Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit Pusat Argena.
Bangunan raksasa berlapis kaca gelap dan baja putih itu berdiri di pusat kota, dikelilingi pagar pengaman tinggi dengan sistem identifikasi biometrik berlapis. Sejak wabah diumumkan, statusnya dinaikkan menjadi Pusat Observasi Kota.
Tidak semua orang bisa masuk.
Gerbang utama dijaga aparat bersenjata.
Di pintu kedua, pemindai retina dan DNA mikro diterapkan.
Akses penuh hanya diberikan pada tenaga medis tertentu, peneliti terverifikasi, dan mereka yang memiliki izin langsung dari Kementerian Kesehatan serta otorisasi pemerintahan pusat.
Ambulans datang silih berganti.
Lampu biru memantul di dinding kaca.
Sirene meraung tanpa henti.
Di dalam, udara terasa lebih berat daripada biasanya.
Amatsuki Hiroshi berdiri di depan panel identifikasi.
“ID.”
Ia mengangkat kartu identitas khusus berlapis chip.
Petugas keamanan memindai retina dan sidik jarinya.
“Prof. Dr. Amatsuki Hiroshi. Akses Level 3 dan Laboratorium Patogen Terbatas. Silakan.”
Pintu baja terbuka perlahan.
Hiroshi berjalan masuk dengan langkah terukur.
Sebagai salah satu penguji laboratorium utama, ia bertanggung jawab pada:
Analisis sampel darah pasien
Uji replikasi patogen
Pengamatan respon sel imun
Evaluasi kemungkinan mutasi
Dan pelaporan teknis ke dewan pusat
Namun beberapa hari terakhir, ada hal yang mengganggu pikirannya.
Beberapa hasil laboratorium tidak konsisten.
Struktur genetik virus menunjukkan tanda-tanda manipulasi.
Terlalu rapi untuk evolusi alami.
Terlalu presisi untuk mutasi spontan.
Ia belum menyimpulkan apa pun.
Tapi nalurinya sebagai peneliti tidak bisa diabaikan.
Ruang laboratorium penuh dengan suara.
Mesin sentrifugal berdengung.
Monitor menampilkan grafik.
Suara notifikasi sistem berbunyi setiap beberapa menit.
Seorang peneliti muda mendekat.
“Prof.. sampel pasien 324 menunjukkan replikasi lebih cepat dari rata-rata.”
“Berapa persen deviasinya?”
“Hampir dua kali lipat.”
Hiroshi menatap layar.
“Tidak mungkin jika hanya berdasarkan respons imun tubuh.”
Perawat yang berdiri di dekat pintu menyela.
“Pasien 324 juga dinyatakan meninggal pukul 02.13 tadi malam.”
Hiroshi berhenti.
“Sudah dikonfirmasi?”
“Secara klinis, ya. Tapi…” Perawat itu ragu. “Ada aktivitas saraf sisa.”
“Seberapa signifikan?”
“Cukup untuk membuat teknisi bingung.”
Hiroshi menarik napas pendek.
“Pantau terus. Jangan ubah data.”
Di sudut ruangan, dua peneliti lain berbisik.
“Angka kematian naik lagi.”
“Dan pusat bilang jangan bocorkan detail ke publik.”
“Kalau begini terus, rumah sakit lain akan kolaps.”
“Kita bahkan tidak tahu apa pemicunya.”
Hiroshi mendengar semuanya.
Tapi ia tetap fokus pada layar.
Di balik semua kekacauan itu, ada pola yang tidak kasat mata.
Di luar ruang lab, lorong utama rumah sakit penuh tenaga medis berlarian.
Seorang perawat hampir bertabrakan dengan petugas keamanan.
“Maaf! ICU penuh lagi.”
“Tambahkan ruang isolasi darurat.”
“Kita sudah pakai tiga lantai!”
Di pintu masuk utama, seorang polisi menahan keluarga pasien.
