NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

BAB 30: Di Ambang Pintu Cahaya

Aroma karbol yang tajam menusuk indra penciuman Alek, berebut tempat dengan bau apek dari kasur tipis yang ia baringi. Klinik Lapas bukan tempat yang mewah; hanya sebuah ruangan panjang dengan cat dinding yang mengelupas dan deretan ranjang besi yang berkarat di sana-sini. Di langit-langit, sebuah lampu neon tua berkedip-kedip, mengeluarkan bunyi dengung rendah yang seolah-olah sedang menghitung detak jantung Alek yang melambat.

Setiap kali Alek mencoba menarik napas, sebuah rasa sakit yang tajam seperti hunjaman belati menyerang bagian rusuk kirinya. Dokter lapas bilang ada retakan di sana, tidak cukup parah untuk dioperasi, namun cukup menyiksa untuk membuat setiap gerakan menjadi sebuah perjuangan. Ia dibebat kain perban putih yang melilit dadanya dengan sangat ketat, seolah-olah perban itu adalah satu-satunya hal yang menjaga tubuhnya agar tidak hancur berkeping-keping.

Alek menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang kembali ke dua tahun lalu, saat ia dilarikan ke Rumah Sakit swasta terbaik di Bandung setelah bentrokan besar dengan geng saingan. Saat itu, ia dirawat di kamar VIP. Rekan-rekan Venom Crew-nya datang silih berganti membawa buah-buahan mewah, rokok selundupan, dan tawa yang membanggakan setiap luka tempur mereka. Saat itu, luka adalah medali. Luka adalah bukti bahwa ia adalah Alexander Panjaitan yang tak tertandingi.

Namun sekarang, di ruangan yang sunyi ini, luka-lukanya terasa sangat berbeda. Tidak ada rekan geng yang menjenguk. Tidak ada pujian atas keberaniannya. Ia babak belur karena ia memilih untuk tidak membalas. Ia hancur karena ia mencoba untuk menjadi baik.

"Kenapa sesepi ini, Tuhan?" bisik Alek, suaranya parau dan kering.

Ia merasakan keheningan ini lebih menyakitkan daripada tendangan Bara semalam. Keheningan ini adalah suara dari dunianya yang sudah runtuh. Identitasnya sebagai "Putra Mahkota" Pendeta Daniel sudah dicabut. Identitasnya sebagai mesin tempur jalanan sudah ia buang. Ia merasa seperti seorang aktor yang berdiri di atas panggung setelah semua penonton pulang dan lampu panggung dimatikan. Hanya ada dia, kegelapan, dan rasa sakit.

Ia mencoba meraba sisi tempat tidurnya. Di sana, di atas meja besi kecil yang berkarat, tergeletak buku catatan biru dari Khansa. Sampulnya masih menyisakan bercak darah kering dan noda lumpur dari lapangan kemarin. Alek meraihnya dengan tangan gemetar, menahan rintihan saat otot dadanya tertarik.

Ia membuka halaman yang belum terisi. Dengan potongan pensil yang hampir habis, ia menuliskan kata-kata yang lahir dari puncak kesunyiannya.

"Khansa, aku berada di tempat di mana tidak ada lagi yang bisa diambil dariku. Ayah sudah mengambil namaku. Bara sudah mengambil kekuatanku. Penjara ini sudah mengambil kebebasanku. Aku merasa seperti pohon yang seluruh daun dan cabangnya sudah dipangkas habis, hanya menyisakan batang yang telanjang di tengah badai."

Alek berhenti sejenak, menatap tulisannya yang miring karena tangannya yang masih lemah.

"Tapi anehnya, Khansa... setelah semuanya hilang, aku baru sadar bahwa batang yang telanjang ini justru lebih dekat dengan akar. Tidak ada lagi yang bisa membohongiku. Tidak ada lagi harga diri yang harus kujaga. Di klinik yang bau karbol ini, aku baru mengerti apa itu artinya 'sendiri'. Dan ternyata, sendirian adalah satu-satunya cara untuk benar-benar mendengarkan suara-Nya."

Tiba-tiba, pintu klinik yang terbuat dari jeruji besi berderit terbuka. Seorang sipir muda bernama Bayu masuk membawa nampan berisi segelas air putih dan sebutir obat pereda nyeri. Bayu adalah salah satu petugas yang jarang membentak, dan diam-diam Alek tahu bahwa Bayu sering mendengarkan khotbah-khotbah Syekh Mansyur dari balik pintu masjid.

"Minum ini, Lex," ujar Bayu pelan sambil membantu Alek sedikit duduk.

Alek mengerang kesakitan, wajahnya pucat pasi. Setelah menelan obatnya, ia menatap Bayu. "Apa ada yang tanya tentang saya di luar, Pak?"

