Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upah Tak Layak
Beberapa minggu kemudian...
"Nadira!"
Nadira baru saja kembali ke kamar setelah mengurus Gina. Namun, suara Bima sudah terdengar memanggil dari luar.
"Mau apalagi dia? Apa nggak bisa biarin aku istirahat sebentar saja!" gerutunya.
Bima membuka pintu kamar dan berjalan mendekati Nadira. "Nih..." Pria itu menyerahkan sebuah amplop coklat.
Mata Nadira membulat sempurna, bisa menebak isi amplop tersebut. Namun, dia berusaha tidak memperlihatkannya.
"Apa ini?" tanyanya, pura-pura tak tahu.
"Upahmu," jawab Bima datar.
Nadira mengambil amplop itu dengan kasar lalu membukanya. "Apa ini, Mas? Kenapa cuma segini?!" protes Nadira saat melihat ke dalam dan hanya menemukan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Aku kerja di sini udah satu bulan, masa kamu cuma bayar segini. Semurah itu tenagaku!" Nadira menatap Bima dengan tatapan tajam dan rahang mengeras.
"Itu upah yang paling pantas untuk kamu. Tiap hari, bangun kesiangan. Kerja lelet, dan nggak pernah tepat waktu ngurus Mama. Masih untung aku kasih upah."
"Lagian aku juga kasih kamu makan dan mencukupi kebutuhan kamu di rumah ini. Itu sudah cukuplah buat kamu," kata Bima sinis.
"Mas, aku ini manusia bukan mesin. Aku tidur larut malam, dan harus bangun pagi-pagi buta? Kamu sudah gila, ya? Aku juga butuh istirahat yang cukup."
"Aku bahkan nggak punya waktu untuk sekedar ngisi perut karena nenek kamu terus nyuruh aku ini-itu!" keluh Nadira menggebu-gebu.
"Alah, alasan. Memang kamu pemalas. Cocok sama suami kamu yang miskin itu!" hardik Bima tajam.
Nadira tak bisa menahan diri. Ia merangsek maju dan mencengkram kerah kemeja Bima. "Aku emang benci pada Mas Arga. Tapi aku lebih membencimu sekarang ini, Mas!"
"Terus kamu mau apa? Bisa apa kamu tanpa aku, hah?! Kalo saat ini kamu masih berada di sini, itu berkat aku."
"Siap-siap saja. Sebentar lagi, aku akan menendang kamu dari rumah ini!" Bima melepaskan cengkraman Nadira dengan kasar lalu berbalik pergi.
"Mas Bima, berikan uangku!" teriak Nadira geram.
"Sialan. Demi mendapatkan uang ini aku sampe hari nahan diri meskipun capek hati dan fisik. Tapi dia, cima bayar aku segini."
"Uang ini... uang dari Mas Arga bahkan lebih banyak dari ini, meskipun cuma numpang lewat doang," dumel Nadira.
Ia menjatuhkan tubuh di tepi ranjang dan menghela napas berat. "Kalo aku balik ke kampung sekarang dengan kondisi kayak gini, aku cuma malu-maluin diri sendiri."
"Aku ninggalin Mas Arga, hanya untuk jadi babu dan dibayar segini. Apa kata dia nanti? Dia pasti menertawakan aku."
Nadira terus menggerutu, ia begitu geram karena Bima semakin seenaknya. Namun, bertahan di sana juga dia bisa mati berdiri karena pekerjaan yang tiada habisnya.
---
Di tempat lain...
"Andini!"
Arga berlari dengan cepat. Kaki yang berbalut sepatu boot menciptakan suara yang cukup nyaring.
Andini yang baru bangun tidur keluar dari rumah sembari mengucek matanya. "Ayah, ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanyanya.
Arga berlutut di hadapan Andini sambil tersenyum lebar. "Ayah punya hadiah buat kamu," kata Arga antusias.
"Hadiah? Ayah beliin Andini boneka baru?" tanya Andini sambil memiringkan kepala dan memasang wajah polos.
Arga menggeleng cepat. "Bukan. Coba tebak!" Ia menaik-turunkan alis.
