Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan
Pagi itu, suasana rumah Alex terlihat terlalu tenang. Langit cerah seolah tidak pernah menyimpan rahasia badai semalam. Namun di dalam rumah besar milik Alex, udara terasa berat. Para pengawal bergerak lebih cepat dari biasanya. Bisikan-bisikan rendah terdengar di sudut lorong.
Ada sesuatu yang tidak beres. Elina menyadari hal itu, walau Alex tidak mengatakan apa yang terjadi. Elina yang sedang duduk di ruang makan, tiba-tiba Alex berjalan masuk ke ruang makan dengan wajah lebih dingin dari biasanya. Ia memakai jas hitam rapi, namun aura yang menyelimutinya berbeda, kali ini auranya lebih tajam dan lebih berbahaya.
"Ada apa?" tanya Elina pelan.
Alex tidak langsung menjawab pertanyaan Elina. Ia memberi isyarat pada Andre tangan kanannya sekaligus sahabatnya yang paling dipercaya untuk keluar dari ruangan. Setelah Andre keluar dan pintu tertutup, barulah ia menatap Elina.
"Ada yang membocorkan informasi" ucap Alex berbisik pelan dengan suara berat, mendegar itu jantung Elina berdetak lebih cepat.
"Kebocoran?" tanya Elina pelan.
"Lokasi gudang kita diserang tadi malam" ucap Alex dengan suara yang tetap tenang, terlalu tenang.
"Musuhku tahu persis waktu dan jalur distribusi, pasti ada sesorang yang memberitahunya dan pengkhianat itu ada didekat kita" ucap Alex.
"Siapa yang membocorkannya?" tanya Elina pelan.
Alex tampak tenang namun tetap waspada "Itu yang sedang aku cari tahu" ucap Alex.
Nada suara Alex membuat Elina merinding bukan main. Ia bukan seorang pria yang mudah dikhianati, semua orang dalam organisasinya bersumpah setia dengan taruhan nyawa. Namun kali ini, seseorang telah melanggar sumpah itu dan bagi Alex harga pengkhianatan yang harus dibayar oleh seseorang yang berkhianat padanya hanya satu, yaitu dengan kematian.
Di ruang bawah tanah tempat markas Alex, ada sepuluh pria yang berlutut dengan wajah tegang dan ketakutan. Mereka adalah organisasi kumpulan orang-orang yang selama ini paling dipercaya oleh Alex.
Elina tidak seharusnya berada di sana, tapi entah kenapa hari itu dia memilih turun dan ikut bersama Alex ke ruang bawah tanah. Ia berdiri di sudut ruangan, menyaksikan Alex mengintrogasi satu persatu orang terpercayanya.
Saat itu Alex tampak marah dan menakutkan, sisi itu merupakan sisi yang selalu berusaha disembunyikan Alex darinya. Alex berdiri di depan mereka, bagaikan seorang raja tanpa mahkota.
"Siapa yang membocorkannya?" tanyanya Alex singkat.
Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Alex. Ia kemudian berjalan perlahan di depan barisan pria yang berlutut, suara langkah kakinya menggema di ruangan itu. Matanya menatap satu per satu wajah yang pernah dia selamatkan, rawat dan sangat ia percayai.
"Gudang distribusi itu bukan sekadar bisnis dan kalian semua tahu itu" tegas Alex.
"Di sana ada orang-orangku, keluarga kita. Orang-orang yang berjuang bersama kita" ucap Alex dengan nada kecewa, membuat salah satu pria menelan ludah.
Elina yang mendengar dan melihat hal itu, hampir tak bernapas. Ia melihat sesuatu yang berbeda dalam sorot mata Alex, bukan hanya amarah, tapi kekecewaan yang dalam.
Tiba-tiba Andre melangkah maju memberitahu semua yang ada diruangan itu "Kami menemukan transaksi mencurigakan dari rekening internal" ucap Andre. Semua kepala terangkat menatap Alex dan Andre.
Andre berjalan perlahan dan berhenti tepat di depan seorang pria bernama Dani. Elina pernah melihatnya tertawa bersama Alex, pernah melihatnya bersumpah setia.
"Tidak… itu tidak seperti yang kalian pikirkan" ucap Dani yang membela diri.
Alex tidak berbicara melihat reaksi Dani. Ia hanya menatap dan tatapan itu cukup membuat Dani gemetar ketakutan dibuatnya.
"Aaa... ku hanya....... aku hanya butuh uang" suara Dani pecah.
"Ibuku dalam bahaya! Mereka mengancam akan membunuhnya jika aku tidak memberi informasi pada mereka" ucap Dani, ruangan menjadi sunyi, Elina merasakan dadanya sesak.
