Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Bab 31 Selanjutnya Ku Serahkan Kepada Nasib
Denzel menatap tulisan "Bibit Ginseng" di depan pintu toko, dia seketika merasa senang.
Jika ruangan itu cocok untuk menanam tanaman yang berharga satuan tinggi, bukankah ginseng adalah pilihan paling cocok!
Meskipun masa pertumbuhan ginseng lebih lama, harga sebuah ginseng yang berkualitas dapat terjual seharga ratusan juta hingga milyaran rupiah.
Jika dia menanam ginseng di ruangannya,
kualitas ginsengnya tidak akan buruk, itu sudah terbukti dari stroberi yang ditanam di
ruangan tersebut.
Selanjutnya Ku Serahkan...
Lagipula dia tidak buru-buru, dia
bisa menjual stroberinya ketika siang.
Setelah berpikir sejenak, Denzel segera memutar balik mobilnya dan menuju toko yang bernama Aneka Grosir Bibit.
Dia bisa masuk ke dalam untuk bertanya-tanya dan memahaminya, selagi ada penjual Bibit Ginseng ini.
Dengan cepat, Denzel menyetir ke pintu masuk toko dan menghentikan mobilnya di sana, dia pun masuk ke dalam toko.
Begitu memasuki toko, wanita yang sedang sibuk di sudut toko segera bangkit karena mendengar suara, dia berjalan ke arah Denzel dan dengan tersenyum dia menyapa, "Anak muda, apa yang kamu butuhkan?"
Mata Denzel melihat berbagai bibit bunga dan rumput yang terletak di seketika mendengar wanita itu
Menyapanya, Denzel berkata, "Halo, aku ingin lihat bibit ginseng toko ini."
Setelah wanita itu mendengar perkataan Denzel, dia merasa sedikit aneh, alisnya berkerut, "Ada sih ada, sini aku tunjukin."
"Baik."
Setelah mengatakannya, wanita itu membawa Denzel ke sudut yang dia tempati tadi, dia menunjuk-nunjuk kotak busa di depannya, "Itu dia."
Denzel melihat ke arah jari wanita itu, dia melihat kotak busa yang tidak begitu besar dengan tumpukan bibit ginseng yang berukuran 5 hingga 6 cm.
Yang membuat Denzel heran adalah, bibit-bibit ini terlihat kurang bagus, daunnya sudah layu dan kuning, batangnya lembek dan rapuh, sama sekali tidak segar.
Denzel perlahan mengerutkan keningnya, dia berbalik dan menatap wanita di sampingnya, "Kak, bibit ginseng kalian nggak gitu segar, ya?"
Wanita itu melihat bibit ginseng di kotak busa dan sedikit menghela nafas, dia berkata kepada Denzel, "Sejujurnya, ini bibit ginseng dari Gunung Baekdu. Awalnya, aku mau tanam disini, tapi pelanggan yang beli bilang bibit ini agak sulit untuk ditanam, jadi aku putuskan untuk tidak menanamnya."
"Aku juga nggak bohong, kotak ini punya 200 biji bibit. Awalnya, harga impor bibit ini sebesar 4 juta rupiah, kalau kamu mau, aku jual dengan harga 200 ribu, aku anggap jual rugi.
Bibit milik wanita ini sudah lama tidak laku, dia bahkan mau membuangnya tadi.
Sekarang jika pelanggan mau
membelinya dia akan
Menjualnya, setidaknya dia bisa balik modal senilai 200 ribu rupiah.
Denzel berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk memegang bibit ginseng yang telah kering dan kuning ini, setelah berpikir sejenak, Denzel bangkit dan berkata, "Baiklah, aku beli, ya."
Bibit ini memang kelihatan akan segera mati. Namun, jika Denzel membelinya dan meletaknya di ruangan itu, mungkin bisa saja tertolong dengan Mata Air Ajaib.
Bahkan jika dari 200 bibit hanya tumbuh 20 hingga 30 batang ginseng, dia juga bisa memperoleh keuntungan yang besar, ini sama sekali tidak merugikan.
Melihat Denzel langsung setuju, wanita itu segera mengangguk dan tersenyum, "Baik, baik. aku ambilkan kantong plastik dulu, ya."
Setelah mengatakannya, dia dengan cepat mengambil kantong plastik yang berada di kasir untuk mengisi 200 biji bibit itu ke dalamnya dan bangkit untuk memberikan kantong itu kepada Denzel.
Denzel mengeluarkan 200 ribu rupiah dari 400 ribu rupiah yang tersisa dan memberikannya kepada wanita itu, dia pun mengulurkan tangan untuk mengambil kantong dari wanita itu.
"Baiklah, kamu bisa datang ke toko ini untuk melihat-lihat jika ada yang dibutuhkan kedepannya."
"Oke."
Denzel mengangguk dan berpamit dengan wanita itu, dia berbalik dan keluar dari toko.
