NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

“Ah.”

Tubuh Lidya hampir terjerembap ke depan, tetapi Kevin bergerak lebih cepat daripada pikirannya sendiri. Tangannya sigap menangkap pergelangan Lidya, sementara tangan yang lain menahan bahunya agar tidak menghantam lantai.

Jarak mereka tiba-tiba terlalu dekat. Napas Lidya memburu. Ia mendongak dan mendapati wajah Kevin hanya beberapa inci darinya. Sorot mata lelaki itu tetap tenang dan sulit ditebak, tetapi genggamannya terasa kuat dan refleks, seolah ia tidak pernah benar-benar membiarkan sesuatu terlepas begitu saja.

“Hati-hati,” ucap Kevin pelan.

Lidya berusaha tersenyum untuk menutupi detak jantungnya yang tak teratur dan rasa malunya. “Lantainya terlalu licin, bukan aku yang ceroboh.”

Kevin tidak menanggapi. Ia melepaskan tangannya perlahan setelah memastikan Lidya sudah berdiri stabil, lalu melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Mbok Sari yang menyaksikan kejadian itu menepuk dadanya kecil. “Neng, pelan-pelan saja. Karpetnya memang suka terlipat kalau tertiup angin.”

Lidya menjawab dengan nada canggung karena ia tahu Mbok Sari sedang menyindirnya.

“Iya, Mbok,” jawabnya, sementara tatapannya masih mengikuti punggung Kevin yang semakin menjauh.

Dalam diam, Kevin menarik sudut bibirnya. Ia merasa geli melihat tingkah Lidya, meskipun tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Tanpa menoleh lagi, ia melanjutkan langkah menuju kamar yang telah lama ia tinggalkan.

Sementara itu, Lidya berjalan ke taman belakang untuk menerima panggilan dari Nurma. Ia memastikan jaraknya cukup jauh dari dalam rumah sebelum menjawab.

“Kenapa, Nek?” tanyanya pelan.

“Kamu masih bersama Kevin?”

“Hm.”

“Jaga tingkah lakumu,” peringat Nurma. “Aku akan mengurus semuanya. Apalagi sekarang wanita itu sudah menandatangani semua berkas. Jadi sebentar lagi kamu akan menjadi pendampingnya.”

“Iya, aku paham. Setelah ini aku akan membawanya ke perusahaan untuk memimpin kembali. Ada banyak hal yang harus dibereskan.”

Nada lega terselip dalam suaranya. Bagi Lidya, jika seluruh tanggung jawab sudah kembali ke tangan Kevin, ia bisa sedikit bernapas lebih tenang. Selama ini memang bukan ia yang menjabat sebagai direktur HK Group, tetapi sebagai wakil direktur hampir seluruh beban tetap jatuh ke pundaknya.

“Bagus. Nenek akan siapkan semuanya. Kamu tetap dampingi dia,” ujar Nurma tegas.

Lidya mengangguk meskipun tidak bisa dilihat. “Baik, Nek.”

Panggilan berakhir. Ia masih menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum suara Kevin terdengar dari arah pintu belakang.

“Lidya, kamu sedang apa?”

Lidya menoleh dan tersenyum tipis. Ia lalu duduk di salah satu kursi taman dan berkata, “Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan.”

Dahi Kevin sedikit berkerut. Ia bisa menangkap keseriusan di wajah Lidya, sesuatu yang belum pernah ia lihat dan masih terasa asing baginya. Kadang ia bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa perempuan ini.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kevin setelah duduk berhadapan dengannya.

“Nenek bilang kamu sudah bisa kembali memimpin perusahaan. Hari ini aku akan membawamu ke sana. Ada beberapa orang yang sudah diganti, jadi aku perlu mengenalkanmu pada mereka.”

“Apa harus secepat ini?”

“Kamu masih ingin menunda?” Lidya balik bertanya.

“Bukan begitu. Aku pikir aku harus…”

“Menikah denganku dulu sebelum kembali ke perusahaan?” sela Lidya dengan tawa kecil. “Pernikahan itu urusan pribadi. Kalau menyangkut perusahaan, semakin cepat kamu mengambil alih, aku justru akan lebih senang. Banyak orang menunggu pewaris asli kembali.”

Kevin menatapnya lekat. “Kamu yakin?”

“Kenapa tidak?” Lidya terdiam sejenak sebelum melanjutkan. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, lalu perlahan ia mengangkat wajahnya menatap Kevin.

“Usiaku dua puluh lima tahun, dan kita berbeda lima tahun.”

Kevin tidak langsung menjawab. Tatapannya tertahan pada wajah Lidya, mencoba membaca kesungguhan di sana.