"Siapa mereka?" tanya Alex. Dani hanya terdiam ketika ditanya, ketakutan yang ia tunjukkan jelas terlihat diwajahnya.
"Jawab!!!" Teriak Alex.
"Kelompok Zerka" bisik Dani.
"Mereka tahu tentang Elina" ucap Dani. Tubuh Elina membeku, mata Alex berubah gelap.
"Mereka bilang… kelemahanmu adalah dia. Mereka ingin memastikan kau merasakan kehilangan yang sama seperti dulu" lanjut Dani gemetar. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti, Alex seketika terdiam lalu dengan cepat mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
Elina menahan napas dan terkejut melihat Alex mengeluarkan pistol, Dani tertunduk menangis dan menyatukan kedua tangannya "Aku tidak pernah bermaksud mencelakaimu, Bos! Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku" ucap Dani.
"Dan kau mengorbankan puluhan orangku, kau bisa saja memberitahuku bahwa kau diancam. Aku bisa membantumu, tapi kau tidak melakukan itu dan memilih berkhianat padaku" jawab Alex dingin.
"Tolong… beri aku satu kesempatan…" ucap Dani, keadaan menjadi Sunyi. Elina tak sanggup lagi hanya menjadi penonton. Ia melangkah maju dan mendekat pada Alex.
"Alex" ucap Elina lembut. Satu kata itu membuat semua orang menegang.
"Jangan" bisik Elina, tatapan Alex seketika beralih padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alex, suaranya terdengar rendah.
"Aku tidak ingin kau menambah luka lagi" jawab Elina.
"Jika dia melakukannya karena ancaman… bukankah musuh yang sebenarnya adalah mereka?" ucap Elina.
Andre terlihat ragu, beberapa pria lain saling pandang.
Alex terdiam lama saat mendengar ucapan Elina, namun tangannya masih memegang pistol. Dani menangis terisak dan untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasinya, keputusan Alex tidak datang dalam hitungan detik.
Ia memikirkan kata-kata Elina, Ia memikirkan air mata yang semalam jatuh tanpa saksi. Akhirnya, Alex menurunkan pistolnya.
"Tahan dia" perintah Alex.
"Kita gunakan dia sebagai umpan" lanjut Alex.
Semua orang terdiam mendengar perkataan Alex, itu bukan hukuman mati, melainkan keputusan strategis dan itu berbeda dari biasanya. Dani terkulai lemas, antara lega dan takut. Elina mengembuskan napas pelan karena merasa lega. Namun badai belum berakhir.
Malam harinya, Elina duduk sendirian di kamarnya, ia tahu keputusannya tadi telah mengubah sesuatu. Alex masuk tanpa mengetuk pintu kamar Elina.
"Kau mempertaruhkan wibawaku" ucap Alex tanpa basa-basi.
"Aku hanya tidak ingin kau membunuhnya karena emosi dan merasakan penyesalan" ucap Elina.
"Aku tidak pernah membunuh karena emosi" ucap Alex.
"Tapi kau hampir melakukannya tadi" ucap Elina, keheningan menyelimuti mereka di kamar itu.
"Aku berbeda hari ini, semua karena mu" lanjut Alex pelan.
"Apakah itu buruk, untukmu?" tanya Elina menatap dalam mata Alex.
Alex menatapnya lama "Di dunia ini, kelembutan adalah kelemahan" ucap Alex.
Elina mendekat dan berkata "Lalu kenapa kau tidak menembaknya?"
Alex terdiam mendengar perkataan Elina, karena jauh di dalam dirinya, ia tahu satu hal. Jika ia tetap menjadi pria tanpa ampun seperti dulu, ia akan kehilangan Elina dan mungkin juga kehilangan dirinya sendiri.
"Aku tidak ingin kau melihatku sebagai monster" ucap Alex akhirnya melemah dihadapan Elina.
Elina menyentuh tangan Alex "Aku melihatmu sebagai manusia, tidak pernah sekalipun aku menganggapmu sebagai monster" ucap Elina lembut.
Untuk pertama kalinya hari itu, ketegangan di wajah Alex melonggar. Namun di tempat lain, kelompok Zerka sudah menerima kabar bahwa rencana mereka setengah gagal.
Di tempat lain ada seorang pria tersenyum dingin sambil memutar gelas anggur di tangannya "Jika pengkhianatan kecil tak cukup" katanya pelan.
"Kita buat yang lebih besar" ucap pria itu. Ia menatap foto Elina di meja.
"Dan kali ini… tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya" ucapnya. Angin malam bertiup lebih kencang, pengkhianatan pertama telah terjadi dan yang berikutnya akan jauh lebih besar.
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