Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Dari Konglomerat
Tiga hari setelah pertemuan di pinggir jalan, Arman masih menyimpan kartu nama Sarah Wijaya di dompetnya, tepat di belakang foto Aldi yang kini mulai lusuh.
Setiap malam, sebelum tidur di kos sempitnya, ia mengeluarkan kartu itu dan menatapnya lama. Huruf timbul berwarna emas itu seolah berbisik: "Hubungi aku. Ini kesempatanmu."
Tapi rasa ragu selalu menahannya. Ia hanya seorang driver ojek. Sarah adalah CEO perusahaan properti besar. Apa mungkin orang sekelasnya benar-benar membutuhkan jasa orang seperti dirinya? Mungkin itu hanya basa-basi orang kaya yang terbiasa memberi kartu nama ke semua orang.
Namun, kebutuhan mendesak akhirnya memaksanya mengambil keputusan.
Pagi itu, Arman menerima pesan dari Rani. Bukan keluhan, bukan permintaan, hanya sebuah foto: Aldi dengan seragam TK yang sudah kekecilan di bagian lengan, tersenyum polos di depan sekolah. Tanpa teks.
Tapi Arman tahu maksudnya. Pendaftaran SD sudah dibuka. Uang pangkal, seragam baru, buku-buku—semuanya butuh biaya. Dan ia belum punya uang cukup.
Ia duduk di tepi kasur, memandangi foto itu, lalu meraih kartu nama Sarah. Jari-jarinya gemetar saat mengetik nomor di ponsel.
"Halo?"
Suara di seberang terdengar sibuk, ada suara orang berbicara di belakang. Tapi nada bicaranya tegas, familiar.
"Assalamualaikum, Ibu Sarah? Ini Arman. Yang kemarin bantu ganti ban di Gatot Subroto."
Keheningan sejenak. Lalu suara itu berubah, menjadi lebih hangat. "Arman! Ya, saya ingat. Ada perlu apa?"
Arman menelan ludah. "Maaf mengganggu, Bu. Saya... saya ingat tawaran Ibu waktu itu. Tentang pekerjaan sopir. Apa masih berlaku?"
"Tentu. Saya serius dengan tawaran itu." Ada senyum dalam suaranya. "Bisa ke kantor hari ini? Saya ada waktu luang sekitar jam 3 sore. Kita bicarakan detailnya."
Arman hampir tidak percaya. "B-bisa, Bu. Jam 3. Saya usahakan."
"Bagus. Saya tunggu. Saya kirim alamat lengkapnya lewat WhatsApp."
Telepon berakhir. Arman menatap ponselnya, masih tidak percaya. Ia baru saja berbicara dengan seorang CEO perusahaan properti besar, dan diundang ke kantornya. Rasanya seperti mimpi.
—
Jam setengah tiga sore, Arman sudah berdiri di depan gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Gedung itu menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan sinar matahari yang terik. Arman menengadah, melihat puncaknya yang nyaris tak terlihat, lalu menunduk lagi, merasa kecil.
Ia memakai pakaian terbaik yang ia punya: kemeja kotak-kotak biru muda yang sudah agak pudar, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang semalam ia semir sebisanya. Jaket ojol ia titipkan di kos. Ia ingin terlihat rapi, setidaknya sopan.
Satpam di lobi memandangnya curiga saat ia menyebut nama Sarah. Tapi setelah menelepon ke atas, satpam itu mengangguk dan mempersilakannya masuk. "Lantai 28, Pak. Lift eksklusif di sebelah kanan."
Arman melangkah gugup. Lobi gedung itu mewah, ber-AC dingin, dengan lantai marmer mengkilap yang memantulkan bayangannya.
Ia merasa seperti ikan di darat. Setiap orang yang lewat berpakaian rapi, membawa laptop atau map-map penting, berjalan cepat dengan tujuan jelas. Arman berjalan pelan, takut terpeleset di lantai licin.
Lift eksklusif itu membawanya ke lantai 28 dengan cepat. Pintu terbuka, dan ia disambut oleh resepsionis cantik dengan senyum profesional.
"Bapak Arman? Ibu Sarah sudah menunggu. Silahkan ikut saya."
Arman mengikuti resepsionis itu melewati ruangan terbuka yang luas, dipenuhi meja-meja kerja dengan pegawai yang sibuk.
Beberapa dari mereka melirik Arman sekilas—mungkin penasaran dengan pria berkemeja lusuh yang berjalan di tengah ruangan mewah ini. Arman menunduk, merasa tidak pada tempatnya.
