Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Di Wajah Mereka
Saat sudah tiba di rumah, Theo mengatakan ingin berkeliling melihat-lihat desa. Maerin terlihat ingin ikut, namun posisinya sedang membantu nenek membersihkan dan akan memasak ikan-ikan yang di dapatkan kakek dan Theo. Jadi Maerin mengurungkan niatnya untuk ikut Theo.
Theo memang berkeliling melihat-lihat desa. Rata-rata warga desa memiliki kebun sayuran kecil di dekat rumah mereka. Akhir dari berkeliling Theo adalah rumah kepala desa. Di sana kepala desa sudah menunggu kedatangan Theo. Tanpa basa-basi, Theo diajak ke ruang kerja kepala desa.
"Duduklah, Theo." Ucap kepala desa. Setelah menutup pintu ruang kerjanya, kepala desa ikut duduk dan memulai bicara, "Ehmmm... Berhubung kau sudah di sini, aku akan bertemu terang ke pokok intinya. Putra Henry sudah meninggal sejak 9 tahun yang lalu." Ekspresi kepala desa serius.
"Hah? Anda yakin?" Theo terkejut.
"Ya, 100% yakin. 10 tahun lalu Henry dan keluarganya meninggalkan desa ini dengan tergesa-gesa, lebih tepatnya Danny, putranya yang tergesa-gesa. Hal itu sedikit menggangguku sebab tak lama Danny bergaul dengan orang-orang tak dikenal yang bukan warga desa ini, dia mengajak kedua orangtuanya pindah tinggal ke kota besar. Bukan untuk meremehkan. Maksudku dengan menjual rumah kecilnya itu, apa mungkin bisa mendapatkan rumah untuk tinggal di ibukota? Jelas saja mustahil. Aku sudah memperingatkan Henry dan memintanya berpikir jernih, namun Henry benar-benar mempercayai dan menuruti semua ucapan putranya. Saat mereka pergi, aku benar-benar merasa tak tenang. Setahun kemudian yaitu 9 tahun yang lalu, Karl putraku pergi ke ibukota untuk menjemput tunangannya yang merupakan putri dari kenalanku. Karl pun sekalian mencari informasi tentang Henry dan keluarganya. Hingga dia menetap hampir setengah tahun di sana. Dengan bantuan kenalanku itu, akhirnya dia mendapatkan fakta bahwa Danny kecanduan berjudi serta berhutang pada rentenir. Hingga akhirnya tewas dengan mengenaskan di tangan anak buah rentenir itu. Namun Karl sama sekali tak mendapatkan kabar tentang Henry dan istrinya. Mendengar kabar itu, aku benar-benar syok dan sedih. Maksudku orang-orang sebaik Henry kenapa mengalami nasib tak menyenangkan seperti itu. Apalagi saat itu keberadaan Henry dan istrinya tak diketahui. Namun aku meyakini bahwa dia dan istrinya masih hidup. Melihatnya sekarang, kurasa mereka belum mengetahui tentang kematian putranya. Jadi tolong rahasiakan ini selamanya. Hanya kau, Karl, dan aku yang mengetahui kebenaran itu di desa ini. Aku tak ingin masa-masa terakhir mereka dipenuhi rasa bersalah dan sedih. Mereka pantas menghabiskan masa-masa terakhirnya bahagia di sini." Kata kepala desa.
"Jujur, berita ini benar-benar sangat mengejutkan bagi saya. Tak bisa dibayangkan jika mereka mengetahuinya. Anda benar, sebaiknya merahasiakan hal ini hingga akhir." Ucap Theo setuju dengan pendapat kepala desa.
Pembahasan ini adalah yang pertama dan terakhir bagi Theo dan kepala desa. Setelahnya interaksi mereka sebatas hal-hal umum saja.
Theo dan Maerin cukup kompeten dalam berkebun, serta Theo cukup mahir dalam hal memancing. Mereka benar-benar menikmati tinggal di desa itu, menurut mereka desa itu sesuai dengan deskripsi kakek dan nenek. Theo benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupnya di sana. Ada banyak hal yang tak membosankan untuk dilihat, Sungai-sungai jernih, pepohonan rindang dan tinggi, semak beri liar, bahkan danau kecil yang menenangkan yang lebih indah lagi saat musim semi yang bunga-bunga bermekaran.
