Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.Surat.
Jenderal Li berjalan masuk ke rumah tanpa berkata apa pun.
Langkahnya berat, tapi bukan karena tubuhnya masih lemah. Ada beban lain yang menekan pundaknya—beban yang jauh lebih sulit ditanggung daripada luka perang mana pun.
Ia melewati ruang tengah.
Melewati meja makan.
Melewati rak senjata lamanya yang masih tergantung rapi di dinding.
Semua terlihat sama.
Tapi tidak ada yang terasa sama.
Ia berhenti di depan pintu kamarnya. Tangannya terangkat pelan, menyentuh daun pintu kayu yang sudah puluhan tahun ia buka tutup setiap hari.
Lalu ia masuk.
Dan menutup pintu.
Pelan.
Tanpa suara.
Istrinya berdiri di ruang tengah, menatap pintu itu seperti menatap dinding yang tiba-tiba menjadi sangat jauh.
Ia ingin menyusul.
Ingin berbicara.
Ingin menjelaskan.
Tapi ia tahu tatapan suaminya tadi.
Tatapan yang sama saat ia kehilangan ratusan prajurit di medan perang.
Tatapan yang hanya muncul saat seorang jenderal merasa telah gagal.
Bukan sebagai pemimpin.
Tapi sebagai pelindung.
Malam turun perlahan di Desa Ying.
Lampu minyak di rumah keluarga Li dinyalakan satu per satu.
Bibi Jian membantu menyiapkan makan malam, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar bersuara.
Piring diletakkan di meja.
Sup hangat mengepul pelan.
Nasi putih masih hangat.
Obat rebusan tabib diletakkan di mangkuk kecil.
Istrinya membawa semuanya ke depan pintu kamar.
Ia mengetuk pelan.
“Suamiku… makanlah dulu.”
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu.
“Minumlah obatmu… tubuhmu belum benar-benar pulih.”
Sunyi.
Ia menahan napas.
“Jangan menghukum dirimu seperti ini…”
Masih tidak ada suara.
Tangannya gemetar memegang nampan.
Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.
Ia tahu suaminya tidak menangis.
Dan itu yang lebih menyakitkan.
Karena saat Jenderal Li menangis, itu berarti ia sudah menerima keadaan.
Tapi saat ia diam…
Ia sedang menghukum dirinya sendiri.
Waktu berjalan lambat.
Malam semakin dalam.
Sup di nampan sudah tidak mengepul lagi.
Obatnya mulai dingin.
Istrinya masih duduk di depan pintu.
“Maafkan aku…” bisiknya pelan. “Maafkan aku karena membiarkannya pergi…”
Tetap tidak ada jawaban.
Dan sesuatu di dalam dirinya… pecah.
Ia berdiri tiba-tiba.
Nampan di tangannya bergetar keras.
“Cukup!”
Suaranya menggema di lorong rumah.
Bibi Jian yang berada di ruang tengah terlonjak kaget.
Istrinya menatap pintu kamar dengan mata merah.
“Cukup diam seperti ini!”
Ia meletakkan nampan dengan keras di lantai.
“Menghukum diri sendiri tidak akan membawa Yun Lan pulang!”
Masih sunyi.
Tapi kini napasnya sudah terengah.
“Aku juga tidak ingin melepaskannya pergi!”
Air matanya jatuh deras.
“Kau pikir aku tega? Kau pikir aku tidak menangis setiap malam saat ia pergi?!”
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Aku membiarkannya pergi karena aku tidak mau kehilanganmu!”
Di balik pintu, bayangan Jenderal Li terlihat samar bergerak.
Istrinya tidak peduli.
Ia sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri.
“Jika kau mati di medan perang… apa yang tersisa untukku?!”
Suaranya pecah.
“Aku akan seperti mayat hidup!”
Ia memukul pintu dengan kedua tangannya.
“Tidak punya suami! Tidak punya sandaran hidup! Tidak punya siapa-siapa!”
Tangisnya berubah menjadi sesenggukan.
“Aku tidak tega melepaskan putriku pergi ke sana…”
“Satu sisi aku ingin menahannya.”
“Satu sisi aku melihat tekadnya… wajahnya yang keras kepala persis sepertimu…”
Ia terisak keras.
“Dan aku memilih… memilih yang paling tidak menyakitkan…”
Ia terjatuh berlutut di depan pintu.
“Jika identitasnya terbongkar… jika istana menghukum kita…”
“Aku sudah siap.”
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku lebih memilih mati bersama kalian… daripada hidup menjanda sendirian…”
Sunyi.
Hanya suara tangisnya memenuhi lorong rumah.
Tiba-tiba…
Pintu kamar terbuka.
Istrinya tersentak.
Jenderal Li berdiri di ambang pintu.
Wajahnya keras.
Tapi matanya… tidak lagi setenang tadi.