Resepsionis mengetuk pintu kayu mahoni yang besar, lalu membukanya. "Ibu Sarah, tamu Bapak Arman sudah datang."
"Silakan masuk."
Arman melangkah masuk, dan mulutnya hampir terbuka. Ruangan itu sangat luas—mungkin setengah lapangan bulu tangkis. Dinding kaca di belakang meja kerja menampilkan pemandangan kota Jakarta yang spektakuler.
Meja kerjanya besar, dari kayu gelap mengkilap, dengan tumpukan dokumen rapi di satu sisi dan tiga layar komputer di sisi lain. Di dinding, terpampang foto-foto proyek properti, piagam penghargaan, dan satu lukisan abstrak besar.
Dan di balik meja itu, duduk Sarah. Hari ini ia mengenakan blazer warna marun paduan rok pensel hitam. Rambutnya disasak sedikit, memberi kesan lebih tegas. Anting mutiara kecil di telinga dan kalung sederhana di leher melengkapi penampilannya yang profesional. Namun, saat melihat Arman, wajah tegas itu melunak. Ia tersenyum.
"Arman! Silakan duduk." Sarah menunjuk kursi empuk di hadapan mejanya. "Mau minum? Kopi, teh, atau air putih?"
"A-air putih saja, Bu. Terima kasih."
Sarah menekan interkom, meminta asistennya membawakan dua gelas air mineral. Lalu ia mencondongkan tubuh, menatap Arman dengan penuh perhatian.
"Jadi, Anda tertarik dengan tawaran saya?"
Arman mengangguk, masih agak kaku. "Iya, Bu. Saya... saya butuh pekerjaan tetap. Penghasilan dari ojek tidak menentu, dan saya punya anak yang sebentar lagi masuk SD. Butuh biaya."
Sarah mengangguk, memahami. "Saya mengerti. Keluarga adalah prioritas." Ia meraih map di sampingnya, membuka beberapa dokumen.
"Saya akan jelaskan detail pekerjaannya. Sopir pribadi untuk saya. Tugas utamanya mengantar jemput saya ke kantor, ke meeting, ke proyek-proyek, kadang ke acara sosial. Kadang juga mengantar klien atau rekan bisnis jika diperlukan."
Arman menyimak dengan saksama.
"Gajinya 15 juta per bulan, belum termasuk
tunjangan makan, transportasi, dan bonus tahunan jika kinerja bagus."
Sarah menatap Arman, mengamati reaksinya. Arman hampir tersedak air mineralnya. 15 juta? Itu lebih dari dua kali lipat gaji dari Nadia dulu. Jauh lebih besar dari pendapatan ojek.
"Tapi ada syaratnya." Sarah melanjutkan, suaranya sedikit mengeras. "Saya butuh orang yang bisa diandalkan 24 jam. Bukan berarti Anda tidak punya waktu istirahat, tapi ketika saya butuh, Anda harus siap. Kadang meeting bisa sampai malam, kadang saya harus ke luar kota mendadak. Itu semua sudah termasuk dalam tugas."
Arman mengangguk. "Saya paham, Bu."
"Kedua, Anda harus tinggal di mess perusahaan. Kami punya fasilitas rumah susun sederhana untuk karyawan tertentu, termasuk sopir pribadi. Lokasinya di daerah Cawang. Tidak mewah, tapi layak. Listrik dan air ditanggung perusahaan. Tujuannya agar Anda bisa dihubungi kapan saja, dan tidak terkendala jarak atau transportasi."
Mendengar itu, Arman sedikit mengernyit. Tinggal di mess? Itu berarti ia harus meninggalkan kosannya, meninggalkan Jakarta yang selama ini ia kenal. Tapi juga berarti ia bisa lebih fokus pada pekerjaan.
"Ketiga, dan ini yang terpenting." Sarah mencondongkan tubuh, matanya tajam.
"Saya butuh fokus penuh dari Anda. Artinya, tidak ada pekerjaan sampingan. Tidak ada narik ojek di luar jam kerja. Tidak ada urusan pribadi yang mengganggu waktu kerja. Saya mengerti Anda punya keluarga, dan saya akan beri waktu libur—biasanya hari Minggu, kadang Sabtu kalau tidak ada acara. Tapi di luar itu, prioritas utama adalah pekerjaan."
Arman terdiam. Syarat ini yang paling berat. Ia harus meninggalkan rutinitasnya, meninggalkan teman-temannya di tempat nongkrong, dan yang paling penting, meninggalkan akses mudah untuk bertemu Rani dan Aldi.
