Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Tunggu, Hana! Baik, kami akan pergi. Jangan bunyikan lonceng itu!" cegah Alan.
Tangan Hana mengepal, kemudian turun ke bawah, tapi pelayan yang di menara masih menggenggam tali lonceng. Alan melirik, gestur tubuh si pelayan di menara mengancamnya.
"Mundur!" ucap Jonas sembari melangkah mundur bersama Alan.
Saat mereka mundur, sekelompok penduduk muncul dari samping kanan dan kiri villa. Menatap mereka dengan tajam, tatapan tak ramah yang membuat Alan dan yang lainnya bergidik ngeri.
Para lelaki menggenggam alat canggih pemotong teh di tangan mereka, sedangkan perempuan menggenggam sebuah gunting. Mereka adalah para pekerja di perkebunan teh. Jumlahnya tidak sedikit, sebagian penduduk desa Amanaly berkerja di perkebunan teh, dan sebagian lagi di ladang-ladang di bawah bukit.
Alan masuk ke dalam mobil, diikuti yang lainnya. Ia meninggalkan bukit dengan perasaan kesal bercampur kecewa. Para penduduk bergerak serentak, berdiri di depan gerbang villa. Berjaga-jaga terhadap mereka yang akan kembali.
"Tuan Muda, ini tidak seperti yang kita bayangkan. Nona Hana benar-benar bisa menggerakkan seluruh desa," ujar Hans yang duduk di samping Jonas.
"Aku tidak mengerti, aku tidak tahu apa-apa tentang villa itu," gumam Alan seraya membanting kepalanya pada sandaran kursi. Ia terpejam, membayangkan para penduduk yang mengepung mereka.
"Mereka adalah para pekerja di perkebunan teh, jika dilihat dari jumlah sepertinya hampir sebagian penduduk desa ini," ucap Jonas.
Ia bergidik saat membayangkan tatapan mata mereka yang tajam dan dingin. Seperti sesosok mayat hidup yang ingin menerkam mereka.
"Mereka tidak terlihat seperti manusia. Tatapan mereka dingin tanpa ekspresi. Apakah mereka benar-benar manusia?" Hans mengumpat, orang-orang dengan temperamen yang dingin di kota masih terlihat seperti manusia.
"Lihatlah!" Hans dan Jonas menegang saat mobil mereka memasuki pesawahan.
Laju mobil melambat, ketegangan mengusik mereka. Di sepanjang jalan, di kanan dan kiri, para penduduk lainnya berbaris menatap iring-iringan mobil Alan.
"Ada apa? Kenapa kalian melambat?" tegur Alan seraya mengangkat kepala dan membuka mata.
"Tu-tuan ...!" Jonas terbata-bata, lidahnya kelu tak mampu berbicara.
Alan tercengang, matanya memindai para penduduk yang berbaris di sepanjang jalan. Di tangan mereka memegang alat pertanian, dari mulai cangkul sampai sabit yang besar. Alan meneguk saliva, padahal lonceng tidak dibunyikan, tapi seluruh penduduk benar-benar mengepung mereka.
"Ada dengan desa ini? Bukankah Hana tidak membunyikan lonceng?" tanya Alan gugup.
Jonas bahkan ragu untuk melintasi jalan tersebut, tapi sepertinya para penduduk pun tidak berniat menyerang. Di kanan jalan, ladang padi menghampar. Di kiri jalan, perkebunan lainnya pun tumbuh dengan subur. Desa itu benar-benar makmur.
Deg-deg!
Telinga mereka bahkan dapat mendengar detak jantung mereka sendiri. Keringat merembes dari pori-pori, tenggorokan serasa kering. Mereka benar-benar dibuat ketakutan oleh ekspresi para penduduk. Mulai dari yang muda sampai yang tua. Di ujung barisan, anak-anak penuh lumpur pun tak luput di barisan.
Sebagian bahkan ada yang sedang menunggangi kerbau, mereka seharusnya bermain dengan binatang pembajak itu, bukan? Tidak seharusnya ikut mengancam seperti yang lain.
Jonas menginjak pedal gas setelah berhasil melewati para penduduk. Gerbang desa sudah terlihat, sebuah gerbang yang terbuat dari bambu. Terlihat kokoh, dibuat seperti dua menara kembar. Di atasnya beberapa pemuda berjaga, mereka berdiri menatap kedatangan mobil Alan.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menempatkan sesuatu ke mulutnya. Lalu ....
Syut!
Jleb!
Sebuah anak panah kecil melayang dan menancap di kaca mobil Alan. Seperti panah-panahan anak kecil yang akan menempel jika ditembakkan pada kaca, tapi milik para penduduk lebih dari sekedar itu. Anak panah kecil itu benar-benar menancap dan membuat kaca mobil retak. Di sana menempel sebuah daun dengan sederet tulisan. Persis seperti semalam.
JANGAN GANGGU PEMIMPIN!
Hans meneguk saliva, mengeluarkan anak panah kecil yang mereka pungut semalam. Sama persis seperti yang menancap di kaca.
"Tu-tuan! I-ini ...." Ia menunjukkan anak panah itu kepada Alan.
"Jonas, cepat tinggalkan tempat ini!" titah Alan panik saat melihat pemuda tadi yang masih menempatkan alat kecil di mulutnya.
Jonas menambah kecepatan, ingin segera meninggalkan desa aneh itu. Setelah kepergian iring-iringan mobil Alan, mereka kembali pada pekerjaan. Mengolah ladang yang menjadi mata pencaharian mereka. Hasil ladang sebagian besar akan dijual ke luar desa, sebagian kecil akan dinikmati sendiri.
Di villa, Hana mengernyit melihat para penduduk yang berkumpul di depan gerbang villa. Mereka terlihat normal, seperti manusia lainnya.
"Nona ... apakah Anda yang menempati villa ini sekarang?" tanya salah satu dari mereka sambil tersenyum.
"Bi, mereka ...."
"Mereka para penduduk yang bekerja di perkebunan teh. Mungkin mendengar suara tembakan tadi, jadi mereka berdatangan ke sini," jawab Bi Sum menjelaskan.
Oh.
Hana melangkah pelan mendekati gerbang, ia meminta para pelayan untuk membuka gerbang selebar mungkin.
"Masuklah! Akan ada jamuan untuk kalian di sini," katanya disambut para penduduk dengan meriah.
Mereka berbaris dengan rapi dan berjalan masuk dengan tertib. Tanpa dorong-dorongan, tanpa berebut ingin menjadi yang pertama.
Aku ingin tahu, seberapa besar dan seberapa berkuasanya menjadi pemimpin desa ini.
"Nona, bagaimana Anda tahu tentang fungsi lonceng itu? Sedangkan Anda baru dua kali datang ke villa ini," tanya Bi Sum keheranan.
"Aku menemukannya di loteng," jawab Hana seraya menyerahkan senjatanya kepada Bi Sum dan melangkah mengikuti para penduduk yang pergi ke bagian samping kiri villa di mana aula berada.
Oh, ternyata ini adalah fungsi dari aula samping di villa itu. Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui, dan mulai sekarang aku harus mencari tahu semuanya.
hai jalang gk tau diri lo