*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Pagi ini, Renata bangun jauh lebih awal dari biasanya. Suara alarm yang melengking seolah menjadi lagu wajib yang memulai maraton aktivitasnya. Meski sudah bergerak secepat kilat, ia tetap saja tampak terburu-buru. Wajar saja, hari ini adalah momen krusial; restoran yang ia kelola akhirnya buka kembali setelah sebulan penuh ditutup untuk renovasi besar-besaran.
"Aduh, kayaknya telat lagi! Mana harus beres-beres dulu, apalagi bahan-bahan sudah pada habis total..." monolog Renata sambil terengah-engah membuka gerbang rumahnya.
Ia berdiri di pinggir jalan, sesekali melirik layar ponselnya untuk memantau posisi taksi online yang ia pesan. Padahal jam baru menunjukkan pukul 06.30 pagi. Bagi orang kantoran, itu mungkin masih waktu untuk menyeduh kopi, tapi bagi Renata, itu sudah siang bolong. Ia memiliki daftar pekerjaan sepanjang sungai yang harus diselesaikan sebelum jam 09.00—tepat saat pintu resto resmi dibuka untuk umum.
Sekarang, restoran itu sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Segala hal, mulai dari urusan operasional hingga detail terkecil di dapur, adalah tanggung jawab Renata.
Sementara itu, Zheya hanya bertugas memeriksa data-data laporan dari rumah. Dulu, sebelum Zheya menikah, mereka melakukan semua kegilaan ini berdua. Saling bahu-membahu dari pagi buta sampai larut malam. Namun sekarang, suasana terasa sedikit berbeda. Ada rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan setiap kali Renata ingin menghubungi Zheya. Ia merasa tidak enak jika harus mengganggu waktu rumah tangga sahabatnya itu hanya untuk urusan teknis resto.
Sesampainya di resto, Renata langsung tancap gas. Ia menyalakan lampu, memeriksa kebersihan lantai, dan mencatat daftar belanjaan yang stoknya sudah menyentuh titik nadir.
"Untung aja resto sudah dibersihkan sama Mbak kemarin, jadi pekerjaan gua nggak menumpuk banget deh," ucapnya lega sambil sesekali memeriksa bahan-bahan yang belum tercatat di buku agendanya.
Setelah aktivitas di resto beres untuk sementara, Renata segera beralih ke misi berikutnya: berbelanja di supermarket terdekat yang kualitas barangnya paling terjamin. Di sana, perempuan itu tampak sangat sibuk memilih sayuran segar, bumbu-bumbu, hingga daging berkualitas tinggi sampai troli yang didorongnya penuh sesak.
"Kayaknya ini sudah semua deh," gumamnya puas. Ia membawa troli itu ke arah kasir.
"Mas, seperti biasa ya, tolong langsung antar ke dalam resto ya!" ucap Renata kepada karyawan toko yang sudah sangat mengenalnya.
"Siap, Mbak Renata. Segera dilaksanakan!" jawab pelayan itu ramah.
Renata hendak melangkah keluar, namun langkahnya terhenti secara dramatis. Matanya menangkap sesuatu di rak buah. Sesuatu yang sangat langka dan sudah ia idam-idamkan sejak lama.
"Aihh, ada buah duwet! Kenapa nggak dari tadi nongolnya, padahal gue sudah sebulan nyari nggak ketemu-ketemu..." gerutunya sambil menghampiri buah tersebut. Hanya tersisa satu kotak yang isinya tampak sangat ranum dan segar.
Tepat saat tangan Renata hendak menyambar kotak itu, sebuah tangan besar dengan gerakan cepat mendahuluinya. Kotak itu berpindah tangan dalam sekejap.
Renata melongo, lalu darahnya mendidih seketika. "Maaf ma, itu punya gua! Gua yang lihat duluan!" tegurnya pada pria itu dengan nada ketus.
