NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 29: Ketimpangan kutukan [9]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Pintu rumah Zack akhirnya tertutup pelan di belakang mereka, menyisakan keheningan yang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi hening karena ketakutan, melainkan hening yang terasa seperti napas panjang setelah berlari jauh. Udara malam menyambut mereka dengan dingin tipis yang menyentuh kulit, membuat semuanya terasa lebih nyata.

Lampu jalan memantulkan bayangan mereka di trotoar, lima siluet yang berjalan berdampingan tanpa benar-benar menyadari bahwa malam itu mereka telah melewati sesuatu yang akan mengubah cara mereka memandang hidup bukan dengan ledakan dramatis, bukan dengan adegan heroik, melainkan dengan percakapan, kesadaran, dan tawa yang terlalu jujur untuk dibuat-buat.

Zack berjalan sedikit lebih pelan dari yang lain, bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin merasakan langkahnya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, pikirannya tidak terasa seperti ruang sempit yang penuh gema. Ia tidak lagi merasa dikejar oleh bayangan masa lalu keluarganya, tidak merasa seperti pusat dari pusaran yang tak ia mengerti.

Tetapi, Zack justru merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang tidak menuntutnya menjadi sempurna, tidak memaksanya menjadi penyelamat, tidak menobatkannya sebagai tokoh utama yang harus selalu tahu jawabannya. Ia hanyalah seseorang yang kebetulan lahir di garis tertentu, berdiri di titik tertentu, bersama orang-orang tertentu. Dan mungkin, pikirnya, itu sudah cukup.

Saka berjalan di sisi kiri, tangannya masuk ke saku jaket, wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Ia tidak banyak bicara, tetapi pikirannya bekerja pelan, menimbang setiap detail yang mereka temukan tadi, reaksi jangkar, stabilitas resonansi, pola yang tidak berubah meski mereka tertawa. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam: keseimbangan tidak tercipta dari ketiadaan emosi, melainkan dari kemampuan untuk tidak tenggelam di dalamnya. Ia menoleh sekilas ke arah Zack, memastikan temannya itu tidak lagi terlihat terbebani seperti beberapa hari lalu.

Dan ketika ia melihat ekspresi yang lebih ringan di wajah Zack, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk kecil pada dirinya sendiri, seolah mencatat bahwa untuk malam ini, semuanya aman.

Kale berjalan di belakang mereka, langkahnya santai, pikirannya teratur seperti biasa.

Baginya, setiap kejadian adalah puzzle; setiap simbol, setiap reaksi energi, setiap ucapan ayah Zack adalah potongan informasi yang bisa disusun perlahan. Namun yang paling menarik baginya bukanlah misterinya, melainkan bagaimana mereka menghadapinya. Ia menyadari bahwa kelompok ini tidak pernah dibentuk untuk hal besar seperti ini. Mereka bukan tim rahasia, bukan organisasi tersembunyi, bukan orang-orang dengan pelatihan khusus.

Mereka hanya mahasiswa yang kebetulan berada di waktu dan tempat yang tepat, atau salah, tergantung sudut pandang. Dan mungkin justru karena itu, mereka masih bisa tertawa.

Hamu berjalan dengan tangan terlipat di belakang kepala, sesekali menatap langit. Ia selalu menjadi penyeimbang suasana, orang yang bisa mengubah ketegangan menjadi candaan tanpa membuatnya terasa dipaksakan.

Tapi di balik santainya itu, ia juga tahu bahwa yang mereka hadapi bukan main-main. Ia hanya memilih untuk tidak memberi ketakutan terlalu banyak ruang. Baginya, hidup sudah cukup rumit tanpa harus ditambah panik berlebihan. Jika sesuatu memang harus dihadapi, maka hadapi.

Tapi jangan lupa bernapas.

Jangan lupa hidup.

Jangan lupa bahwa mereka masih punya dunia lain yang menunggu, kelas, tugas, obrolan di kantin, dan hal-hal kecil yang membuat hari terasa normal.

