Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - HARI PENGADILAN
ENAM MINGGU KEMUDIAN - PENGADILAN NEGERI JAKARTA PUSAT
Akselia duduk di kursi penonton, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Di sampingnya, Arjuna dan Pak Dharma, keduanya datang untuk memberi dukungan moral.
Hari ini pengadilan akan membacakan vonis untuk Kevin Pratama.
Ruang sidang penuh dengan wartawan, pengusaha, dan orang-orang yang pernah jadi korban Kevin. Diana duduk beberapa baris di belakang Akselia, mereka sudah berbaikan, meski hubungannya tidak sedekat dulu.
Pintu samping terbuka. Kevin masuk dengan borgol di tangan, diapit dua petugas. Dia terlihat jauh lebih kurus, wajah pucat, mata cekung. Sangat berbeda dari CEO tampan dan percaya diri yang dulu Akselia kenal.
Mata Kevin menyapu ruangan lalu berhenti di Akselia. Tatapan mereka bertemu sekilas. Kevin tersenyum tipis, senyum yang penuh penyesalan. Akselia mengangguk singkat, bukan sebagai tanda cinta, tapi sebagai tanda pengakuan bahwa mereka berdua sudah berbeda dari setahun lalu.
Hakim masuk. Semua orang berdiri.
"Sidang dibuka."
***
PROSES PERSIDANGAN
Jaksa membacakan dakwaan: penyuapan pejabat, sabotase bisnis kompetitor, pembiayaan tindak kekerasan, dan manipulasi tender. Semua didukung bukti yang Akselia dan Diana kumpulkan yang berupa rekaman, dokumen, kesaksian saksi.
Pengacara Kevin mencoba membela, dengan berargumen bahwa Kevin hanya mengikuti praktik bisnis yang umum di industri, bahwa tidak ada bukti langsung Kevin memerintahkan kekerasan, bahwa kesaksian saksi tidak dapat dipercaya.
Tapi bukti terlalu kuat. Saksi demi saksi dipanggil, termasuk Hendra Wijaya, pejabat korup yang akhirnya mengaku menerima suap dari Kevin setelah ditangkap dalam operasi KPK terpisah.
"Ya, benar. Tuan Kevin Pratama memberi saya uang sebesar dua miliar rupiah untuk mempercepat izin pembangunan gedungnya di Sudirman," kata Hendra dengan suara gemetar di depan hakim.
Kevin menunduk, tidak membantah.
Yang paling mengejutkan, Karina dipanggil sebagai saksi. Dia masuk dengan penampilan sederhana, wajah tanpa makeup berlebihan. Berbeda sekali dari Karina yang dulu Akselia kenal.
"Nona Karina Adelia," panggil hakim. "Anda bersedia bersaksi atas sumpah?"
"Bersedia, Yang Mulia."
"Apa hubungan Anda dengan terdakwa?"
"Saya mantan tunangannya. Pertunangan kami dibatalkan sebulan lalu."
"Dan apa yang bisa Anda sampaikan terkait kasus ini?"
Karina menarik napas. "Kevin Pratama pernah cerita pada saya tentang beberapa praktik bisnis kotornya. Dia bilang itu 'strategi' untuk menang. Dia menyebut nama beberapa kompetitor yang dia sabotase, termasuk Mahendra Group."
Murmur di ruang sidang.
"Apa Anda punya bukti atas pernyataan ini?"
"Saya punya rekaman percakapan pribadi kami. Saya menyimpannya, awalnya untuk proteksi diri sendiri." Karina menatap Kevin dengan tatapan menyesal. "Maaf, Kevin. Tapi aku tidak bisa bohong di bawah sumpah."
Kevin tidak marah. Justru dia tersenyum pahit, seperti sudah pasrah dengan nasibnya.
Setelah semua saksi selesai, hakim meminta Kevin berdiri.
"Terdakwa Kevin Pratama. Apakah Anda punya pernyataan terakhir sebelum vonis dibacakan?"
Kevin berdiri perlahan. Dia menatap hakim, lalu menatap ruang sidang, matanya berhenti di Akselia.
"Yang Mulia, saya tidak akan membantah tuduhan ini. Saya bersalah. Atas semua yang didakwakan... saya bersalah." Suaranya tenang, tanpa pembelaan. "Selama bertahun-tahun, saya pikir kekuasaan dan kekayaan adalah segalanya. Saya injak siapa pun yang menghalangi. Saya manipulasi, saya bohongi, saya hancurkan."
Dia menunduk.
"Tapi yang paling saya sesali, saya tidak hanya hancurkan lawan bisnis. Saya juga hancurkan orang-orang yang mencintai saya. Orang-orang yang percaya pada saya." Kevin mengangkat kepala, air mata mengalir di pipinya. "Saya layak mendapat hukuman apapun yang Yang Mulia putuskan. Dan saya terima dengan penuh kesadaran."
Hening total di ruang sidang.
Hakim mengetuk palu. "Pengadilan akan istirahat sebentar untuk musyawarah."
***
SATU JAM KEMUDIAN - PEMBACAAN VONIS
Hakim kembali. Semua orang berdiri.
"Setelah mendengar semua kesaksian, mempelajari semua bukti, dan mempertimbangkan pernyataan terdakwa, pengadilan memutuskan:" Hakim membaca kertas di hadapannya. "Terdakwa Kevin Pratama terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, sabotase bisnis, dan turut serta dalam tindak kekerasan."
