Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-19
Pagi harinya setelah pak Benedict dan Hajeera meninggalkan rumah untuk melakukan aktivitas mereka masing masing, Bu Selyn ikut menyambar tas miliknya yang sudah ia persiapkan di dalam kamar.
"Bu Imas!!"
"Apakah bekal sarapan yang saya minta untuk Aaron sudah di siapkan?" tanya Bu Selyn pada kepala maid yang tengah berkutat di dapur.
"Sudah nyonya,.."
"Ini silahkan..." ucap Bu Imas seraya memberikan sebuah rantang susun yang berisi bekal makanan untuk putranya.
"Terimakasih..." ucapnya lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah.
"Pak Yusuf..." panggil nya pada sang sopir yang sudah bersiap.
"Silahkan nyonya..."
Mobilpun melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah, dengan kecepatan sedang pak Yusuf mengendarai mobilnya dengan hati hati.
"Jangan melapor pada bapak..." ucap Bu Selyn pada pak Yusuf tanpa melirik ke arahnya.
Sedangkan pak Yusuf hanya mengangguk mengerti padahal tanpa Bu Selyn tahu, pak Benedict sudah mengetahui tindakan yang akan diambil oleh istrinya.
Ibu mana yang bisa meninggalkan putrinya meskipun berada di jalur yang salah, padahal suaminya amat melarang nya untuk mengunjungi Indri saking kesal dan tak habis pikir dengan pola pikir putrinya yang sangat diluar batas.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kepala Bu Selyn penuh dengan tanda tanya, ia bertanya tanya mengapa putrinya sampai menggunakan narkoba sebagai tempat pelarian nya, apakah selama ini dirinya kurang memberikan kasih sayang hingga putrinya pencari pelarian lain?.
Namun saat mencoba ia pikirkan, ia tak kunjung mendapatkan jawaban karena ia selalu berada di samping putrinya sejak dirinya pertama kali di angkat sebagai putri mereka.
Bahkan saat dirinya diluar negri pun ia selalu mengunjunginya hampir tiap bulan dan berada di sana sekitar satu Minggu meninggalkan Hajeera yang masih kecil dan bersekolah di rumah bersama para maid.
"Apa ada yang salah dari cara ku mendidiknya?" tanya Bu Selyn kesuh pada dirinya sendiri.
"Bu sudah sampai..."
Tak terasa mobil sudah berhenti tepat di depan rumah sakit tempat Indri ditangani, ia mendapat pesan jika Indri sudah dipindahkan ke bangsal umum tidak seperti semalam yang berada di ICU.
Ia melangkah keluar dari mobil menenteng rantang dan tas di kedua tangannya, berjalan sendiri menyusuri setiap lorong mencari ruangan yang dikirimkan alamatnya oleh dokter yang menangani putrinya semalam.
Klekkkk
Ia membuka pintu kamar Indri setelah memastikan di depan pintu adalah nama putrinya, pemandangan yang lima tahun silam kini terulang kembali, di mana putranya tengah membantu mengurusi putrinya yang tengah kesakitan.
"Biar mamah yang bersihkan badannya.." ucap Bu Selyn pada sang putra dengan suara lembut, ia menyimpan tas dan rantang makanan yang dibawanya di atas meja dekat sofa penunggu.
Sedangkan Aaron tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua alisnya lalu berlalu melewati siang ibu dan duduk di atas sofa.
"Makanlah, bibi Imas memasak nasi goreng sayur kesukaan mu.." ucap Bu Selyn, seraya mengambil alih aktivitas sang putra tadi, mengelap tubuh sang putri perlahan dengan lembut.
Tanpa memedulikan ibunya yang tengah membersihkan badan Indri, Aaron menyantap sarapan nya dengan lahap karena sedari malam kemarin ia belum sempat makan sedikit pun.
Melihat putranya yang makan dengan lahap Bu Selyn tersenyum simpul, merapihkan kembali baju sang putri lalu beralih berjalan ke dekat putranya.
"Ini salad kesukaan mu..." ucap Bu Selyn membuka tutup rantang yang lain sehingga menampakkan salad buah favorit nya.