Setelah keluar. Denzel segera menyetir ke sebuah daerah terpencil dan memasuki ruangannya dalam sekilas.
Ketika tiba di ruangan, Denzel mengeluarkan bibit ginseng di sakunya dan meletakkannya di tanah, dia lalu mengambil sebagian Mata Air Ajaib dan menuangkannya ke akar bibit ginseng. Setelah itu, Denzel kembali keluar dari ruangan dan balik ke posisi kursi pengemudi.
Bagaimanapun, dia memarkirkan mobil di wilayah yang akan dilewati mobil sesekali. Mobil ini bisa saja menghalangi mobil-mobil yang datang dari belakang, dia tidak bisa tinggal di ruang itu terlalu lama.
Yang penting Denzel sudah menyiramkan Mata Air Ajaib, bibit itu bisa tumbuh atau tidak, hanya bisa diserahkan kepada takdir.
Setelah memberesi masalah bibit ginseng, Denzel kembali menyetir menuju Pasar Asosiasi Petani.
ketika Denzel tiba desa asosiasi petani
Petani, dia memasuki toko alat pertanian dan menanyakan harga keranjang buah, dia menyadari bahwa harganya jauh lebih tinggi dari yang dia bayangkan.
Walaupun dia membawa 400 ribu rupiah ke sini, dia juga tidak bisa membeli keranjang yang dapat mengisi semua stroberi di ruangan.
Pada akhirnya, dia berkeliling di beberapa toko dan menghabiskan 184 ribu rupiah untuk membeli sepotong karpet rumput palsu, dia juga membeli kantong plastik dengan uang yang tersisa.
Dalam satu hari, Denzel sudah menghabiskan seluruh uang di sakunya.
Setelah selesai berbelanja, dia memarkirkan mobilnya di daerah terpencil dan membuka pintu belakang kompartemen mobil, dia pun masuk ke dalam kompartemen itu.
Setelah menutup kompartemen itu,
Denzel dengan cepat memasuki ruangan dan mulai memetik stroberi.
Keranjang kemarin yang digunakan Denzel untuk menjual stroberi, masih tertinggal di ruang itu. Denzel mengambil keranjang tersebut dan berkeliling, dalam satu setengah jam, dia memetik habis semua stroberi di ruangan dan meletaknya di karpet rumput tadi.
Jumlah stroberi kali ini jauh lebih banyak dibanding kemarin.
Stroberi itu segera memenuhi setengah dari kapasitas kompartemen.
Denzel menyelesaikan pemetikan stroberi dan mengembalikan keranjang itu ke ruangan. Setelah itu, dia keluar dari kompartemen mobil untuk membersihkan tanah di tubuhnya. Dia menutup pintu kompartemen mobil dan kembali ko posisi pengemudi untuk
Menyetir ke pasar sayur di gerbang timur Central Plaza.
Melihat stroberi itu mengisi setengah kapasitas mobil, Denzel sengaja menyetir lebih lambat.
Jam satu siang.
Denzel sampai di tepi pintu pasar sayur tepat waktu, itu adalah lokasi dia menjual stroberi kemarin.
Saat ini, Denzel bersiap untuk memarkirkan mobilnya, sudah terdapat dua tiga orang yang berdiri di sana.
Tanpa banyak berpikir, dia parkir di tempat lama.
Pada saat ini, kedua wanita yang mengenakan seragam pabrik berwarna biru tua sedang mengobrol dengan satu sama lain, mereka dengan cepat mundur dua langkah ketika memerhatikan mobil yang berhenti di samping mereka.
Salah satu wanita dengan postur tinggi kurus menatap mobil yang berhenti dengan raut yang serius, dia mengerutkan keningnya dan berkata, "Kenapa dia parkir di sini, nanti anak penjual stroberi itu mau parkir di mana?"
Wanita dengan postur lebih kecil juga lanjut berkata, "Mau gimana lagi, kios di sini bukan kios menetap, takutnya, adik kecil itu hanya bisa parkir di ... Loh? Ketua, apa kamu mencium sesuatu? Seperti bau stroberi!"
Setelah wanita itu mengatakannya, dia mengarahkan hidungnya ke kompartemen mobil, "Iya, ini benar-benar bau stroberi!"
Mendengar perkataan itu, wanita tinggi kurus itu juga mencondongkan hidungnya untuk menyium, "Eh, benar juga..."
Setelah wanita itu berkata, tatapan
serius yang dia tujukan ke truk itu
Menjadi jauh lebih lembut, "Mobil ini punya adik kecil penjual stroberi, ya?"
Tante-tante di sekeliling juga datang kemari begitu menyium bau yang ada di truk.
"Ayo, Ayo, bau stroberi ini pasti punya adik kecil yang jual stroberi itu."
"Akhirnya dia datang juga, dia bahkan ganti mobil hari ini!"
"Bukannya kita memintanya untuk menjual lebih banyak stroberi, van nggak bisa muat banyak, hari ini aku mau beli sepuluh!"