Ia menatap istrinya yang berlutut di lantai.
Menangis seperti anak kecil.
Perlahan.
Sangat pelan.
Ia berlutut di depannya.
Tangannya yang besar dan kasar mengangkat tubuh istrinya.
Lalu…
Memeluknya.
Erat.
Istrinya terisak semakin keras dalam pelukannya.
Tangannya mencengkeram pakaian suaminya seolah takut ia menghilang.
“Aku tidak ingin kehilangan kalian…” bisiknya di dada suaminya.
Jenderal Li memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke rumah, ia memeluk istrinya dengan perasaan utuh.
Malam itu…
Tidak ada lagi kata-kata.
Hanya tangis yang perlahan mereda.
Dan dua orang tua yang saling berpegangan dalam ketakutan yang sama.
Tengah malam.
Lampu minyak di kamar masih menyala redup.
Istrinya tertidur di pelukannya, wajahnya masih basah oleh air mata.
Jenderal Li membuka mata.
Ia tidak bisa tidur.
Tatapan istrinya.
Tangisnya.
Kata-katanya.
Semua berputar di kepalanya.
Dan satu hal yang paling jelas…
Yun Lan.
Putrinya.
Sendirian.
Di kamp militer.
Di tengah para prajurit.
Di tengah bahaya.
Ia tidak bisa pergi menjemputnya.
Ia tidak bisa menunjukkan dirinya.
Tapi…
Ia juga tidak bisa hanya diam.
Perlahan, ia menggeser tubuh istrinya ke bantal.
Bangkit tanpa suara.
Berjalan menuju meja kecil di sudut kamar.
Ia menyalakan lampu minyak lebih terang.
Mengambil kertas surat.
Kuas.
Tinta.
Tangannya berhenti sejenak di atas kertas kosong.
Nama yang muncul di benaknya hanya satu.
Xin.
Jenderal Xin.
Teman seperjuangan sejak muda.
Pria yang pernah berperang bersama,dan mengikat janji sebagai saudara.
Ayah Hong Lin.
Orang yang paling ia percaya selain dirinya sendiri.
Jenderal Li mulai menulis.
Tulisan tangannya tegas, tapi kali ini goresannya terasa lebih berat.
Ia menjelaskan semuanya.
Tentang Yun Lan.
Tentang penyamarannya.
Tentang alasan putrinya berada di Perbatasan Timur.
Tentang ketidakmampuannya sebagai ayah untuk menjemputnya.
Dan satu permintaan.
Lindungi dia.
Tanpa membuatnya tahu.
Tanpa membuka kedoknya.
Tanpa menarik perhatian siapa pun.
Ia menutup surat itu dengan cap pribadinya.
Lalu berjalan ke halaman belakang rumah.
Udara malam dingin menusuk.
Awan menghitam di langit.
Sangkar kecil tergantung di bawah atap.
Ia membukanya pelan.
Burung merpati putih keluar dengan tenang.
Burung yang ia latih sendiri sejak lama untuk mengirim pesan jarak jauh.
Jenderal Li mengikat surat kecil itu di kakinya.
Tangannya berhenti sejenak di bulu burung itu.
“Bawakan harapan seorang ayah, sampaikan pada temanku surat ini,” bisiknya pelan.
Ia mengangkat burung itu tinggi.
Lalu melepaskannya.
Sayap putih itu mengepak cepat.
Naik.
Semakin tinggi.
Menghilang di antara awan gelap.
Jenderal Li berdiri lama di halaman.
Menatap langit.
Hanya bisa berharap…
Bahwa sahabat lamanya masih sekuat dulu.
Bahwa surat itu sampai.
Bahwa Yun Lan… tidak benar-benar sendirian di sana.
Di perbatasan timur, pagi itu barak Yun lan bersiap-siap untuk latihan seperti biasa.
Yun lan ingin menceritakan apa yang terjadi di sungai, siapa yang ia serang semalam tapi tidak ada kesempatan.
Dan saat mereka berdua di barak, Yun lan berjalan mendekati Yun yang sedang bersiap mengunakan seragamnya.
“Yun, aku ingin berbicara hal penting. ”
“Ada apa? katakan saja. ”
“Tadi malam ada hal yang harus aku ceritakan padamu. ”
“Katakan saja. ”
“Aku tadi malam bertemu dan bertarung dengan—.”
Tiba-tiba ucapan Yun lan terpotong oleh Qiao yang masuk kedalam, lalu memegang pundak Yun lan dari belakang. “Sedang apa kalian disini!, ayo cepat nanti komandan Zhou menghukum kalian karena terlambat berkumpul. ”
“Tapi... tapi aku masih mau—.”
“Nanti saja...!”
Qiao langsung menarik Yun lan keluar dari barak mereka dengan diikuti oleh Yun dari belakang mereka.