Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Tatapan yang Menguliti
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui jendela besar kamar, memberikan sinyal bahwa ritual "pemulihan" harus segera dimulai. Setelah Alisha melingkarkan jam tangan pemberian Aruna di pergelangan tangannya sebuah perangkat yang kini menjadi mata dan telinga Aruna asli. Mbak Sari segera menuntunnya keluar.
"Tuan Gathan berpesan agar Nona mendapatkan cukup sinar matahari. Ayo, kita ke halaman belakang," ajak Sari dengan nada bicara yang kembali ceria, menjaga kedok di depan para pelayan lain.
Namun, baru saja kaki Alisha menginjak lorong lantai satu, langkahnya terhenti. Di ujung selasar, Julian berdiri dengan tangan bersedekap, bersandar pada dinding porselen. Pemuda itu mengenakan kemeja yang sedikit berantakan, namun sorot matanya sangat tajam, seolah sedang memindai setiap jengkal tubuh Alisha.
"Pagi, Aruna," sapa Julian. Suaranya rendah, terdengar seperti dengkur kucing yang berbahaya.
Alisha hanya bisa mematung, ia memberikan senyum tipis yang terlihat sangat kaku dan aneh. Kebingungan terpancar jelas di wajahnya, sebuah reaksi yang sebenarnya menguntungkan untuk perannya sebagai pengidap amnesia.
Mbak Sari segera mengambil posisi di depan Alisha, menghalangi pandangan Julian.
"Tuan Julian, mohon maaf. Tuan Gathan sudah berpesan agar tidak ada yang memberikan banyak pertanyaan atau tekanan pada Nona Aruna. Ini demi pemulihan saraf kepalanya," ucap Sari dengan nada tegas namun tetap sopan.
Julian berdecih sinis. Ia melangkah maju satu tindak, membuat Alisha tanpa sadar mundur ke belakang. Tatapan Julian seolah menguliti Alisha hidup-hidup, mencari celah di balik perban dan ekspresi bingung itu.
"Ya, aku tahu. Kakakmu yang hebat itu sudah memperingatkan semua orang seolah-olah rumah ini adalah zona perang," ucap Julian dingin sebelum akhirnya melenggang pergi dengan tawa kecil yang meremehkan.
Begitu sosok Julian menghilang di balik belokan lorong, Sari segera mendekatkan bibirnya ke telinga Alisha. Napasnya terdengar berat.
"Hati-hati, Alisha," bisik Sari sangat rendah.
"Tuan Julian itu... dia memiliki ketertarikan yang tidak wajar pada Nona Aruna. Sejak dulu, tatapannya tidak pernah beres. Jangan pernah biarkan dirimu hanya berduaan dengannya di ruangan tertutup. Saya khawatir dia akan memanfaatkan kondisimu yang sedang 'lupa' ini untuk melakukan hal buruk."
Alisha merasakan sekujur tubuhnya meremang. Ia menelan ludah susah payah, membayangkan betapa rumitnya hubungan di rumah ini. Meskipun mereka saudara tiri, tanpa ikatan darah sama sekali karena orang tua mereka masing-masing membawa anak dari pernikahan sebelumnya namun tetap saja mereka tinggal di bawah atap yang sama sebagai keluarga. Pantas saja Gathan memperlakukan Julian seperti musuh bebuyutan.
Untuk mengusir rasa ngeri itu, Sari membawa Alisha menuju halaman belakang. Pemandangan di sana luar biasa indah, hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, bunga-bunga eksotis yang sedang mekar, serta sebuah kolam buatan dengan air yang gemericik tenang. Di sisi kolam, terdapat sebuah gazebo kayu yang diapit oleh dua pohon rindang yang besar.
Di sana, mereka bertemu dengan Pak Tejo. Penampilan pria itu sangat kontras dengan kemewahan rumah ini. Kulitnya gelap terbakar matahari dan guratan wajahnya membuatnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Namun, saat ia melihat Sari dan Alisha datang, wajahnya langsung merekah.
"Nona Aruna sudah bisa jalan-jalan? Syukurlah," ucap Pak Tejo tulus sembari meletakkan gunting tanamannya.
Sari mendekati suaminya itu dengan sikap yang sangat manja. Ia merapikan sedikit kerah baju Pak Tejo yang kotor terkena tanah, sebuah interaksi romantis yang terlihat sangat alami dan hangat di mata Alisha. Pak Tejo sesekali melempar lelucon tentang Sari yang "cerewet" selama Aruna sakit, membuat Alisha tanpa sadar tertawa kecil.
"Tunggu di sini ya, Mas, Nona. Sari ambilkan kopi buat mas Tejo dan susu hangat untuk Nona Aruna," ucap Sari ceria sebelum berlari kecil masuk ke arah dapur.
Kini tinggal Alisha dan Pak Tejo di halaman itu. Pak Tejo menatap Alisha dengan tatapan kebapakan.
"Nona, jangan dipaksa ingatannya. Biarkan mengalir saja. Yang penting Nona selamat, itu sudah cukup bagi kami," ucapnya menyejukkan hati.
Alisha merasa sangat nyaman berada di dekat Pak Tejo dan Mbak Sari. Di tengah kepalsuan rumah ini, mereka adalah oase baginya. Namun, tawa kecil Alisha mendadak terhenti ketika sebuah suara lembut, namun memiliki penekanan yang menusuk, terdengar dari arah belakang gazebo.
"Apa yang membuat kamu tertawa begitu puas, Aruna sayang?"
Alisha berbalik dengan cepat. Di sana berdiri Elena. Ibu tirinya itu mengenakan gaun sutra berwarna nude yang sangat elegan, memegang sebuah kipas kecil di tangannya. Senyumnya mengembang, namun matanya tidak ikut tersenyum. Dingin dan penuh selidik.
Elena berjalan mendekat, setiap langkahnya terdengar anggun namun mengancam. Ia berdiri tepat di depan Alisha, mengabaikan keberadaan Pak Tejo yang langsung menunduk hormat.
"Padahal Mama baru saja ingin mengajakmu bicara serius soal kecelakaan itu, tapi sepertinya kamu jauh lebih menikmati mengobrol dengan tukang kebun daripada dengan ibumu sendiri," ucap Elena sembari mengelus pipi Alisha dengan ujung jarinya yang dingin.
Alisha membeku. Tekanan udara di sekitarnya seolah mendadak turun. Ia tahu, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