Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Ancaman di tengah Malam
Malam turun tanpa suara, seolah sengaja menutupi segala kegelisahan yang berdenyut di dada keluarga Wijaya. Rumah kontrakan baru itu terletak di ujung kampung, jauh dari keramaian, dikelilingi kebun karet dan semak liar. Sepintas tampak aman, namun bagi Bima, sunyi justru terasa lebih menakutkan. Setiap desir angin, setiap gesekan daun, seakan membawa pesan tersembunyi: bahaya masih mengintai.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu.
Bima yang belum terlelap langsung terjaga. Nafasnya tertahan. Di sampingnya, Kirana yang tertidur di kursi ruang tamu terbangun dan menatapnya dengan mata waspada. Mereka saling bertukar pandang, diam-diam memahami kecemasan yang sama.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan itu terulang, kali ini sedikit lebih keras.
Ayah dan ibu Bima keluar dari kamar, wajah mereka pucat. Dalam keheningan yang mencekam, suara detak jam terasa memekakkan telinga. Tidak ada yang berani langsung membuka pintu.
“Siapa?” tanya ayah Bima dengan suara tertahan.
Tak ada jawaban.
Hanya sunyi.
Beberapa detik berlalu, lalu terdengar langkah kaki menjauh, diikuti suara mesin motor yang meraung pelan sebelum menghilang di kejauhan. Bima segera membuka pintu dengan hati-hati. Tidak ada siapa pun di luar, hanya sebuah amplop cokelat tergeletak di lantai.
Tangannya gemetar saat mengambilnya.
Di dalam amplop itu, hanya ada selembar kertas putih dengan tulisan hitam tegas:
HENTIKAN SEMUANYA ATAU KALIAN AKAN MENYESAL. INI PERINGATAN TERAKHIR.
Tak ada tanda tangan. Tak ada nama. Tapi ancaman itu terasa begitu nyata, menusuk hingga ke tulang.
Ibu Bima menutup mulutnya, menahan isak. Ayah Bima memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Kirana menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Mereka semakin terdesak.”
“Artinya, kita makin dekat,” sahut Bima, meski suaranya sedikit bergetar.
Namun, meski berusaha tegar, ketakutan tetap merambat di benaknya. Ia tahu, orang-orang yang mereka lawan bukan sekadar pengusaha licik atau pejabat korup biasa. Jaringan kekuasaan yang berdiri di belakang fitnah itu terlalu besar untuk diremehkan. Dan ancaman kali ini terasa lebih serius dari sebelumnya.
Sejak malam itu, mereka hidup dalam kewaspadaan penuh. Pintu selalu dikunci rapat. Lampu luar dibiarkan menyala sepanjang malam. Setiap suara asing langsung membuat jantung berdegup kencang.
Kirana meningkatkan pengamanan data. Ia memindahkan semua dokumen penting ke server luar negeri melalui jaringan redaksi nasional yang dipercaya. Beberapa bukti fisik disembunyikan di tempat terpisah, bahkan ada yang dititipkan pada rekan jurnalisnya di kota lain.
Bima sendiri mulai menyadari bahwa langkah mereka tidak lagi bisa setengah-setengah. Ia harus menemukan bukti pamungkas—data yang bisa menumbangkan tokoh utama di balik semua ini.
Petunjuk datang dari sumber anonim yang menghubungi Kirana lewat email terenkripsi. Sumber itu menyebut adanya arsip transaksi gelap yang tersimpan di sebuah gudang tua bekas kantor distributor gula milik perusahaan besar di pinggiran Kota Sagara. Arsip itulah yang diyakini menjadi kunci utama.
“Kalau ini benar,” ujar Kirana, “kita bisa membongkar semuanya.”
“Tapi risikonya besar,” sahut ayah Bima. “Tempat seperti itu pasti diawasi.”
Bima menatap layar laptop dengan mata menyala. “Kita tidak punya pilihan lain.”
Malam berikutnya, hujan turun deras, seakan menjadi tameng alami bagi rencana nekat mereka. Dengan mengenakan jaket gelap dan topi, Bima dan Kirana menyelinap keluar rumah. Mereka menumpang sepeda motor tua milik tetangga yang dipercaya, melaju perlahan menyusuri jalanan licin.
Gudang itu berdiri sunyi di tengah lahan kosong, dikelilingi pagar besi berkarat. Lampu-lampu kecil terpasang di beberapa sudut, menandakan adanya sistem pengamanan. Bima dan Kirana bersembunyi di balik semak, mengamati situasi.
Beberapa menit kemudian, seorang penjaga terlihat meninggalkan posnya untuk berteduh dari hujan. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan gerakan cepat, mereka memanjat pagar dan masuk melalui pintu samping yang tampak jarang digunakan.
Di dalam, bau lembap dan debu memenuhi udara. Rak-rak besi tua berjejer, dipenuhi kardus dan map-map usang. Mereka bekerja cepat, menyisir satu per satu, hingga akhirnya menemukan sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan.
Dengan alat sederhana yang telah disiapkan, Bima berhasil membukanya. Di dalamnya tersimpan flashdisk, beberapa buku catatan, dan bundel dokumen keuangan.
“Kita menemukannya,” bisik Kirana dengan mata berbinar.
Namun, sebelum sempat bernapas lega, suara langkah kaki dan sorot senter menyapu ruangan. Bima menarik tangan Kirana, bersembunyi di balik tumpukan kardus. Nafas mereka tertahan saat dua penjaga masuk, berbincang singkat, lalu berkeliling memeriksa.
Detik terasa seperti jam.
Akhirnya, setelah memastikan keadaan aman, mereka berhasil keluar dengan selamat.
Di perjalanan pulang, hujan masih mengguyur, seolah membasuh rasa takut yang menempel di kulit mereka. Namun, di balik basah dan lelah, ada harapan yang tumbuh.
