Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvira
Jauh dari hiruk-pikuk jalan raya di luar. Aroma lembut sandalwood dan bunga lili segar segera menyambut indra penciuman mereka, berpadu sempurna dengan pencahayaan warm-gold yang memantul lembut di atas lantai marmer putih bersih.
Di sepanjang dinding, deretan manekin berdiri anggun mengenakan adi busana mahakarya desainer kenamaan tersebut—setiap jahitan, payet, dan lipatan kain sutra berkilau di bawah lampu sorot seperti instalasi seni galeri kelas atas. Suasana hening yang elegan hanya dihias oleh denting musik klasik sayup-sayup, menciptakan ruang privasi yang eksklusif bagi siapa pun yang masuk.
Sky mengeratkan genggaman tangannya pada Evelyn, merasakan kegugupan sekaligus kekaguman yang sama, sementara Evelyn tidak bisa menyembunyikan binar matanya saat melihat gaun-gaun impiannya berjajar rapi. Di tengah kemegahan itu, mereka berdiri sejenak, membiarkan kemewahan butik tersebut memeluk mereka dengan janji akan kesempurnaan di hari bahagia nanti.
Di tengah keheningan butik yang eksklusif itu, Shakila, istri dari paman Sky sekaligus sang pemilik butik, sudah berdiri menanti dengan keanggunan yang bersahaja.
Begitu melihat kehadiran keponakannya dan calon istrinya, wajah Shakila seketika cerah--- ia menyambut mereka dengan senyuman tulus yang memancarkan kehangatan keluarga, seolah-olah seluruh kemewahan di ruangan itu hanyalah latar belakang bagi kebahagiaan yang jauh lebih bernilai di antara mereka.
" Aunty!" Sky mencium punggung tangan Shakila begitu pula dengan Evelyn.
Shakila melipat tangan di dada. "Dasar nakal! Kamu tau kan, apa yang kamu lakukan salah?" Shakila menatap tajam, Angel tentu saja sudah menceritakan tentang kehamilan Evelyn.
"Maaf Aunty, khilaf.. Tapi nikmat." Ucapan Sky di akhir kalimat membuat Shakila kesal tapi diapun bahagia, karena Sky termasuk pria yang bertanggung jawab.
"Ya sudah, ayo ke Ruang Privat! Kamu bisa lihat gaun - gaun yang kamu mau. Tadinya Aunty berniat membuatkan gaun khusus buat kamu. Tapi kabar pernikahan kalian mendadak, jadinya Aunty belum menyiapkan bahan nya." Kata Shakila sambil menggandeng tangan Evelyn.
Di dalam ruangan yang dilapisi karpet beludru tebal itu, jajaran manekin telah menanti, masing-masing mengenakan mahakarya gaun pernikahan yang memukau mata.
Mata Evelyn seketika berbinar terang---- ia menatap deretan gaun dengan berbagai siluet, mulai dari potongan ball gown yang dramatis dengan detail brokat buatan tangan yang rumit, hingga gaun mermaid berbahan satin sutra yang jatuh dengan sempurna. Antusiasme terpancar jelas dari wajah Evelyn saat jemarinya mulai menyentuh lembut helai demi helai kain berkualitas tinggi tersebut, membayangkan momen ketika salah satu dari gaun indah itu akan menemaninya menuju pelaminan.
Hingga langkahnya tiba-tiba terhenti dan napasnya tertahan sejenak--- matanya terpaku pada satu gaun yang berdiri anggun di sudut ruangan, sebuah gaun yang memancarkan aura berbeda, dengan detail renda yang begitu halus dan desain yang seolah diciptakan khusus untuk menjawab semua impian masa kecilnya.
"Aku akan pakai yang ini."
" Pilihan bagus, Sayang.. Itu memang salah satu gaun terbaru disini dan belum di keluarkan." Kata Shakila, mata Evelyn sangat jeli. " Ruang gantinya disana!"
"Sky! Kau juga pilihlah jas mu." Kata Shakila menunjukkan deretan Jaz pria.
Di sisi lain, Sky pun tak kuasa menyembunyikan kekagumannya saat melihat jajaran jas pria yang terbuat dari bahan wol berkualitas tinggi dengan potongan yang sangat presisi, memancarkan aura kemewahan yang maskulin dan berkelas, seolah setiap jahitan di sana memang dipersiapkan khusus untuk hari paling bersejarah dalam hidup mereka.
"Aku akan pakai ini!" Sky berjalan ke ruang ganti lain.
15 menit kemudian, keajaiban sebenarnya terjadi saat pintu ruang ganti perlahan terbuka dan keduanya melangkah keluar secara bersamaan. Di bawah sorot lampu kristal yang lembut, mata mereka bertemu dalam keheningan yang magis--- Sky terpaku menatap kecantikan Evelyn yang tampak seperti dewi dalam balutan gaun impiannya
Sementara Evelyn kehilangan kata-kata melihat ketampanan Sky yang begitu berwibawa dalam balutan jas pilihannya. Dalam momen itu, waktu seolah berhenti berputar, membiarkan keduanya tenggelam dalam kekaguman mendalam atas satu sama lain, menyadari bahwa perjalanan menuju pelaminan kini terasa begitu nyata dan sempurna.