“Kami hanya ingin melihat ayah kami!”
“Maaf, tidak ada kunjungan. Instruksi pusat.”
“Setidaknya beri kami kabar yang jelas!”
“Semua informasi akan diumumkan resmi.”
Suasana tegang.
Ketakutan belum meledak menjadi kerusuhan, tapi cukup untuk menciptakan retakan.
Di ruang rapat kecil, seorang administrator berbicara dengan nada rendah.
“Anggaran kita terkuras.”
“Pemerintah menjanjikan tambahan dana.”
“Dana tidak menghentikan virus.”
Di bagian terdalam Level 3, ada satu lorong yang jarang dilewati.
Tidak ada papan nama mencolok.
Hanya tanda kecil: Akses Terbatas – Otorisasi Khusus.
Di balik pintu itu, terdapat ruangan terpisah.
Tidak tercatat di daftar umum staf.
Hanya beberapa orang yang boleh masuk.
Mereka bukan dokter biasa.
Bukan perawat.
Dan bukan sekadar peneliti.
Beberapa di antaranya bekerja sama dengan jaringan yang tidak terlihat.
Di ruangan itu, diskusi berlangsung tanpa emosi.
“Distribusi batch ketiga?”
“Sudah masuk melalui jalur vaksin uji coba.”
“Reaksi publik?”
“Masih dalam batas terkendali.”
“Zona merah bertambah?”
“Ya. Sesuai proyeksi.”
Di atas meja, beberapa botol cairan tanpa label tersusun rapi.
Tidak ada kode produksi.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada keterangan.
Hanya cairan bening.
Dan beberapa jarum suntik khusus yang tampak berbeda dari standar medis biasa.
Hiroshi tidak mengetahui keberadaan ruangan itu.
Secara administratif, ia memiliki akses tinggi.
Namun bukan akses tertinggi.
Hari itu, tekanan pekerjaan membuatnya menunda istirahat.
Sampel demi sampel datang.
Data demi data masuk.
Menjelang malam, tubuhnya mulai memberi sinyal.
Ia berdiri dari kursinya.
“Toilet di mana yang paling dekat?” tanyanya pada teknisi.
“Yang di ujung lorong lab, Prof. .”
Ia berjalan ke sana.
Pintu bertuliskan “Maintenance”.
“Perbaikan mendadak,” kata petugas kebersihan yang lewat. “Pipa bocor.”
Hiroshi mengangguk.
Ia berbalik, mencari toilet lain.
Lorong yang jarang ia lewati tampak lebih sepi.
Lampunya menyala redup.
Saat ia berbelok, kakinya menyenggol sesuatu.
Sebuah tempat sampah medis besar.
Tutupnya terbuka sedikit.
Beberapa jarum suntik jatuh ke lantai.
Hiroshi refleks menunduk.
Ia mengambil satu.
Jarum itu bukan model standar yang digunakan di labnya.
Lebih tebal.
Lebih panjang.
Dan memiliki mekanisme pengunci berbeda.
Di dalam tempat sampah, ada beberapa botol kecil.
Tanpa label.
Tanpa kode.
Itu tidak sesuai protokol.
Semua bahan medis harus memiliki identifikasi jelas.
Hiroshi berdiri perlahan.
Matanya beralih ke pintu di depannya.
Tidak ada papan nama jelas.
Hanya akses kartu khusus.
Dari dalam, terdengar suara samar.
Seperti diskusi.
Ia tidak bisa menangkap jelas, tapi nada percakapannya serius.
“—jangan sampai staf umum tahu.”
“Distribusi harus terlihat legal.”
“Kematian klinis bukan akhir.”
Hiroshi merasakan sesuatu yang tidak beres.
Apakah ada ruangan observasi lain?
Mengapa ia tidak pernah diberi tahu?
Ia memeriksa ulang kartu identitasnya.
Akses Level 3.