Dan Rakes, yang berjalan paling depan sekarang, seolah-olah tanpa sadar mengambil posisi pemimpin konvoi kecil itu, tiba-tiba berhenti di bawah lampu jalan, berbalik, lalu menatap mereka dengan ekspresi dramatis yang terlalu khas untuk diabaikan.

“Gue baru sadar satu hal,” katanya pelan, nada suaranya dibuat dalam seperti sedang bermonolog.

Semua berhenti.

“Kalau hidup kita ini novel,” lanjutnya, “genre-nya ngga jelas banget.”

Saka menghela napas. “Mulai.”

“Serius,” Rakes mengangkat kedua tangannya, wajahnya setengah reflektif setengah lebay. “Ini tuh campuran misteri, drama keluarga, sedikit supranatural, terus tiba-tiba slice of life anak kuliahan yang stres karena presentasi.”

Kale menatapnya datar. “Dan komedi karena lo.”

“Justru itu poin pentingnya,” jawab Rakes cepat. “Kalau ngga ada komedi, ini jadi terlalu berat. Pembaca bisa capek.”

“Siapa pembaca?” tanya Hamu santai.

Rakes menunjuk langit. “Entah. Alam semesta.”

Zack menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang. Mereka kembali berjalan, kali ini lebih pelan, membiarkan malam mengisi jeda di antara percakapan. Lampu-lampu kota menyala redup di kejauhan, suara kendaraan terdengar samar seperti latar belakang yang tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan mahasiswa yang tinggal di kota ini.

Dalam langkah-langkah yang terasa biasa itu, Zack menyadari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada teori jangkar atau fondasi leluhur. Ia menyadari bahwa ketenangan yang ia rasakan bukan datang dari jawaban yang lengkap, melainkan dari penerimaan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus.

Bahwa ada proses yang memang perlu dijalani perlahan.

Bahwa ia tidak harus menjadi versi terbaik dari dirinya dalam satu malam hanya karena ia menemukan rahasia lama keluarganya.

Ia menatap punggung Rakes yang masih berjalan paling depan, berbicara tanpa henti tentang kemungkinan “spin-off cerita” yang fokus pada perjuangan IPK.

“Gue serius,” kata Rakes lagi, “kalau ada arc tentang skripsi nanti, itu pasti yang paling menegangkan.”

“Lebih menegangkan dari fondasi energi ribuan tahun?” tanya Saka.

“Jelas,” jawab Rakes mantap. “Dosen pembimbing lebih konkret ancamannya.”

Hamu tertawa kecil. “Kalau leluhur marah paling getarannya naik. Kalau dosen marah, revisi lo naik.”

Kale menambahkan tenang, “Dan itu dampaknya nyata.”

Zack ikut tertawa, tapi di balik tawanya, ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya. Ia tidak lagi merasa seperti pusat badai. Ia merasa seperti bagian dari lingkaran, lingkaran yang mungkin tidak sempurna, kadang goyah, kadang terlalu berisik, tapi tetap utuh.

Langkah mereka akhirnya sampai di persimpangan kecil tempat mereka biasa berpisah. Lampu lalu lintas berkedip kuning pelan, memberi suasana yang hampir sinematik, meski Rakes tentu akan menyebutnya “scene penutup episode.”

Mereka berhenti.

Tidak ada yang langsung bicara.

Malam terasa lebih dalam sekarang, lebih hening, tapi bukan hening yang menekan. Hening yang memberi ruang.

Zack memandang mereka satu per satu. Ia tahu perjalanan ini belum selesai. Mungkin akan ada hari di mana jangkar bereaksi lagi. Mungkin akan ada konflik yang lebih besar, keputusan yang lebih sulit. Tapi untuk saat ini, yang ia lihat bukan ancaman masa depan, melainkan empat orang yang memilih tetap di sampingnya tanpa diminta.

“Terima kasih,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Rakes langsung mengangkat alis. “Waduh. Ini mulai sentimental.”

“Diem dulu,” sahut Kale.

Zack tersenyum kecil. “Gue cuma sadar… kalau tadi gue sendirian, mungkin gue bakal panik. Tapi karena kalian ada, semuanya terasa… lebih masuk akal.”