" Cantik sekali!"
"Tampan sekali!"
Mereka mengucapkan nya bersamaan, Shakila yang melihat nya hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum tipis."Kalian memang pasangan yang sempurna!"
•
•
Di tengah keriuhan mal yang dibalut cahaya lampu LED putih cemerlang dan dengung musik pop yang memantul di dinding kaca, sosok wanita itu berdiri layaknya sebuah anomali yang menenangkan sekaligus mengintimidasi. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk pengunjung yang berlarian mengejar diskon dan gelak tawa remaja di kedai kopi seakan meluap.
Namun ia tetap bergeming dalam keanggunannya yang sunyi. Parasnya yang cantik terpahat sempurna, namun daya tarik utamanya bukanlah pada senyum yang absen dari bibirnya, melainkan pada sepasang mata yang menatap dingin, setajam es yang membiaskan cahaya.
Tatapannya menyapu koridor panjang mal dengan ketenangan yang menghujam, seolah ia sedang mengamati sebuah dunia yang jauh di bawah standarnya.
Setiap kali iris matanya yang jernih namun beku itu berhenti pada satu titik, suasana di sekitarnya seakan kehilangan kehangatan; orang-orang yang tak sengaja beradu pandang dengannya refleks memalingkan wajah, merasakan aura kewaspadaan yang tak terjelaskan.
Dia tidak sekadar melihat--- ia membedah keramaian itu dengan kecantikan yang terasa seperti pedang bermata dua—memukau siapa pun yang memandang, namun cukup dingin untuk membuat siapa pun enggan mendekat. Di bawah kubah kaca mal yang megah, ia berdiri sebagai pusat gravitasi yang sunyi, seorang dewi musim dingin yang tersesat di tengah hiruk-pikuk modernitas yang dangkal.
Namun, langkah kaki itu seketika tertahan saat getar di tas tangannya menginterupsi langkahnya yang tegas. Ia menarik keluar sebuah ponsel, dan tepat saat nama sang kakak laki-laki berpijar di layar, sebuah perubahan kecil namun kontras terjadi—seulas senyum tipis, nyaris tak kentara namun terasa tulus, terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah muda.
Meski begitu, kehangatan itu tak pernah mencapai matanya--- tatapan itu tetap tinggal dalam kedinginan yang sama, menciptakan paradoks yang janggal antara kasih sayang di bibir dan ketajaman yang tak tergoyahkan di matanya.
"Halo Kakak!"
"Dimana kau sekarang? Kenapa kau tidak ada di apartemen?" Disana, jelas suara sang Kakak terdengar marah.
"Aku hanya melihat - lihat zaman yang membosankan ini, " Jawab nya cuek.
"Elvira! Berhenti bercanda dan kembali sekarang juga!"
Wanita bernama Elvira itu hanya tersenyum tipis. " Aku datang kesini bukan untuk di kurung, Kakak.. Aku datang dengan tujuan yang sama denganmu.. Ini bukan hanya tentang balas dendam mu, tapi ini juga tentang balas dendam ku."
"Elvira! Dengarkan, kau masih lemah." Suara disana berubah menjadi lembut.
"Aku sudah cukup mengumpulkan energi selama satu tahun ini, Kakak.. Sekarang saat nya aku bertindak.. Aku akan membuat mereka membayar mahal atas apa yang mereka lakukan.. Meskipun disini mereka belum berbuat dosa itu, tapi melihat mereka bahagia benar-benar memuakkan." Elvira langsung mematikan ponsel nya secara sepihak.
Begitu panggilan berakhir dan layar ponsel meredup, pandangannya tak sengaja jatuh pada sebuah pemandangan di sudut kafe--- sebuah keluarga kecil yang tertawa lepas dalam pelukan kebahagiaan yang tulus.
Seketika, kilat amarah yang gelap menggantikan kekosongan di matanya. Rahangnya mengeras, dan tanpa melepaskan pandangan dari keluarga itu, jemarinya mencengkeram ponsel di genggamannya dengan kekuatan yang tidak manusiawi.
Bunyi retakan tajam terdengar saat perangkat logam dan kaca itu hancur berkeping-keping, hancur menjadi puing di telapak tangannya seiring dengan luapan kebencian yang membakar seluruh nalar di balik tatapan dinginnya.
"Berbahagialah kalian.. Karena kebahagiaan itu akan berakhir hari ini, " Elvira menatap penuh kebencian. Tangan nya mengepal erat bahkan dari sela-sela kepalan tangannya yang gemetar, energi sihir berwarna merah pekat merembes keluar seperti asap yang haus akan kehancuran, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang dipenuhi kebencian.
•
•
•
BERSAMBUNG