Namun pintu itu tidak merespons saat ia mendekat.
Ada lapisan otorisasi tambahan.
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Hiroshi segera mengembalikan jarum ke tempat sampah.
Ia berdiri seperti baru saja lewat.
Seorang pria berjas putih keluar dari pintu itu.
Tatapannya tajam.
“Profesor Amatsuki.”
Hiroshi menahan ekspresi.
“Saya tidak tahu ada fasilitas tambahan di sini.”
“Area ini untuk penelitian khusus. Bukan ranah Anda.”
“Naskah protokol tidak mencantumkannya.”
“Tidak semua protokol dibuka untuk semua orang.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu siap.
Hiroshi hanya mengangguk kecil.
“Saya hanya mencari toilet.”
Pria itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Gunakan lantai dua prof.”
Pintu kembali tertutup.
Hiroshi berjalan menjauh.
Namun pikirannya tidak.
Botol tanpa label.
Jarum berbeda.
Percakapan yang terputus.
Sesuatu sedang dirancang.
Dan bukan oleh timnya.
Di luar rumah sakit, kondisi makin tegang.
Polisi memperketat penjagaan.
Seorang petugas berkata pada rekannya:
“Kalau angka naik lagi besok, massa bisa mulai berkumpul.”
“Perintahnya jelas. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin.”
“Dan kalau keluarga memaksa?”
“Kita tahan.”
Seorang perawat yang keluar sebentar untuk menghirup udara segar berkata pada temannya:
“Aku merasa seperti bukan hanya virus yang kita hadapi.”
“Jangan mulai teori konspirasi.”
“Aku tidak bilang itu. Tapi… ada yang tidak dijelaskan.”
Ambulans lain tiba.
Petugas medis berteriak:
“Bawa ke isolasi! Cepat!”
Suara tangisan terdengar di kejauhan.
Sementara itu.
Di Kediaman Keluarga Amatsuki.
Douma duduk di depan meja komputer cahayanya.
Layar menampilkan peta kota dengan zona merah yang ditandai berdasarkan siaran resmi.
Ia memperbesar satu titik.
Secara statistik, zona itu memang memiliki angka kematian tinggi.
Namun sistem surgawi dalam dirinya melihat sesuatu yang berbeda.
Ia menutup mata.
Lapisan realitas yang tak terlihat terbuka.
Beberapa titik energi tidak padam seperti seharusnya.
Mereka terikat.
Seperti ditahan oleh sesuatu.
“Baiklah,” gumamnya pelan.
“Sistem. Bawa aku ke lokasi yang tidak wajar ini.”
Udara di sekitarnya bergetar tipis.
Layar komputer memantulkan cahaya aneh.
Koordinat terkunci.
Salah satu titik berada…
Dekat Rumah Sakit Pusat Argena.
Energi di sana tidak alami.
Tidak sepenuhnya hidup.
Tidak sepenuhnya mati.
Douma berdiri.
Cahaya tipis membungkus tubuhnya.
Ia tidak membuka pintu.
Tidak melangkah.
Ruang di sekitarnya melipat.
Seperti tersedot ke dalam satu titik.
Dalam satu detik, kursi di depan meja kosong.
Komputer cahaya masih menyala.
Menampilkan koordinat yang berpendar pelan.
Di lorong terbatas Level 3, lampu berkedip sesaat.
Pria berjas putih yang tadi berbicara dengan Hiroshi menoleh.
“Apa ada gangguan listrik?”
Seorang staf menjawab, “Tidak ada laporan.”
Monitor di ruangan tersembunyi menunjukkan grafik aneh.
Satu titik energi melonjak tiba-tiba.
Tidak berasal dari pasien mana pun.
“Ini apa, kenapa error?”
“Bug Tidak terdaftar.”
Ruangan menjadi hening.
Dan di antara dinding beton steril itu, sesuatu telah hadir.
Situasi berhenti disana.