Bayu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Keluargamu belum ada yang menelepon. Tapi..." Bayu merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong kecil kurma yang dibungkus tisu bersih. "Tadi pagi Syekh Mansyur menitipkan ini lewat petugas dapur. Beliau bilang, jangan lihat manisnya buah ini, tapi lihatlah betapa ia sanggup bertahan di padang pasir yang paling kering sekalipun. Beliau sedang mendoakanmu, Lex."

Alek menerima kurma itu. Air matanya hampir jatuh. Di tengah pengkhianatan dunia luar dan kebencian penghuni penjara, masih ada satu jiwa yang peduli padanya tanpa syarat.

"Terima kasih, Pak," bisik Alek.

"Istirahatlah. Syekh bilang, malam ini kau harus mengumpulkan tenaga. Karena besok, kau harus berdiri tegak saat pintu itu dibuka," ujar Bayu sebelum meninggalkan Alek sendirian kembali.

Alek menggenggam kurma itu di telapak tangannya. Ia mencium aromanya yang manis, kontras dengan bau tajam obat-obatan di ruangan itu. Ia merasa seperti sedang memegang sepotong harapan. Ia menyadari bahwa tubuhnya mungkin sedang berada di titik terlemah, namun ada sesuatu di dalam jiwanya yang sedang mengeras, bersiap untuk sebuah lompatan besar yang akan menentukan nasibnya selamanya.

Malam itu, di bawah kerlip lampu neon yang tak stabil, Alek tidak lagi merasa ketakutan. Ia menutup matanya, membayangkan air wudhu yang mengalir dan sujud Syekh Mansyur yang tenang. Ia tidak lagi peduli pada nama Panjaitan yang sudah hilang. Ia hanya peduli pada satu hal: besok, ia ingin menemukan nama barunya di hadapan Tuhan yang selama ini ia hindari.

Sore itu, cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi klinik mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Alek baru saja terbangun dari tidur singkat yang diganggu oleh rasa nyeri di rusuknya ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mantap namun tenang. Syekh Mansyur melangkah masuk, mengenakan gamis abu-abu yang bersih dengan aroma kayu cendana yang seketika mengalahkan bau tajam karbol di ruangan itu.

Syekh duduk di kursi kayu di samping ranjang Alek, menatap lebam kebiruan di wajah pemuda itu dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meletakkan sebotol kecil minyak wangi di atas meja besi.

"Badanmu hancur, Alexander, tapi matamu terlihat lebih hidup hari ini," ujar Syekh Mansyur pelan.

Alek tersenyum getir, mencoba memperbaiki posisi duduknya meskipun harus meringis. "Saya mencoba melakukan apa yang Anda katakan, Syekh. Saya diam saat Bara memukuli saya. Saya meletakkan harga diri saya di lantai. Tapi jujur... saya merasa seperti pecundang. Ayah saya membuang saya karena saya dianggap murtad, dan di sini saya dipukuli karena saya dianggap lemah. Apa memang begini jalannya? Menjadi orang baik berarti menjadi samsak bagi orang jahat?"

Syekh Mansyur terdiam sejenak, memutar-mutar tasbih kayu di tangannya. Ia menatap Alek, bukan dengan tatapan kasihan, melainkan dengan tatapan seorang guru yang sedang mempersiapkan prajuritnya.

"Alexander, dengarkan aku baik-baik," Syekh merendahkan suaranya. "Islam tidak datang untuk mengubah singa menjadi domba. Islam datang untuk mengajari singa kapan ia harus mengaum dan kapan ia harus diam."

Alek mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan ini.

"Kemarin, saat kau diam dipukuli Bara, kau menang atas egomu. Kau membuktikan bahwa kau bukan lagi tawanan amarahmu sendiri. Itu adalah kemenangan pertama yang harus kau lalui," lanjut Syekh Mansyur. "Namun, kau juga harus tahu satu hal: tidak semua kekerasan itu salah. Ada saatnya kau harus menggunakan kekuatanmu kembali."

Alek tertegun. "Maksud Syekh? Saya pikir Anda mengajari saya untuk tidak lagi berkelahi."

"Seorang pria yang tidak bisa menggunakan kekerasan bukanlah pria yang damai, dia hanyalah pria yang tidak berdaya. Tapi seorang pria yang mampu menghancurkan namun memilih untuk menahan diri demi kebenaran, itulah pria yang kuat," Syekh Mansyur menatap tangan Alek yang besar. "Tuhan memberikanmu fisik yang kuat bukan tanpa alasan. Suatu saat, kau akan keluar dari sini. Kau akan membangun hidup, kau akan melindungi Khansa, kau akan membela agamamu. Jika saat itu datang, dan ada kezaliman yang mengancam nyawa orang yang kau cintai atau kehormatan imanmu, maka diammu saat itu adalah dosa."

