Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Di Balik Kehangatan
Pintu kamar tertutup perlahan. Anton dan dua anak buahnya keluar dengan langkah tenang, menyusuri koridor panjang tanpa sepatah kata pun. Setelah yakin mereka sudah cukup jauh, Anton berhenti, lalu menoleh sedikit ke samping.
"Awasi gerak-geriknya," bisiknya dengan suara rendah namun tegas. "Laporkan apapun yang mencurigakan—terutama tentang latar belakangnya."
"Siap, Bos!" jawab keduanya serempak, dengan sikap hormat yang tak berlebihan.
Setelah itu, Anton berjalan sendiri menuju lantai lain—tempat istrinya dan Melinda berada. Di hadapan keluarga, ia bukanlah Anton si bos dengan aura menggentarkan, melainkan seorang suami dan ayah yang penuh perhatian. Namun di balik senyum hangat dan kata-kata terima kasih tadi, ada sekelumit kecurigaan yang mengendap sejak ia pertama kali masuk ke kamar Gerard. Kecurigaan yang lahir dari pengalaman dan naluri bertahan hidup di dunia yang tak selalu ramah.
Aku harus tahu siapa dia sebenarnya, batin Anton sambil melangkah.
...*•*•*...
Di dalam kamar, Gerard sama sekali tak kunjung terlelap. Pikirannya masih berputar pada tawaran Anton tadi—yang ia tolak dengan halus karena merasa tak butuh apa-apa. Tapi Anton bersikeras, akhirnya meninggalkan kartu namanya sebelum pergi.
Kini, di antara jari-jari Gerard, tergenggam sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas sederhana:
Anton Kusuma, CEO—Kusuma Digital Group
Sebuah perusahaan teknologi global yang bahkan Gerard pernah dengar namanya—bergerak di bidang AI, fintech, dan infrastruktur digital. Informasi itu membuatnya sedikit terpana. Selama ini hidupnya berjalan biasa saja: bekerja, merawat ibu, menghabiskan hari-hari yang itu-itu juga. Bertemu dengan orang sekelas Anton—apalagi karena peristiwa penculikan—terasa seperti alur cerita yang terlalu dipaksakan.
Orang penting tapi anaknya dibiarkan keluar tanpa pengawal? Ada apa sebenarnya di balik ini? pikir Gerard, tak sepenuhnya paham dengan dinamika keluarga seperti mereka.
Namun, karena ia sudah menolak segala bentuk balas budi—dengan alasan ia hanya membantu, bukan untuk dibayar—rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sekarang, yang harus dilakukannya hanyalah beristirahat, memulihkan diri sepenuhnya, seperti nasihat dokter. Tapi entah mengapa, kartu nama hitam itu tetap terasa berat di genggamannya.
...*•*•*...
Empat hari berlalu dalam rutinitas yang monoton — pemeriksaan, makan, istirahat, dan sesekali kabur ke taman rumah sakit. Tepat di sore hari, di bawah pohon rindang dengan tangan memegangi catatan kecil, Gerard duduk sendiri menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan.
Lalu seseorang datang.
Ia adalah wanita cantik dengan tubuh tinggi, penampilan sederhana namun anggun. Rambutnya tersampir rapi, dan senyum manis yang terkembang langsung tertuju padanya. Tubuh Gerard yang tadinya santai seketika menegang, sebelum pelan-pelan ia balas dengan senyum kecil.
“Hai, Melin…” sapanya, tangannya terangkat sedikit melambai.
Melinda membalas lambaian itu, lalu berhenti tepat di samping kursi roda Gerard. Ia sedikit mencondongkan tubuh, memperhatikan catatan kecil di tangan Gerard sebelum kembali menatapnya. “Aku cari kamu ke kamar, kata perawat kamu di sini.” Suaranya lembut, sedikit bercanda. “Kenapa nggak betah di kamar sih?”
Tawa kecil mengudara. Gerard mengangkat bahu ringan. “Bosan. Lagian aku udah baikan, cuma belum boleh gerak bebas katanya masih lemah.” Ia menutup catatannya perlahan.
Sudah empat hari ini Gerard sadar, dan selama masa pemulihan itu, ia mulai mengenal Melinda. Awalnya gadis itu hanya datang untuk mengucapkan terima kasih—sopan, agak canggung, bahkan sempat menunduk lama saat pertama kali bertemu. Tapi setelah tahu bahwa Gerard hampir tak pernah dijenguk siapa pun, ia mulai datang setiap hari.
