Buat yang gak suka gerah, harap melipir!
Bukan bacaan untuk anak yang belum cukup umur.
Ketika Aishe didorong ke laut oleh Farhan tunangan tercintanya, semua rasa cinta berubah menjadi tekad untuk membunuhnya.
Aishe tidak pernah berpikir bahwa Farhan hanya mencintai uangnya, dan tega berselingkuh bahkan mendorongnya ke laut.
Ketika ombak menelan tubuh Aishe, dirinya berpikir akan mati, namun keberuntungan berpihak padanya. Aishe terdampar di sebuah pulau kosong selama 59 hari hingga suatu hari dia diselamatkan oleh Diego, seorang pengusaha yang tampan namun lumpuh.
Dengan kekuatan dan kekayaan Diego, Aishe memiliki identitas baru dan wajah baru, dia bahkan menjadi sekretaris pribadi Diego. Diego, pria yang kaya dan berkuasalah yang dapat membantunya membalas dendam pada Farhan.
Setelah balas dendam selesai, senyuman menyeramkan muncul di wajah Diego, yang membuat jantung Aishe berdegup kencang menunggu kalimat selanjutnya.
"Sekarang giliranmu untuk membalas budi padaku."
Aishe menatap pria yang mendekat di depannya, dalam hati dia berkata, "Lolos dari mulut buaya, malah masuk ke mulut singa."
Ini bukan novel garis lurus yang bisa diambil banyak pelajarannya. Jadi kalian bisa berhenti jika alir terasa berputar-putar, membosankan, jelek dan yang lain.
Silakan kembali tanpa meninggalkan kesan buru di komentar.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Diego - -
Untuk balas dendam, kamu tidak hanya membutuhkan perubahan dan taktik. Namun juga kekuatan mental untuk melawan dan mempertahankan harga diri.
Bangkit dan lawan mereka yang meremehkan dan memandang rendah dirimu. Tunjukkan, bahwa kamu layak untuk berada dalam pandangan mereka.
Sepuluh tahun berlalu sejak Diego menduduki posisi Presiden Direktur BIN Bank, dan sudah lima tahun posisinya di gantikan pamannya. Meski sudah lima tahun, Yosan tidak pernah mengundang Presdir BIN kecuali Diego.
Bagi Erdigo, Presiden Direktur Yosan, Diego-lah yang sudah menolongnya dari krisis delapan tahun lalu. Sebab itu, baginya hanya Diegi yang layak mendapat undangan secara resmi.
Lima tahun berlalu sejak Diego terakhir kali menghadiri pesta ulang tahun Yosan. Kini, Erdigo dengan sangat sopan memohon kepada Diego untuk naik ke panggung dan memotong kue bersama-sama.
"Anda membawaku naik ke atas panggung sebagai apa?" Diego dengan santai menolak permintaan Erdigo. "Aku bukan lagi Presdir BIN." ketusnya.
"Saya tau, tapi saya ingin merayakan momen ini seperti sebelumnya. Jika bukan presdir, maka anggaplahsebagai penolong."
Kesopanan Erdigo membuat Diego memandangnya dengan sopan. Alih-alih menolak, dia justru setuju untuk naik ke atas panggung bersama dengan Erdigo. Namun sebelum beranjak, dia meminta Aishe untuk menemaninya.
"Sa-saya, Tuan?" bisiknya menunjuk diri.
"Kenapa? Demam panggung? Kamu cuma menemani. Dengar, me-ne-ma-ni!"
Tidak ada alasan bagi Aishe untuk menolak, dan pada akhirnya, ia pun membantu Diego untuk naik ke atas panggung bersama dengan Erdigo.
Pertama kalinya aku berdiri di atas panggung. Melihat semua orang yang fokus memandang ke arahku. Yah, aku tau, tatapan mereka tidak ditunjukkan untukku. Namun suatu saat, aku akan membuat tatapan mereka fokus melihatku. Aku akan membuat diriku layak untuk berada dalam pandangan mata mereka.