Syekh Mansyur mengusap botol minyak cendana itu. "Kau harus belajar menggunakan tanganmu kembali, tapi bukan dengan nafsu Venom Crew. Gunakan kekerasan hanya sebagai benteng, bukan sebagai pedang kesombongan. Jika kau dipukuli karena kau memilih sabar, itu mulia. Tapi jika kau membiarkan orang lain disakiti padahal kau mampu mencegahnya, itu pengecut. Kau mengerti?"

Alek menelan ludah. Kata-kata itu memberikan keseimbangan baru dalam batinnya. Selama ini ia merasa bahwa masuk Islam berarti ia harus kehilangan taringnya. Ternyata, Syekh Mansyur ingin ia tetap memiliki taring, namun taring yang hanya keluar untuk melindungi, bukan untuk memangsa.

"Tuhan sedang mengosongkan gelasmu sekarang, Alexander," Syekh Mansyur menyambung kembali nasihatnya yang tadi sempat tertunda. "Rasa sakit dari ayahmu dan rasa sakit dari Bara adalah cara-Nya membersihkan sisa-sisa kesombongan masa lalumu. Biarkan gelasmu kosong sama sekali dari rasa cinta pada pujian manusia. Karena hanya saat gelas itu kosong, cahaya-Nya bisa masuk tanpa tercampur noda."

Alek menatap tangannya yang masih bergetar. "Kapan saya akan tahu saatnya untuk kembali mengepal, Syekh?"

"Hati yang sudah kau basuh dengan wudhu akan memberitahumu. Jika kau mengepal karena kau merasa dihina, itu nafsu. Tapi jika kau mengepal karena kebenaran sedang diinjak, itu jihad," Syekh Mansyur berdiri, mengusap kepala Alek dengan lembut. "Malam ini, mintalah pada Pemilik Nyawa agar Dia memberikanmu kebijaksanaan itu. Besok adalah hari besar bagi jiwamu. Jangan datang kepada-Nya sebagai pecundang yang terpaksa, tapi datanglah sebagai ksatria yang menyerahkan pedangnya karena cinta."

Setelah Syekh pergi, Alek terdiam dalam waktu yang sangat lama. Ia mengambil minyak cendana itu, mengoleskannya sedikit di pergelangan tangannya, dan menghirup aromanya yang menenangkan. Ia merasa seperti baru saja diberikan sebuah identitas baru. Ia bukan lagi Alexander yang brutal, dan ia bukan lagi Alexander yang pasrah tanpa daya.

Ia adalah seorang calon hamba yang sedang belajar kapan harus bersujud dan kapan harus berdiri tegak.

Alek meraih buku biru Khansa, menulis dengan keyakinan yang lebih mantap:

"Khansa, hari ini aku belajar sesuatu yang luar biasa. Syekh bilang aku tidak harus jadi domba. Aku tetap boleh jadi singa, asal aku tahu untuk siapa taringku kugunakan. Aku merasa lebih kuat hari ini, bukan karena rusukku sudah sembuh, tapi karena aku tahu kekuatanku punya tujuan yang lebih mulia dari sekadar jalanan Bandung."

Alek menutup bukunya. Malam itu, di klinik yang sunyi, ia mulai membayangkan dirinya bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai seseorang yang sedang dipersiapkan untuk sebuah perjuangan besar yang jauh melampaui dinding beton penjara ini.

Kota Bandung sore itu diselimuti mendung tipis yang menggantung rendah di atas atap-atap gedung tua Braga. Riki memarkir motornya di sebuah gang sempit di belakang terminal Cicaheum. Jantungnya berdegup tidak keruan. Ia baru saja mendapatkan pesan singkat dari seorang informan lama—mantan anggota Venom Crew yang kini bekerja sebagai pesuruh di sebuah kantor hukum ternama.

Di sebuah warung kopi kecil yang hanya diterangi lampu pijar 5 watt, Riki duduk menghadap seorang pria bertopi pet yang terus menunduk.

"Lo yakin sama info ini, Man?" bisik Riki, suaranya tenggelam dalam deru bus yang masuk ke terminal.

Pria bernama Maman itu mengangguk, lalu mendorong selembar kertas yang berisi catatan log panggilan telepon dan mutasi rekening kecil. "Gue nggak sengaja liat di meja bos gue. Ada aliran dana ke rekening istri seorang sipir di Lapas tempat Alek ditahan. Dan pengirimnya... bukan orang sembarangan."

Riki membaca nama yang tertera di sana. Rahardjo.