"Ayah, jangan main tebak-tebakan. Kepala Andini pusing," ujar Andini sembari memegangi kepalanya.
"Ish, kamu ini."
Arga mengangkat tubuh putrinya ke dalam gendongan, lalu membawanya pergi ke pinggir jalan.
"Itu, lihat! Ayah belikan kamu sepeda," kata Arga, menunjuk ke arah sepeda berwarna pink, namun tatapannya tertuju pada wajah putrinya.
"Sepeda, Ayah? Buat Andini?!" seru gadis itu.
Matanya berbinar. Ia melompat turun dari gendongan ayahnya dan berlari ke arah sepeda tersebut.
"Asik! Aku punya sepeda baru!"
Andini dengan girang langsung menaiki sepedanya.
"Suka nggak?" tanya Arga menghampiri, dan berjongkok di samping sepeda itu.
Andini mengangguk singkat. "Suka banget, Ayah. Apa uang Ayah sekarang udah banyak?" tanya gadis itu, sambil mengayuh pedal sepedanya ke belakang.
"Nggak banyak, tapi cukup buat beliin anak ayah sepeda. Nanti, kamu bisa main bareng sama Sari dan Sakila," jawab Arga sambil mengusap rambut panjang putrinya.
Beberapa hari lalu, saat ia pulang kerja, Arga melihat Andini duduk di warung sambil memeluk lutut, mengamati teman-temannya bermain sepeda. Meskipun tidak meminta, namun Arga tahu putrinya menginginkannya.
"Tapi, Ayah nggak ngutang, kan?" tanya Andini lagi, menatap wajah ayahnya dengan tatapan memicing curiga.
Arga tertawa kecil. "Nggak, Dini. Ayah beli langsung di pasar tadi. Hadiah buat anak ayah yang pintar dan cantik ini."
"Ayo, kayuh sepedanya. Ayah dorong sampai rumah," ujar Arga.
Tangannya yang kapalan memegang stang sepeda dengan hati-hati. Ia tersenyum senang melihat kegembiraan putrinya.
---
Kembali ke kediaman keluarga Bima...
"Lebih keras, Dira. Kamu lembek banget sih. Pake tenaga dong sedikit!" protes Marsinah.
Malam itu, Nadira diminta datang ke kamar Marsinah hanya untuk memijat kaki wanita tua itu. Tubuhnya yang lelah, membuat tenaga jadi lemah.
"Nek, aku tempel koyo cabe aja, ya?" tawar Nadira.
Kaki Marsinah di atas sofa, sementara dirinya duduk di lantai.
Bahkan, di saat Marsinah belum tahu jika Nadira batal jadi calon mantu keluarga itu saja, dia sudah diperlakukan seperti pembantu, apalagi setelah tahu. Dia mungkin akan disejajarkan dengan budak.
"Nggak, Dira. Koyo cabe itu panas. Nenek nggak kuat," tolak Marsinah mentah-mentah.
Nadira melirik ke arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua orang sudah tidur di kamar masing-masing, hanya dirinya saja yang tidak dibiarkan tidur dengan tenang.
"Kalo aku nggak inget bakal masuk penjara, mungkin udah aku racun semua orang di rumah ini," batin Nadira, mengerahkan semua tenaganya untuk memijat kaki Marsinah.
"Jangan terlalu kuat, Dira. Apa kamu punya dendam pribadi pada Nenek?" tegur Marsinah, menendang pelan tangan Nadira.
Nadira menggeram dalam hati. "Dasar nenek-nenek batu tanah!" makinya dalam hati.
Sebulan kebelakang, dia masih bisa sabar karena akan mendapatkan upah dari rasa lelahnya. Tapi, setelah tahu dia dibayar dengan tidak benar, rasanya ia ingin menghabisi mereka semua jika tidak teringat akan hukum di negaranya.
Ia memperhatikan wajah Marsinah yang mulai memejamkan mata dan nampak menikmati pijatannya. Tatapan Nadira kemudian turun dan terhenti pada kalung emas berukuran besar yang melingkar di leher wanita tua itu.
"Kalo aku ambil satu perhiasannya, apa dia akan sadar, ya?"
Bersambung...