Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dia?
...****************...
Hari ini hari Minggu. Aku masih berbaring di kamar kos, menatap layar ponsel sambil menghitung hari. Tujuh hari lagi aku pulang.
Angka itu terasa aneh. Seharusnya menyenangkan, tapi justru membuat pikiranku penuh.
Ponselku bergetar.
Pesan masuk.
> “Ka… sibuk ga? mau minta tolong 😭😩😩”
Dari Hana.
Aku langsung bangkit setengah duduk.
> “Kenapa, Han???”
Balasanku nyaris tanpa jeda.
Pesannya masuk cepat, seolah ia sudah menahan sejak tadi.
> “Mba ga masuk hari ini. Gas aku habis aku takut masangnya… selama ini yang pasang cuma suamiku atau mba art aja. Mau minta tolong tetangga nanti jadi aneh karna aku jarang bergaul… karyawan toko juga hari ini libur. Aku mau masak bingung ka 😩”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Hal sepele.
Tapi di situ aku bisa merasakan kepanikannya.
Bukan soal gas.
Tapi soal sendirian.
Aku menghela napas, lalu mengetik.
> “Oke. Otw ya, Han.”
Tidak ada drama.
Tidak ada pikiran aneh.
Hanya refleks sederhana:
ada orang butuh bantuan.
Aku berganti baju, mengambil kunci mobil, lalu keluar dari kos.
Jalanan Minggu siang cukup lengang.
Angin terasa lebih hangat dari biasanya.
Sepanjang perjalanan, pikiranku kosong.
Tidak memikirkan Linda.
Tidak memikirkan konflik.
Hanya fokus sampai.
Saat aku tiba, pagar rumah Hana sudah terbuka sedikit. Ia berdiri di teras, mengenakan baju rumah sederhana. Wajahnya tampak lega saat melihat mobilku berhenti.
“Ka… makasih ya,” katanya lirih.
“Gapapa. Gasnya di mana?” jawabku singkat, berusaha tetap biasa saja.
Aku masuk ke dapur. Tabung gas kosong tergeletak di sudut, seperti benda kecil yang tiba-tiba menjadi masalah besar.
Aku menggantinya perlahan, memastikan aman.
Tanganku sedikit gemetar bukan karena takut, tapi karena sadar… dulu semua ini bukan tugasku.
“Udah, Han. Aman,” kataku sambil berdiri.
Hana mengangguk, senyumnya tipis tapi tulus.
“Kamu mau makan? Aku masak sekalian,” katanya ragu.
Aku melihat jam.
Masih siang.
“Boleh. Tapi aku bantu,” jawabku.
Ia tertawa kecil.
“Ka… kamu tamu.”
“Kamu juga ga sendirian,” kataku tanpa sadar.
Kalimat itu menggantung di udara.
Hana terdiam sejenak, lalu menunduk sambil tersenyum kecil.
Kami memasak bersama. Sederhana.
Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Tidak ada kata-kata yang melampaui batas.
Hanya dua orang dewasa yang sama-sama belajar menjalani hari dengan lubang yang belum sepenuhnya tertutup.
Saat makanan tersaji, aku duduk berhadapan dengannya.
“Ka,” katanya pelan, “makasih ya… aku cuma takut kenapa-kenapa.”
Aku mengangguk.
“Gapapa. Kamu ga berlebihan.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa benar-benar hadir tanpa harus berpura-pura.
Di luar, matahari Minggu siang bersinar pelan.
Dan tanpa kusadari… jarak antara aku dan rumah
semakin dekat.
Anak-anak ternyata ikut makan siang bersama kami. Hari Minggu membuat rumah itu terasa sedikit lebih hidup.
Anak pertamanya, laki-laki kelas sembilan SMP, duduk paling ujung meja. Wajahnya tenang, sorot matanya dewasa untuk seusianya. Ia tidak banyak bicara, tapi sikapnya sopan.
Anak kedua, perempuan kelas enam SD, paling cerewet. Sesekali ia tertawa kecil, mengomentari masakan ibunya.
Yang paling kecil, kelas empat SD, makan sambil sesekali menatapku penasaran.
“Om Raka kerja di mana?” tanya si bungsu polos.
Aku tersenyum.
“Kerja di kantor live streaming.”
“Oh… kayak YouTuber?”
Semua tertawa kecil.
Suasana itu… hangat.
Hangat yang jujur, tanpa dibuat-buat.