“Masalah pernikahan aku bisa menunggu hingga Kakak siap. Kalau Kakak setuju, aku tidak ingin menggunakan hak wasiat itu untuk menekanmu.”

Alis Kevin sedikit berkerut. Ia tidak menyangka Lidya akan mengatakan hal itu setenang ini.

“Ini pernikahan keduamu, tentu Kakak ingin menjadi pernikahan terakhir.”

Rahannya mengeras samar. Kata pernikahan kedua itu seperti disentuh pelan namun tepat mengenai bagian yang belum sepenuhnya sembuh.

“Kita jalani saja dulu. Kalau cocok lanjut, kalaupun tidak, aku akan berbicara dengan Nenek nanti untuk mengakhiri semuanya.”

Sunyi turun di antara mereka. Kevin menyandarkan punggungnya pada kursi, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Lidya bukan hanya sebagai gadis yang dijodohkan untuknya atau gadis ingusan saat pertama kali bertemu, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar memahami posisinya.

“Kenapa kamu bisa setenang itu?” tanyanya pelan.

Lidya menatapnya sejenak sebelum menjawab, suaranya lembut namun mantap. “Aku tidak ingin Kakak merasa terpaksa.”

Setelah mengatakan itu, Lidya bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Kevin yang masih terdiam di tempatnya, seolah sedang mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya.

***

Sementara itu di tempat lain, Iren membantu Vano duduk di sofa apartemennya.

“Kamu istirahat saja. Aku ambilkan air,” ucapnya sebelum berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan.

Ia sudah cukup familiar dengan tata letak apartemen itu. Sejak Vano kembali ke Indonesia, ia beberapa kali diajak ke sana. Tidak ada yang terasa asing lagi, seolah tempat itu perlahan ikut menjadi bagian dari rutinitasnya.

Saat menuang air ke dalam gelas, suara pelan terdengar dari ruang tamu. Awalnya ia tidak memperhatikan. Namun nada suara Vano membuat gerakannya melambat.

“Iya, nanti saja. Sekarang belum waktu yang tepat.”

Iren terdiam. Ia tidak berniat menguping, tetapi kalimat itu terdengar terlalu jelas untuk diabaikan. Tanpa sadar ia melangkah sedikit mendekat, tetap berusaha tidak menimbulkan suara.

“Tenang saja, dia masih percaya.”

Jemarinya mengencang di sekitar gelas. Detik berikutnya terasa lebih panjang dari biasanya.

Tak lama kemudian percakapan itu berhenti. Ketika Iren kembali ke ruang tamu, Vano sudah menyandarkan kepala dengan mata terpejam, wajahnya tampak lelah seolah tidak terjadi apa-apa.

Iren meletakkan gelas di atas meja.

“Kamu telepon siapa?” tanyanya setenang mungkin.

Vano membuka mata perlahan, menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Teman. Tadi menanyakan soal pekerjaan.” Ia menatap Iren beberapa detik sebelum menambahkan dengan nada ringan, “Kenapa, kamu cemburu?”

Iren meletakkan gelas berisi air di atas meja. Tatapannya menajam saat ia menyebut nama lelaki di depannya. “Vano.”

Belum sempat ia melanjutkan, Vano yang tadi terlihat lemah tiba-tiba bergerak cepat. Tangannya meraih pergelangan Iren dan menariknya hingga tubuh perempuan itu kehilangan keseimbangan. Dalam satu gerakan, Iren sudah terduduk di pangkuannya.

Ia terkejut. Wajah mereka begitu dekat hingga napas keduanya saling bersentuhan. Degup jantung terdengar jelas, entah miliknya atau milik Vano.

“Iren,” ucap Vano pelan, suaranya berubah lembut. “Dulu aku memang salah karena memilih orang lain dan mengabaikanmu.”

Tangannya mengerat di pinggang Iren, seolah takut perempuan itu akan bangkit dan menjauh.

“Sekarang aku sadar. Dalam keadaanku seperti ini, ternyata hanya kamu yang masih setia di sisiku.”

Iren berusaha menenangkan napasnya. Tangannya menahan dada Vano agar ada sedikit jarak di antara mereka.

“Vano, jangan seperti ini. Aku…”

“Apa kamu tidak menyukainya?” potong Vano pelan. Tatapannya dalam dan menekan. “Aku merindukanmu. Aku ingin memilikimu.”

Iren terdiam sesaat, bingung harus menjawab apa. Namun, sebelum kebingungan itu terpecahkan, Vano sudah lebih dulu memegang dagunya dan mendekatkan bibirnya ke arah Iren.

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!