Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Hampa.
"Cukup, Sayang. Tolong jangan membuat masalah lagi, aku mohon kasihanilah suamimu dan putramu ini," ucap Rangga dengan pelan, kedua matanya berkaca-kaca, menatap Rania dengan perasaan sedih yang mendalam.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tolong jangan lakukan ini, kasihan Dafa. Dia masih sangat kecil, jangan hancurkan perasaannya," sambung Rangga kembali dengan lemah.
“Selama ini saya diam,” katanya lagi, seolah memikul beban berat yang baru saja dilepaskan. “Saya tutupi semuanya demi anak… demi keluarga. Tapi dia malah semakin menjadi, menghancurkan rumah tangga kami." Dia menunduk, seolah benar-benar hancur.
Air mata Rania mengalir deras, dia ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa yang menghancurkan semuanya bukan dirinya. Bahwa luka ini justru berasal dari orang yang kini berdiri seolah korban. Namun, suaranya tidak keluar. Tenggorokannya terasa terkunci. Dadanya sesak. Kakinya mulai lemah.
Tatapan orang-orang berubah pelan-pelan. Dari penasaran… menjadi menilai. Dari menilai… menjadi menjauh.
"Bohong, semua itu bohong. Kaulah yang telah menghancurkan rumah tangga kita, kau yang berkhianat," ucap Rania lemah. Dia menatap Rangga dengan hancur, tetapi laki-laki itu membalasnya datar, seolah mengatakan bahwa dia telah menang.
Rangga hanya menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan—gestur sederhana yang justru menghancurkan segalanya. Seolah dia benar-benar kecewa. Seolah semua tuduhan yang dia ucapkan itu nyata.
Orang-orang tampak saling pandang, berbisik-bisik, kemudian satu persatu mulai membubarkan diri dan mendo'akan semoga rumah tangga Rania dan Rangga rukun kembali.
Sementara Rania, dia hanya diam, menatap Rangga dan keluarga laki-laki itu penuh kebencian. Suaranya tak lagi keluar, tenaganya telah habis, tubuhnya terkulai lemas, hanya nyawa saja yang tersisa di sana.
"Huh, bikin masalah saja!" ucap Martha kesal. "Bereskan istrimu itu, Rangga. Jangan sampai dia membuat malu keluarga kita lagi!" tambahnya tajam seraya melirik ke arah Rania yang menunduk diam.
Rangga mengangguk, kemudian menyuruh semua orang untuk kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkannya dan Rania berdua di tempat itu.
Tubuh Rania langsung terjatuh ke tanah saat para pembantu melepaskannya, membuat Rangga menggeram marah. Dengan cepat dia mendekati Rania dan bersimpuh di sampingnya.
"Kau tidak apa-apa, 'kan, Sayang?" tanya Rangga, tangannya refleks membersihkan kaki Rania yang kotor terkena tanah, sama sekali tidak merasa bersalah atas fitnah yang telah dia layangkan pada wanita itu. Fitnah yang langsung mematikan hati istrinya.
Rania hanya diam, menahan sakit dari segala arah atas apa yang Rangga lakukan padanya. Matanya menatap ke arah rumah Martha, di sanalah putranya berada, tapi dia tidak bisa menggapainya.
"Maafkan mama, Dafa. Maafkan mama." Kedua mata Rania terpejam, merasa bersalah karena tidak punya kekuatan untuk membawa putranya.
"Ayah, ibu, apa yang harus aku lakukan?" Air matanya kembali menetes, meratapi nasib buruk yang menimpa hidupnya.
Rangga sendiri memperhatikan raut wajah Rania, lalu menghela napas berat. Dadanya bergemuruh, perasaan bersalah menghantamnya. Dia terpaksa melakukan itu—terpaksa mengatakan hal buruk tentang Rania agar nama keluarganya tidak tercemar, dia juga terpaksa melakukannya demi membuat wanita itu tetap berada di sisinya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Rangga. Dia mengangkat tubuh Rania dan menggendongnya ala bridal style, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kali Rangga melirik Rania, tetapi wanita itu tetap diam sembari melihat ke arah jendela.