Memotong buah, menyuapi makanan, mengantarnya keluar kamar, bahkan sekadar duduk diam di samping ranjang. Semua dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa banyak tanya. Dan Gerard—yang tak pandai menolak kebaikan—perlahan mulai terbiasa.
Termasuk saat ini. Duduk bersebelahan di bawah pohon yang sama, di sore yang teduh.
Melinda mengangkat tangannya, mengambil sehelai daun kering yang terselip di rambut Gerard. Gerakannya begitu alami, begitu cepat, bahkan Gerard tak sempat bereaksi. Ia hanya membeku sesaat dengan raut terkejut, lalu melunak menjadi senyuman.
“Aku kira tadi serangga,” gumamnya.
Melinda terkekeh pelan. “Cuma daun.” Jawabnya ringan, lalu melempar daun itu ke sembarang arah. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, ia bangkit dan berjalan ke belakang kursi roda.
“Ah… jangan, Melin. Aku baik-baik aja di sini,” desah Gerard pasrah.
Tapi tangannya sudah sigap memegang pegangan kursi. “Nggak boleh. Kamu harus istirahat. Di sini terlalu bising, dan aku khawatir kalau kamu kenapa-kenapa sendirian.”
Gerard hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya didorong masuk ke lorong rumah sakit. Andai Sistem bisa memulihkanku sepenuhnya seperti dulu… batinnya. Tapi ia sudah bernegosiasi panjang dengan Sistem sebelumnya, dan jawabannya selalu sama:
[Tuan. Saya hanya bisa muncul saat pintu alam bawah sadar Anda terbuka—dan itu biasanya terjadi ketika Anda panik di dunia nyata.]
[Tapi sekarang Anda sedang koma. Jadi bagaimana mungkin pintu itu terbuka?]
Meski begitu, entah bagaimana, Sistem tetap membantunya memulihkan luka-luka berat. Namun pemulihan energi tak semudah itu. Masih ada sisa-sisa kelelahan yang tak bisa dijelaskan secara medis. Dan di saat seperti ini, kehadiran Melinda adalah sesuatu yang patut disyukuri.
"Kenapa kamu baik banget sih sama aku?" tanya Gerard saat lift perlahan naik. Hanya mereka berdua di dalam ruang sempit itu.
Melinda mengangkat alis, lalu tersenyum lembut. "Hm... karena kamu juga baik sama aku. Ini balas budi—atau anggap saja perhatian teman?"
Teman. Kata itu terasa hangat di dada Gerard. Awalnya ia khawatir, takut kedekatan mereka justru membahayakan Melinda lagi. Tapi kini, di setiap sudut rumah sakit, selalu ada beberapa pria berbadan tegap yang mengawasi dari kejauhan.
Meski Melinda sendiri tampak tak suka. "Mereka ganggu banget, sih!" bisiknya kesal suatu kali, sambil melirik ke arah pengawal yang berdiri kaku di ujung koridor. Gerard hanya tertawa kecil—melihat Melinda cemberut seperti itu ternyata… lucu.
Dengan dorongan lembut dari Melinda, kursi roda meluncur pelan. Tak ada obrolan yang terjadi di sepanjang lorong. Namun udara di antara mereka terasa hangat, akrab. Tanpa sadar, Melinda bersenandung kecil—suaranya lembut, mengalun seperti angin sore. Gerard memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam ketenangan itu.
Sesampainya di depan kamar, dua pria berpakaian rapi langsung membungkuk hormat. Pemandangan itu kini terasa biasa bagi Gerard, rutinitas yang menemani setiap kali Melinda menjenguknya. Namun sikap Melinda tetap sama: dingin, acuh, tak sedikit pun balas senyum pada mereka.
"Hati-hati…" ucapnya lembut saat membantu Gerard berpindah dari kursi ke ranjang. Tangannya hati-hati menopang lengan Gerard, matanya fokus memastikan ia tak terjatuh.
Setelah tubuh Gerard terbaring sempurna, ia tersenyum tipis. "Makasih."
Melinda hanya mengangguk kecil. Lalu perlahan berbalik—dan di sudut wajahnya, Gerard bisa melihat semburat merah samar di pipi. Tenangkan dirimu, Melinda...