Hana duduk di tengah mereka, matanya sesekali memperhatikan anak-anaknya satu per satu. Ada kelelahan di wajahnya, tapi juga ada ketenangan.
Aku bisa melihatnya perempuan ini bertahan bukan untuk dirinya sendiri saja.
Aku membantu membereskan meja setelah makan. Anak pertama ikut mengangkat piring, tanpa diminta.
“Kamu cowok hebat,” kataku pelan.
Ia hanya tersenyum singkat.
“Udah biasa, Om.”
Kalimat sederhana, tapi entah kenapa menusuk.
Saat itu aku baru sadar…
aku lupa membawa ponsel keduaku.
Ponsel yang biasa kupakai berkomunikasi dengan Linda.
Aku tidak panik.
Tidak juga terburu-buru.
Lagipula, akhir-akhir ini hubunganku dengannya memang terasa menjauh. Bukan karena marah yang meledak-ledak, tapi karena kecewa yang diam.
Setiap pesannya belakangan ini hanya ku jawab singkat.
“Iya.”
“Tidak.”
“Atau nanti.”
Tidak ada lagi candaan.
Tidak ada lagi cerita panjang.
Rasanya… malas. Bukan malas mencintai, tapi lelah berharap.
Aku duduk sebentar di ruang tamu, berpamitan setelah semuanya beres.
“Ka… makasih ya,” kata Hana lagi.
Kali ini lebih pelan.
“Iya. Jaga diri kamu,” jawabku.
Anak-anak menyalamiku satu per satu.
Yang kecil melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Dalam perjalanan pulang, pikiranku kembali penuh.
Aku sadar…
aku sedang berdiri di antara dua jarak.
Satu yang ku paksa bertahan.
Satu yang perlahan tumbuh tanpa aku rencanakan.
Dan aku tidak tahu,
mana yang sebenarnya ingin ku tuju.
Namun saat mobilku melaju meninggalkan rumah Hana, pikiranku justru berbelok.
Entah dorongan apa aku hanya ingin tahu.
Linda sedang apa tanpa kabarku?
Aku memutar setir.
Menuju rumahnya.
Sesampainya di sana, aku tidak langsung turun.
Aku memarkir mobil agak menjauh, cukup tersembunyi. Mesin ku matikan. Aku hanya duduk, diam, menatap rumah itu dari kejauhan.
Sedang apa dia?
Apakah dia mencari ku?
Atau… tidak sama sekali?
Waktu berjalan lambat.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Satu jam.
Hingga sebuah mobil asing masuk ke halaman rumahnya. Aku menegakkan badan.
Mataku menyipit.
Seorang laki-laki turun dari mobil itu.
Aku tidak mengenalnya.
Bukan teman kantor.
Bukan siapa pun yang pernah ku ceritakan.
Ia masuk ke dalam rumah.
Dadaku mulai sesak.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Linda muncul.
Wajahnya… ceria.
Terlalu ceria.
Ia melangkah mendekat, lalubmencium kedua pipi laki-laki itu.
Aku terpaku.
Apa ini?
Tanganku mengepal.
Napas tertahan.
Aku mengikuti arah pandang mereka dari dalam mobil. Keduanya berjalan ke lantai atas.
Menuju balkon kamar Linda.
Rumah itu sunyi.
Tidak ada orang tua.
Tidak ada mba ART.
Adiknya pun entah di mana.
Dari balik kaca mobil, aku melihatnya dengan jelas.
Mereka berdiri terlalu dekat. Sentuhan yang terlalu akrab. Bukan sentuhan orang yang baru bertemu. Mereka berciuman mesra tepat di hadapanku. Mataku menyala jantungku berdetak kencang tak beraturan. Seakan ada api menjalar ke semua tubuhku.
Lalu…
mereka masuk ke kamar Linda.
Pintu tertutup.
Dunia seakan berhenti.
Langit sore mendadak mendung. Dadaku bergetar antara marah, kecewa, dan rasa bodoh yang menyesakkan.
Tanganku menghantam setir.
“ASTAGFIRULLAH!”
Teriakku pecah di dalam mobil yang sunyi.
Saat itu aku sadar. Aku tidak pernah benar-benar punya dia. Sejak awal, aku hanya orang yang kebetulan singgah.
Dan rasanya… lebih sakit dari yang pernah kubayangkan.
Gila!!!!!