NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Mencari Potongan Puzzle

Arslan terpaku di tempatnya, matanya tidak berkedip menatap barisan menu di atas nampan yang dibawa Abel. Ayam lada hitam tanpa tomat, sop tanpa brokoli dan jus jeruk tanpa gula—setiap detail kecil itu menghantam jantungnya dengan telak. Abel bukan hanya ingat, tapi ia masih menyimpan kebiasaan Arslan di dalam kepalanya seolah waktu tidak pernah berlalu.

Rasa bangga dan haru meluap di dada Arslan saat mendengar cara Abel membungkam Gea. Tanpa ragu, Arslan mengambil satu langkah besar, mengabaikan Gea yang masih mematung dengan wajah angkuhnya.

"Terima kasih, Sayang. Ternyata kamu masih ingat semua makanan kesukaan aku sampai sedetail itu," ucap Arslan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun cukup lantang untuk didengar oleh Gea dan orang-orang di sekitar mereka.

Tanpa memedulikan tatapan syok dari Gea, Arslan mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Abel dengan gemas—sebuah gestur posesif dan intim yang biasa ia lakukan dulu. "Kamu memang yang paling tahu apa yang aku butuhkan."

Arslan kemudian duduk di kursi di samping Abel, menarik posisi duduknya agar sangat dekat dengan wanita itu, seolah sedang membangun barikade yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Ia mulai menyantap makanannya dengan lahap, sepenuhnya mengabaikan Gea dan memperlakukannya seolah dokter cantik itu hanyalah udara kosong.

"Arslan! Kamu..." Gea tergagap, wajahnya memerah padam karena malu dan marah. Ia tidak menyangka Arslan akan bersikap sekasar itu padanya demi wanita yang menurutnya bermasalah seperti Abel.

Namun, Arslan bahkan tidak menoleh. Ia justru sibuk mengambil tisu dan membersihkan sudut bibir Abel yang sebenarnya tidak kotor, hanya agar ia punya alasan untuk menyentuh wajah Abel lagi. "Enak sekali. Rasanya lebih enak karena kamu yang memesankannya."

Merasa dipermalukan di depan umum dan tidak lagi dianggap, Gea menghentakkan kakinya ke lantai dengan kasar. Ia menyambar tas mahalnya dan pergi meninggalkan kantin dengan perasaan kesal yang meluap-luap, berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan Abel menang semudah ini.

Setelah Gea menghilang, Abel menarik wajahnya menjauh dari jangkauan tangan Arslan. "Jangan berlebihan, Arslan. Aku melakukan itu hanya karena aku tidak suka ada orang yang mengganggu waktu makanku."

Arslan terkekeh, ia menatap Abel dengan binar nakal namun penuh cinta. "Apapun alasannya, aku suka caramu melindungiku tadi. Jadi... Mama Farel, setelah ini apakah aku boleh mengantarmu kembali ke kantor?"

Abel hanya mendengus, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang mulai muncul akibat panggilan "Sayang" dari Arslan tadi.

Setelah selesai makan, Arslan terus saja mencari alasan untuk bisa mengantar Abel ke kantornya. Hal tersebut Arslan gunakan untuk bisa lebih lama bersama Abel. Arslan akhirnya berhasil memenangkan perdebatan kecil dan mendapatkan izin untuk mengantar Abel sampai ke lobi kantornya. Selama perjalanan tidak ada percakapan penting di antara mereka. Abel lebih banyak diam, ia tidak ingin hatinya kembali goyah oleh sikap manis Arslan.

Sesampainya di depan kantor, dengan perasaan senang yang sulit disembunyikan, Arslan turun dari mobil dan membukukan pintu untuk Abel, memberikan perhatian yang begitu mencolok di depan gedung perkantoran yang megah itu.

Reno, yang kebetulan sedang berdiri di balik dinding kaca lobi, menyaksikan seluruh adegan itu. Rahangnya mengeras, namun ia memilih untuk tetap diam. Ia tidak ingin membuat keributan di depan karyawan-karyawannya yang akan mempermalukan adiknya. Reno membiarkan Abel masuk ke dalam gedung terlebih dahulu dengan langkah terburu-buru, seolah adiknya itu sedang menghindari tatapan interogasi kakaknya.

Begitu sosok Abel menghilang di balik lift, Reno melangkah keluar. Langkahnya tenang namun berat, memancarkan aura dominasi yang kuat. Ia menghampiri Arslan yang baru saja hendak kembali ke kursi kemudi.

"Ikut gue. Kita bicara di kafe depan," ucap Reno menepuk pundak Arslan, nadanya dingin tanpa bantahan.

Mereka duduk berhadapan di sebuah sudut kafe yang cukup sepi. Arslan bisa merasakan intensitas tatapan Reno yang seolah sedang membedah isi kepalanya. Reno tidak memesan kopi, ia hanya melipat tangannya di atas meja, menatap Arslan dengan sorot mata yang sarat akan peringatan dan ancaman.

"Sudah berapa kali gue katakan untuk menjauh, Arslan Raendra?" Reno membuka suara, suaranya rendah namun tajam. "Lo pikir dengan mengantar Abel dan mengirimkan barang-barang ke rumah, gue akan luluh? Lo salah besar."