"Ayah Bagas," desis Riki. Kepalannya mengeras di bawah meja. "Jadi dia dalangnya? Dia yang kirim foto-foto itu ke Pendeta Daniel? Dia juga yang bayar Bara buat gebukin Alek?"

"Nggak cuma itu, Rik," Maman mencondongkan tubuh, suaranya semakin mengecil. "Bapak itu sudah kehilangan akal sehatnya. Dia merasa hukum nggak cukup adil buat Alek. Dia mau Alek mati di dalam, tapi mati dengan cara yang pelan-pelan. Dia mau Alek ditinggalin semua orang dulu, baru setelah Alek nggak punya alasan buat hidup, dia bakal suruh orang buat habisin Alek di lapangan."

Riki merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia baru menyadari bahwa Alek bukan hanya sedang berhadapan dengan tembok penjara, tapi sedang dikepung oleh predator yang memiliki uang dan dendam yang tak terbatas.

"Gue harus kasih tahu Ibu Alek," ujar Riki sambil berdiri.

"Jangan!" Maman menahan lengan Riki. "Kalau lo ke rumah Alek sekarang, orang-orang suruhan Rahardjo bakal tahu. Lo diawasi, Rik. Sejak lo sering jenguk Alek, motor lo sudah diikuti."

Riki tertegun. Ia melihat ke arah mulut gang dan menyadari ada sebuah mobil hitam dengan kaca gelap yang terparkir tidak jauh dari sana sejak sepuluh menit yang lalu. Rasa takut sempat menyergapnya, namun bayangan Alek yang babak belur di dalam sel membuat keberaniannya kembali bangkit.

"Terus gue harus gimana? Diem aja liat sahabat gue dibantai?"

"Lo harus cari cara buat kasih tahu Syekh Mansyur lewat jalur lain. Hanya Syekh yang bisa lindungin Alek di dalam. Dan satu lagi..." Maman menyerahkan sebuah amplop kecil. "Ini alamat tempat Khansa dipindahkan. Gue dapet dari orang yang bantuin keluarga Khansa packing barang. Mungkin cuma berita tentang Khansa yang bisa bikin Alek punya semangat buat tetep hidup."

Riki menerima amplop itu seperti menerima sebuah amanah suci. Ia keluar dari warung kopi dengan langkah cepat, mencoba bersikap senormal mungkin meski ia tahu sepasang mata sedang mengintai dari balik kaca mobil hitam itu.

Kembali ke Klinik Lapas, malam telah benar-benar jatuh. Alek masih terjaga, menghirup sisa-sisa aroma minyak cendana di pergelangan tangannya. Bayu, si sipir muda, kembali masuk untuk mengecek perban Alek sebelum pergantian jam tugas.

"Lex," bisik Bayu sambil pura-pura memeriksa botol infus yang sebenarnya sudah kosong. "Ada kabar dari luar. Riki kirim pesan lewat kurir makanan."

Alek menoleh cepat, rasa nyeri di rusuknya ia abaikan. "Apa katanya?"

"Dia bilang, hati-hati. Bara bukan cuma sekadar narapidana yang benci kamu. Dia dibayar. Dan yang paling penting..." Bayu mendekatkan wajahnya ke telinga Alek. "Khansa masih menunggumu di tempat yang aman. Dia menitipkan doa lewat Riki."

Alek memejamkan mata. Mendengar nama Khansa disebut, rasa sakit di tubuhnya seolah memudar, digantikan oleh kehangatan yang menjalar hingga ke ujung jari. Kabar itu adalah obat yang lebih manjur daripada morfin mana pun yang diberikan dokter.

"Pak Bayu," panggil Alek saat sipir itu hendak pergi.

"Ya?"

"Besok pagi, tolong bantu saya mandi dan ganti baju yang paling bersih. Saya ingin bertemu Syekh Mansyur. Saya ingin melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sejak lama."

Bayu tersenyum tipis, mengangguk penuh pengertian. "Akan saya siapkan, Alexander. Bersiaplah, karena besok adalah hari lahirmu yang sebenarnya."

Alek merebahkan kembali kepalanya. Di luar, hujan mulai turun, membasahi atap seng klinik dengan suara yang ritmis. Di tengah pengepungan dendam ayah Bagas dan penolakan ayahnya sendiri, Alek menemukan sebuah benteng yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun: keyakinan bahwa ia dicintai oleh Tuhan, dan ia masih memiliki alasan untuk berjuang demi Khansa.

Ia menggenggam buku catatan birunya erat-erat di atas dada, lalu berbisik pelan ke arah kegelapan. "Besok, Khansa... besok aku akan pulang ke jalan yang selama ini kau tunjukkan."

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!