David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.
Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 13) Dua sisi yang berbeda
Pagi datang dengan langkah pelan, menyusup melalui celah-celah jendela kayu rumah Dio yang sederhana. Cahaya matahari mengalir seperti sungai keemasan di lantai keramik yang sudah mulai pudar warnanya.
Di kamarnya yang kini tiada Laila, Dio duduk membungkuk di depan laptop tuanya. Ia menggelutukkan jemarinya di atas tombol keyboard, seolah suara dengungan itu terdengar seperti irama perjuangan.
Di meja kecilnya, secangkir kopi hitam mengepulkan aroma pahit yang menyengat, mengingatkan dia bahwa hidup tak selalu manis.
Jari-jarinya bergerak cepat di atas touchpad. Matanya menyisir setiap kata dengan cermat, mencari-cari lowongan pekerjaan.
Sudah setahun sejak Dio kehilangan pekerjaan terakhirnya, akibat penyakit yang ia derita. Tabungannya menipis. Ia tak ingin terus bergantung pada ibunya yang hanya berjualan gorengan di depan rumah.
Lagipula, bukan cuman soal mencukupi kebutuhan sehari-hari ia bekerja, melainkan demi menabung biaya agar bisa memberangkatkan diri ke Brazil, menemui sang pujaan hati, Laila Cakrawala.
"Tuhan, setidaknya hari ini beri aku satu pintu yang terbuka," bisiknya dalam hati.
Tiba-tiba, ponsel yang tergeletak di samping laptop bergetar. Layar menyala menampilkan nama yang membuat sudut bibirnya terangkat.
Aini.
Teman Laila yang bekerja di sebuah perusahaan elektronik terbesar di Jakarta. Dio segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Aini. Ada apa?" suaranya terdengar tenang.
Di seberang sana, terdengar suara ceria yang seperti membawa cahaya tambahan ke pagi yang sudah terang.
"Kak Dio! Aku punya kabar baik!"
Dio terperangah, "kabar baik?"
"Aku tadi baru saja dari ruang meeting. Di Miu Corp tempat aku bekerja, baru diumumkan pembukaan lowongan baru. Posisi creative content creator, Kak."
Dio terdiam sepersekian detik. Tangannya yang semula menggenggam ponsel kini mengencang.
"Creative content creator?" ulangnya, memastikan ia tidak salah dengar.
"Iya, Kak. Tugasnya bikin konten online untuk promosi produk perusahaan. Fokusnya di media sosial, campaign digital, dan strategi branding. Berdasarkan CV yang kakak kirim beberapa waktu silam, sepertinya kakak jago desain dan nulis. Karena itulah aku langsung kepikiran kakak, ketika pengumuman loker itu telah dibuka."
Dada Dio terasa hangat, seperti disiram cahaya mentari yang lebih terang dari biasanya.
"Benarkah, Aini?" suaranya hampir bergetar.
"Iya, Kak. Dan kebetulan banget, HRD bilang butuh cepat. Ini atas arahan Bu CEO langsung. Aku sudah sempat merekomendasikan nama kakak. Kayanya sebentar lagi, akan ada email masuk untuk jadwal interview besok."
Dio spontan berdiri dari kursinya. Kursi kayu itu bergeser sedikit, menimbulkan bunyi berderit.
"Besok?" tanyanya.
"Iya. Interview tahap awal dulu. Selain itu…" suara Aini merendah sedikit, seolah menyimpan sesuatu yang lebih besar.
"Ada apa lagi?" Dio berjalan mondar-mandir kecil di kamarnya, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kata Bu CEO…," Aini berhenti sejenak, membuat Dio menahan napas, "bagi siapapun karyawan yang keterima nantinya... apabila berhasil meningkatkan penjualan produk perusahaan dalam waktu satu bulan, maka akan dapat kesempatan untuk ke Brazil. Perusahaan cabang di sana sedang tahap akhir pembangunan dan akan segera diresmikan."
Dio seketika membelalakkan mata.
Brazil.
Kata tersebut seperti petir yang menyambar di benaknya. Sebab disanalah Laila istrinya, berada. Negara itu adalah alasan Dio harus mati-matian untuk mengumpulkan uang. Kesempatan ini tidak boleh sampai terlewat!
Dio menutup matanya sejenak. Dalam kegelapan itu, ia membayangkan pantai-pantai luas, gedung-gedung tinggi, dan dirinya berdiri dengan setelan rapi bersama Laila disisinya. Bukan lagi sebagai beban istrinya, melainkan seorang pria karir perwakilan perusahaan sekaligus suami yang gagah berani.
"Baiklah… terima kasih, Aini," ucapnya penuh ketulusan. "Kau benar-benar membawa kabar yang luar biasa pagi ini."
"Iya kak. Jangan lupa cek email ya... Semoga kakak berhasil."
"Siap. Terima kasih sekali lagi, Aini."
"Semangat, Kak."
Panggilan terputus. Ruangan kembali sunyi, hanya suara kipas laptop yang berputar.
Namun kesunyian itu kini berbeda. Ia tidak lagi terasa kosong, melainkan penuh kemungkinan.
Dio beralih menyorot layar laptopnya. Tangannya bergerak cepat membuka email. Benar saja, notifikasi baru masuk. Subjeknya tertulis: Undangan Interview. Creative Content Creator. Miu Corp.