Arslan menarik napas panjang, ia menatap balik mata Reno dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan. "Gue tahu lo benci sama gue karena masa lalu itu, Kak. Gue akuin gue brengsek saat itu. Tapi gue ke sini bukan untuk main-main lagi. Gue serius ingin memperbaiki semuanya, bukan cuma buat Abel, tapi juga buat Farel."

Mendengar nama Farel, Reno menyeringai sinis. "Farel? Apa urusannya dengan lo?"

"Gue bersedia jadi ayahnya, Kak. Gue tahu Farel adalah... anak Abel dari masa sulitnya, dan gue ingin menebus semua kesalahan gue dengan menjaga mereka berdua," ujar Arslan dengan penuh keyakinan, masih terjebak dalam kesalahpahaman yang dalam.

Reno hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan itu jika saja ia tidak sedang sangat marah. Baginya, tingkat kepercayaan diri Arslan sudah melampaui batas kewarasan.

"Jadi lo pikir Farel anak Abel?" Reno memajukan tubuhnya, menatap Arslan lebih dekat. "Dengar ya, Dokter Arslan. Jangan pernah merasa jadi pahlawan di cerita yang lo sendiri tidak tahu ujung pangkalnya. Sekali lagi gue lihat lo mendekati Abel dengan bualan 'tanggung jawab' konyol lo itu, gue tidak akan segan-segan mencabut seluruh izin praktik lo dan menghancurkan AR-Tech."

Reno berdiri, merapikan jasnya yang tak berkerut. "Jauhi adik gue sebelum gue benar-benar kehilangan kesabaran. Ini peringatan terakhir."

Reno berlalu pergi, meninggalkan Arslan yang terpaku dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Kata-kata Reno tentang "tidak tahu ujung pangkalnya" mulai membuat Arslan merasa ada sesuatu yang sangat besar yang ia lewatkan.

Arslan tetap mematung di kursinya bahkan setelah sosok Reno menghilang dari balik pintu kafe. Kata-kata Reno bukan sekadar gertakan; ada nada ejekan yang tersirat, seolah Reno sedang menertawakan ketidaktahuan Arslan yang begitu dalam.

"Tidak tahu ujung pangkalnya?" gumam Arslan lirih.

Ia menyandarkan punggungnya, menatap nanar pada jalanan di luar kaca. Ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya. Jika Farel adalah anak Abel, mengapa Reno bersikap seolah Arslan sedang memainkan peran dalam sandiwara yang salah? Mengapa Abel hanya tersenyum misterius saat Arslan menawarkan diri menjadi ayah bagi bayi itu?

Arslan mulai memutar kembali memori lima tahun terakhir. Sejak hari di mana taruhan itu terbongkar, Abel menghilang seperti ditelan bumi. Gadis itu mengganti nomor telepon, dan memutus kontak dengan semua teman sekolah mereka. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar—atau untuk mengubah sebuah kebenaran menjadi legenda.

Arslan mengeluarkan ponselnya, ia membuka kembali profil media sosial Abel yang baru ia temukan beberapa minggu lalu. Sangat bersih. Tidak ada foto kehamilan, tidak ada jejak siapa ayah dari bayi itu. Semuanya terasa terlalu rapi untuk sebuah kecelakaan yang tak sengaja.

"Kalau Abel ibunya, kenapa Reno yang menjadi wali tunggal secara hukum?" batin Arslan. "Tapi golongan darah Farel sama dengannya."

Arslan segera bangkit. Ia tidak bisa hanya diam dan menebak-nebak. Ia harus menyatukan potongan puzzle ini satu per satu. Langkah pertamanya bukan lagi datang dengan bunga atau martabak, melainkan mencari fakta yang terkubur selama lima tahun perpisahan mereka.

Arslan melajukan mobilnya menuju rumah sakit, bukan untuk bekerja, melainkan menuju ruang arsip digital. Sebagai dokter yang menangani Farel, ia punya akses terbatas pada catatan medis lama keluarga Laurent yang mungkin pernah melakukan pengecekan kesehatan di sana.

Namun, di tengah jalan, ia memutuskan untuk menghubungi seseorang yang mungkin tahu lebih banyak tentang dinamika keluarga itu sebelum Sarah meninggal.

"Halo, Bimo?" Arslan berbicara melalui hands-free mobilnya.

"Ya, Lan? Gimana progres sama Abel?" suara Bimo terdengar di seberang.

"Bim, gue butuh bantuan lo. Bukan buat reuni. Gue butuh tahu kapan tepatnya Farel lahir dan di rumah sakit mana. Jangan tanya kenapa, gue ngerasa ada yang nggak beres sama asumsi gue selama ini."

Di seberang sana, Bimo terdiam sejenak. "Lo ngerasa Farel bukan anak Abel?"

"Gue nggak tahu, Bim. Tapi setiap kali gue bilang mau jadi ayahnya Farel, orang-orang di sekitar Abel natap gue seolah gue ini badut. Gue harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama lima tahun gue nggak ada di hidup dia."

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!