***
Tepat setahun Theo pergi meninggalkan istana, namun Victor tetap mengetahui kabar Theo dari mata-mata yang dikirimkannya. Bahkan ingin sekali Victor mengunjungi adiknya itu, dari laporan yang dikirimkan oleh mata-matanya bahwa Theo terlihat menetap di salah satu desa kecil dan terpencil di wilayah kerajaan Morva. Desa Norveth itu tak memiliki banyak penduduk, alam yang bagus serta Victor juga penasaran ingin melihat langsung bagaimana adiknya itu melewati hari-harinya dengan bahagia seperti yang tertulis di laporan.
***
Dua tahun berlalu, Victor mengetahui akhirnya adiknya itu menikahi seorang gadis biasa yang bernama Maerin. Dia benar-benar bahagia membaca kabar itu, namun tak bisa merayakannya. Namun di sisi lain kecewa pada ayahnya yang benar-benar menganggap Theo tak lagi ada. Sementara Putri Mahkota Sylvaine sudah benar-benar mengendalikan politik di kerajaan. Tak ada lagi tanda bangsawan yang menentang Victor naik tahta menggantikan Raja. Meskipun pada kenyataannya, segelintir bangsawan yang menentang Victor naik tahta tak memengaruhi Victor sama sekali. Namun upaya putri Mahkota yang bisa menyatukan bangsawan menjadi satu suara, patut diapresiasi. Dan sudah diputuskan bahwa pernikahan Victor dan Sylvaine akan diadakan satu tahun lagi serta dibarengi pengangkatan Victor sebagai Raja baru pengganti ayahnya. Victor tak ingin membuang-buang anggaran yang tak perlu sehingga menggabungkan pengangkatannya menjadi raja dengan pernikahannya. Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya. Selain itu, Victor juga sedang masa berkabung seorang diri karena laporan tentang Theo yang dia baca.
***
Di waktu yang sama, tahun itu adalah tahun kakek dan nenek menghembuskan napas terakhirnya bersama. Mereka meninggal bersama di tempat tidurnya dengan saling berpelukan. Maerin yang menemukannya saat hendak membangunkan mereka untuk sarapan bersama. Awalnya Maerin sedikit merasa janggal, tumben kakek dan nenek belum bangun. Tapi Maerin berpikir mungkin kakek dan nenek capek jadi ingin tidur lebih lama. Saat ditemukan sudah meninggal, ekspresi kakek dan nenek terlihat lega dan bahagia serta sedikit ada senyum di wajah mereka berdua. Namun itu menjadi tahun tersedih bagi Theo dan Maerin yang kehilangan hal yang mereka sayangi sekaligus, meninggalnya kakek dan nenek bersamaan serta keguguran yang dialami Maerin beberapa minggu kemudian setelah kematian kakek dan nenek.
***
Setahun berlalu, persiapan pengangkatan dan pernikahan Victor berjalan lancar. Acaranya pun tak terasa kurang dari sebulan. Meskipun niat Victor tak menghamburkan banyak uang, ternyata Raja menginginkan semuanya terlihat megah dan akan dikenang oleh rakyatnya dalam waktu cukup lama. Victor pun tak bisa menghentikan keinginan raja tentang hal itu. Jadi Victor hanya menurutinya. Raja terlihat begitu menantikannya dan tak sabar melihat putra kesayangannya dengan calon menantu kesayangannya naik tahta. Seolah semua harapan dan keinginannya terwujud serta tak ada lagi hal yang diinginkannya lagi. Dia bahkan tak lagi memikirkan Theo sama sekali.
Sylvaine, dia benar-benar merasa tak lama lagi semuanya akan dibawah genggamannya. Seoalah alasan dia lahir adalah hanya untuk ini. Dia tak membenci Victor, namun juga tak mencintainya. Hubungannya dengan Victor juga tak buruk, namun mereka tak dekat. Baik Victor maupun Sylvaine tak memiliki skandal buruk. Ambisi Sylvaine menjadi ratu semakin dekat dan akan segera menjadi kenyataan.
Namun hal tak terduga pun terjadi.
Bersambung...