NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Di pinggiran dermaga yang berbatasan langsung dengan laut lepas yang kelabu, Megan berdiri mematung. Angin laut yang menggigit meniup rambut pirangnya, sementara matanya tak lepas memerhatikan Bradley di kejauhan.

Pria itu tampak sedang melakukan transaksi dengan seorang eksekutif berpakaian rapi yang membawa koper perak. Peter menerima koper itu, sementara Bradley menerima sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat tebal.

Setelah urusan selesai, Bradley melangkah mendekati Megan yang masih menatap langit yang seolah tak pernah punya warna lain selain abu-abu kusam atau hitam pekat saat malam tiba.

"Kita pulang, Meg," ajak Bradley singkat.

"Apa kau sudah selesai dengan transaksi kotormu, Brown?" sindir Megan tanpa menoleh.

Bradley terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar dingin di tengah deburan ombak. "Mereka yang mendatangi pelabuhanku, Meg. Aku bahkan tak perlu repot-repot menyuap mereka. Dokumen, rekaman, transfer dana, hingga tanda tangan resmi para pejabat... semuanya ada dalam map ini. Mereka yang memohon padaku untuk menjadi bagian dari kegelapan ini."

Megan tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian. "Dan kau memberiku makan, juga anakmu, dengan uang harammu itu, Brown?"

"Jaga bicaramu, Meg! Aku tak semiskin itu," balas Bradley, rahangnya mengeras. "Bahkan aku sanggup membelikanmu sepuluh blok di Indian Creek Island, pulau pribadi yang ada di Miami dengan uang halalku sendiri tanpa perlu menyentuh uang dari map ini."

"Uang halal?" Megan menoleh, menatap Bradley dengan tatapan meremehkan. "Bahkan aku tak melihat usaha apa yang kau miliki selain penyelundupan barang ilegal atau bar-bar penuh maksiat yang kau kelola."

Bradley terdiam sejenak, menatap Megan dengan pandangan yang sulit dibaca. "Aku tidak berkewajiban menceritakan padamu dari mana sumber kekayaanku. Sekarang kita pulang. Kau sudah terlalu lama terkena angin laut yang beracun ini."

Mereka sampai di mobil, seorang pengawal membukakan pintu Bugatti La Voiture Noire untuk Bradley dan Megan.

Kini keduanya hanya berdua saja di dalam mobil sport mewah itu, karena Peter sudah pulang lebih dulu. Sepanjang perjalanan membelah jalanan London, Megan justru tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia bertanya-tanya dari mana asal "uang halal" yang Bradley banggakan itu hingga pria itu begitu angkuh mengaku sanggup membeli sepuluh blok rumah di pulau pribadi yang hanya di isi oleh Miliarder elite atas.

"Meg," panggil Bradley, memecah keheningan yang menyesakkan. "Kita akan kembali ke Surrey sore ini. Aku menerima pesan, mereka memintamu untuk mencoba gaun pengantinmu."

DEG.

Jantung Megan berdetak tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Realitas itu menghantamnya seperti godam; ia benar-benar akan menikah dengan pria yang beberapa jam lalu melakukan transaksi senjata ilegal tepat di depan matanya. Pria yang seharusnya ia tembak kakinya sebagai seorang agen hukum.

"Kau melamun, Meg?" Bradley menyentuh dagu Megan, memaksanya menoleh. "Kau tidak lupa, kan? Kau sendiri yang menawarkan pernikahan itu di ruang bawah tanah tadi pagi demi menyelamatkan nyawa rekanmu."

Megan memalingkan wajah, tangannya meremas kain mantelnya dengan kuat. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang pondasinya dibangun dari darah dan pengkhianatan.

***

Bugatti hitam itu berhenti dengan suara mesin yang menderu halus di depan pelataran mansion. Begitu pintu terbuka, Megan langsung turun tanpa menunggu Bradley. Ia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, bukan menuju kamar mewahnya, melainkan ke arah dapur, mencari satu-satunya sosok yang bisa memberikan sedikit kehangatan di tengah dingin hidupnya.

Bibi Martha yang sedang sibuk membantu koki menyiapkan makan malam terkejut saat tubuhnya hampir terjungkal karena Megan tiba-tiba memeluknya erat dari belakang. Suara isak tangis Megan pecah seketika, membasahi bahu wanita tua itu.