Malam ancaman itu menjadi titik balik. Bima sadar, ketakutan tidak boleh lagi mengendalikan langkah mereka. Justru di tengah gelap, keberanian harus dinyalakan lebih terang.
Dan di balik awan kelam yang menggantung di atas Kota Sagara, secercah fajar perlahan mulai merekah,membawa janji bahwa kebenaran, seberapa pun keras ditekan, akan selalu menemukan jalan untuk terbit kembali.
Cahaya pertama pagi menyelinap melalui celah-celah jendela rumah kontrakan itu, membelah gelap yang semalaman membungkus kegelisahan. Bima terbangun dengan mata sembab, tubuhnya pegal, namun pikirannya justru terasa lebih tajam. Malam penuh ancaman itu telah mengikis sisa keraguan di hatinya. Ia tahu, kini tak ada lagi ruang untuk mundur.
Kirana masih terlelap di kursi ruang tamu, laptop tertutup di pangkuannya. Di layar kecil ponselnya, notifikasi email terus berdatangan, balasan dari rekan-rekan jurnalis di luar kota yang mulai menelusuri jejak transaksi gelap yang mereka temukan. Setiap pesan adalah potongan puzzle yang perlahan menyatu.
Ayah Bima duduk di sudut ruangan, menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya tampak letih, namun di balik itu tersimpan sorot tekad yang baru. Ibu Bima menyiapkan teh hangat, mencoba menenangkan diri di tengah kecemasan yang belum sepenuhnya sirna.
“Ancaman itu bukan sekadar gertakan,” ujar ayah pelan. “Mereka ingin kita berhenti sekarang, saat kita sudah terlalu dekat.”
“Justru karena itu kita tak boleh berhenti,” jawab Bima mantap.
Kirana terbangun, menatap mereka satu per satu. “Aku sudah mengirim salinan data ke beberapa redaksi besar. Kalau sesuatu terjadi pada kita, bukti ini tetap akan hidup.”
Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan getir. Tidak ada yang ingin memikirkan kemungkinan terburuk, tapi semua sadar, risiko semakin nyata.
Hari itu mereka mengatur langkah lebih terencana. Bima menemui seorang dosen hukum yang pernah menjadi sahabat ayahnya. Sosok tua itu dikenal jujur dan berani, meski telah lama menjauh dari hiruk-pikuk politik.
Di ruang kerja sederhana penuh buku, Bima memaparkan semua bukti yang mereka miliki. Sang dosen menghela napas panjang, matanya menyapu lembar demi lembar dokumen dengan seksama.
“Ini bukan sekadar kasus fitnah,” katanya akhirnya. “Ini jaringan kejahatan terstruktur. Kalau kalian maju, kalian akan melawan kekuatan besar.”
“Justru karena itu kami datang,” sahut Bima. “Kami butuh jalur hukum yang bersih.”
Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Aku akan membantu sebisaku. Tapi kalian harus siap. Begitu ini masuk ke ranah hukum, tidak ada lagi zona aman.”
Di sisi lain kota, Kirana bertemu dengan editornya di sebuah kafe kecil. Mereka berdiskusi panjang, menyusun strategi publikasi yang tak hanya mengungkap fakta, tapi juga melindungi sumber-sumber penting. Setiap detail diperiksa, setiap data diverifikasi berlapis-lapis.
Namun, ancaman tidak berhenti.
Sore hari, sebuah pesan masuk ke ponsel Bima dari nomor tak dikenal. Sebuah foto rumah kontrakan mereka terlampir, diambil dari sudut yang jelas tidak mungkin diakses orang biasa. Di bawahnya, satu kalimat singkat: Kami selalu mengawasi.
Darah Bima berdesir. Tangannya mengepal, menahan gemetar.
Kirana yang membaca pesan itu hanya menghela napas. “Mereka ingin kita panik.”
“Dan mereka hampir berhasil,” gumam Bima.
Malam kembali turun, kali ini dengan langit lebih pekat. Namun suasana di dalam rumah justru terasa lebih hidup. Mereka berkumpul, menyusun rencana jangka panjang. Ayah Bima, meski masih lemah, ikut menyumbang ide. Ibu Bima menyiapkan makanan sederhana, seolah ingin menegaskan bahwa di tengah badai, keluarga tetaplah tempat pulang.
“Apapun yang terjadi,” kata ayah Bima, “kita hadapi bersama.”
Bima menatap wajah-wajah yang dicintainya, merasakan campuran takut dan harap yang berkelindan di dadanya. Ia sadar, perjuangan ini bukan hanya tentang toko manisan yang hilang, tapi tentang harga diri, tentang hak untuk hidup jujur tanpa diinjak-injak kekuasaan.
Malam itu, mereka menyusun langkah-langkah kecil: siapa yang dihubungi, ke mana data dikirim, dan bagaimana mengamankan diri. Setiap keputusan diambil dengan hati-hati, seolah menapaki ladang ranjau yang bisa meledak kapan saja.
Di luar, angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah. Langit tetap gelap, namun di ufuk timur, samar-samar tampak cahaya yang tak sepenuhnya padam.
Bima berdiri di teras, menatap jauh ke arah kota. Ia tahu, jalan di depan penuh liku, mungkin berdarah, mungkin berakhir pahit. Tapi di dalam dirinya, sebuah keyakinan telah mengakar, selama mereka tidak menyerah, kebenaran akan terus mencari celah untuk muncul.
Dan di tengah ancaman yang semakin nyata, Bima berjanji pada dirinya sendiri dan ia akan melangkah sampai ujung, apa pun taruhannya. Karena di balik setiap ketakutan, selalu ada keberanian yang menunggu untuk dibangkitkan.