Dengan waktu libur hanya hari Minggu, mustahil ia bisa pulang pergi ke kampung setiap minggu. Mungkin sebulan sekali, itupun kalau tidak ada acara mendadak.
"Arman?" Sarah memanggil, menyadarkannya dari lamunan. "Ada yang mengganjal?"
Arman menghela napas. "Jujur, Bu. Saya punya anak di kampung. Istri saya... pisah, tapi belum cerai. Saya biasa mengunjungi mereka sebulan sekali. Kalau saya ambil pekerjaan ini, dengan jadwal 24 jam dan libur hanya Minggu, saya mungkin tidak bisa sesering itu ke kampung."
Sarah memandangnya lama. Ekspresinya sulit dibaca—mungkin simpati, mungkin pertimbangan bisnis. Akhirnya ia berkata,
"Saya bisa beri kompromi. Satu minggu dalam sebulan, Anda boleh libur Sabtu-Minggu. Untuk kunjungan keluarga. Tapi itu dengan catatan, tidak ada acara mendadak di akhir pekan itu. Dan Anda harus memberitahu saya jauh-jauh hari."
Arman merasa sedikit lega. "Itu... itu bisa, Bu."
"Tapi ingat," Sarah menekankan. "Itu pengecualian, bukan aturan baku. Kalau ada kebutuhan bisnis yang mendesak, prioritas tetap pekerjaan. Saya harus bisa mengandalkan Anda."
Arman mengangguk mantap. "Saya paham, Bu. Saya terima."
Sarah tersenyum, kali ini lebih lebar. "Bagus. Saya senang Anda menerima." Ia berdiri, mengulurkan tangan. Arman juga berdiri, menjabat tangannya. Jabatan itu kuat, menunjukkan keseriusan.
"Selamat bergabung, Arman. Anda akan mulai hari Senin depan. Datang ke sini jam 7 pagi, kita akan perkenalkan dengan tim dan aturan-aturan detail. Untuk sementara, Anda bisa tinggal di mess mulai hari Minggu malam. Nanti asisten saya akan urus administrasinya."
"Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan saja 'siap'," Sarah tersenyum kecil.
"Itu yang saya butuh dengar."
Arman tersenyum, agak canggung. "Siap, Bu."
Sarah tertawa kecil, tawa yang hangat dan tidak terduga dari seorang CEO.
"Bagus. Sekarang, saya ada meeting sebentar lagi. Asisten saya akan antar Anda keluar. Sampai jumpa Senin, Arman."
Arman pamit, diantar asisten keluar dari ruangan megah itu. Saat lift turun, ia menatap bayangannya sendiri di dinding lift yang mengilap. Pria di cermin itu tersenyum—untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, senyum yang tulus.
15 juta per bulan. Mess perusahaan. Pekerjaan tetap yang bisa diandalkan. Ini lebih dari yang ia mimpikan.
Tapi di balik kegembiraan itu, ada sedikit kecemasan. Ia harus meninggalkan rutinitasnya, meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kebebasan yang selama ini ia miliki.
Dan yang paling berat, ia harus menjelaskan semuanya pada Rani. Bahwa ia akan bekerja untuk seorang wanita kaya raya, dengan jadwal padat, dan hanya bisa pulang sebulan sekali.
Akankah Rani percaya? Atau justru akan semakin curiga?
Arman menghela napas. Itu urusan nanti. Yang penting sekarang, ia punya kesempatan untuk memperbaiki hidup. Memberi yang terbaik untuk Aldi. Membayar cicilan KPR tepat waktu. Dan mungkin, perlahan-lahan, membangun kembali kepercayaan Rani.
Lift tiba di lantai dasar. Arman melangkah keluar, melewati lobi mewah yang tadi membuatnya kecil hati. Kali ini, ia berjalan lebih tegak. Ia masih Arman, pria dengan jaket ojol dan mimpi-mimpi sederhana.
Tapi kini, ada secercah harapan baru di dadanya. Harapan bahwa mungkin, di tengah segala kekacauan yang ia ciptakan, ada jalan keluar yang menunggu.
Di luar, Jakarta masih ramai, macet, dan panas. Tapi entah mengapa, hari itu terasa lebih cerah. Arman menatap gedung pencakar langit di belakangnya, lalu tersenyum.
udah 3 kali konfliknya,
mbok udah😌 aku ngeri bacanya 💃
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit