Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Masa Lalu
Malam di ruang VIP rumah sakit itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Keira berbaring miring, menyandarkan kepala kecilnya di lengan Gisel yang masih terpasang selang infus.
“Mama masih sakit?” tanya Keira dengan suara kecil yang sarat akan kekhawatiran.
Matanya yang bulat menatap wajah pucat Gisel dengan saksama.
Gisel tersenyum tipis, meski setiap kali ia bernapas, perut bagian bawahnya masih terasa seperti diiris sembilu.
“Tidak, Sayang. Kakak hanya perlu istirahat sebentar saja,” jawab Gisel lembut.
Ia masih menggunakan panggilan “Kakak”. Lidahnya terasa kelu jika harus menyebut dirinya sendiri sebagai “Mama”. Meski secara agama ia adalah istri Arlan, namun di dalam hatinya, transisi dari seorang gadis SMA menjadi ibu dari anak berusia lima tahun terasa seperti melintasi jurang yang teramat lebar.
Gisel merasa belum pantas menyandang gelar itu, apalagi dengan cara mereka bersatu yang begitu tragis.
Keira tidak memprotes panggilan itu. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada Gisel. Alih-alih tidur di ranjang pasiennya sendiri yang berada tepat di samping brankar Gisel, gadis kecil itu bersikeras untuk tidur satu ranjang.
Beruntung, ranjang rumah sakit kelas VIP itu cukup luas untuk menampung tubuh mungil Keira dan Gisel yang ramping. Bagi Keira, aroma Gisel adalah obat penenang yang jauh lebih ampuh daripada obat yang diberikan dokter.
Pemandangan kedekatan yang mengharukan itu tak luput dari pengamatan Bu Ratna dan Arlan yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan. Namun, jika Keira merasa tenang, tidak demikian dengan Bu Ratna. Beliau menatap putranya dengan tatapan menyelidik yang tajam.
“Apa yang kalian lakukan sampai Gisel menderita seperti ini, Arlan?” tanya Bu Ratna dengan suara lirih namun penuh penekanan.
Arlan terdiam. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana mungkin ia menjelaskan tentang obat yang membakar akal sehatnya? Bagaimana ia harus bercerita tentang kekejaman Om Arman yang menjebak mereka?
Ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena ia sangat menjaga harga diri Gisel. Ia tak ingin ibunya memandang Gisel sebagai "gadis yang sudah ternoda karena jebakan".
“Arlan...” panggil Bu Ratna, mulai tidak sabar.
“Aku... aku yang tidak berpengalaman, Bu,” jawab Arlan akhirnya, memilih untuk menanggung seluruh kesalahan di pundaknya sendiri.
Bu Ratna mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kekecewaan.
“Meski begitu, Arlan, kamu bukan lagi laki-laki remaja. Kamu bisa berkomunikasi dengan Gisel. Pernikahan itu tentang saling memahami. Jika dia kesakitan, seharusnya kamu berhenti, bukan memaksanya sampai dia seperti ini.”
“A-aku...” Arlan kehilangan kata-kata.
Rasa bersalah itu kini membengkak, menyumbat kerongkongannya. Sampai detik ini, ia bahkan belum berani menatap mata Gisel secara langsung.
Setiap kali matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan Gisel yang dingin dan kosong, Arlan merasa seperti seorang kriminal. Dan Gisel? Gadis itu lebih memilih menganggap Arlan tidak ada, memusatkan seluruh perhatiannya hanya pada Keira.
Melihat putra bungsunya yang terus dirundung rasa bersalah, ingatan Bu Ratna melayang jauh ke belakang, pada sebuah kejadian berdarah beberapa tahun silam yang mengubah garis hidup keluarga mereka selamanya.
Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi keluarga Bramantyo. Mereka sedang bersiap menuju acara pernikahan kakak Arlan, Teguh Bramantyo, dengan kekasih pilihannya, Raisa Nugroho.
Namun, Teguh yang saat itu menjabat sebagai direktur muda di perusahaan keluarga, memiliki urusan mendadak di kantor. Ia berjanji akan menyusul setelah menyerahkan berkas penting kepada rekan kerjanya.
Arlan, yang saat itu masih sangat muda, sempat menawarkan diri.
“Mas, biar aku saja yang antar berkasnya, kamu berangkatlah bersama Ibu,” ucap Arlan kala itu, namun di tolak.
“Tidak perlu, Lan. Ini berkas rahasia, aku harus menyerahkannya sendiri. Kamu jaga Ibu dan Raisa saja di sana.”
Ternyata, itu adalah percakapan terakhir mereka yang normal. Sampai acara akad nikah akan dimulai, Teguh tak kunjung muncul. Raisa, yang sudah mengenakan kebaya pengantin putih yang indah, mulai menangis sesenggukan. Tamu undangan sudah penuh, penghulu sudah siap, dan martabat dua keluarga besar dipertaruhkan.
Dalam keputusasaan untuk menutupi malu, Panji Bramantyo, ayah Arlan mengambil keputusan gila. Ia meminta Arlan menggantikan posisi kakaknya di meja akad. Raisa yang awalnya menolak keras, akhirnya menyerah demi kehormatan orang tuanya. Pernikahan itu pun terlaksana, Arlan menikahi calon kakak iparnya sendiri.
Tepat saat resepsi dimulai, kabar mengerikan itu datang. Teguh mengalami kecelakaan beruntun. Mobilnya hancur dihantam truk yang hilang kendali.
Di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa tulang rusuk Teguh yang patah menusuk organ dalamnya. Dalam sisa-sisa kesadarannya sebelum mengembuskan napas terakhir, Teguh memegang tangan Arlan.
“Lan... jaga Raisa... jaga anak kami...” bisiknya.
Saat itulah semua orang baru tahu bahwa Raisa sedang mengandung anak Teguh.
Kematian Teguh adalah awal dari penderitaan Arlan. Raisa, yang menjadi istri Arlan dalam kondisi mengandung anak mendiang kakaknya, mengalami depresi berat.
Arlan mencurahkan seluruh hidupnya untuk menjaga Raisa. Ia tidak sempat berkabung untuk kakaknya, ia hanya ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak bersikeras mengantar dokumen hari itu.
Namun, takdir kembali memukulnya. Raisa melahirkan secara prematur karena kondisi mentalnya yang tidak stabil.
Komplikasi gagal ginjal merenggut nyawa Raisa seminggu setelah Keira lahir. Lagi-lagi, Arlan dihadapkan pada kegagalan. Ia merasa tidak bisa menjaga Raisa dengan baik sebagaimana amanah terakhir kakaknya.
Sejak saat itu, Arlan menutup hatinya. Ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi Keira, buah hati Teguh dan Raisa yang ia cintai seperti anak kandungnya sendiri.
“Arlan,” suara Bu Ratna membuyarkan lamunan Arlan.
“Ibu tahu kamu selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Teguh dan Raisa. Tapi jangan sampai kamu larut dalam pola yang sama.” Arlan tersentak, menatap ibunya dengan mata yang lelah.
“Kamu harus bisa melupakan masa lalu. Sekarang kamu punya keluargamu sendiri. Kamu punya Gisel,” lanjut Bu Ratna dengan tegas.
“Jangan sampai rasa bersalahmu di masa lalu justru membuatmu mengabaikan Gisel yang ada di depan matamu sekarang. Dia sudah mengorbankan segalanya untuk berada di sini.” Arlan terdiam, meresapi setiap kata ibunya.
Benar. Andaikan dulu ia lebih kuat menahan Teguh, mungkin tragedi itu tak akan terjadi. Dan sekarang, di atas brankar itu, ada Gisel, gadis muda yang ia lukai karena ketidakmampuannya mengendalikan situasi di Jalan Bunga.
Meskipun ada campur tangan obat terlarang, Arlan tetap menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan hawa nafsu mengambil alih akal sehatnya.
Ia menatap Gisel yang kini sudah memejamkan mata bersama Keira. Benang merah di antara mereka sudah terikat dengan cara yang sangat kusut.
Arlan menghela napas panjang, menyadari bahwa perjalanan untuk menyembuhkan luka Gisel akan jauh lebih sulit daripada sekadar membayar biaya rumah sakit. Ia harus belajar menjadi suami bagi gadis yang sebenarnya tidak pernah menginginkan dirinya.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