NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

Nolan merasa terjepit dalam situasi yang sulit. Sebagai pribadi, dia seharusnya bahagia karena Kinara memintanya untuk kembali bersama. Namun, rasa bersalah yang menggelayuti pikirannya tentang kejadian malam itu bersama Qiara membuat hatinya resah dan terus menghantui jiwanya.

Kini, dalam ruang inap tersebut, hanya ada Nolan dan Kinara. Melihat Nolan tenggelam dalam lamunan, Kinara justru dibuat bingung oleh sikap Nolan.

"Kenapa ya? Apakah Nolan ragu untuk kembali bersamaku? Mungkinkah dia hanya ingin menjalin persahabatan saja, mengingat beberapa bulan ini aku menolak permintaannya untuk kembali?" gumam Kinara dalam hati, cemas akan jawabannya.

Atau, pikir Kinara lagi, "Mungkinkah ada gadis lain yang kini sedang mengejarnya, seperti dulu ketika aku mengejar cintanya? Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi," tegas Kinara dalam hati, lantas nekat untuk mengambil langkah pasti.

Dahulu, Nolan pernah jatuh cinta padanya karena Kinara rela mengejar cintanya meski harus mengorbankan harga dirinya. Kini, ketika Kinara sedang berjuang melawan penyakit kanker yang mengancam hidupnya, dia tidak ingin kehilangan Nolan juga. Sangat ditakutkannya jika Nolan berpaling pada gadis lain dan meninggalkannya dalam kesendirian.

"Nolan, kenapa kamu diam saja? Apakah tawaranmu untuk kembali masih berlaku? Jika iya, mari kita pacaran lagi," ucap Kinara lagi, menyadari Nolan tidak merespon permintaannya.

Nolan tampak kesulitan menelan ludah dan ragu-ragu.

"Tapi... " ucap Nolan, terhenti karena melihat Kinara menangis.

Perasaan bercampur aduk antara rasa cinta yang belum hilang dan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.

"Kalau kamu tidak mau kembali padaku, lebih baik aku mati saja. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Semua orang meninggalkanku dan tidak peduli dengan keadaanku." Kinara mulai marah dan mencabut infus yang terpasang di pergelangan tangannya, membuat darah berceceran.

Nolan benar-benar dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Di satu sisi, ia masih sangat mencintai Kinara dan kenangan bersama dengannya begitu berarti. Namun, di sisi lain, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya malam itu pada Qiara yang menunjukkan ia mengambil kesucian Qiara.

Karena Nolan saat itu mabuk, mengira Qiara adalah Kinara. Pilihan yang harus dihadapi sangat menghancurkan hatinya, bagaimana pun ia harus memilih salah satunya.

"Tuhan, apakah ini jalan yang harus aku tempuh? Bisakah aku melupakan rasa cinta dan tanggung jawab ini untuk menata hatiku kembali?" Bisik Nolan dalam hati, berusaha mencari jawaban terbaik di tengah situasi sulit ini.

Karena bagaimana pun juga Nolan adalah tipe orang yang bertanggung jawab.

Cinta dan tanggung jawab sungguh hal yang sangat sulit untuk di pilih salah satunya.

***

*

**

Qiara yang terus berjalan di koridor rumah sakit Ken Saras. Tiba-tiba, ia teringat oleh kata-kata pamannya Danu yang mengatakan bahwa rumah sakit itu sarangnya hantu. Wajah sedih dan kecewa yang sebelumnya ditunjukkan Qiara, kini berubah menjadi takut.

"Astaga, apa benar hantu yang mengikutiku?" gumam Qiara sambil bola matanya membulat sempurna.

Melangkah dengan ragu, Qiara berjalan tanpa arah, mencoba melupakan ketakutan yang mulai menyelimuti hatinya. Pikirannya melayang ke sosok Nolan, yang seharusnya menemuinya dan menjaganya malam ini.

"Nolan, bukankah kamu berjanji akan menemani dan menjaga aku malam ini? Tapi mengapa hingga larut begini kamu belum juga datang?" gumam Qiara seraya air mata mulai mengalir membasahi pipinya.

Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh pundak Qiara, membuatnya berteriak dengan suara melengking. Namun, bibirnya langsung dicekal dari belakang.

"Ha...Han...Tu," ucap Qiara dengan suara yang bergetar ketakutan.

Tawa terdengar di belakangnya. "Ha ha ha, ternyata lo juga takut sama hantu, ya?"

"Natan?" ucap Qiara, lega sekaligus kecewa. Natan hanya tertawa terbahak-bahak, mengejek ketakutannya, sementara Qiara mencoba menyembunyikan perasaan campur aduk antara kesal dan rasa harap yang pupus.

****

Setelah sedikit perdebatan kecil. Qiara dan juga Natan nampak berjalan beriringan.

Bahkan keheningan menyelimuti ke duanya sekarang ini.

Natan terlihat menguap beberapa kali, sebagai tanda kalau dirinya itu sangat mengantuk.

"Loh!" gumam Qiara bingung.

"Lo itu aneh, masih jadi pasien malah jalan jalan malam. Lebih baik lo itu istirahat di dalam ruangan. Asal lo tahu, angin malam itu bikin sakit," ucap Natan sok tahu sembari mendorong punggung Qiara untuk masuk ke dalam ruang inapnya.

Qiara nampak menolak, saat Natan mendorong dorong tubuh nya.

"Loh, kenapa lo itu malah ajak gue buat gulat!" tegur Natan.

"Ngapain gue itu ajak lo gulat. Gue itu udah di perbolehkan kan pulang sejak sore, terus hape yang di kasih oleh Tuan Abraham bokap lo itu mati," jelas Qiara sembari menatap Natan dengan tatapan tajam.

"Oh, jadi lo udah boleh pulang," ujar Natan sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

Qiara reflek mengangguk.

"Ya udah ayo kita kembali ke tempat tadi, karena mobil gue di parkir di sana." ajak Natan sembari menarik tangan Qiara.

"Apa?" ujar Qiara terkejut, pasalnya tempat dirinya terakhir berjalan sampai ke ruangan inap dimana sebelumnya di rawat memakan waktu 15 menit untuk berjalan. Karena rumah sakit ini model besar bukan tingkat.

"Gue kira lo itu tadi nuntun jalan buat ke parkiran. Gak taunya malah balikin lagi ke ruang inap gue," kata Qiara kesal.

"Lah, gue kan gak tau kalau lo itu sudah di perbolehkan untuk pulang," kilah Natan.

"Ya udah ayo! Kalau lo tetep ingin nginep di sini lagi silahkan. Gue mau pulang!" Natan berjalan meninggalkan Qiara.

Dengan kaki yang di hentak hentakkan, dan hembusan nafas kasar yang berkali kali keluar dari hidungnya.

Akhirnya Qiara memutuskan untuk mengekor di belakang Natan.

"Nolan ... Nolan, dasar Kakak laknat ganggu tidur gue aja. Sok sokan malam ini mau jaga Qiara di rumah sakit. Ujung ujung nge-prank aja," gerutu Natan kesal.

"Untung nya Qiara udah boleh pulang, jadi nanti gue bisa lanjutin tidur gue lagi di rumah."

**

Di parkiran rumah sakit Ken Saras, Natan tampak kesal melihat Qiara yang malah mengitari mobilnya. Ia yang sebelumnya sudah duduk santai di dalam mobil, kini terpaksa keluar lagi untuk menegur Qiara.

"Apa sih yang Lo cari? Dari tadi muter muter seperti orang bego, trus bukanya masuk. Kenapa malah mengelilingi mobil gue?" ujar Natan dengan nada kesal sambil menarik kaos Qiara dari belakang, bahkan tubuh Qiara terlihat juga ikut terangkat.

Dengan tinggi badan 180 cm dan berat badan 70 kg, Natan memang begitu mudahnya mengangkat tubuh Qiara yang hanya memiliki tinggi badan 150 cm dan berat badan 45 kg. Perbandingan yang sangat jauh.

"Ya Tuhan, gue kesakitan! Lepasin gue sekarang!" protes Qiara, merasa kesal karena lengan yang ikut ketarik, hal itu membuat lengannya terasa sangat sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!