"Maaf, Rania. Aku terpaksa menyakitimu lagi, aku harap kau dapat mengerti apa yang aku lakukan ini." Rangga mencengkram erat kemudi seraya menambah kecepatannya.
Sementara itu, Rania hanya diam menatap pemandangan yang sedang dia lalui. Pikirannya kosong, jiwanya hampa, tubuhnya lelah. Dia hanya ingin terpejam tanpa memikirkan apapun, seolah hari esok tidak pernah ada.
***
Sesampainya di rumah, Rangga kembali menggendong Rania dan membawanya ke kamar. Dia memandikan wanita itu, memamaikan pakaiannya, dan menyuapinya.
"Sayang." Rangga menggenggam kedua tangan Rania, dia menatap wanita itu dengan penuh kelembutan. "Maafkan aku." ucapnya lirih. "Aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu, tapi aku harus menjaga nama baik keluargaku." Dia mendessah lelah, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan Rania yang sedang bersandar di sandaran ranjang.
Cukup lama Rangga berada dalam posisi itu, mencoba untuk kembali memperbaiki hubungannya dengan Rania, tanpa sadar jika hubungan yang ingin dia perbaiki sudah tidak tersisa sedikit pun bagi wanita itu.
"Ayo, kita hentikan semuanya, Sayang! Kita buka lembaran baru dalam rumah tangga kita, aku lelah dengan semua ini," ucap Rangga. Dia mendongakkan kepala, menatap Rania yang terus menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, aku juga berjanji akan mempertemukanmu dengan Dafa, kita bertiga akan kembali bersama seperti dulu," sambungnya. "Jangan pernah meminta cerai lagi, Rania. Aku tidak sanggup jika harus menyakitimu kembali." Suaranya berubah parau. "Kalau sekali lagi kau melakukan itu, maka aku akan membuatmu tidak bisa lagi bertemu dengan Dafa." ancamnya serius.
Rania tetap diam tanpa menanggapi ucapan ataupun perbuatan yang Rangga lakukan, seolah hanya tersisa kerangka tubuhnya saja. Namun, saat nama Dafa di sebut, dadanya berdesir hebat, seolah nyawanya dipaksa masuk kembali dalam raganya.
"Ayo, kita tidur!" ajak Rangga. Dia beranjak bangun, lalu membaringkan tubuh Rania, kemudian ikut berbaring dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. "Tidur yang nyenyak, Sayang." Satu kecupan mendarat di kening Rania, di pipi, dan berhenti di bibir cukup lama.
Rangga melumm*at bibir Rania dengan lembut, mendesak wanita itu untuk membalasnya. Namun, Rania tetap bergeming, membuat Rangga mendessah kecewa, lalu memutuskan c*iuman itu dan memilih menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Rania.
***
Pagi harinya, Rania terbangun saat matahari sudah bersinar terang. Dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, lalu melirik ke arah samping saat ada sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Kau sudah bangun, Sayang," ucap Rangga dengan suara serak khas bangun tidur.
Rania hanya melirik saja, lalu melepaskan tangan Rangga membuat laki-laki itu mendessah kesal. "Aku mau mandi." ucapnya.
Rangga menarik tangannya dan membiarkan Rania, dia tidak perlu takut jika wanita itu pergi lagi karena kamarnya sudah dia kunci.
Rania berjalan gontai menuju kamar mandi, membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin. Setelah selesai, dia bergegas memakai pakaian. Terlihat Rangga masih sibuk bergelung di bawah selimut.
Perlahan Rania membuka laci lemari paling bawah, lalu tersenyum saat melihat ponsel lamanya masih berada di sana.
"Aku harus menyembunyikannya sebelum dia tau." Rania segera mengambil ponsel itu beserta SIM card yang ada di sana, lalu membawanya ke kamar mandi.
Rania segera mengaktifkan kembali ponsel lamanya dan bernapas lega karena benda pipih itu masih bisa digunakan. Setidaknya ada alat komunikasi yang bisa dia pakai saat Rangga pergi nanti, karena dia yakin jika laki-laki itu akan kembali mengurungnya di dalam rumah.
"Aku akan melaporkan semua perbuatanmu ini, Rangga."
*
*
*
Bersambung.
Rangga Sanjaya

Kenzo Malendra

dah nurut aja kenapa sama tuan muda