"Tapi gua yang dapat duluan," ucap pria itu sambil menoleh perlahan ke arah Renata.
Begitu mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti berputar sejenak karena rasa terkejut yang luar biasa.
"ELU?!" teriak mereka bersamaan, jari mereka saling menunjuk satu sama lain.
"Oh, ternyata lu ya! Kembalikan punya gua sekarang!" bentak Renata dengan mata melotot tak suka.
"Enak aja, gua yang dapat duluan. Berarti ini hak gua" tolak laki-laki itu—Kai—dengan gaya yang sangat menyebalkan.
"Tapi gua mau ambil, lu yang menerobos gitu aja! Dasar nggak punya sopan santun!" balas Renata kesal.
"Apa peduli gua? Siapa yang duluan yang ambil dia yang dapat," ucap Kai acuh tak acuh, lalu ia melangkah menuju kasir untuk membayar.
"Eh, nggak bisa gitu dong! Gua sudah lama cari buah itu, pokoknya itu punya gua! Kembalikan nggak?!" Renata mengejar dan mencekal lengan jaket Kai dengan kuat.
"Terus?" Kai mengangkat sebelah alisnya.
"Lu ngalah lah! Cowok macam apa lu?"
"Bodo amat!"
"Lu kan cowok, masa nggak mau ngalah sih? Nggak ada jantan-jantannya banget!" maki Renata yang sudah hilang kesabaran.
"Apa peduli gua!"
Renata yang sudah terlanjur emosi akhirnya melakukan tindakan nekat. Ia merebut paksa kotak duwet itu dari tangan Kai. Aksi tarik-menarik yang sengit pun tak terelakkan di depan meja kasir.
"Punya gua...!" teriak Renata.
"Dasar perempuan gila! Kembalikan nggak?!" ancam Kai yang mulai kewalahan.
"Gak mau!"
"Aiss.. bener-bener perempuan gila ini!"
"Apa lu laki-laki songong!" umpat Renata tak kalah judes.
Mereka terus berebut kotak plastik itu hingga akhirnya... Krek! Tekanan yang terlalu kuat membuat kotak itu pecah. Buah-buah ungu di dalamnya hancur berantakan, mengeluarkan cairan ungu pekat yang lengket.
"Buahnya rusak, set!" umpat Kai saat menyadari tangannya basah dan baju mahalnya terkena cipratan cairan ungu tersebut.
"Ahhh... sialan! Awas lu ya! Gua susah payah nyari ini, malah lu rusakin!" Renata menunjuk wajah Kai dengan emosi yang menggebu-gebu. Matanya berkaca-kaca menatap buah incarannya yang kini sudah jadi bubur ungu.
Perseteruan memalukan itu akhirnya dihentikan oleh pelayan supermarket. Karena buahnya sudah rusak dan tidak layak jual, Kai terpaksa membayar tagihannya sementara Renata sudah melesat pergi lebih dulu sambil memeletkan lidahnya ke arah Kai dari kejauhan.
"Dasar perempuan gila!!" umpat Kai dengan napas memburu.
"Mana duwetnya?" tanya Khen saat melihat Kai masuk ke ruangan kantor tanpa membawa apa-apa, kecuali noda ungu di bajunya.
"Gak ada," jawab Kai singkat sambil menghela napas kasar.
"Kata lu tadi ada, sekarang nggak ada. Gimana sih! Mana baju lu ungu-ungu gitu, kenapa?" tanya Khen heran.
"Emang nggak ada! Puas lu?!" bentak Kai yang benar-benar badmood.
"Hmmpp.. lu bohong kan? Lu habisin sendiri di jalan ya? Terus kena baju?" goda Khen sambil tertawa.
"Panjang ceritanya," ucap Kai lalu menyandarkan punggungnya di sofa, mencoba memejamkan mata untuk meredam kekesalan.
"Kerja! Malah ribut perkara duwet," ucap Liyan yang sedari tadi sibuk mengotak-atik laptop di depannya. Ia melirik tajam ke arah dua sahabatnya itu.