Hakim menatap Kevin.
"Oleh karena itu, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama delapan tahun, denda lima miliar rupiah, dan pencabutan hak untuk mengelola perusahaan selama sepuluh tahun setelah masa tahanan selesai."
Palu diketuk tiga kali.
"Sidang ditutup."
Ruang sidang meledak, wartawan berlarian keluar untuk berita, keluarga korban menangis lega, pengacara Kevin terlihat frustrasi.
Kevin dibawa keluar oleh petugas. Sebelum pintu tertutup, dia menoleh sekali lagi ke Akselia menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Penyesalan. Terima kasih. Dan pelepasan.
Lalu dia hilang di balik pintu.
***
DI LUAR GEDUNG PENGADILAN
Akselia berdiri di tangga pengadilan, menatap langit Jakarta yang mendung. Di sampingnya, Arjuna dan Pak Dharma.
"Delapan tahun," gumam Arjuna. "Cukup adil untuk semua yang dia lakukan."
"Atau terlalu ringan," tambah Pak Dharma. "Tapi setidaknya keadilan sudah berjalan."
Akselia tidak bicara. Dia merasakan beban terakhir terangkat dari dadanya.
Kevin akan bayar kesalahannya. Bukan karena Akselia yang menghancurkannya dengan dendam, tapi karena sistem hukum yang bekerja. Karena keadilan yang tegak.
Dan itu entah kenapa terasa jauh lebih memuaskan daripada balas dendam pribadi.
Diana menghampiri dari belakang. "Akselia."
Akselia menoleh. "Diana."
"Aku..." Diana ragu, "...aku minta maaf karena dulu terlalu memaksa. Aku terlalu fokus pada dendam sampai lupa bahwa ada cara lebih baik."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu juga korban." Akselia tersenyum. "Yang penting sekarang, kita berdua bisa lanjut hidup tanpa bayang-bayang Kevin."
Diana mengangguk, tersenyum tipis. "Ya. Saatnya lanjut hidup."
Mereka berjabat tangan bukan sebagai sekutu dalam balas dendam, tapi sebagai dua perempuan yang sama-sama belajar melepaskan masa lalu.
***
SORE HARI - DOJO PAK DHARMA
Akselia kembali ke dojo dengan perasaan ringan. Murid-muridnya sudah menunggu untuk kelas sore.
"Maaf terlambat," katanya sambil mengikat rambutnya. "Ada urusan di pengadilan."
"Tidak apa-apa, Kak Akselia," sahut salah satu murid. "Kami sudah pemanasan sendiri."
Akselia tersenyum. "Bagus. Kalian makin mandiri."
Mereka mulai latihan gerakan demi gerakan, teknik demi teknik. Akselia mengajar dengan sabar, memperbaiki postur, memberi semangat.
Di tengah latihan, pintu dojo terbuka. Seorang perempuan muda dengan mata memar dan bibir bengkak masuk, wajahnya penuh ketakutan tapi juga determinasi.
"Maaf..." suaranya bergetar, "...apa saya bisa ikut kelas ini?"
Akselia berjalan mendekat. Dia kenali tatapan itu, tatapan perempuan yang baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan.
"Tentu. Kamu boleh ikut." Akselia meletakkan tangan di bahu perempuan itu lembut. "Di sini kamu aman. Dan kami akan ajari kamu melindungi diri."
Perempuan itu menangis, tangis lega. "Terima kasih."
Akselia memeluknya sebentar, lalu membawanya bergabung dengan murid-murid lain.
Pak Dharma yang mengamati dari pintu kantor tersenyum bangga.
Akselia Kinanti tidak hanya kembali, dia jadi lebih kuat. Lebih bijak. Dan yang paling penting, dia menggunakan kekuatannya untuk membantu orang lain, bukan menghancurkan.
***
MALAM HARI - ATAP GEDUNG DOJO
Akselia duduk sendirian di atap, menatap bintang-bintang yang jarang terlihat di langit Jakarta.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor baru, tapi dia tahu ini dari Kevin. Entah bagaimana dia dapat akses telepon di penjara.
[Terima kasih sudah datang hari ini. Melihatmu di sana entah kenapa bikin aku merasa... dimaafkan. Meski aku tahu aku tidak layak. Delapan tahun ke depan aku akan perbaiki diri. Menjadi orang yang seharusnya kujadi dari dulu. Orang yang layak kamu cintai, meski aku tahu kamu tidak akan pernah cintai aku lagi. Dan itu tidak apa-apa. Semoga kamu bahagia, Akselia. Selamanya.]
Akselia menatap pesan itu lama.
Lalu tersenyum... senyum tanpa kepahitan, tanpa dendam, tanpa penyesalan.
Dia tidak membalas. Tidak perlu. Kevin bukan lagi bagian dari hidupnya.
Dia menghapus pesan itu, menatap langit lagi, dan berbisik pada angin: "Selamat tinggal, Kevin. Semoga kamu menemukan jalan yang benar."
Lalu dia turun dari atap, kembali ke dojo, kembali ke kehidupannya yang baru...
Kehidupan tanpa bayang-bayang masa lalu. Kehidupan yang penuh dengan harapan, kekuatan, dan kedamaian. Kehidupan Akselia Kinanti yang sebenarnya.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️