"Megan? Kau sudah kembali, Nak? Bagaimana perjalananmu ke Virginia?" tanya Bibi Martha lembut, meski hatinya mencelos merasakan tubuh Megan yang gemetar hebat. "Kenapa kau menangis seperti ini?"

Megan tak sanggup menjawab. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya telah habis. Bibi Martha dengan sabar menuntun Megan menuju teras belakang yang menghadap ke perkebunan, mendudukkannya di sana sambil membelai rambut pirang Megan dengan penuh kasih sayang.

"Katakan padaku, apa yang membuatmu sesedih ini?"

"Bi... aku pikir kembali ke Virginia aku akan menemukan harapan, meski hanya setitik," rintih Megan di sela tangisnya. "Tapi aku salah. Ayahku... pria paling berpengaruh di Virginia itu bahkan tak bisa menolongku. Justru aku yang harus menggadaikan kebebasanku demi menjaga martabatnya. Aku benar-benar akan menikah dengan Brown, Bi... sebuah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan."

Bibi Martha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia. "Terkadang apa yang kita anggap buruk tidak selamanya buruk, Nak. Tuhan tidak pernah menjanjikan keindahan akan selalu datang, tapi Dia berjanji akan selalu ada jalan di setiap kesulitan. Bisa jadi apa yang kau anggap tidak baik hari ini adalah sesuatu yang sebenarnya kau butuhkan suatu hari nanti."

"Apa yang bisa kuharapkan dari sangkar emas ini, Bi? Aku telah kehilangan segalanya," Megan menenggelamkan wajahnya di pangkuan Bibi Martha.

Di balik pilar, Bradley berdiri mematung. Ia memperhatikan interaksi keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, Bibi Martha adalah satu-satunya peninggalan yang tersisa dalam hidupnya dari masa lalu.

Wanita itu adalah orang kepercayaan mendiang ibunya, yang telah mengasuh Bradley sejak langkah kaki pertamanya hingga kini masih menemaninya tanpa menghakimi.

Bibi Martha adalah saksi hidup transformasinya dari seorang anak kecil yang penuh tawa hingga kini menjadi pria yang tak terkendali dan ditakuti dunia. Bradley tahu, di tangan Bibi Martha-lah Megan mendapatkan kasih sayang yang tak sanggup ia berikan lewat tangannya yang berlumuran darah.

***

Dulles International Airport, Virginia — 10.00 AM Hari berikutnya.

Pangkalan udara itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Di bawah pengawalan ketat tim taktis, Arthur Ford berdiri tegak di depan jet pribadinya. Di sampingnya, Alice tampak sangat berbeda; ia mengenakan pakaian casual yang elegan, coat panjang berwarna camel dan kacamata hitam yang menutupi kilat rahasia di matanya. Ia menarik koper kecilnya, siap menempuh perjalanan melintasi Atlantik.

"Alice, jaga dirimu baik-baik di London," perintah Arthur, suaranya berat dan penuh penekanan. "Tugasmu adalah menekan Miller sampai dia bicara jujur soal Megan, lalu sampaikan protes keras kita langsung ke meja Direktur MI6. Jangan sampai kau ikut menghilang seperti Megan dan Nathan. Aku tidak bisa kehilanganmu juga."

Alice tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu tulus di mata Arthur yang sedang kalut. Ia melangkah maju, merapikan kerah jas Arthur dengan gerakan yang sangat intim.

"Aku bisa menjaga diriku, Arthur. Kau tak perlu khawatir padaku," bisik Alice lembut. "Pikirkan markasmu, dan pastikan pertemuanmu dengan Presiden di Washington sore ini berjalan sempurna. Jangan biarkan pikiranmu berantakan hanya karena Bradley Brown. Aku hanya... aku hanya akan sangat merindukanmu, karena aku sendiri belum tahu kapan bisa kembali ke Virginia."

Arthur menatap Alice cukup lama, seolah ingin menyimpan wajah wanita itu di memorinya sebelum mereka berpisah dengan tujuan yang berbeda. "Kau wanita yang kuat, Alice. Itulah alasan aku membutuhkanmu."

"Dan aku akan kembali dengan jawaban yang kau butuhkan, Arthur," janji Alice sebelum akhirnya ia berbalik, melangkah menuju gerbang keberangkatan internasional.