"Apa mamah yang buat?" tanya Demian seraya mencoba sedikit salad buah yang langsung terasa segar ke tenggorokan nya saat lidah nya mencicipi rasa yogurt yang sedikit masam.
Bu Selyn mengangguk tanpa berkata, ia tidak ingin mengatakan siapa sebenarnya yang selalu membuat salad buah ini sehingga Aaron ketagihan, mungkin jika Aaron tahu ia tidak akan pernah mau menyentuh salad itu lagi, bahkan meliriknya pun tidak Sudi.
"Tolong maklumi papah mu.." ucap Bu Selyn pada sang putra mengelus tangan kekar putranya berharap agar kekesalan putranya pada sang ayah berkurang.
Demian menarik tangan kekarnya dari genggaman sang ibu seraya berdesis sebal.
"Aku kurang setuju dengan sikap papah yang sedari dulu selalu berat sebelah..." ucap Demian menarik nafasnya perlahan mencoba meredakan emosinya yang kembali memuncak saat membahas sang ayah.
"Maaf, papah melakukan itu semua hanya karena dia juga manusia, mungkin dia lelah dengan sikap Indri yang terus terusan melewati batas hingga bermain dengan narkoba.." ujar Bu Selyn mencoba mengingat kan Aaron, jika ayahnya juga manusia yang memiliki sifat lelah juga.
"Tapi gak harus ninggalin Indri saat dia berjuang juga mah, gimana kalo Indri merasa kalian tidak pernah menyayanginya?" tanya Demian dengan suara melemah.
Bu Selyn tertunduk namun mencoba untuk tetap kuat agar tidak terjadi kesalahpahaman antara suami dan putranya.
"Tapi kamu tahu sendiri apa yang tidak mamah dan papah berikan pada Indri sedari dulu? pendidikan, uang, koneksi, waktu kamu, apakah itu tetap tidak berarti bagi Indri?" tanya Bu Selyn yang sebenarnya cukup bingung dengan kekurangan nya pada Indri di mana.
"Sebelum kejadian 5 tahun yang lalu, Indri tidak pernah terlibat Narkoba, bagaimana jika alasannya adalah karena kejadian 5 tahun lalu kalian lebih mempercayai ucapan jera hingga melupakan kami bertiga.." ucap Demian yang selalu menyimpulkan jika sikap Indri yang memilih Narkoba sebagai pelarian nya adalah karena kejadian 5 tahun silam.
Bu Selyn menghembuskan nafasnya dengan kasar, lagi lagi Aaron selalu mengaitkan sikap Indri yang melewati batas dengan kejadian 5 tahun silam.
"Jika 5 tahun silam kalian mempercayai kami mungkin Indri tidak akan begini..." lagi lagi kata kata itu yang selalu menjadi bahan Aaron melindungi Indri.
"Aaron, kejadian 5 tahun lalu tidak bisa kita buktikan siapa yang salah, tidak ada bukti yang bisa menyalahkan Jera dan tidak ada juga bukti yang bisa menyalahkan Indri, hanya karena kamu percaya Indri pernah mengandung benihmu bukan berarti kamu bisa menyalahkan tindakan kamu saat itu..."
"Saat kamu mempercayai Indri dan mencaci jera habis habisan, padahal kamu hanya mendengar tentang jera dari Indri bukan melihat dengan mata kepala sendiri..."
"Mamah tidak bisa mentolerir sikap kamu yang lebih berat sebelah dibanding papahmu, bagaimana dengan sikapmu semalam? Yang mencaci jera tanpa tahu jika jera mungkin tidak ada di dalam kamar..."
"Kamu memang tidak terlalu dekat dengan jera karena kesibukan mu berkuliah di luar negeri, tapi karena kejadian 5 tahun silam bukan berarti kamu bisa menyalah kan jera sepenuhnya,.."
Bu Selyn berbicara panjang lebar, dan Aaron hanya diam tanpa bisa berkata apa apa, hatinya sedikit tertusuk namun bagaimana pun ia percaya jika Indri mengandung benihnya karena mereka pernah berada dalam ranjang yang sama dalam kondisi bugil karena efek mabuk berat.