Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG DIBALIK LAYAR
Dan Elvario, tanpa ia sadari sendiri, menurunkan volume suaranya saat berbicara dengan Rizal pagi itu. Ia seolah tidak ingin merusak sesuatu yang baru dan berharga yang barusan saja ia miliki: sebuah kedamaian di pagi hari.
Elvario melirik sekilas ke arah sofa ruang tamu. Adrina masih terlelap di sana, napasnya teratur dan halus. Tanpa ekspresi waspada yang sejak kemarin selalu ia pasang seperti perisai, wajah perempuan itu terlihat jauh lebih muda—dan jauh lebih rapuh.
"Rizal," panggil Elvario dengan suara yang diredam namun tetap tegas.
Rizal yang sedang sibuk dengan tabletnya mendongak. "Ya?"
"Pesan sofa bed. Cari yang kualitasnya bagus, letakkan di sudut sana untuk dia istirahat nanti kalau jadwal sedang kosong," ucap Elvario datar, seolah sedang memesan peralatan studio.
Rizal menoleh cepat, alisnya terangkat tinggi hingga hampir menyentuh garis rambutnya. "...Lah? Tiba-tiba?"
"Cari yang tidak berisik saat dibuka," lanjut Elvario, mengabaikan keterkejutan manajernya. "Dan pastikan bahannya tidak keras."
Rizal mendecak kecil, bibirnya menyeringai penuh arti. "Oke, Bos. Tapi jujur ya, gue yang sudah bertahun-tahun sama lo saja nggak pernah dispesialkan sampai dibelikan tempat tidur begini."
Elvario melirik malas, sorot matanya tajam namun tidak meledak. "Karena lo tidak bekerja sambil memikirkan detail jadwal gue sampai ke urusan perut."
"Buset," Rizal menepuk dadanya dramatis. "Perih, Bos. Langsung ke ulu hati."
Elvario tidak tersenyum, namun ketegangan di bahunya tampak sedikit melonggar. Nada suaranya turun satu oktav, menjadi lebih berat. "Dia datang jam tujuh pagi tanpa disuruh. Masak. Menahan capeknya sendiri hanya supaya gue bisa mulai hari dengan benar. Itu bukan sekadar basa-basi asisten yang cari muka."
Rizal terdiam. Ia menoleh kembali ke arah sofa, memandang Adrina dengan tatapan yang lebih hangat. "Iya sih... anak ini memang beda. Dia punya cara sendiri untuk masuk ke ritme lo tanpa bikin lo merasa terganggu."
"Elu sendiri yang bilang dia orang yang bisa dipercaya," sahut Elvario singkat, membalikkan kata-kata Rizal tempo hari.
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Hanya suara sayup-sayup hiruk pikuk kota dari kejauhan yang menembus kaca kedap suara apartemen. Rizal akhirnya mengangguk kecil sambil mulai mengetik sesuatu di ponselnya. "Gue pesankan sekarang. Sore ini harusnya sudah sampai."
Elvario duduk kembali, tangannya bertumpu di atas lutut. Tatapannya kosong, mengarah ke jendela besar yang menampilkan langit Jakarta, namun pikirannya tidak lagi segelisah biasanya. Ada sesuatu yang janggal namun menenangkan dalam kesadaran bahwa ia tidak lagi sendirian menghadapi hari-hari yang panjang.
"Rizal."
"Hm?"
"Pastikan hari ini tidak ada staf atau orang produksi yang berani mengganggu dia secara berlebihan. Jangan biarkan mereka melimpahkan semua pekerjaan kasar padanya," pesan Elvario sebelum beranjak.
Rizal tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung pemahaman mendalam. "Siap. 'Pahlawan Studio' kita harus dijaga baik-baik."
Elvario hanya mendengus kecil menanggapi julukan itu, lalu melangkah masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Di ruang tamu, Adrina masih tertidur pulas tanpa menyadari satu hal: untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ada seseorang yang secara sadar sedang membuatkan ruang agar ia bisa bertahan. Seseorang yang biasanya hanya peduli pada kesempurnaan layar, kini mulai memperhatikan kenyamanan di balik layar.
Dan Elvario Mahendra, tanpa pernah menyebutkan alasannya secara lisan, mulai memastikan bahwa asisten yang satu ini tidak akan punya alasan untuk pergi.
Adrina terbangun dengan gerakan cepat, sebuah refleks yang terlatih oleh tahun-tahun penuh kewaspadaan. Ia langsung duduk tegak di sofa, matanya masih sedikit buram karena sisa kantuk, namun mesin di kepalanya sudah menderu bekerja.
"Mas Elvario," ucapnya tanpa basa-basi, suaranya serak namun jernih. "Mas lebih suka kopi atau teh untuk menemani sarapan? Atau susu? Tolong beri tahu saya apa yang Mas suka."
Elvario yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi menghentikan langkahnya. Ia menatap Adrina sejenak, seolah baru saja diingatkan oleh alarm manusia bahwa waktu benar-benar sedang berjalan. Ada jeda sesaat sebelum ia menjawab.
"Kopi," jawabnya singkat. "Hitam. Tanpa gula."
Adrina langsung mengangguk patuh. "Baik."