Saka mengangguk sekali. “Karena lo ngga sendirian.”

Hamu menambahkan ringan, “Dan lo ngga akan kita biarin sendirian juga.”

Rakes menyilangkan tangan, pura-pura angkuh. “Ya jelas lah. Kalau lo kenapa-kenapa, siapa yang traktir kopi?”

Semua tertawa lagi.

Dan di tengah tawa itu, ada kejujuran yang tidak perlu dirinci. Mereka mungkin tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang mereka hadapi. Mereka mungkin masih setengah meraba arah. Tapi mereka tahu satu hal: apa pun yang datang berikutnya, mereka akan menghadapinya bersama, dengan diskusi serius, dengan analisis panjang, dengan overthinking yang kadang tidak perlu… dan tentu saja, dengan celetukan yang menjaga mereka tetap waras.

Lampu kuning berkedip sekali lagi.

Angin malam berhembus pelan.

Dan lima mahasiswa itu akhirnya berpisah untuk pulang, membawa pulang bukan hanya rahasia lama yang baru terungkap, tetapi juga kesadaran yang jauh lebih penting, bahwa keseimbangan bukan hanya tentang energi tak terlihat atau fondasi kuno, melainkan tentang pilihan sederhana untuk tetap tinggal, tetap tertawa, dan tetap berjalan bersama meski cerita hidup mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kehidupan kampus biasa.

Sementara itu, di rumah Zack, liontin itu tetap diam di atas meja.

Tenang.

Seolah tahu bahwa untuk malam ini,

keseimbangan sudah menemukan tempatnya.

Malam semakin larut ketika Zack akhirnya tiba di kamarnya. Ia tidak langsung menyalakan lampu utama, hanya lampu meja yang cahayanya hangat dan tidak terlalu terang. Ruangan itu terasa sama seperti biasa: meja belajar dengan buku-buku setengah terbuka, laptop yang belum dimatikan sejak siang, dan papan kecil di dinding yang penuh catatan tugas kuliah. Tidak ada aura mistis. Tidak ada perubahan dramatis. Dan justru karena itu, semuanya terasa menenangkan.

Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan keheningan menyusup perlahan ke dalam pikirannya. Biasanya, di jam seperti ini, pikirannya akan mulai berisik, mengulang percakapan, menebak kemungkinan terburuk, memikirkan skenario yang belum tentu terjadi. Tapi malam ini berbeda. Ada ruang kosong yang tidak terasa menakutkan. Ada jarak sehat antara dirinya dan semua yang baru saja ia pelajari.

Di sisi lain kota, Saka sudah duduk di depan mejanya, membuka kembali catatan kecil yang tadi ia buat diam-diam saat mereka berdiskusi. Ia menggambar ulang pola lingkaran yang ada di liontin itu, mencoba memahami strukturnya bukan sebagai simbol mistis, tetapi sebagai sistem. Ia selalu seperti itu, mengurai hal besar menjadi bagian-bagian kecil agar bisa dipahami. Namun bahkan di tengah analisisnya, ia tersenyum tipis ketika teringat Rakes yang salah menyebut mereka masih sekolah.

“Mahasiswa,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Bahkan status hidup aja bisa keliru kalau panik.”

Kale, yang terkenal paling rasional, justru tidak langsung membuka buku atau catatan apa pun. Ia berdiri cukup lama di balkon kosnya, menatap lampu-lampu kota yang seperti bintang jatuh yang tidak pernah benar-benar jatuh. Ia memikirkan satu hal yang tadi tidak sempat ia ucapkan: bahwa fondasi, sekuat apa pun, tetap membutuhkan orang-orang di atasnya untuk memberi makna. Tanpa pilihan, tanpa tindakan, tanpa keberanian untuk hidup biasa di atas sejarah yang luar biasa, fondasi hanyalah sisa masa lalu.

Hamu, seperti biasa, memilih cara paling sederhana untuk memproses semuanya: ia merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar. Tangannya terlipat di belakang kepala. Ia membiarkan pikirannya mengalir tanpa dipaksa. Baginya, hidup selalu punya cara untuk menyeimbangkan diri. Kalau hari ini berat, besok mungkin lebih ringan. Kalau hari ini penuh misteri, besok mungkin cuma tentang kopi yang kurang gula. Ia percaya bahwa tidak semua hal perlu ditakuti, sebagian hanya perlu dijalani.

Dan Rakes…

Rakes duduk di meja belajarnya dengan ekspresi serius yang jarang muncul ketika tidak ada penonton. Di depannya terbuka laptop, tapi bukan catatan metodologi yang ia lihat. Ia sedang menatap file kosong, kursor berkedip pelan seperti menunggu keputusan.

Ia mengetik satu kalimat.

“Kalau keseimbangan bisa dijaga dengan tetap jadi diri sendiri, maka mungkin yang paling berbahaya bukanlah kutukan, melainkan lupa siapa kita.”

Ia berhenti.

Membaca ulang.

Lalu mendengus pelan. “Ih, dalem banget gue.”

Namun alih-alih menghapusnya, ia menyimpan file itu.

Keesokan paginya, matahari muncul seperti biasa, seolah tidak peduli pada rahasia semalam. Kampus kembali menjadi dunia yang penuh suara, langkah kaki terburu-buru, obrolan di lorong, dan aroma kopi dari kantin yang selalu terlalu ramai. Tidak ada yang tahu bahwa lima mahasiswa yang berjalan berdampingan pagi itu baru saja berbicara tentang fondasi leluhur dan resonansi energi.

Zack berjalan di tengah, tasnya tersampir santai di bahu. Ia terlihat… normal.

“Jadi,” kata Rakes tiba-tiba, memecah keheningan, “kalau nanti jangkar itu aktif lagi, menurut kalian ada notifikasi ngga?”

Saka meliriknya. “Notifikasi?”

“Iya,” lanjut Rakes serius. “Kayak: ‘Peringatan! Keseimbangan terganggu 20%. Mohon jangan panik.’”

Hamu langsung menyahut, “Atau bunyinya kayak alarm dosen kalau kita telat.”

Kale menggeleng. “Kalau ada notifikasi, kemungkinan besar lo yang paling dulu bunyi.”

Zack tertawa kecil. “Kenapa gue?”

“Karena lo pusatnya,” jawab Rakes cepat.

“Lo yang tadi bilang gue bukan spotlight terus,” balas Zack.

“Itu beda konteks,” kata Rakes tanpa rasa bersalah.

Mereka berhenti di depan gedung fakultas. Mahasiswa lain berlalu-lalang, sibuk dengan urusan masing-masing. Dunia terasa sangat biasa.

Dan di tengah kebiasaan itu, Zack menyadari sesuatu yang sederhana namun kuat: hidup tidak berhenti hanya karena kita menemukan rahasia besar. Dunia tidak melambat hanya karena kita merasa berubah. Segalanya tetap berjalan. Dan mungkin justru di situlah ujian sebenarnya, bukan ketika kita menghadapi hal besar, tetapi ketika kita harus kembali menjadi versi sehari-hari dari diri kita sendiri setelahnya.

Saka menepuk bahunya pelan. “Masih stabil?”

Zack menarik napas, merasakan dirinya sendiri.

“Iya,” jawabnya tenang.

Rakes menyeringai. “Bagus. lo harus bisa dokter koas”

Hamu menatap langit dramatik. “Nah itu baru ancaman nyata.”

Kale melangkah masuk duluan. “Kalau IPK turun, jangan salahin leluhur.”

Mereka kembali tertawa.

Dan di tengah hiruk-pikuk kampus, di antara presentasi dan catatan yang harus disalin cepat, keseimbangan itu tetap ada, tidak terlihat, tidak diumumkan, tidak dipamerkan. Ia hadir dalam langkah yang tidak terburu-buru, dalam tawa yang tidak dipaksakan, dalam pilihan untuk tetap bersama meski cerita mereka mungkin akan menjadi lebih rumit dari yang mereka bayangkan.

