanyanya sendiri, saat melihat layar benda pintar yang menampilkan nomor yang tak di kenalnya.

Dengan ragu, Andrea pun mengangkat panggilan itu.

“Hallo, selamat siang. Apa benar saya berbicara dengan nona Andrea Cecilia?” Tanya seorang pria dari seberang panggilan.

“Selamat siang, ya benar. Saya Andrea Cecilia. Ada apa ya, pak?” Tanya Andrea bingung.

“Begini, nona. Saya Soni, dari The Royal Dinata Hotel. Ingin menginformasikan kepada nona, jika nona diminta datang ke hotel besok siang untuk melakukan tes wawancara.”

Deg..

The Royal Dinata?

“Hallo, nona? Apa anda masih disana? Anda mendengarkan saya?”

“Ah, i-iya, pak. Saya mendengar.”

“Baiklah, kami tunggu kedatangan nona Andrea besok jam sebelas siang di hotel kami.”

“I-iya, pak. Terimakasih banyak.”

Panggilan pun terputus. Perlahan, Andrea meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Gadis itu merasa bingung, bukannya tempo hari ia telah menolak undangan wawancara itu. Kenapa sekarang di panggil lagi?

“Rea? Ada apa?” Tanya bibi Rosi yang melihat keponakannya sedang melamun.

“Bi, aku mendapat panggilan wawancara dari hotel Dinata.”

“Lalu? Bukannya itu yang kamu tunggu-tunggu?”

Andrea menghela nafas pelan. Sebelumnya, mungkin ia begitu menantikan panggilan dari hotel bintang lima itu. Tetapi, sekarang harinya telah terisi oleh Audrey kecil.

“Kenapa? Kamu memikirkan nona kecil?”

Kepala Andrea mengangguk. Membuat sang bibi berdecak.

“Rea, bukannya sekarang sudah ada sus Rini? Kamu masih punya waktu untuk menemani nona kecil di malam hari. Atau saat kamu tidak bekerja. Ingat nak, mendiang ibumu begitu ingin melihat mu menjadi seorang koki. Jika kamu tidak bisa sehebat Chef idola ibumu, setidaknya kamu sudah memenuhi keinginannya bukan?”

Kepala Andrea mengangguk. Tak seharusnya ia hanya mengingat janji kepada mendiang Audrey, tetapi ia juga harus menepati janji kepada mendiang ibunya.

“Hubungi kakakmu. Dia pasti sangat senang karena kamu akan bekerja.”

“Aku baru akan wawancara, bi.” Tukas Andrea.

“Bibi yakin, kamu pasti diterima. Kurang ajar sekali jika mereka menolakmu. Bukannya kamu sudah melampirkan semua sertifikat juara lomba memasak mu.”

“Doakan semoga aku di terima, bi.”

“Tentu. Doa bibi selalu menyertai mu dan juga kakak mu.”

Mereka kemudian saling memeluk. Setelah itu kembali melanjutkan memasak.

.

.

.

Bersambung.

Mohon dukungannya teman Readers.

Jangan lupa

Like -> komen -> Gift -> Vote.

Terima nasib, eh Terima kasih 🤭

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!