Napasnya tercekat sesaat.
Ia membuka email itu dengan jari yang sedikit gemetar.
"Kami mengundang Saudara Dio Pratama untuk mengikuti sesi wawancara pada…" ia membaca pelan, memastikan setiap kata tertangkap jelas oleh pikirannya.
Besok. Pukul 09.00 WIB.
Ia menutup laptop perlahan, lalu duduk kembali. Pandangannya mengarah ke dinding kamar yang dipenuhi foto dirinya dan Laila.
"Laila, tunggu aku datang. Aku akan menjemputmu pulang..."
Dio bangkit, berjalan menuju cermin kecil yang tergantung di pintu lemari. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya menyimpan bara.
"Karena aku pasti akan ke sana," katanya pada bayangan dirinya.
Di sisi lain, di kediaman keluarga Mendoza yang megah dan menjulang angkuh di tengah kawasan elite kota Sao Paulo, suasana pagi terasa berbeda.
Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantulkan kilau lembut di atas lantai marmer Italia yang berkilat bak cermin. Aroma bunga lili putih yang tersusun rapi di vas kristal memenuhi udara, berpadu dengan sisa aroma tembakau mahal yang mengendap samar.
Di ruang tamu utama yang luas dan berornamen klasik, David Mendoza duduk dengan gagah di atas sofa kulit hitam. Tubuhnya bersandar santai, namun aura yang memancar darinya tak pernah benar-benar rileks.
Kakinya bersilang rapi, satu tangan terlentang di sandaran sofa, sementara tangan yang lain mengisap rokok dengan gerakan tenang dan terukur. Setiap hembusan asap tampak seperti kabut tipis yang menyelubungi wajahnya yang tegas, berahang kokoh, alis tebal, dan sorot mata sulit ditebak.
Ia mengembuskan asap terakhir, lalu memadamkan rokoknya di asbak kristal.
"Di mana Laila?" tanyanya datar kepada Leo, suaranya berat namun berwibawa. "Cepat panggil dia. Sudah waktunya berangkat."
Leo segera membungkuk hormat. "Baik, Tuan."
Langkah Leo pun dengan mantap menyusuri lorong panjang menuju kamar Laila.
Di kamar lantai dua empunya Laila, wanita itu masih duduk di depan meja riasnya. Cahaya pagi jatuh tepat di wajahnya, membuat kulitnya tampak bercahaya alami.
Mia berdiri di belakangnya, sambil menyisir rambut panjang Laila yang hitam legam. Rambut itu diikat setengah, dihiasi pita hitam-putih yang sederhana namun anggun. Ujung-ujung rambut Laila jatuh lembut menyentuh punggung gaun yang dikenakannya.
Gaun itu indah, berwarna gading dengan detail renda halus di bagian dada dan lengan. Potongannya elegan, mengikuti lekuk tubuh Laila tanpa berlebihan, memancarkan pesona seorang wanita dewasa yang anggun. Laila tampak seperti lukisan hidup, bak dewi yang turun dari langit. Kecantikannya sungguh memabukkan.
Ketukan halus terdengar di pintu.
Tok… tok…
Leo berdiri di baliknya.
"Nyonya," ucapnya sopan setelah pintu dibuka sedikit, "Tuan sudah menunggu di bawah."
Laila menoleh perlahan. Wajahnya yang cantik, cerah, dan mulus seolah memantulkan cahaya dari balik kecantikannya sendiri. Matanya yang besar dan teduh menyiratkan sesuatu. Bukan sekadar ketenangan, tetapi juga kegelisahan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Baik. Sebentar lagi aku akan keluar," jawabnya lembut.
Leo membungkuk hormat tanpa sepatah kata pun lagi, lalu berlalu pergi.
Setelah pintu kembali tertutup, suasana kamar terasa lebih hening. Laila menghela napas panjang, seakan beban tak kasatmata menekan dadanya.
Mia menghentikan sisirannya dan menatap pantulan wajah Laila di cermin.
"Nyonya," katanya hati-hati, "Tuan muda adalah orang yang sangat royal. Apa pun yang akan dia berikan atau belikan untuk anda nanti, tolong diterima saja. Tak peduli anda suka atau tidak. Jadi… saya harap anda tidak menolak kebaikan hatinya."
Laila memandangi dirinya di cermin.
"Lalu, bagaimana jika aku meminta untuk kembali ke pelukan Dio? Apakah dia berkenan?" batinnya dengan raut murung. Senyum pahit, terukir di bibirnya.
Tiada lama, Laila pun membalas pesan Mia, "tentu." jawabnya dengan nada sayu. "Sejak awal kami menikah di atas surat kontrak, aku memang sudah berniat untuk tidak menyinggungnya sedikit pun."
Namun dalam hatinya, suara lain berbicara lirih. "Karena jika aku berkelakuan baik, bisa saja dia dengan mudah melepasku. Siapa tahu dia kasihan, kan? Bukankah begitu?"
Tatapannya melembut, tetapi di sudut matanya tersimpan tekad yang tak terlihat. Laila tidak pernah tahu, bahwa langkah tersebut akan membuatnya semakin terlungkup dalam belenggu David Mendoza.