"Bos, lu jangan ceramah dulu napa! Gua lagi badmood nih. Padahal lu berdua yang kepengen banget itu buah, malah gua yang kena semprot nenek lampir di supermarket," keluh Kai merengut.
"Napa lu badmood banget?" tanya Liyan akhirnya menutup laptopnya dan menghampiri mereka.
"Lu tahu? Gua ketemu cewek gila itu lagi. Padahal gua yang ngambil duwet itu duluan, tapi malah direbut sama dia sampai hancur. Liat baju gua kotor gara-gara dia," curhat Kai berapi-api.
"Penasaran gua, kayak gimana sih itu cewek sampai bikin lu uring-uringan begini?" tanya Khen penasaran.
"Kayak nenek lampir," jawab Kai pendek.
"Lagian lu juga salah Kai, ngapain lu senggol kaum emak-emak kalau belanja. Lu betah amat lawan cewek begituan!" ledek Liyan sambil terkekeh.
"Dia yang mulai duluan kok, gua cuma mempertahankan hak gua" Kai tetap tak terima.
Renata POV
Kesal deh! Bayangkan saja, hidup lagi capek-capeknya mengurus resto sendirian, malah harus ketemu pria songong yang sombongnya minta ampun. Sok kegantengan lagi! Oke, dia memang ganteng sih, tapi kelakuannya itu loh, merusuh melulu tiap kali ketemu.
Sial banget, padahal aku berharap tidak usah bertemu lagi sama orang itu seumur hidup. Bad mood aku sumpah! Lihat saja kalau ketemu lagi, ku potong 'anu'-nya! Apa-apaan dia, padahal aku sedang kepengen sekali makan buah itu.
Dari tadi perasaan aku marah-marah nggak jelas di dapur. Aku melirik jam dinding, "Ya ampun, sudah jam setengah sembilan!" Kerjaan masih banyak yang belum kelar, padahal aku harus mengejar waktu sebelum tamu datang. Mana kalau Bu Bos datang lagi, nanti kalau dia minta data-data dan belum ada, bagaimana? Hancur sudah citra aku yang dikenal konsisten ini! Eh, walau sebenarnya nggak apa-apa sih, lagian si Zheya pasti oke-oke saja.
Mengingat Zheya, aku jadi melamun sedikit. "Ah, kok aku jadi pengen kayak dia ya?" gumamku sambil memotong bawang. Padahal nasib kami dulu hampir sama, tapi dia sekarang beruntung sekali. Pengen juga rasanya punya sandaran hidup, dapat suami biar tidak capek banting tulang begini. Bisa kerja santai sambil bercanda, aduh jiwa jomblo aku meronta-ronta!
Aku membayangkan Zheya di rumahnya sekarang. Mungkin sedang duduk santai bersama suaminya.
"Sayang, kamu sudah makan?" suara lembut suaminya pasti terdengar menenangkan.
Zheya akan menjawab dengan senyum manis, "Sudah, Mas. Aku tunggu kamu pulang dari tadi."
"Maaf ya aku telat, aku tadi mampir beli makanan kesukaan kamu."
Bayangan yang romantis itu membuatku semakin merasa kesepian. Jujur, aku senang melihat Zheya sekarang. Meski aku tidak tahu dia bahagia seratus persen atau tidak, tapi hidupnya jauh lebih baik dibandingkan waktu itu. Tidak terpikir bagaimana rasanya melihat pacar sendiri menikah, pasti sakit sekali ya? Untung saja keberuntungan masih memihak temanku itu.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa iri yang lewat sekilas. "Sudah, Renata! Fokus kerja! Jomblo berkualitas nggak boleh lembek!" ucapku menyemangati diri sendiri sambil melanjutkan persiapan opening resto dengan semangat baru, meski sisa kekesalan pada pria songong tadi masih tersisa di sudut hati.