Riuh sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi ballroom usai mereka berdua kompak memotong kue. Diego bahkan sempat memberikan ucapan dan doa yang ditujukan langsung untuk Erdigo, selaku Presiden Direktur dari Yosan.
Jam di dinding masih menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Diego sudah memberitahu Ashan untuk berpamitan dengan Erdigo. Sebagai bentuk terima kasih atas kedatangan Diego, ia pun memberikan dua botol wine.
Krug 1928, salah satu koleksi wine dari Charles Krug yang merupakan nama dari sebuah kilang anggur terkenal di daerah Napa Valley, California Amerika Serikat. Dan Ashan, berhasil mendapatkan 2 botol wine terenak yang berharga setidaknya 17 ribu dolar per botol.
Hadiah Erdigo pun berhasil membuat senyum Diego semakin melebar sepanjang perjalanan. Bahkan, ia meminta Ashan langsung menghidangkan wine pemberian Erdigo setibanya mereka di kediaman.
"Saya tidak melihat Anda makan sedikit pun, Tuan," ucap Aishe tiba-tiba. "Apa Anda ingin memakan steak untuk mendampingi minum Anda?"
"Tidak perlu," jawabnya santai. "Aku ingin menikmati satu pertunjukan."
"Anda ingin menonton film?"
"Tidak. Aku ingin melihatmu menari."
"Menari?" Aishe terheran untuk sesaat.
Menari, sebenarnya bukan permintaan pertama Diego. Namun kali ini, permintaan itu justru membuatnya terheran untuk sesaat.
Mungkin, pria itu sedang dalam suasana baik malam ini dan butuh sedikit hiburan. Begitu yang tiba-tiba dia pikirkan.
Aishe tidak mau berlama-lama, karena hari sudah semakin larut. Tanpa melepaskan high heels, ia merentangkan tangan dan mulai berputar. Mengikuti alunan lagu yang di putar Ashan.
Sudah satu minggu berlalu sejak terakhir kali fia menari di hadapn Diego. Gerakannya pun semakin lincah dan memukau. Entah, dari mana dia belajar menari seperti itu.
Diego pun menikmati setiap gerakan Aishe yang memukau. Sambil menikmati alunan musik, juga segelas wine yang di tuang Ashan.
Satu judul lagu telah selesai di putar. Diego menyuruh Aishe untuk berhenti dan menyodorkan segelas wine untuknya.
"Bagaimana penampilan saya? Apa Anda terhibur, Tuan?" tanya Aishe mengambil gelas dari tangan Diego, kemudian duduk bersimpuh memegang lutut Diego.
"Aku mengakui kemampuanmu semakin meningkat." Diego menyingkap beberapa helai rambut Aishe yang menganggu pandangan mata. Gerakan lembut pria itu, tanpa sadar membuat hati Aishe berdebar, merekahkan senyum kasmaran khas anak muda.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu, Tuan?"
"Tanyakan!"
Aishe menelan salivanya kasar. Raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. Dengan pelan, ia memandang wajah Diego.
"I-itu … apa saya boleh tahu kondisi …." Aishe tertunduk, memandangi kaki Diego yang ada di hadapannya. Dengan gugup, dia meneruskan kalimatnya.
"Malam itu Anda terasa cukup berenergi. Sa-saya membaca beberapa artikel di internet, bahwa kondisi seperti itu bisa di sembuhkan," Aishe mencoba menjelaskan niatnya.
"Begini, saya pikir, beberapa dokter mungkin bisa menyembuhkan kaki Anda. Jadi …." Aishe mendongak, memandangi wajah Diego yang berubah suram.
Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, Diego sudah mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.
"Aku memperlakukanmu dengan layak, bukan berarti bisa mengatur hidupku!" pekik Diego kesal.
BRAK
Dibaliknya nakas yang berada di dekat sofa begitu saja, lalu dia pergi meninggalkan ruangan. Aishe yang terlihat shock, hanya bisa terdiam dengan tatapan mata kosong.