Perjalanan itu belum selesai.

Misteri itu belum sepenuhnya terungkap.

Namun untuk pertama kalinya, mereka tidak merasa sedang melawan sesuatu.

Mereka merasa sedang bertumbuh bersamanya.

Dan entah kenapa, bahkan Rakes, yang biasanya paling berisik, hari itu berjalan sedikit lebih tenang…

meski tetap sempat berbisik sebelum masuk kelas,

“Kalau tiba-tiba ada energi kuno muncul pas kuis, gue anggap itu alasan sah buat remedial.”

......................

Kelas statistik dimulai dengan cara yang paling tidak dramatis di dunia, slide pertama yang penuh angka, grafik batang yang terlalu padat, dan suara dosen yang stabil seperti metronom. Tidak ada getaran aneh. Tidak ada simbol misterius muncul di papan tulis. Hanya rumus, distribusi, dan probabilitas.

Dan entah kenapa, justru itu terasa seperti ujian sesungguhnya.

Zack duduk di baris tengah, laptop terbuka, kursor berkedip di dokumen kosong. Di layar proyektor terpampang persamaan panjang yang menjelaskan kemungkinan suatu kejadian dalam sistem yang tidak pasti. Ia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

Probabilitas.

Kemungkinan.

Bukan kepastian.

Ia menyadari betapa ironisnya, semalam mereka berbicara tentang fondasi ribuan tahun, tentang jangkar yang bereaksi terhadap ketidakseimbangan, tentang garis keturunan yang seolah membentuk pola tak terlihat. Dan pagi ini, ia belajar bahwa bahkan dalam sistem paling matematis sekalipun, hasil akhirnya tetap berbentuk kemungkinan.

Tidak ada yang sepenuhnya pasti.

Rakes menatap grafik di layar dengan wajah seolah-olah sedang membaca kontrak internasional yang penuh pasal tersembunyi.

“Ini angka semua kenapa kayak lagi konspirasi bareng?” gumamnya pelan.

Zack menyikutnya ringan. “Fokus.”

“Gue fokus,” balas Rakes defensif. “Tapi angka-angka ini kayak lagi ngetawain gue.”

Zack menghela napas kecil, menatap kembali layar. Ia memang satu kampus dengan Kale, universitas yang sama, gedung yang sama, hanya jurusan yang berbeda. Zack di kedokteran, Kale di bisnis. Dua dunia yang bahkan cara berpikirnya pun sering bertolak belakang. Zack terbiasa dengan anatomi, sistem tubuh, keseimbangan biologis. Kale hidup di antara strategi, perhitungan risiko, dan model pertumbuhan.

Dan anehnya, keduanya terasa saling melengkapi.

Sementara itu, di kampus yang berbeda, tidak terlalu jauh tapi cukup untuk menciptakan dinamika sendiri, Hamu, Rakes, dan Saka menjalani pagi mereka dengan cara yang sama sekali berbeda.

Hamu duduk di lab komputer, layar monitornya dipenuhi baris kode. Jemarinya bergerak cepat, wajahnya tenang. Logika baginya adalah bahasa paling nyaman. Sistem, input, output. Kalau ada error, cari bug-nya. Kalau ada crash, telusuri penyebabnya.

“Kalau keseimbangan itu sistem,” gumamnya pelan sambil mengetik, “berarti jangkar cuma firewall.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu tersenyum sendiri.

Di gedung hukum, Rakes duduk dengan postur tengga, buku tebal di depannya terbuka penuh catatan stabilo. Dosen sedang menjelaskan tentang asas keadilan dan interpretasi pasal. Kata-kata seperti “keseimbangan kepentingan” dan “landasan normatif” terdengar berulang kali.

Rakes mengangkat alis pelan.

Keseimbangan lagi.

Ia menyandarkan diri, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Jangan-jangan hidup gue ini skripsinya semesta.”

Temannya di samping menoleh bingung. “Hah?”

“Engngga, gue lagi refleksi,” jawab Rakes cepat, kembali pura-pura fokus.