Arthur hanya diam, menatap punggung Alice hingga wanita itu menghilang di balik pintu kaca. Setelah itu barulah ia pergi.

***

Washington D.C. — 15.00 PM

Iring-iringan mobil hitam antipeluru meluncur memasuki halaman Gedung Putih. Arthur Ford, sang Direktur CIA, turun dengan wibawa yang luar biasa di bawah sorotan lampu flash awak media yang haus akan informasi. Selama lebih dari lima jam, rapat tertutup yang dihadiri oleh jajaran tertinggi penegak hukum dan intelijen negara itu berlangsung alot.

Hingga malam itu, sebuah konferensi pers digelar dan disiarkan secara live ke seluruh stasiun televisi Amerika. Arthur berdiri tepat di samping Presiden, tersenyum tipis penuh wibawa, sebuah senyum kemenangan dari seorang pahlawan negara yang baru saja mengamankan kontrak anggaran pertahanan terbesar.

Sementara dari jarak ribuan mil di The Grand Regency Casino, Las Vegas di waktu yang Sama

Gemerlap lampu kasino dan suara keping judi yang beradu menjadi latar belakang kesunyian di sebuah ruang VIP. Di sana, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas sutra mahal duduk dengan angkuh. Di tangan kirinya, ia menyesap Screaming Eagle Cabernet Sauvignon merah dan pekat, sementara tangan kanannya menjepit cerutu Kuba yang asapnya mengepul tipis.

Wanita-wanita cantik yang mengelilinginya tak mampu mengalihkan perhatiannya dari layar televisi besar di depan sana. Wajah pria itu membeku seketika saat melihat sosok yang berdiri di samping Presiden Amerika.

"Arthur Ford," bisik pria itu, suaranya parau dan dingin.

Ia menyesap wine-nya, menatap layar dengan kebencian yang sudah mengendap selama lima belas tahun. "Kau tampak sangat sempurna dengan balutan jas itu, Arthur. Tersenyum bangga di depan dunia sebagai penegak hukum yang suci. Sungguh kehidupan yang sempurna. Namun kau lupa... dua puluh tahun lalu, kau mencuci tanganmu yang berlumuran darah melalui tangan kotorku," batin pria itu sinis.

"Lukas!" panggilnya keras.

"Ya, Tuan?" Seorang pria tegap langsung mendekat dan membungkuk hormat.

Ia meletakkan gelas wine-nya dengan dentuman pelan di meja judi. "Hubungkan aku dengan pria yang sedang berakting sebagai pahlawan di samping Presiden itu. Jika dia merasa sudah terlalu tinggi hingga lupa padaku, maka hubungkan aku dengan Ethan Alexander dari Alexander Global Tech Holdings."

Ia menyandarkan tubuhnya, seringai iblis muncul di wajahnya. "Katakan pada miliarder Alexander itu, bahwa aku punya kado spesial untuknya, Kepala dari pria yang telah menghancurkan masa lalunya"

1
🇮🇹 25
kukira plok2 😒
Bintang Kejora
cie cie yg habis dapet durian runtuh🤭
Bintang Kejora
Cie muji/Chuckle/
🇮🇹 25
😒
Riska Memet
Jodoh Meg😄
Azzalea Chanifa
makin penasaran.
axm
alex debenernya suaminya megan ya 🤭
🇮🇹 25
akoh lebih takod otor apdet cuma 2 tiap hari 😭
🇮🇹 25: al menanti apdet banyak2 🌚🌚🌚
total 2 replies
Bintang Kejora
Siapa Ethan?
Bintang Kejora
Kau ini intel yang lemot, menganalisa apapun telat 😪
Bintang Kejora
Kecurigaan lo telat Sean, payah😔
Bintang Kejora
Alice bakal kena masalah sama brown lo
Bintang Kejora
waduh jangan macam2 alice, 🤭
Bintang Kejora
finaly 😀
🇮🇹 25
SERAKAH ADALAH SIFAT UMUM MANUSIA SELAIN IRI 😒
FF
😍Ada visualnya 👍
Je
up nya jangan lama'
Riska Memet
Woy Brown, puasa woy🙈😍🤣🤣
Riska Memet
Bau2 penkhianat sih🤔
Riska Memet
Fix ini Alex 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!