Sementara itu, di kampus lain lagi, Saka berdiri di depan manekin dengan kain yang terjatuh lembut dari bahunya. Jurusan fashion membuatnya terbiasa melihat struktur dalam bentuk yang berbeda, bukan tulang atau angka, bukan pasal atau kode, melainkan potongan, garis, dan jatuhnya bahan.

Ia menyematkan jarum dengan presisi.

Bentuk harus seimbang.

Proporsi harus tepat.

Terlalu berat di satu sisi, desain akan terlihat aneh.

Ia berhenti.

Menatap karya di depannya.

Lalu tersenyum kecil.

“Fondasi,” gumamnya.

Setiap dari mereka berada di ruang yang berbeda, belajar hal yang berbeda, dikelilingi orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi semalam.

Namun ada satu benang tipis yang tidak terlihat yang tetap menghubungkan mereka, bukan karena takdir dramatis, bukan karena energi misterius yang memanggil-manggil, tetapi karena pilihan untuk tetap terlibat dalam kehidupan masing-masing tanpa lari dari apa yang sudah mereka ketahui.

Siang harinya, mereka bertemu di kafe kecil yang menjadi titik netral di antara kampus-kampus mereka.

Rakes datang duluan dan langsung berkata, “Gue resmi menyimpulkan satu hal.”

Hamu duduk di depannya. “Apa lagi sekarang?”

“Semua jurusan kita tuh nyambung.”

Zack mengangkat alis. “Maksudnya?”

Rakes menghitung dengan jari. “Lo kedokteran, ngurus keseimbangan tubuh. Kale bisnis, ngurus keseimbangan untung rugi. Hamu komputer, keseimbangan sistem. Saka fashion, keseimbangan desain. Gue hukum, keseimbangan keadilan.”

Ia berhenti dramatis.

“Kita tuh tim keseimbangan.”

Hening dua detik.

Lalu Kale berkata tenang, “Lo baru sadar?”

Saka tersenyum tipis. “Baru kepikiran sekarang?”

Hamu menyeruput minumannya. “Plot twist paling lambat dalam sejarah.”

Zack tertawa kecil, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang menghangat.

Mungkin memang bukan kebetulan.

Bukan dalam arti mistis yang memaksa.

Tapi dalam arti yang lebih sederhana, bahwa setiap dari mereka, dengan cara yang berbeda, memang terbiasa memahami struktur dan keseimbangan dalam dunianya masing-masing.

Dan mungkin itulah sebabnya mereka tidak langsung runtuh ketika mengetahui fondasi lama itu ada.

Mereka tidak panik.

Mereka menganalisis.

Mereka bercanda.

Mereka kembali ke kelas.

Rakes bersandar santai. “Jadi kalau nanti ada masalah lagi, kita tinggal pakai perspektif jurusan masing-masing.”

“Lo mau sidangin jangkar?” tanya Hamu.

“Kalau perlu,” jawab Rakes mantap.

Saka menatapnya datar. “Gue desainin outfit-nya dulu.”

Kale menambahkan, “Gue hitung nilai investasinya.”

Zack tersenyum, lalu berkata pelan, “Dan gue pastiin dia ngga overdosis energi.”

Semua tertawa lagi.

Di tengah obrolan itu, Zack sadar, keseimbangan bukan hanya sesuatu yang diwariskan.

Ia juga dibangun.

Sedikit demi sedikit.

Melalui pilihan.

Melalui cara mereka tetap menjadi mahasiswa biasa yang punya tugas, punya ambisi, punya mimpi… sambil diam-diam membawa rahasia yang mungkin lebih besar dari usia mereka.

Dan di meja kecil kafe itu, di antara tumpukan buku dan gelas kopi setengah kosong, lima jurusan yang berbeda itu terasa seperti satu sistem yang utuh.

Sistem yang mungkin tidak sempurna.

Tapi cukup kuat untuk bertahan.

Dan Rakes, tentu saja, menutup siang itu dengan satu kalimat khasnya:

“Kalau gini sih, jangkar juga mikir dua kali buat ganggu kita. Kita kebanyakan perspektif.”

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!